Cowok Manja Merantau

Cowok Manja Merantau
Tragedi Surat Cinta


__ADS_3

Malam harinya gue masih terjaga di depan meja belajar. Ga lain dan ga bukan karena mikirin tentang apa yang harus ditulis di dalam 'surat cinta' persetan yang wajib gue buat untuk Aya. Jam di dinding sudah menunjukkan angka 11 dan seharusnya gue tidur lebih awal karena besok gue harus kembali berada di sekolah pada pukul 05.30.


10 menit, 20 menit, bahkan hingga satu jam gue masih belom menulis satu patah katapun untuk 'surat cinta' ini. Gue ga ngerti dan ga tau apa yang harus gue tulis ke dalam surat ini. Gue ga ngerti tentang cinta-cintaan, gue ga ngerti jalan pikiran cewek, dan gue ga ngerti cara meluluhkan hati cewek. Kalo disuru nulis cara bersikap dingin ke cewek mungkin gue udah tulis delapan ratus kata dalam satu jam kurang yang terangkum dalam sebuah esay.


Gue menjambak rambut dengan kedua tangan, memaksa otak gue untuk bekerja ekstra keras sambil sesekali bergumam 'Errggghh', atau 'Arghhh', atau kata-kata yang mendefinisikan keadaan gue pada saat itu. Gue mengusap wajah dan kemudian mengambil hp yang terbaring di sebelah kertas kosong, kembali mencari referensi isi surat cinta di internet yang sudah gue coba beberapa saat lalu. Gue kembali membaca contoh-contoh surat cinta secara ringkas yang selalu sukses membuat perut gue geli. Sepasang bola mata gue ga kuat untuk ngebaca 'surat cinta' versi beneran yang beredar di internet.


Ini yang namanya surat cinta? Cih.


Gue kemudian tersenyum sambil menjentikkan jari dan sejurus kemudian gue sudah mulai menulis surat cinta versi gue sendiri.


Pulpen di tangan kanan kini sedang menari dengan indahnya di atas panggung yang bernama kertas putih sambil menampakan keanggunan yang dimilikinya. Kurang dari sepuluh menit pulpen itu menari dan kini ia sudah tergeletak lemas di lantai, capek karena abis menari langsung diajak check in bareng om-om yang ngeliat tarian eksotisnya.


Beberapa saat kemudian, gue kembali membaca 'surat cinta' bikinan gue sendiri. Gue bergumam dalam hati:


Oke surat cinta udah jadi. Dan gue ingin liat ekspresi lo setelah membaca surat 'cinta' gue.


Pagi harinya gue dibangunkan oleh alarm yang bergema menyelimuti seisi kamar gue, suara yang semakin lama semakin gue benci. Dan gue yakin suatu saat nanti ketika gue kembali mendengar bunyi yang sama, gue akan semakin membenci suara ini walaupun gue lagi gak tidur. Dengan mata terpejam, tangan kanan gue muncul dari balik selimut mencoba meraih hp untuk mematikan alarm. Setelah mematikan alarm gue langsung mandi bebek sambil menahan dinginnya guyuran air es.

__ADS_1


Mandi selesai, pake sempak selesai, dan gue sekarang udah lengkap dengan seragam putih biru lalu bergegas menuju meja makan.


Mampus...


Gue lupa kalo bibi hari ini ga ke rumah karena kemarin sore mengeluh gak enak badan jadi gue menyuruh untuk istirahat di rumah. Dan imbasnya pagi ini ga ada makanan yang tersaji di atas meja sedangkan jam sudah menunjukkan angka 5 lebih sepuluh. Gue mengurungkan niat untuk sarapan lalu mengecek kelengkapan isi tas mulai dari celemek bungkus kopi sampe ke surat cinta. Astaga, gue hampir lupa kalo topi bola gue kemaren disita sama si brengsek Aya.


Kemudian gue lari ke tempat sampah untuk mencari potongan bola sebelahnya. Untung, potongan tersebut masih berada di dalam tong sampah. Gue bersihkan sedikit dengan menggunakan air keran lalu memasukkannya ke dalam tas dan pergi ke sekolah dengan perut yang terisi oleh angin.


Tatib (Cowok): YANG KEMAREN MELANGGAR PERATURAN, MAJU KEDEPAN SEKARANG DENGAN MEMBAWA TUGAS KALIAN!


Gue kemudian meninggalkan Ojan yang sedang merapikan atributnya dan di jemari tangan kanan gue sekarang terselip sebuah amplop yang berisikan 'surat cinta' untuk Aya, atau lebih pantas disebut dengan 'surat pembalasanku untukmu'. Sekilas Ojan berbisik: sukses nembak tatibnya! Beneran bangke anak ini.


Pada saat proses penyerahan, ada seorang tersangka cewek yang memberikan sebuah surat cintanya sambil menunduk dengan wajah memerah dan hal ini disadari oleh tatib yang lain. Bisa ditebak kelanjutannya dari tersangka cewek ini kayak gimana. Ga perlu gue jelaskan kemalangan dari wanita malang ini.


Lalu tiba saatnya gue memberikan surat cinta gue untuk Aya. Gue berjalan perlahan sambil sedikit *** bagian ujung amplop.


Gue: Ini kak surat cinta saya untuk kakak.

__ADS_1


Gue memberi amplop tersebut sambil menaikan bibir kanan gue, mencoba untuk tersenyum paksa. Gue menatap matanya dengan tatapan yang memiliki pesan tersirat: mamam tuh surat cinta!


Aya mengambil surat cinta tersebut dengan cepat dan langsung memasukkannya ke dalam saku blazernya.


Aya: Balik ke barisan.


Walaupun dia ga teriak-teriak, tapi dia berkata dengan cepat dan nada dalam suaranya datar namun matanya menatap sinis ke arah mata gue, tanpa berkedip. Setelah 'sidang' dibubarkan, gue kembali ke barisan dan sekarang sudah berdiri berada di samping Ojan.


Ojan: Gimana sob? Lancar?


Gue: Yah, paling besok gue dipanggil lagi.


Keesokan harinya ketika gue datang ke sekolah, gue langsung disambut oleh si penerima surat cinta gue. Tanpa basa-basi, dia langsung berteriak dan dia sama sekali ga peduli bahwa siswa-siswi baru langsung menaruh perhatian kepadanya.


Aya: KAMU IKUT SAYA SEKARANG! MASIH SISWA BARU TAPI KELAKUAN KAYAK GINI!


Dia berkata seperti itu sambil mengeluarkan surat cinta pemberian gue yang sudah berbentuk menjadi bola dari saku blazer hitamnya. Sedetik kemudian surat itu dilempar ke arah tong sampah dan tangannya mulai menarik lengan kiri gue secara paksa, meninggalkan lapangan dan masuk ke sebuah kelas. Dari ujung mata gue sebelah kanan, gue dapat melihat Ojan sedang menggelengkan kepalanya, peduli lah!

__ADS_1


Sesampainya di kelas, mata gue membelalak kaget melihat isi kelas tersebut. Ternyata di dalam kelas sudah terisi oleh sembilan orang yang mengenakan blazer hitam bergaris putih di bagian punggungnya, menanti kedatangan gue bersama Aya.


Hari ini, gue mati. Maafkan kesalahan anak kesayanganmu, mam, pap...


__ADS_2