Cowok Manja Merantau

Cowok Manja Merantau
Hukuman dari Tatib


__ADS_3

Salah seorang tatib pria berjambang buru-buru menutup pintu di belakang dengan kasar sehingga menimbulkan bunyi BRAKKK yang sangat keras ketika gue dan Aya masuk. Lalu dengan sigap dan cepat para tatib yang lain langsung mengerumuni gue dan sejurus kemudian ada seorang cewek langsung berteriak di depan muka gue sambil melotot. Terlihat urat di lehernya sangat menegang ketika berteriak. Satu lagi cewek gila selain Aya, batin gue dalam hati.


Tatib (Cewek): APA MAKSUD KAMU NGASIH SURAT CINTA KAYAK GITU DEK? KAMU MAU NANTANGIN KAMI DISINI HAH? NGERTI DIKIT DONG KAMU MASIH JUNIOR YANG GATAU APA-APA DISINI! BARU MASUK AJA KELAKUAN UDAH KAYAK GINI, KEDEPANNYA MAU JADI CALON LANGGANAN GURU BK?!


Gue masih diam sambil menatap mata cewek gila ini lekat-lekat dengan tatapan dingin, sebuah pandangan tanpa ekspresi.


Tatib (Cowok): KAMU PUNYA MULUT TIDAK?! APA SAYA PERLU BAWA KAMU KE DOKTER SPESIALIS MULUT UNTUK MEMERIKSAKAN MULUT KAMU YANG TERTUTUP RAPAT?


Sekarang giliran tatib cowok yang berjambang mulai berteriak dari belakang gue. Sedangkan gue sekarang memalingkan pandangan dari mata si tatib cewek ke arah lain, lurus memandang kaca yang diterpa mentari pagi dan kemudian melamun. Mengabaikan para pemain drama yang ga punya kerjaan selain berteriak-teriak di sekeliling gue.


Tatib (Cowok): JAWAB DEK!!!


BRAKKK, terdengar meja di samping gue dipukul dengan keras. Lamunan gue seketika terbuyar saat mendengar meja tersebut dipukul, mata gue yang menatap kosong ke arah jendela kini berkedip dan mulai memfokuskan kembali pandangan.


Gue: Saya membuat surat cinta itu karena saya tidak pandai membuat sebuah surat cinta dan saya hanya memberitahukan yang sebenarnya. Topi saya tertiup angin sampai terjatuh tetapi kakak tatib ini menuduh saya melempar topi tersebut.


Telunjuk kanan gue menunjuk kepada Aya. Merasa tidak terima dituduh seperti itu, Aya langsung mengeluarkan pembelaan.


Aya: KAMU MENCOBA BERBOHONG DISINI? JELAS-JELAS KEMARIN SAYA LIHAT DENGAN 'MATA ELANG' SAYA BAHWA KAMU MELEMPAR TOPI TERSEBUT! JANGAN PERNAH MERAGUKAN KETAJAMAN 'MATA ELANG' SAYA DAN SAYA TIDAK PERLU DATANG KE DOKTER SPESIALIS 'MATA ELANG'!!!


Cewek gila ini menunjuk ke matanya sendiri dengan jari dua jarinya. Dan satu hal lagi, cewek ini memakai kata-kata yang berada di dalam surat gue. Cewek yang bener-bener gila! Baru pertama kalinya ada cewek sejenis ini berdiri di depan gue.


Kemudian tatib-tatib yang lain secara bergiliran meneriaki gue, lama kelamaan gue jadi naik darah. Nafas gue mulai memburu karena emosi, namun gue mencoba menahan-nahan emosi gue dan kemudian kembali mengatur nafas. Menyadari hal ini, tatib cewek yang meneriaki gue pertama kali di dalem kelas ini langsung menarik gue keluar dari kerumunan para tatib.


Tatib (Cewek): Saya sekarang memberi kamu hukuman karena berlaku kurang ajar kepada tatib sekaligus kakak kelas kamu. Sekarang ambil topi bola, celemek, kertas selembar sama ambil hp kamu. Sekarang kamu ikut saya. JANGAN PROTES.


Gue kemudian melaksanakan perintah cewek ini dan mengikutinya keluar kelas. Ketika gue sudah berada di luar kelas, si cewek itu kembali ke dalam kelas sebentar lalu menarik tangan gue dan kemudian digiring ke arah ruang guru. Haduh mampus deh masalah ginian doang sampe dibawa ke ruang guru. Buah dari kelakuan gue pas SD baru dibales sekarang.


Tatib (Cewek): Hari ini, kamu ga usah ikut MOS. Sekarang, cari seorang guru yang namanya 'Pak Imron' dan ajak beliau kesini. Saya ga mau tau gimana caranya dalam 10 hitungan kamu sudah harus kembali di depan saya. SATU.....DUA.....


Gue hanya menghela nafas berat dan kemudian lari memasuki ruang guru. Di dalam ruang guru ini masih belum terlalu ramai karena masih pagi. Hanya ada beberapa orang guru yang baru datang sambil merapikan berkas-berkas yang menumpuk di atas meja mereka masing-masing. Gue melangkah mendekati seorang guru yang duduk ga jauh dari tempat gue berdiri.


Gue: Permisi pak...


Bapak tersebut menyadari kedatangan gue dan menatap sambil menaikkan alisnya seakan bertanya: ada apa?


Gue: Nggg....ini pak, anu, boleh tanya siapa guru yang namanya 'Pak Imron'?


Bapak tersebut menjawab dengan sebuah senyuman dan menunjuk ke seorang guru yang ga jauh berada di belakangnya dan beliau langsung meminum kopi yang berada mejanya. Gue sedikit membungkukkan badan sambil mengucapkan terima kasih kepadanya.

__ADS_1


Gue: Makasih pak, permisi...


Gue berjalan ke arah yang ditunjuk oleh bapak tersebut. Ketika sudah dekat dengan bapak ini, gue langsung melakukan hal yang sama terhadap orang yang gue temui sebelumya.


Gue: Permisi pak, dengan bapak Imron?


Bapak ini melihat gue dari atas kacamatanya.


Bapak: Oh mau ke Pak Imron? Itu tuh orangnya yang di barisan depan. Pak Imron! Ada yang nyari disini!


Bapak ini sedikit berteriak ke arah Pak Imron, bapak yang gue tanya sebelumnya. Sial! Ga tatib ga guru sama aja gila nya!


Bapak: Sedikit nasihat, pak Imron rajin ngejailin siswanya.


Bapak ini tersenyum dan kemudian menyeruput kopinya sambil mengalihkan pandangannya ke arah koran. Gue menggerutu dalam hati dan kembali ke orang yang gue temui sebelumnya.


Gue: Pak Imron?


Pak Imron hanya tersenyum, seperti biasanya.


Pak Imron: Iya ada apa nak? Ga ikut MOS kamu?


Pak Imron: Siapa orangnya?


Pak Imron memajukan kepalanya mencoba melihat ke arah pintu.


Gue: Siapa ya namanya? Ga tau pak, yang pasti dia pake blazer hitam. Cewek.


Pak Imron: Ooooh pasti kamu lagi dihukum mereka ya. Mari-mari, saya ikut ke depan.


Pak Imron langsung mengajak gue untuk ke depan ruang guru dan gue mengikutinya dari belakang. Sesampainya di depan, cewek itu langsung mencium tangan Pak Imron. Buset, gue lupa ga salaman sama pak Imron! Kelakuan gue minus satu di depan pak Imron.


Pak Imron: Oh kamu Manda, ada apa?


Manda: Ini pak, saya lagi ngasih hukuman sama siswa ini karena melanggar peraturan. Jadi saya ingin anak ini meminta tanda tangan bapak sambil berfoto bareng bapak. Bapak bisa?


Pak Imron: Boleh, mana sini saya harus tanda tangan dimana.


Gue kemudian menyerahkan kertas kosong yang gue bawa dengan pulpennya, setelah menandatanganinya kemudian beliau mengembalikannya kepada gue.

__ADS_1


Pak Imron: Nih, ayo sekarang foto mumpung masih pagi! Belum keringetan.


Pak Imron sangat antusias menjelang sesi foto. Gue kemudian mengambil hp di saku celana dan memberikan ke cewek yang sekarang gue ketahui bernama Manda.


Gue: Kak, boleh minta tolong fotoin?


Gue berkata sambil tersenyum manis ke arah Manda namun dibalas dengan tatapan sinis seakan berkata: gue bukan babu lo!


Dengan setengah hati Manda menerima handphone gue dan menyuruh untuk mendekat ke pak Imron.


Manda: Pak cepet pak berdiri lebih deket lagi, tunggu..tunggu... ga masuk ke kameranya, eeeet mundur-mundur dikit lagi, ya cukup! Tiga...dua...satu...


CKREK! Kamera VGA hp gue sukses merekam salah satu momen di sekolah ini untuk pertama kalinya. Setelah berfoto, Manda tertawa sendiri melihat hasil jepretannya.


Manda: Ih lucu pak, difoto bareng badut sekolah ini hahahaha.


Elo yang nyuru gue pake celemek sama topi ga jelas ginian, ya iya gue jadi badut!


Manda: Oh iya pak satu lagi. Saya ingin anak ini berbicara 'saya tidak akan melanggar aturan lagi' di depan bapak.


Manda kemudian menatap ke arah gue. Gue hanya mendengus kesal.


Gue: Pak Imron, saya tidak akan melanggar aturan lagi.


Pak Imron: Hahahaha mau-maunya kamu dijailin sama orang kayak dia. Yaudah, saya mau masuk lagi ke dalem.


Gue: Makasih pak.


Sekarang gue ga lupa mencium tangan pak Imron. Manda pun melakukan hal yang sama seperti gue.


Manda: Mana sini kertas kamu, saya tanda tangan dulu.


Gue memberi kertas dengan pulpennya.


Manda: Ini, sekarang kamu cari tatib yang namanya Rudi. Dia ngasih tugas berikutnya.


Manda memberikan kertas bersama pulpennya dan langsung pergi meninggalkan gue.


Ffffuhhh...

__ADS_1


Gue menghela nafas dan kemudian berjalan meninggalkan ruang guru, mencari tatib yang bernama Rudi..


__ADS_2