Citra

Citra
bagian 6


__ADS_3

" semalam, ibu pulang kerumah ga pak?"


" gatau"


Jawab bapak singkat dengan suara yang terkesan ketus


" apa bapak tau kalau semua baju ibu sudah tidak ada lagi dikamarnya?"


Bapak mengernyitkan dahinya dan langsung mengeluarkan kalimat dengan nada keras


" kenapa kamu sudah sangat berisik dipagi hari? Kenapa kamu tidak membiarkan bapak hidup tenang dulu? Sudah! Lebih baik kamu pergi kesekolah sebelum bapak kunciin kamu di dalam kamar mandi"


Hatiku hancur berantakan mendengar jawaban dari bapak, ntah apa yang sebenarnya terjadi hingga sampai merubah bapak lebih kasar dari sebelumnya...


Ada sesuatu yang baru kusadari kenapa bapak tidak berangkat bekerja kali ini, biasanya bapak sudah berangkat diawal pagi sekali sekitaran jam 5 pagi. Apalagi yang terjadi pada bapak? Apa dia sudah kehilangan pekerjaannya? Ah ntahlah aku takut untuk menanyakannya


Aku memasang satu persatu sepatu sekolahku yang seluruhnya berwarna hitam dan tentu dengan kaos kaki hitam putih yang sudah diberi peringatan kemarin pagi.


Kurogoh sakuku, memastikan uang kemarin masih ada disana. Tapi aku tak merasakan apapun sekarang.


Aku kembali memasuki rumah dan langsung mencari cari seisi kamar siapa tau uang itu jatuh didalam kamar.


" duh mana ya ko gaada si"


" kemarin bajunya aku gantung disinikan?"


" pasti kalo jatuh, jatuhnya disekitar sini"


Aku tetap mencari cari dengan teliti meskipun tetap tak menemukannya


" kenapa masih belum berangkat?"


Suara bapak dari balik pintu mengagetkanku yany sedang mencari uang


" a- anu pak uang citra hilang"


" oh uang yang ada disaku kamu?"


" i- iya pak dimana bapak tau?"


Aku sudah menaruh rasa curiga pada bapak tapi tak mungkin aku mengatakannya.


" oh uang itu udah bapak jadiin rokok yang bapak hisap pagi tadi, lagian itu cuma uang lima ribukan? Gausa dipermasalain"


" tetapi pak bukan citra mau mempermasalahkan, uang citra sudah habis. Dan citra tidak memiliki uang untuk membeli penghapus citra yang sudah habis"


" halah uang segitu aja repot! Penghapus penghapus apa? Pake karet ajah!"

__ADS_1


" ka- karet?"


" iya karet itu juga bisa kamu buat penghapus, tuh didapur banyak bawa aja! Buang buang uang aja buat beli penghapus. Orang dulu bapak aja make itu anak anak sekarang sok soan aja"


Bukan karena apa pak sebenarnya citra juga ingin seperti yang lainnya, meskipun hanya sebatas penghapus. Tapi apa dayaku, tak mungkin aku melawan bapak dengan kondisi rumah yang seperti ini pasti bapak akan marah kepadaku.


" baik pak citra berangkat dulu"


Aku tak melakukan perlawanan dan langsung mengambil karet gelang yang berada di dapur, yang biasa ibu gunakan untuk membungkus nasi. Bekal sarapan untuk bapak ataupun aku.


Aku mengayuh sepedaku dengan perlahan saja karena waktu jam masuk masih lumayan lama, jadi aku bisa sedikit lebih lama memandang area perkotaan yang ramai, sebagian untuk menumpaskan rasa bosanku didalam rumah.


" wei cupu!"


Kudapati wajah yang tak asing bagiku memanggil diriku dengan sebutan demikian, ntah apalagi yang akan terjadi jika aku sampai menjadi bahan candaan.


Dia bukannya kemarin yang berada disampinh tubuhku saat menjalani hukuman karena datang terlambat.


" i- iya ada apa?"


" udah sembuh aja kepalamu, bukannya kemarin sampe tersungkur cuma gara gara disuruh berlari mengelilingi lapangan"


" iya itu namanya cupu boss"


* suara tawa gerombolan siswa kurang lebih sekitar 7-9 orang"


" sudah pasti dia ciut kalo ngeliat bos gara"


Jadi nama dia gara, tapi kenapa dia sampai ingin berurusan denganku, kemarin kan aku hanya takut untuk menjawab pertanyaan dia karena ada pengawas yang mengawasi.


" hei garam kamu jangan sok soan nindas aku ya! Nama apaan tuh gara, garam maksudnya? Bumbu dapur sini aku jadiin pelengkap nasi goreng aja"


Sambil melemparkan salah satu sepatuku pada mereka yang menghindari sepatu yang melayang.


"Kriingggg-kringggg-kringgg"


Duh apaan sih aku ngehayalnya gitu amat, andai aja aku punya segunung keberanian buat lawan mereka, mungkin aku tidak akan lagi menjadi bahan buli


Mereka meninggalkanku karena jam sudah menunjukan bahwa waktu belajar akan dimulai.


Dengan berat aku melangkahkan kakiku menuju kelasku dan sesampainya disana, aku hanya berani untuk menundukkan pandangan dari pintu masuk kelas menuju tempat dudukku.


Ujian telah bermulai aku yang sudah mempersiapkan materi ini dari beberapa hari yang lalu bersyukur diberi kelancaran karena mudah sekali menjawab semua pertanyaan yang ada diselembar kertas.


Saat pengawas ujian lengah aku melihat dari belakang tubuh mereka, karena tempat dudukku berada di barisan paling belakang dan di bagian pojok kiri ruangan.


Kudapati banyak sekali teman sekelasku melakukan kecurangan, beberapa orang melempar lempar kertas, ada yang menyimpan contekan dibawah kertas ujian dan bahkan ada yang terang terangan membuka buku pelajaran karena posisinya berada di posisi yang aman dan jarang dijangkau oleh pandangan pengawas.

__ADS_1


" jika aku begitu, apakah aku bisa mendapatkan nilai teratas? Tapi apakah aku akan bangga dengan nilai yang bagiku tidak sepenuhnya murni dari hasil jerih payahku sendiri"


Begitu fikiranku di dalam lamunan sembari mengecek kembali jawaban jawaban yang sudah ku jawab di lembar kertas lainnya.


" baiklah sepertinya sudah sempurna aku menjawabnya dan sekalipun nanti hasilnya kurang memuaskan yang penting usahaku sudah kugunakan sebaik mungkin"


Menit demi menit sudah terlewati dengan menggunakan otakku secara keras hingga akhirnya waktu ujian sudah selesai.


Ntah apa yang akan terjadi ketika aku keluar dari kelas ini, meskipun dikelas ini aku tak memiliki teman dekat setidaknya aku merasa aman dari mereka yang sudah mulai menggangguku.


"Gara dan semua anggota gangnya"


Bagaimana aku harus melewati hari hariku disekolah ini, aku tak mau mendapat perlakuan seperti ini setiap hari. Tapi sekali lagi aku fikirkan bahwa aku adalah citra, citra seorang anak yang tumbuh dewasa dengan bertemankan luka lalu kenapa sekarang aku akan menyerah jika aku hanya akan melalui luka luka kecil saja.


Aku menghela nafas panjang dan menghembuskannya sebelum keluar ruangan, aku menunggu semua penghuni kelas keluar ruangan seutuhnya hingga hanya tersisa aku sendiri didalamnya


Aku malu untuk keluar bersama dengan mereka, karena mungkin bau badanku bisa mengganggu mereka.


" apa yang mereka maksud adalah aku ya? Tapi kenapa aku tidak mencium bau dari tubuhku"


Aku kembali mencium bagian ketiakku karena setiap hari di jam setelah istirahat selesai mereka akan berkoar koar tentang bau badan seseorang. Dan mungkin saja itu adalah aku.


" aghh bau ketek siapa sih ini males banget masuk kelas kalo tiap masuk kesini baunya nyengat banget"


" iya bau banget tau masa iya dia gabisa beli deodorant atau parfum, nau banget tau"


Terkadang aku memberanikan diri untuk melihat mereka yang sedang berbicara hal tersebut.


Dan benar aku melihat beberapa pasang mata tertuju padaku saat mereka membicarakan tentang itu


" apakah badanku sebau itu? Atau aku saja yang terlalu berfikiran buruk tentang mereka? Bisa saja aku yang terlalu berlebihan menanggapi pandangan mereka"


Tapi sekali lagi aku akan berusaha mengabaikan apapun yang mereka katakan demi aku bisa bertahan di sekolah ini.


Aku memperbaiki kaos kaki yang sebenarnya sudah longgar dan hanya mengandalkan kekuatan karet gelang saja


" andai aja aku punya uang sendiri, aku bisa membeli kaos kaki baru, sepatu baru, seragam baru dan membeli apapun yang membuat tubuhku wangi serta membeli perawatan wajah untuk mengurangi jerawatku"


Aku berbicara sendiri seolah akan ada yang mendengarkan permintaanku.


" lebih baik aku mencari pekerjaan saja, agar aku bisa sedikit memenuhi keperluanku, serta mengurangi beban bapak"


Aku melangkahkan kakiku ke tempat parkir, terlihat sudah banyak motor yang sudah hilang. Sudah pasti mereka pulang tapi beberapa motor dari mereka membuatku memiliki keinginan baru.


" aku ingin memiliki motor juga tapi tak apa aku akan bekerja keras untuk memenuhi semua impianku yang masih jauh dari genggaman tanganku"


Aku kembali mendekati sepedaku dan menggiringnya, tapi ntah kenapa ada sesuatu yang berbeda dari sepedaku

__ADS_1


" bannya kempes? Kenapa bisa? Aku tak memiliki uang sedikitpun sekarang apa yang harus aku lakukan...."


__ADS_2