
Setelah mereka semua pulang gue, kembali sendiri di rumah. Gue merasa bahwa ada sebuah beban yang terangkat setelah Manda dan Aya meminta maaf kepada gue. Gue duduk di sofat tempat dimana Aya duduk sebelumnya. Gue merasakan ada air di lantai, gue mendekatkan kepala ke lantai untuk mengamati air tersebut. Ini bukan air dari soft drink, ini adalah air mata dari Aya yang tumpah hingga ke lantai.
Semenyesal itukah?
Malam harinya, gue ga bisa tidur. Gue kembali memikirkan kejadian tadi sore. Mengingat kembali tangisan Aya dan secara tiba-tiba dia memeluk gue sambil menangis. Dan perkataan Amel sebelum pulang juga menghantui gue.
'Aya tinggal di rumah neneknya, udah 2 tahun ga serumah sama aku.'
Kenapa dan bagaimana bisa mereka berdua ga tinggal serumah?
Lalu gue juga teringat dengan perkataan Ojan.
'Ga tau, ini ide si Hanif.'
Seorang Hanif yang kadang-kadang ngebuat gue kaget dan sering gangguin gue, memiliki sebuah rencana yang berhasil membuat Manda dan Aya mengetahui peristiwa yang sebenarnya dibalik tragedi 'surat cinta' gue dan dia sama sekali gak memberitahukan rencananya kepada gue, dia secara diam-diam merencanakan rencana tersebut saat gue gak masuk sekolah, seorang Hanif juga yang membuat gue terpana akan penampilannya hari ini. Yang jelas, hari ini dia sangat... Cantik...
Apa gue suka sama Hanif?
Biarkanlah sang waktu yang akan menjawabnya...
Bel istirahat sekolah berbunyi, seperti biasa seisi kelas berhamburan keluar dengan cepat. Dan seperti biasa juga gue menggunakan waktu istirahat ini untuk tidur.
Ojan: Fal, kantin yuk ah laper nih.
Gue: Engg.....
Ojan: 'Engga ah males, gue ngantuk pengen tidur.' Gampang ditebaknya.
Gue belum selesai berbicara tiba-tiba dipotong oleh Ojan, dan Ojan mengatakan hal yang sama seperti apa yang akan gue katakan. Orang ini sekarang punya semacam indera ke enam.
Ojan: Haniiif, anterin aku ke kantin yuuuk!
Gue: Jan, lo mending keluar sekarang deh. Geli gue denger nada lo digitu-gituin, cocok buat jadi bencong lampu merah.
Ojan: Daripada elo yang dingin gajelas, yuk Nif anterin aku hehehe.
Hanif: Ayo deh boleh aku juga laper.
Ojan: Liat tuh, gue berhasil mengajak Hanif ke kantin!
Gue: Iya terserah lo aja.
Hanif: Mau nitip sesuatu Fal?
Ojan: 'Engga usah, gue ga laper.'
Gue: Tuh udah dijawab Ojan.
Hanif: Yaudah, yuk ke kantin.
Hanif berjalan ke arah pintu kelas duluan, sementara Ojan mengikuti di belakang Hanif sambil mengepalkan tangan kanannya dan berkata 'Yesss!' secara pelan.
__ADS_1
Gue: Dzir...
Adzir: Hmmm?
Adzir masih terfokus pada game yang sedang dimainkannya di hp milik Ojan. Dia memang sangat freak dengan mobile game.
Gue: Si Ojan suka ya sama si Hanif?
Setelah gue berkata seperti itu, Adzir langsung menyimpan hp Ojan di atas meja dan berbalik melihat ke arah gue sambil menampakkan wajah yang serius.
Adzir: Seriusan lo?!
Gue: Gue nanya ke elo! Kok elo nanya balik ke gue sih?
Adzir: Serius serius.
Gue: Ya mana gue tau, coba deh elo tanyain. Tadi dia seneng banget pas berhasil ngajak si Hanif ke kantin.
Adzir: Waduh, inceran gue diincer si Ojan juga ternyata.
Gue: Lo suka juga sama si Hanif?!
Adzir: Eh....maksud gue....ng....
Adzir terlihat kikuk setelah dia keceplosan berkata seperti itu.
Gue: Santai, rahasia aman.
Sejurus kemudian dia menggerakkan jari telunjuknya seperti sedang memotong leher. Gue membalasnya dengan tersenyum sambil menaik-turunkan alis seperti apa yang dilakukan oleh Ojan, lalu gue merebahkan kepala di atas jaket, tidur.
Jam pelajaran terakhir hari ini kosong, guru mata pelajaran Fisika berhalangan hadir dan itu merupakan kabar baik bagi kelas gue. Gue pun memposisikan jaket di atas meja, menepuk-nepuknya sedikit agar menjadi empuk dan bisa digunakan sebagai bantal portabel. Dan sekarang kepala gue sudah mendarat diatasnya.
Hanif: Fal, tadi pas di kantin aku ketemu sama kak Amel. Katanya nanti dia mau ngomong sesuatu sama kamu.
Belum 5 detik gue merebahkan kepala, Hanif sudah mengajak gue mengobrol. Gue pun ga peduli dan masih tetap mencoba untuk tidur.
Hanif: Fal...
Hanif mencolek-colek bahu gue.
Hanif: Faaaalllll....
Kini Hanif menggoyang-goyangkan bahu gue. Ga ngerti apa ya gue ingin tidur?
Gue: Apa sih ah ganggu orang mau tidur aja.
Hanif: Iiiih dengerin kek kalo aku ngomong! Bete tau ga?!
Gue: Yaudah, mau ngomong apa?
Gue kemudian memposisikan badan gue menghadap Hanif, namun Hanif malah cemberut dan ga ngomong sepatah kata pun kepada gue.
__ADS_1
Gue: Mau ngomong gak?
Hanif masih terdiam.
Gue: Yaudah kalo ga mau, gue mau tidur dulu. Jangan diganggu!
Gue kembali merebahkan kepala di atas jaket. Tiba-tiba Hanif menginjak kaki gue.
Gue: Aw! Apa-apaan sih ganggu orang aja.
Hanif: Kamu jadi cowok kok ga peka banget siiiih kesel tau ga?!
Gue: Yeh mana gue tau lo maunya apa, tadi ngajak ngobrol terus pas gue udah serius mau ngobrol tapi elo malah diem.
Hanif: Ya bujuk aku kek apa kek biar aku mau ngomong.
Gue: Nah gitu dong ngomong maunya apa. Biar gue ngerti dan tau harus gimana. Jadi, Hanif sekarang mau ngomong apa?
Hanif: Ish, bete!
Kemudian Hanif berdiri dan keluar kelas. Karena gue ga ngerasa salah apa-apa, gue melanjutkan usaha gue untuk tidur di kelas.
Hingga pulang sekolah, Hanif masih ga mau berbicara kepada gue. Dia masih menutup rapat-rapat mulutnya tanpa mengeluarkan satu buah kata pun kepada gue.
Keesokan harinya gue datang lebih awal. Saat gue masuk ke dalam kelas, gue melihat Hanif sudah berada di dalam. Gue kemudian berjalan ke arah meja gue dan menyimpan tas di bangku sebelah Hanif dan kemudian duduk.
Gue: Nif...
Gue mengajak ngobrol Hanif sambil menatap lurus ke depan. Tetapi Hanif masih diam seribu bahasa, gak menghiraukan gue sama sekali.
Gue: Oi Nif....
Gue membalikkan badan menghadap Hanif, karena dia masih diam gue langsung menggerak-gerakkan telapak tangan gue di depan wajah Hanif namun dia tetap ga mau berbicara dan ga mau menatap gue. Karena gue merasa dikacangin, akhirnya gue kembali melaksanakan ritual harian gue: tidur di kelas.
Hanif: IIIH KESEL! BETE!!!
Hanif sedikit berteriak dan kemudian berdiri, berjalan ke arah pintu keluar dengan cepat. Gue menengadahkan kepala, mengikuti arah gerak Hanif hingga dia menghilang dibalik pintu.
Bel masuk berbunyi, Hanif masuk ke kelas sambil mengobrol dengan Santi. Saat mereka berdua mengobrol, gue dapat melihat dia mengeluarkan senyumnya ketika mengobrol dengan Santi. Namun senyuman itu menghilang ketika dia duduk disamping gue.
Gue: Nif, lo kenapa sih?
Hanif: Gatau! Jangan ajak ngobrol aku!
Gue menuruti permintaan Hanif. Selama jam pelajaran berlangsung, gue sama sekali ga mengajak ngobrol Hanif. Tetapi semakin lama gue ga mengajak ngobrol Hanif, semakin aneh juga sifatnya. Kadang-kadang dia mencorat-coret bukunya saat sedang menulis sambil berkata 'iiiih' dan kemudian pulpen yang dia pegang menjadi sasaran kemarahannya.
Gue bingung, gue ga ngerti harus gimana. Baru pertama kalinya gue menghadapi cewek yang aneh kayak gini.
Sebenernya,
Hanif kenapa sih?!
__ADS_1