
Terhitung sudah 9 tatib yang sukses mengerjai gue hari ini. Dan dari sembilan tatib tersebut sukses juga membuat gue menahan malu yang amat sangat. Yang ga akan pernah gue lupain itu satu: ketika gue disuruh oleh tatib cowok berjambang untuk meminta tanda tangan sekaligus foto dari seorang guru olah raga yang merangkap sebagai wakasek kesiswaan. Bukan main, susah sekali yang namanya meminta izin untuk berfoto dengan guru tersebut dan sering pula gue ditolak dengan alasan yang sama: 'Anda belum memakai seragam SMA. Anda belum resmi menjadi seorang siswa SMA dan berarti Anda belum boleh berfoto dengan saya.'
Berulang kali gue ditolak dan berulang kali juga gue mengejar guru tersebut mulai dari ruang guru hingga ke dalam kelas. Ketika gue sedang mengejar guru tersebut banyak sekali siswa kelas XI dan XII yang menatap gue sambil menahan tawanya. Melihat seorang bocah yang memakai celemek dari bungkus kopi dan memakai topi bola berwarna merah sekaligus masih berseragam SMP. Kostum yang gue kenakan sekarang sangatlah kontras sekali dengan seragam SMA pada umumnya sehingga mudah untuk melihat gue karena perbedaan ini.
Kadang terdengar beberapa selentingan seperti:
Hahaha itu ngapain ada badut anak SMP keliling SMA?
Gue merasakan muka dan telinga gue yang sudah panas menahan rasa malu karena dilihat oleh ribuan pasang mata. Puncaknya rasa malu ini adalah ketika permintaan gue diterima oleh guru tapi tersebut dengan syarat: gue harus berpose dengan meletakkan satu telunjuk gue di atas bibir.
Siapapun, bunuh gue sekarang...
Siang ini terasa sangat menyengat, sudah terhitung lebih dari 5 jam gue mondar-mandir sana-sini untuk menuruti apa yang menjadi kemauan dari tatib-tatib ini. Atau lebih tepatnya, memenuhi keinginan si cewek brengsek ini. Ya, dia adalah Aya. Gue yakin diantara permainan tatib-tatib ini pasti didalangi olehnya. Dan sekarang gue harus menghadapi 'dalang' dari semua permainan ini karena dia adalah satu-satunya tatib yang belum gue datangi.
Tatib (Cowok): Kamu udah dapet tanda tangan sama foto dari guru olah raga dan tanda tangan dari saya. Sekarang, kamu cari tatib yang bernama Amalia. Dia merupakan tugas terakhir kamu hari ini. Jika kamu menolaknya, saya pastikan tahun depan nama kamu berada dalam daftar peserta MOS tahun berikutnya.
Oh, jadi cewek gila itu bernama Amalia. Nama yang indah untuk seseorang yang brengsek.
Gue berjalan menuju lapangan depan untuk mencarinya namun rasa lelah ini sudah menggerogoti badan gue. Sejenak gue pergi ke toilet untuk membasuh muka dan menyegarkan pikiran. Sesampainya di toilet, ada 2 orang senior yang mungkin duduk di kelas XII melihat gue dengan tatapan yang merendahkan sambil menahan tawanya. Tatapan yang sering gue lihat ketika gue masih duduk di bangku SMP ketika mereka mengetahui sifat asli gue yang sangat manja yang mengakibatkan gue menjadi anti sosial dan individualistis. Gue ga memperdulikan hal itu dan langsung berdiam diri di dalam toilet. 10 menit gue jongkok sambil menutupi wajah dengan kedua tangan dan sesekali mengambil air dari ember untuk membasuh wajah dan telinga, mencoba meredam 'api' yang berkobar di dalam kepala ini. Gue yakin kalo sekarang wajah dan telinga gue sangatlah merah.
Gue ga bisa lama-lama disini, makin lama gue berdiam diri maka semakin lama juga gue menanggung malu ini. Gue bangun dari posisi jongkok dan keluar dari toilet, menghiraukan tatapan-tatapan aneh yang menatap gue sambil berjalan mencari seorang cewek yang mengenakan blazer hitam bergaris putih. Seorang cewek yang sudah sukses membuat malu gue di hari-hari pertama gue sekolah.
__ADS_1
Manda: HAAAH? Lo yakin Ay mau nyuruh dia kayak gitu? Lo ga liat apa sekarang si Bewok lagi ngerjain dia buat ngambil foto bareng Bu Aneu yang terkenal ga suka difoto? Ga kasian lo sama dia?
Manda terlihat ga percaya setelah gue menceritakan rencana yang akan gue lakukan kepada Naufal.
Gue: Iya gue yakin mau nyuruh dia kayak gitu. Terserah gue mau dong ngapain dia...
Manda: Ya lo pikir juga kali dia malunya kayak gimana kalo lo suruh kayak gitu Ay, gue juga pasti malu laaah kalo disuruh kayak gitu mah.
Gue: Udah terserah gue mau gimana. Sekarang jam istirahat mau selesai, gue mau balik lagi ngawas siswa baru. Gue tinggal dulu ya.
Gue kemudian pergi meninggalkan Manda yang memanggil-manggil nama gue. Gue masih tetap berjalan meninggalkan ruang osis dengan mood yang hancur gara-gara kelakuan cowok itu. Setelah gue meninggalkan ruang osis gue langsung duduk di dekat kolam ikan. Suara gemericik air disini sedikit membuat gue tenang. Mungkin sekitar 10 sampai 15 menit gue berdiam diri disini, lalu ada seorang cowok yang mengenakan topi bola berwarna merah dan celemek bungkus kopi berjalan ke arah gue dari ujung lorong. Ya, dialah penyebab mood gue yang down hari ini.
Tempat pertama yang gue tuju untuk mencari Aya adalah lapangan. Untuk melewati lapangan ada dua jalan, yang pertama berjalan melewati samping ruang guru yang dekat dengan kantin dan yang kedua adalah melewati lorong yang langsung mengarah ke lapangan. Gue memilih pilihan kedua karena gue rasa hanya akan ada sedikit siswa-siswi yang nongkrong disitu, setidaknya gue ga akan malu lebih banyak dari ini.
Gue: Kak Amalia?
Aya bangun dari duduknya dan menatap gue secara nanar.
Aya: Mana tanda tangan dari tatib sebelumnya?
Gue menyerahkan selembar kertas yang berisi 9 tanda tangan dari tatib sebelumnya.
__ADS_1
Gue: Ini kak.
Aya mengambil kertas tersebut dan memeriksanya satu per satu seakan-akan gue memanipulasi tanda tangannya.
Aya: Kamu mau hukuman selesai kan? Sekarang ikut saya.
Masih memegang kertas yang berisi tanda tangan dari tatib sebelumnya, Aya kemudian berjalan menuju lapangan bagian dalam dan gue mengikutinya dari belakang dengan perasaan ingin mencaci maki dirinya dari belakang. Kami berdua melewati seorang tatib yang gue ingat-ingat bernama Manda lalu menaiki tangga.
Setelah menaiki tangga, kami berdua belok kiri dan berjalan menuju ujung lorong lalu kemudian diam di depan kelas yang bertuliskan 'XII IPA 6'.
Aya: Sekarang, kamu minta tanda tangan sama foto dari guru yang sedang mengajar di dalam. Saya tidak akan beranjak dari sini sebelum kamu mendapatkan keduanya.
Gue: Baik kak...
Gue berjalan menuju pintu dan mengetuknya.
Tok..tok..tok..
Terdengar ada sebuah suara yang berasal dari dalam mempersilahkan gue masuk. Tanpa menunggu lama gue mendorong pintu tersebut ke dalam.
Gue: Permisi...
__ADS_1
Seluruh mata kini melihat ke arah gue dan mata gue menyapu seisi ruangan untuk melihat keberadaan guru tersebut. Namun disini gue kaget, gue kaget bukan karena melihat tampang dari guru yang bersangkutan. Gue kaget ketika melihat seseorang yang gue kenal. Seseorang yang merupakan kembaran dari orang brengsek yang menunggu di luar kelas.
Seseorang itu adalah Amel...