
Gue yang asalnya ngeliatin tatib ini hanya dengan menengok sedikit, kini telah berubah dengan menatapnya heran. Masih ga percaya dengan apa yang gue liat. Padahal tempo hari saat gue bertemu dengan Amel di rumahnya dia gak segalak ini dan dia memakai kacamata. Tapi sekarang dia ga pake kacamata. Itu yang buat gue bingung.
Tatib (Amel): NGAPAIN KAMU NGELIATIN SAYA DENGAN EKSPRESI KAYAK GITU?! NANTANGIN SAYA HAH?! MAJU KAMU KE DEPAN!
Tangan kiri gue ditarik secara paksa dan dibawa ke depan. Gue yang merasa ga punya salah mencoba melepaskan tangan gue yang ditarik ke depan dan diam di tempat.
Gue: Saya salah apa kak? Topi saya tadi jatuh gara-gara angin besar.
Tatib (Amel): OH KAMU MAU NGELES YA? JELAS-JELAS SAYA LIAT DARI BELAKANG KALO TOPI ITU DILEMPAR!
Gue: Bener kak, ga mungkin saya ngelempar topi saya sendiri.
Tatib (Amel): GA PAKE ALASAN, MAJU SEKARANG!
Tangan gue kembali ditarik, kali ini genggaman tangan Amel semakin keras. Semakin gue mencoba melepaskannya, semakin keras juga Amel mengencangkan genggamannya pada lengan kiri gue. Gila cewek ini! Gue udah ngomong jujur tapi dia masih ga percaya!
Tatib: BERDIRI KAMU DISITU!
Amel menunjuk ke sebelah siswa yang melanggar lainnya yang sudah berada di atas podium lalu kemudian Amel kembali berkeliling diantara siswa baru sambil membawa topi bola gue. Setelah gue berdiri di atas podium, pandangan gue alihkan kepada Ojan dan gue lihat dia sedikit menahan tawanya. Sialan juga tuh anak malah ngetawain gue!
Sekarang para siswa sudah dibubarkan dari lapangan dan diarahkan menuju kelas dengan kakak pembimbing mereka masing-masing sedangkan gue dan 'tersangka' lainnya masih berdiri di atas podium, menunggu sebuah hukuman. Gue udah ga peduli lagi dengan hukumannya, yang gue pikirin sekarang: kenapa gue gak salah tapi disuru ke depan?
Lalu dari sebelah ujung kiri ada seorang cewek yang menggunakan seragam SMA menaiki podium sambil membawa sebuah kertas selembar, entah untuk apa. Siswa demi siswa dilewati olehnya dan kemudian dia sekarang berdiri di depan gue.
Cewek: Nama?
Gue: Naufal.
Cewek: Nomor Peserta?
Gue: Sekian.
Kemudian si cewek tersebut berhenti menulis dan memeriksa atribut gue dimulai dari atas sampe ke bawah.
Cewek: Hmmm ga pake topi ya dek?
Gue hanya manggut mengiyakan pertanyaan kakak tersebut.
__ADS_1
Tatib (Amel): JAWAB DEK BUKAN MANGGUT DOANG!
Gue: Iya kak.
Tatib (Amel): JAWAB YANG KERAS! COWOK KOK KEMAYU GITU!
Gue: IYA KAK SAYA GAK PAKE TOPI!
Nafas gue memburu untuk menahan amarah. Pengen rasanya gue teriak maki-maki orang itu dan berargumen kalo gue memang ga punya salah. Gue punya atribut lengkap! Cuman gara-gara angin sialan itu gue jadi disuru kedepan! Gila lo Mel!
Cewek: Udah dek jangan diambil ke hati. Nanti besok kamu pake topinya terus buat surat cinta untuk tatib itu. Kalo besok ga bawa surat cintanya, adek boleh mengulang MOS ini tahun depan.
Cewek ini menunjuk ke arah Amel sambil tersenyum dan kemudian turun dari podium. Lalu kami semua disuruh untuk masuk ke dalam kelas sesuai dengan nomor peserta yang dimiliki. Gue berjalan melewati Amel dan dia hanya menatap gue dengan menampakkan ekspresi sangarnya.
Surat cinta?
**** that.
Tepat pada pukul 3 sore kami semua diperbolehkan untuk pulang. Gue berjalan ke arah gerbang sekolah, dari kejauhan dapat terlihat ada 4 orang tatib laki-laki yang menjaga sambil melipat tangannya di depan dada mereka. Setelah gue melangkahkan kaki di luar gerbang sekolah, gue langsung melepas celemek bungkus kopi gue. Selama MOS berlangsung, kami semua diwajibkan untuk memakai celemek tersebut sepanjang hari sampai waktu pulang dan baru boleh dilepas setelah keluar dari lingkungan sekolah.
Gue melihat ke arah suara, Ojan melambaikan tangannya ga jauh dari tempat gue berdiri dan kemudian menghampiri gue.
Ojan: Lah kok bisa ke depan sih? Perasaan tadi atribut lo lengkap semua.
Gue: Tau lah, kesel gue. Yaudah gue balik duluan ya, cape.
Ojan: Ya tiati sob.
Sebelum sampai di rumah, gue memutuskan pergi ke minimarket di seberang komplek untuk membeli sekaleng susu cokelat dan roti isi keju. Melalui makanan dan minuman ini gue berharap dapat sedikit menahan gejolak di dalam perut. Setelah membayarnya gue langsung meminum susu dan melahap roti tersebut tanpa sisa. Perut sudah mulai terisi, gue melanjutkan perjalanan ke rumah.
Baru sampe gerbang komplek ada seseorang yang memanggil nama gue dari belakang.
... : Fal!!!
Gue ga menoleh, gue tau orang yang memanggil gue itu siapa. Tidak lain dan tidak bukan adalah Amel. Namun karena gue ga menghiraukan panggilannya dan tetap berjalan, kini Amel kembali meneriakkan nama gue dan kali ini lebih keras. Gue menghentikan langkah gue dan menengok ke belakang. Amel kemudian berlari-lari kecil ke arah gue.
Amel: Gimana tadi sekolah hari pertamanya?
__ADS_1
Gue: Yah, gitulah kak.
Elo udah ngebuat mood gue down hari ini! Gila! Masih tanya aja hari ini kayak gimana!
Amel: Jangan panggil kakak, panggil aja Amel.
Gue: Eh...... mmmm. Yaudah kak, eh... Mel...
Amel: Hahaha gausah grogi gitu kali Fal. Santai aja.
Gue: Ya gimana mau santai soalnya kan tadi di sekolah kakak yang marah-marahin saya.
Amel: Hah? Marah-marahin kamu?
Orang ini punya penyakit short-term memory atau berlagak bego atau emang bego beneran?
Gue: Iya, kakak tadi pagi marah-marahin saya sampe nyuruh ke depan. Masa lupa kak? Saya yakin orang yang mara-marahin saya itu kakak.
Amel menghentikan langkahnya beberapa langkah di belakang gue dan melihat ke arah gue dengan tatapan heran. Beberapa saat kemudian dia kembali tersenyum dan kembali berjalan di samping gue.
Amel: Oooh berarti kamu udah ketemu ya sama Aya?
Gue: Hah? Aya? Siapa tuh kak?
Amel: IH! Kamu dibilangin tuh susah ya! Jangan panggil aku kakak! Panggil aja aku Amel!
Amel kemudian mempercepat langkahnya, meninggalkan gue yang sedang berpikir keras tentang seseorang yang bernama 'Aya'. Setelah beberapa langkah di depan gue, Amel membalikan badannya dan tersenyum.
Amel: Oh iya lupa, Aya itu kembaran aku Fal!
Setelah Amel berkata seperti itu kemudian dia berjalan lebih cepat dan menghilang di belokan jalan yang menuju ke rumahnya, meninggalkan gue dengan nama 'Aya' yang sedang berputar di dalam otak gue.
Gue ga peduli entah itu Amel atau Aya.
Tapi satu yang jelas,
Gue ga bakal lupa sama orang itu...
__ADS_1