Cowok Manja Merantau

Cowok Manja Merantau
Kota Rantauku


__ADS_3

Suhu udara di dalam kereta mulai menjadi dingin sehingga membuat gue terbangun. Dengan mata segaris, gue melihat jam yang berada di tangan kanan. Ternyata sekarang sudah pukul 04.30. Kira-kira 2 jam lagi, kereta ini akan sampai di tujuannya.


Dengan badan sempoyongan, gue berjalan menuju toilet untuk sekedar cuci muka dan menghilangkan kantuk yang menggelayut di pelupuk mata. Gue buka kran air dan mengambil airnya. Brrr, air yang sebelumnya ga terlalu dingin kini menjadi sedingin air es. Gue membasuh muka dengan air yang sedingin es tersebut dan seketika kantuk yang menerpa menjadi hilang dan wajah gue kembali segar. Gue berjalan kembali menuju kursi. Baru beberapa saat gue duduk, cacing-cacing peliharaan di dalam perut sudah berdemo, peliharaan perut gue sudah meminta jatahnya di pagi hari. Gue belum beranjak dan masih duduk di kursi, menunggu ada seorang prami yang lewat untuk menjajakan makanan. Namun setelah sekian lama gue menunggu, orang yang ditunggu tak kunjung datang.


Mana sih prami-prami nya? Harusnya kan keliling bawa makanan atau apa kek.


Gue menggerutu dalam hati. Akhirnya gue memutuskan untuk pergi menuju kereta makan. Sebelum pergi, gue mengecek isi dompet. Terlihat beberapa lembar uang seratus ribuan dan lima puluh ribuan. Seingat gue, sehari sebelum berangkat gue hanya membawa uang tunai sebesar 200 ribu. Tapi kok ini nambah sendiri?


Gue merogoh hp yang berada di saku celana untuk menelpon orang rumah. Jam segini, bokap pasti udah bangun.


Tut...tut...tut...


... : Hallo asalamualaikum.


Gue: Hallo, waalaikum salam. Ini Mas Dayat ya?


... : Iya saya Dayat, sampeyan siapa toh?


Gue: Ini saya Mas, Naufal.


Mas Dayat: Oh den Naufal toh? Ada apa den? Udah kangen rumah ya? Hehehe.


Sedikit tentang Mas Dayat, dia seorang supir pribadi di rumah gue. Beliau sudah bekerja bersama keluarga gue semenjak gue kelas 2 SD. Dan beliau pula yang sehari-harinya mengantar jemput gue antara rumah dan sekolah. Gue bisa dibilang cukup dekat dengan Mas Dayat.


Gue: Ah belom sehari masa udah kangen sih, papah/mamah udah bangun toh mas?

__ADS_1


Mas Dayat: Bapak semalem pergi ke Kalimantan pas abis nganterin aden, nah kalo ibu kayaknya masih tidur den.


Gue: Oh kalo gitu makasih ya Mas, assalamualaikum.


Mas Dayat: Waalaikum salam. Hati-hati disana den.


Telfon gue matikan, untuk sekarang gue gak mempermasalahkan uang yang bertambah dengan sendirinya. Gue langsung menuju kereta makan untuk sarapan.


Sesampainya di kereta makan, ada dua orang prami yang sedang beristirahat. Lalu masih ada 2 orang prami, 3 orang PKD, dan seorang kondektur yang masih terjaga. Kemudian salah seorang prami menghampiri gue.


Prami: Ada yang bisa dibantu dek?


Gue: Ngg... anu, restorasi disini ada menu apa aja?


Prami: Oh tunggu sebentar ya dek saya ambilkan dulu menunya.


Prami: Ini dek pesanannya, selamat menikmati hidangan di atas kereta.


Prami tersebut tersenyum lalu sambil memberikan pesanan gue.


Nasi goreng yang gue pesan masih terbungkus oleh plastik bening dan teh manisnya masih panas. Gue seruput sedikit teh manis dan kemudian memakan nasi goreng tersebut.


Ga butuh waktu lama untuk menghabiskan seporsi nasi goreng dengan teh manisnya. Lalu gue membayar dua menut tersebut dan kembali menuju kursi gue sendiri.


Matahari sudah mulai meninggi, alam yang asri nan sejuk yang dimiliki oleh bumi parahyangan menyambut kedatangan gue disini. Jam sudah menunjukkan pukul 06:40. Mungkin sekitar 10 menit lagi, gue sampai di stasiun tujuan. Gue mempersiapkan diri dan mengambil koper yang disimpan di bagasi atas.

__ADS_1


Ga lama kemudian, kereta yang gue tumpangi tiba di stasiun tujuan. Sambil menenteng koper, gue berdiri dan ikut mengantri untuk turun bersama penumpang lainnya. Dari balik jendela kereta yang berbentuk kotak kecil, terlihat orang-orang berpakaian oranye dan bercelana hitam lusuh berlari mengejar kereta. Setelah kereta berhenti, mereka langsung melompat dan menaiki kereta sambil menjajakan jasanya.


Gue berbalik menuju pintu belakang karena pintu yang sebelumnya akan gue jadikan pintu keluar sudah penuh oleh penumpang dan porter yang saling berdesakan.


Gue duduk di sebuah bangku deret yang gak jauh dari tempat dimana gue turun. Disini, gue kayak orang linglung, celinguk sana, celinguk sini, gue gak tau harus ngapain. Gue memperhatikan suasana sekitar, banyak orang-orang yang sedang menenteng koper bersama dengan sanak saudara mereka dan ada juga turis-turis asing dengan ciri khas mereka sendiri: sepatu olah raga, celana pendek, kaos, dan tidak lupa tas gunung yang selalu mereka bawa. Pagi ini stasiun ini cukup penuh. Maklum, masa liburan kenaikan kelas baru saja dimulai.


Sedang asyik melihat suasana sekitar, ada seorang bapak-bapak yang menggunakan baju berwarna oranye menghampiri gue.


Porter: Mau dibantu bawa kopernya dek?


Bapak itu bertanya kepada gue, terlihat bulir-bulir peluh yang mulai menuruni keningnya yang sudah mengkerut. Bulir perjuangan di pagi hari untuk mencari rezeki.


Gue: Ngga pak, makasih.


Jawab gue dingin. Kemudian bapak tersebut tersenyum berlari menuju arah yang berlawanan untuk mencari rezeki yang tak dia dapatkan dari gue.


Gue menggeret koper menuju pintu keluar bagian utara, gue celingukan kanan-kiri untuk mencari supir taksi yang dijanjikan bokap gue. Lalu dari kejauhan, gue melihat ada seorang bapak-bapak yang mengenakan baju biru khas dari seragam taksi tersebut sambil membawa kertas yang bertuliskan nama dan kota asal gue.


Gue mendekati supir taksi tersebut dan berkenalan sedikit. Supir taksi menawarkan dirinya untuk membawa koper yang gue bawa, lalu gue mengiyakan permintaannya.


Di dalam taksi, gue mengambil handphone dan mengabari orang rumah bahwa gue sudah sampai dengan selamat dan sedang dalam perjalanan menuju rumah, rumah yang akan gue huni selama 3 tahun kedepan. Di dalam perjalanan, gue hanya terdiam sambil melihat kota ini, menghapalkan jalan agar gue ga nyasar kalo pergi sendiri.


Lalu, sebuah pikiran kembali mendatangi gue.


Apa gue bisa hidup mandiri disini?

__ADS_1


Gue kembali menghela nafas.


Hhhh...


__ADS_2