
Gue risih diliatin kayak gitu sama adek kelas. Gue sebagai tatib harusnya bisa ngebuat mental siswa-siswi baru disini menjadi lebih kuat. Tapi anak ini kayaknya enggak takut sama sekali atas kedatangan gue dan mentalnya juga enggak down seperti kebanyakan siswa-siswi lainnya, dipelototin sedikit langsung buru-buru nunduk dan ga berani natap wajah para tatib.
Gue: NGAPAIN KAMU NGELIATIN SAYA DENGAN EKSPRESI KAYAK GITU?! NANTANGIN SAYA HAH?! MAJU KAMU KE DEPAN!
Gue memegang lengan kiri anak cowok dan menyeretnya ke depan. Baru selangkah maju, genggaman gue dilepas olehnya dan dia berbicara kepada gue.
Cowok: Saya salah apa kak? Topi saya tadi jatuh gara-gara angin besar.
Gue: OH KAMU MAU NGELES YA? JELAS-JELAS SAYA LIAT DARI BELAKANG KALO TOPI ITU DILEMPAR!
Cowok: Bener kak, ga mungkin saya ngelempar topi saya sendiri.
Gue: GA PAKE ALASAN, MAJU SEKARANG!
Ngapain anak ini mencoba ngeles dari gue? Udah gue liat sendiri kalo topinya emang bener-bener dilempar. Gue kembali memegang lengan kirinya dengan tenaga ekstra. Selama prosesi seret-menyeret ini pula si cowok mencoba melepaskan genggaman gue, dan semakin sering dia mencoba melepaskan genggaman gue, semakin kuat juga genggaman gue pada lengannya. Hih! Lama-lama gue kesel beneran sama anak ini.
Gue: BERDIRI KAMU DISITU!
Gue menyuruh siswa baru tersebut untuk berdiri di sebelah pelanggar aturan lainnya sementara gue kembali masuk ke kerumunan siswa untuk menjalankan tugas gue: memeriksa atribut.
Pemeriksaan atribut selesai, kini siswa-siswa yang lolos dari pemeriksaan sudah meninggalkan lapangan bersama kakak pembimbing mereka dan menyisakan para pelanggar aturan yang berdiri di atas podium. Gue hitung ada satu... dua... tiga... delapan... dua belas... delapan belas pelanggar aturan yang sedang menundukkan kepalanya kecuali satu. Ya, dia orang yang gue bawa ke depan. Gue masih memperhatikan orang tersebut ketika Rasya naik ke podium untuk mencatat data diri mereka.
Ketika Rasya sampai pada cowok tersebut, gue sedikit mendekat agar dapat mendengar data dari siswa cowok saklek ini.
Rasya: Nama?
Cowok: Naufal.
Rasya: Nomor Peserta?
Cowok: Sekian.
Rasya berhenti menulis lalu memeriksa atribut dari cowok tersebut sambil memainkan pulpen di tangannya.
__ADS_1
Rasya: Hmmm ga pake topi ya dek?
Kemudian si cowok tersebut menjawab dengan anggukan kecil. Sombong benar anak yang bernama Naufal ini!
Gue: JAWAB DEK BUKAN MANGGUT DOANG!
Naufal: Iya kak.
Gue: JAWAB YANG KERAS! COWOK KOK KEMAYU GITU!
Naufal: IYA KAK SAYA GAK PAKE TOPI!
Gue bisa melihat dadanya naik turun, gue hanya tersenyum sinis melihatnya. Lalu Rasya berkata sesuatu kepadanya sambil berbisik dan menunjuk ke arah gue dengan ujung pulpennya lalu turun dari podium. Rasya memberikan kode kepada gue untuk mendekat.
Rasya: Gue udah suruh anak itu buat nulis surat cinta ke elo. Besok dia bakal kasih suratnya.
Gue hanya manggut-manggut. Lalu Manda menyuruh mereka untuk kembali ke kakak pembimbing mereka masing-masing. Cowok itu berjalan melewati gue dan gue hanya memberikan tatapan sinis kepadanya.
Keesokan harinya, gue bersama para tatib sedang berkumpul di tempat khusus yang disediakan. Bewok menginstruksikan kepada pelanggar aturan agar membawa hukuman mereka ke depan podium. Setelah mereka berkumpul, Bewok menyuruh mereka ke tempat para tatib diiringi dengan Bewok di belakangnya.
Naufal: Ini kak surat cinta saya untuk kakak.
Terlihat sedikit lecek di bagian ujung amplopnya, tanpa pikir panjang gue langsung memasukannya ke saku blazer gue kemudian menyuruhnya untuk kembali ke barisan.
Malam harinya gue membaca surat yang diberikan kepada gue. Hari itu gue mendapatkan dua buah surat, satu dari siswa bernama Hendra dan satu lagi dari Naufal. Gue membaca sekilas isi surat dari Hendra, isinya standar surat cinta pada umumnya. Berisi sanjungan untuk cewek-cewek, standar cowok ngerayu yang isinya penuh bullshit.
Surat dari Hendra gue lipat kembali dan gue masukkan ke dalam amplopnya dan mulai membuka amplop berisi surat dari Naufal. Gue membaca surat tersebut secara teliti. Semakin ke bawah, semakin panas hati ini dibuat olenya.
Hallo kak Tatib.
Perkenalkan nama saya Naufal, Naufal Eko Widjojanto.
Saya sendiri tidak tahu kenapa kemarin kakak menyuruh saya ke depan.
__ADS_1
Atribut saya lengkap, saya juga diam di tempat dan tidak mengganggu kelancaran acara MOS hari kemarin, dan kemarin saya tidak melanggar satu buah aturan pun yang dibuat oleh kakak-kakak tatib sekalian.
Yang saya tahu pasti, kemarin ada angin besar yang membuat topi saya terjatuh dan ketika hendak mengambilnya malah diambil oleh kakak terlebih dahulu.
Saya kira kakak akan memberi topi tersebut lalu memeriksa atribut saya yang lain.
Tapi tebakan saya salah.
Kakak menuduh saya melempar topi tersebut.
Kakak beralibi bahwa kakak melihat peristiwa pelemparan topi tersebut dari belakang.
Menurut logika saya, saya berdiri di 3 baris dari depan dan di belakang saya masih ada sekitar 7 baris lagi dan itu pasti susah untuk melihat apa yang terjadi di barisan-barisan depan. Jika kakak naik ke podium mungkin kakak tidak akan sulit melihat barisan paling depan. Namun sayangnya di belakang tidak ada podium, podium hanya berada di bagian depan lapangan.
Lalu saya berpikir, apa kakak memiliki ‘mata elang’ yang dapat melihat dengan tajam?
Jika kakak benar memiliki ‘mata elang’, kenapa kakak masih ga percaya kalo topi itu jatuh tertiup angin?
Mungkin saya harus mengantar kakak ke dokter mata terdekat, dokter mata spesialis ‘mata elang’.
Memeriksakan ketajaman mata kakak yang mulai menurun termakan usia.
Setelah selesai MOS, saya berjanji jika kakak meminta saya untuk pergi ke dokter mata saya akan menyanggupinya walaupun saya harus membolos di hari-hari pertama saya sekolah.
Sekian surat cinta dari saya.
Salam Hangat
Naufal
GILA! GILA BENER ANAK INI BERANI-BERANINYA NYINDIR GUE!
Amarah gue naik, gue langsung *** surat tersebut dan melemparnya ke sudut ruangan. Gue mengambil handphone gue dan bercerita tentang isi surat tersebut kepada Manda. Manda hanya berkata 'Gila', 'Songong bener anak itu', dan di akhir pembicaraan dia menyarankan sebuah hukuman yang terbilang cukup berat untuknya. Dan gue langsung menyetujui hukuman tersebut tanpa pikir panjang.
__ADS_1
Besok, lo bakal 'mati'!