
Sehari sebelum MOS dimulai, gue mempersiapkan segala keperluan yang harus dibawa. Mulai dari yang normal seperti alat tulis dan topi bekas SMP, hingga ke yang aneh-aneh kayak disuru buat celemek dari bungkus kopi dan topi yang dibuat dari bola plastik dipotong setengah. Dan selama seharian itu pula gue diajarkan menjahit celemek dadakan oleh bibi, karena gue ga bisa-bisa dan ga mau ambil ribet akhirnya gue beli lem besi ke warung dan gue lem semua bungkus kopi dan jadilah celemek yang kaku hampir ga bisa dilipet bonus tangan gue belepotan dengan lem besi yang mengeras. Dimarahin ya dimarahin aja lah, ribet gue disuru buat yang ginian
Pagi harinya, gue dibangunkan oleh bibi yang dari semalem nginep di rumah gue. Pada saat itu jam menunjukkan pukul 04.30 dan tanpa basa-basi gue langsung mandi jebar jebur pake air dingin. Air disini dinginnya bener-bener sedingin es, beda dengan kota asal gue yang dinginnya normal. Jam 5 kurang, gue udah selesai mandi dan lengkap menggunakan seragam SMP. Gue sarapan nasi goreng sementara bibi mengecek barang-barang bawaan gue apakah ada yang tertinggal atau engga. Sekitar jam 5 lebih, gue langsung pergi ke sekolah. Walaupun di kertas selebaran diwajibkan datang tepat waktu pada pukul enam, namun gue yakin kalo dateng mepet jam 6 (apalagi pas banget jam 6) pasti bakal dimarahin sama pemain drama antagonis di sekolah itu.
Pada pukul 6 tepat, pintu gerbang sekolah sudah ditutup. Gue lihat ada beberapa anak baru yang datang terlambat dan mereka semua ditahan oleh senior-senior (mungkin anak OSIS) yang menggunakan blazer hitam bergaris putih di bagian punggungnya. Gue kembali menebak-nebak bahwa mereka adalah sang pemain drama antagonis alias tata tertib karena dari jauh dapat gue dengar teriakan-teriakan mereka yang memarahi anak-anak yang datang terlambat. Kurang lebih ada 3 orang yang menjaga perbatasan antara surga (luar sekolah) dan neraka (dalem sekolah).
Tatib 1 (Cowok): KALIAN MAU JADI APA HAH UDAH BERANI-BERANI TELAT DI HARI PERTAMA.
Tatib 2 (Cewek): HEY KAMU COWOK, JAWAB KALO DITANYA BUKAN NUNDUK KE BAWAH.
Cowok yang kena semprot kayak gitu langsung jiper karena gue lihat badannya sedikit bergeming dan semakin menundukkan pandangannya.
Gue masih memperhatikan mereka, teman seangkatan gue, yang sedang dimarahi karena telat. Kebetulan gue dan anak-anak yang selamat dari amukan pemeran drama kini sedang duduk bersila di sebuah lapangan yang sengaja diposisikan mengarah kepada gerbang untuk menonton tontonan drama gratis di pagi hari. Kami semua ga ada yang berani berbicara karena banyak sekali tatib yang mondar-mandir di sekeliling barisan. Jika gue total-total, ada 10 tatib yang bertugas hari ini termasuk yang sedang stand by di depan gerbang.
__ADS_1
... : Tatib cewek yang dikuncir itu cantik juga ya bro.
Gue menoleh ke sebelah kanan gue, ada seorang cowok berkacamata menyenggol lengan gue sambil memandang ke arah tatib yang sedang marah-marah di gerbang.
... : Oh iya kenalin, gue Fauzan. Panggil aja gue Ojan.
Ojan melihat ke arah gue sambil mengulurkan tangan kanannya. Gue menyambut uluran tangannya sambil tersenyum kecil.
Perkenalan yang absurd di tengah film drama yang disiarkan secara live.
Kami semua sekarang sedang bersiap untuk upacara pembukaan MOS. Gue berdiri dan menyimpan semua barang bawaan yang gue bawa di belakang kaki gue dan kemudian mengenakan topi SMP. Upacara ini bukan kayak upacara bendera resmi yang harus berurutan, cuma pengibaran bendera terus sambutan kepala sekolah sekaligus pemukulan gong sebagai tanda dimulainya acara MOS yang akan berlangsung selama 3 hari kedepan.
Saat pembina upacara turun dari podium lalu diiringi dengan guru-guru pendamping yang meninggalkan lapangan, dimulailah saat-saat menegangkan bersama para tatib.
__ADS_1
Sebuah teriakan yang melengking terdengar dari podium upacara, menyuruh kami semua untuk melepaskan topi SMP yang sedang dikenakan dan digantikan oleh topi bola plastik berwarna merah serta menggunakan celemek bungkus kopi. Kami semua diberi waktu 10 hitungan untuk melaksanakan itu semua sekaligus merapikan seluruh atribut. 10 hitungan yang sedari tadi membahana kini digantikan oleh keheningan, ga ada suara yang terdengar selain kicauan burung pagi.
Para tatib kini mulai berkeliaran untuk memeriksa atribut kami. Sepatu warrior yang bersih, kaos kaki putih polos, sabuk, baju harus dimasukkan, rambut harus rapih, celemek, dan topi bola. Lalu terdengar sebuah teriakkan yang Cumiikkan telinga dari barisan ujung paling kanan disusul 2 orang laki-laki yang disuruh kedepan karena tidak menggunakan celemek.
Entah nasib sial apa yang menimpa gue hari ini, ada angin yang cukup besar menerpa gue yang mengakibatkan topi bola terlepas dari kepala gue dan jatuh agak jauh di samping kiri. Gue mencoba mengambil topi tersebut dengan menggunakan kaki sambil tetap menatap lurus kedepan. Karena kaki gue ga kena terus buat ngambil topi itu, mata gue sedikit melirik-lirik ke arah topi yang terjatuh. Sedikit lagi topi itu nyantol di kaki gue, namun topi tersebut direbut secara paksa oleh seorang cewek yang menggunakan blazer hitam dan berteriak di samping gue.
Tatib: INI TOPI PUNYA SIAPA? PUNYA KAMU DEK? NGAPAIN KAMU BUANG-BUANG? UDAH GA BUTUH LAGI ATRIBUTNYA? ATAU KAMU MAU DISURUH KEDEPAN?
Gue sedikit menengokkan kepala gue untuk melihat wajah sang tatib.
Loh....
Amel?
__ADS_1