
Halo..saya baru di app , salam kenal dan semoga kalian suka dengan ceritanya .
Malam ini gue diantarkan oleh kedua orang tua menuju stasiun menggunakan mobil. Dari balik kaca mobil, gue hanya bisa terdiam sambil melihat hiruk pikuk kota ini yang sebentar lagi akan gue tinggalkan. Gue menghela nafas, uap air yang keluar dari mulut menempel dan sedikit membuat kaca menjadi buram. Gue mengelap kaca dengan menggunakan ujung jaket.
Apa gue bakal kangen sama kota ini?
Atau lebih tepatnya,
Siapa yang bakal gue kangenin di kota ini?
Mungkin, cuma kedua orang tua gue doang yang bakal gue kangenin. I don't have someone special here except my parents.
Lamunan gue terpecah saat bokap gue berbicara.
Bokap: Kamu yakin buat pergi dari sini?
Gue: Iya pap, kaka mau belajar mandiri disana.
Bokap: Beneran? Ga mau berubah pikiran? Tiket kereta kamu masih bisa dibatalin lho.
Nyokap: Iya kak kamu masih bisa berubah pikiran. Nanti, siapa yang bakal nemenin mamah di rumah selain kamu?
Gue: Engga pap, mam. Kaka mau nyoba hidup mandiri disana. Lagian kan di rumah ada bibi sama mas dayat mam.
Bokap: Yasudah kalo begitu, nanti pas turun dari kereta langsung keluar aja. Papah sudah pesankan taksi untukmu, jadi langsung dianterin ke rumah kamu.
__ADS_1
Nyokap: Itu nanti rumah dijaga lho ya kak. Dibersihin terus, jangan jadi ga ke urus.
Dan masih banyak lagi wejangan lainnya dari nyokap gue.
Jalanan hari ini tampaknya sangat mendukung gue untuk segera meninggalkan kota ini. Jalanan yang biasanya macet, kini entah kenapa sangat sepi sehingga gue datang terlalu awal di stasiun.
Petugas mengumumkan bahwa kereta yang akan gue tumpangi sudah tersedia di jalurnya. Gue berpamitan kepada bokap, nyokap dan meminta doa restu untuk kelancaran di luar sana.
Nyokap: Jangan lupa kabarin mamah ya kak. Kalo butuh apa-apa, langsung telfon mamah disini.
Mata nyokap gue berkaca-kaca, sedetik kemudian nyokap memeluk gue sangat erat. Bokap hanya mengusap-usap punggung nyokap sambil tersenyum ke arah gue. Nyokap melepaskan pelukannya dan digantikan dengan sebuah senyuman yang diiringi dengan bulir air mata. Lalu gue beralih dan berpamitan kepada bokap.
Gue: Pap, kaka pergi dulu. Doakan lancar disana.
Bokap: Hati-hati disana, harus bisa bertanggung jawab sama diri sendiri. Jangan lupa beribadah kepada Yang Maha Kuasa, selalu minta petunjuk jalan kepada-Nya.
Gue tersenyum kepada mereka berdua. Orang yang telah berjasa untuk hidup gue. Gue mengambil koper yang tergeletak di samping dan bersiap masuk ke stasiun.
Bokap: Oh hampir lupa ini.
Bokap merogoh saku belakangnya lalu memberikan sebuah kartu ATM kepada gue.
Bokap: Ini kamu pake baik-baik, jangan dipake buat hal yang lain-lain. Kamu sudah dewasalah kak, ngerti mana yang baik sama yang buruk.
Gue: Iya pap, makasih ya.
__ADS_1
Sambil tersenyum, gue mengambil kartu ATM tersebut. Sebenernya gue enggan menerimanya karena gue udah punya tabungan sendiri yang mungkin cukup untuk satu semester pertama.
Koper sudah di tangan, kini gue berjalan meninggalkan mereka berdua yang melihat kepergian anak semata wayangnya.
Terima kasih pap, mam...
Gue duduk diatas kereta yang sedang melaju dengan cepat. Getaran-getaran yang ditimbulkan oleh gesekan antara roda dan rel membuat gue mengantuk. Gue mencoba memejamkan mata namun gue tak kunjung terlelap.
Gue memutuskan untuk bangun dari kursi dan berjalan menuju toilet. Di dalam toilet, gue membasuh muka gue lalu menatap ke kaca.
Apa gue bisa tinggal sendiri tanpa fasilitas lengkap dari orang tua?
Apa gue sanggup buat menuhin kebutuhan gue sehari-hari?
Apa gue bisa mandiri?
Apa gue........
Ck, argh!
Gue kembali menuju kursi yang sebelumnya gue tempati. Merubah-rubah posisi agar bisa mendapatkan posisi yang nyaman.
Kini, goyangan kereta sukses menina bobokan gue. Ga lama kemudian, gue sudah terlelap di atas kereta dengan berjuta pikiran...
Apa gue bisa mandiri?
__ADS_1
Semoga...