
Ada sesuatu yang mengganjal di dalam hati gue setelah mendengar cerita Amel tentang masa lalu mereka berdua. Atau lebih tepatnya, masa lalu Aya. Gue ngerasa bahwa sekarang gue memiliki rasa simpati kepadanya. Dan saat gue melihat Amel menangis, ada dorongan di dalam diri gue untuk bisa membawa 'sosok' Aya yang sesungguhnya untuk kembali ke permukaan yang semakin lama semakin tenggelam dalam lembah kesedihan yang tak berujung.
Namun pikiran itu gue buang jauh-jauh setelah gue kembali mengingat perlakuan Aya terhadap gue pada saat MOS. Mungkin kalo dia dulu ga ngehukum gue segila itu, pasti sekarang kejadiannya ga akan kayak gini.
Sorry, Aya. First impression lo terhadap gue sudah gagal total.
Totally, fu-cked, up.
Ya, itulah yang dikatakan oleh logika dan nalar gue. Otak gue kini sedang menghipnotis gue dengan hukum kausalitas, hukum sebab-akibat. Karena Aya dulu pernah melakukan hal yang sangat gue benci, maka akibatnya sekarang Aya sama sekali ga berhak mendapatkan simpati dari gue.
Tapi di satu sisi, Aya mempunyai masa lalu yang berat seperti gue dan karena itu juga hati dan perasaan gue berkata sebaliknya. Walaupun serupa tapi tak sama, gue dapat merasakan penderitaan yang dialami oleh Aya.
Ga, gue harus bisa menghilangkan semua perasaan simpati gue terhadap Aya. Logika dan nalar gue selalu benar, mereka lebih detil dalam memperhitungkan suatu hal dan sangat berbeda dengan hati dan perasaan. Dan sekarang, gue kembali mengikuti apa kata logika dan nalar gue sendiri.
Sudah hampir satu bulan semenjak Hanif terakhir kali mengunjungi rumah gue. Malam ini gue sedang tidur-tiduran di atas kasur sambil ditemani oleh alunan lagu Fat Bottomed Girls-nya Queen, sebuah grup band era 70-an yang sangat digemari oleh bokap gue dan sekarang gue pun mulai menggemari band tersebut.
Drrt...drrt...
Lagu yang diputar dari handphone gue berhenti karena ada sebuah notifikasi sms yang masuk.
Gue: Ah siapa sih, ganggu mulu.
Gue beranjak dari tempat tidur dan mengambil handphone di atas meja belajar. Gue melihat nama yang tertera di layar handphone gue.
Hanif
Lah, ngapain nih anak nge-sms gue? Tumben banget dia nge-sms gue. Akhirnya gue membuka sms tersebut dan membaca isinya.
Fal, besok pulang sekolah kosong ga? Temenin aku yuk!
Salah satu kebiasaan Hanif yang mulai gue ketahui; ngomong ga pernah tuntas. Ya, contohnya aja kayak isi sms itu. Dia ngajakin gue buat nemenin dia tapi dia sendiri ga ngasih tau gue harus nemenin dia kemana. Gue pun menghela nafas dan mencoba memaklumi kebiasaan Hanif lalu mulai mengetikkan balasan untuknya.
Kemana?
Setelah gue melihat bahwa sms gue sudah terkirim, gue kembali memutar lagu yang sempat terhenti akibat sms tersebut dan kembali merebahkan badan di atas kasur. Mata gue mulai kriyep-kriyep mengantuk, lagu ini hampir sukses membuat gue terlelap. Namun rasa kantuk gue kembali hilang saat lagu yang diputar tiba-tiba berhenti dan digantikan oleh suara getaran yang berisi notifikasi sms.
Ck, Hanif ganggu gue mulu! Ga di sekolah ga di rumah, sama aja tukang gangguin orang!
Dengan langkah gontai, gue melangkah ke depan meja belajar dan membaca isi sms tersebut.
Temenin aku makan di luar! Ga mau tau pokoknya harus bisa! Titik!
Asli, anak ini bener-bener begonya ga ketulungan. Kasih tau tempatnya dimana kek. Duh...
Iyaaa mau makan dimana Haniiiiif? Kalo nge-sms tuh yang lengkap napa?! Biar ga ngabis-ngabisin pulsa.
Belum 2 menit setelah gue membalas, Hanif sudah kembali membalas sms gue.
__ADS_1
Iiiih kamu bawel banget! Udah pokoknya besok temenin aku ya! Aku ngantuk mau tidur. Dadah Naufal!
Gue hanya bengong ngeliat isi sms dari Hanif. Ga sadar apa ya sendirinya yang bawel? Hadeh...
Gue: Jan, gue bingung nih.
Ojan: Napa? Hanif lagi?
Gue: Pinter!
Ojan: Kenapa lagi sekarang?
Gue: Entar pulang sekolah gue diajak makan keluar sama dia, lo ikut gue ya? Bingung gue kalo berdua sama cewek harus ngapain.
Ojan: Asli, lo begonya ga ketulungan. Dia udah ngajak elo makan berdua terus masih mau ngajak gue juga? Lah, otak lo ada yang salah berarti.
Gue: Kan gue belom pernah makan diluar berdua Jan, apalagi sama cewek. Mana gue tau entar gue harus ngapain.
Ojan: Maka dari itu! Lo harus dapet pengalamannya sekarang! Keburu tua entar hahahaha.
Gue: Yaudalah, moga aja lancar.
Ojan: Santai brader, jangan tegang gitu dong. Santaaaiiii...
Gue kembali melanjutkan obrolan ringan dengan Ojan sambil makan di kantin.
Kamu di kelas kebiasaannya tidur mulu! Coba deh jalan-jalan keluar kelas. Asik tau, apalagi kalo masih pagi. Udaranya sejuuuk banget, sekarang temenin aku ngobrol di depan kelas yuk! Di kelas ga enak, sumpek.
Dan entah kenapa, gue bisa menuruti perkataannya. Seolah-olah kata-katanya dapat mempengaruhi alam bawah sadar gue. Dan tanpa sadar, gue sekarang sedang senyum-senyum sendiri saat mengingat setiap perkataannya.
Ojan: Woi! Ngapain lo senyam-senyum? Mulai gila lo?
Gue: Engga, lagi pengen doang.
Ojan: Ga habis pikir, Hanif ternyata bisa ngebuat elo jadi segila ini ya. Udah ah abisin makanan lo, keburu bel masuk.
Lalu gue menghabisi makanan yang sudah gue beli dengan senyuman yang merekah tersungging di bibir.
Hanif sudah merubah dan membuat hidup gue menjadi penuh warna...
Beberapa saat sebelum bel berbunyi, Hanif sudah mewanti-wanti gue agar gue ga lupa dengan janji yang sudah dibuat semalem. Asli, ini cewek ngeselin banget. Semalem gue ga buat janji apa-apa sama dia, yang ada malah gue yang dipaksa sama dia buat nurutin kemauan dia. Dasar cewek...
Bel pulang berbunyi, gue kemudian bergegas membereskan peralatan yang berserakan di atas meja. Saat sedang beres-beres, gue melihat ke arah Ojan. Dia sedang memakai jaketnya lalu mengacungkan kedua jempolnya ke arah gue. Gue membalas acungan jempol Ojan dengan sebuah senyuman. Ojan mengangguk dan kemudian mengambil tas dan meninggalkan kelas bersama Adzir.
Hanif: Sekarang kita pulang dulu ke rumah kamu ya Fal! Kamu pake baju yang bagus, jangan pake seragam!
Gue: Ya siapa juga yang mau keluar pake seragam. Tapi lo gimana? Masa pake seragam sih?
__ADS_1
Hanif: Aku sekarang ikut dulu ke rumah kamu, terus kita ke rumah aku buat ganti baju aku, baru deh pergi! Hehehe.
Yowes lah, sakarepmu ae...
Hanif: Hmmm, engga..engga..engga, coba atasannya ganti.
Gue kembali menggantungkan baju di hanger dan memasukannya kembali ke dalam lemari. Mungkin sudah terhitung lebih dari 4x Hanif memilihkan gue baju yang pas untuk menemaninya hari ini.
Gue: Udahalaah cuma mau makan diluar doang, ga usah pake baju yang aneh-aneh. Mau makan dimana sih?
Hanif: DIEM! Aku lagi mikir baju mana yang bagus buat kamu.
Hanif mengacungkan telunjuknya ke arah gue dan kemudian kembali fokus kepada isi lemari baju gue. Dia mengambil beberapa kemeja dan menggantungkannya di udara sambil menggumam 'hmmm', lalu memasukkan kembali kemeja tersebut dan kemudian mengambil kemeja yang lain. Begitu seterusnya, hingga dia menemukan sebuah kemeja berwarna biru dengan salur-salur putih.
Hanif: Nih, coba pake yang ini! Sana ganti di kamar mandi hus-hus!
Gue hanya mendengus sambil mengambil kemeja dari tangannya sementara dia hanya tertawa cengengesan. Selang dua menit, gue sudah keluar lagi dari kamar mandi dan gue lihat isi lemari gue sudah hampir dikeluarin semua. Hanif kemudian menyuruh gue untuk berputar di depannya lalu kemudian dia bertepuk tangan kecil.
Hanif: Yeeee bagus! Eh tapi kamu coba deh pake kaos yang ini terus didobel sama kemeja yang kamu pake sekarang, tapi jangan dikancingin kemejanya. Cepet aku mau liat!
Gue mengambil kaos putih polos yang dia pegang dan kembali menuju kamar mandi.
Rese banget anak satu ini.
Sekarang gue sedang gantian menunggu Hanif mengganti baju di dalam kamarnya. Rumah Hanif ternyata lumayan luas dan berlantai satu. Kamar Hanif sendiri berada di dekat halaman belakang. Sambil membunuh rasa bosan, gue melihat-lihat foto yang terpampang di dinding rumahnya. Mata gue tertuju pada sebuah foto keluarga yang berukuran besar terpasang di ruang tamu, di dalam foto tersebut ada Hanif dan kedua orang tuanya lalu gue melihat ada satu orang lagi, mungkin dia kakaknya. Dan kakaknya juga lumayan cantik, malah lebih cantik dari Hanif. Gue taksir umurnya sudah 20-22 tahunan.
Hanif: Hayooo lagi ngeliatin foto aku ya?
Pundak gue ditepuk oleh seseorang, secara reflek gue membalikkan badan ke belakang.
Gue: Gila lo ngagetin gue mulu! Eh...
Gue kaget dan bengong saat melihat Hanif. Saat itu, dia menggunakan kaos hitam polos dibalut dengan cardigan biru berlengan panjang yang senada dengan warna dasar kemeja gue, pipinya agak merah setelah diberi sedikit blush on, di lehernya terpasang sebuah kalung yang terbuat dari kayu berwarna cokelat, dia juga menggunakan kacamata seperti saat ke rumah gue dulu, dan dia menggunakan celana jeans hitam dan lagi-lagi warnanya senada dengan jeans yang gue pakai. Saat itu, dia sangatlah cantik sekali.
Hanif: Hoi, kok bengong?
Lamunan gue terbuyar setelah Hanif berbicara kepada gue. Ternyata ga sia-sia gue menunggu selama hampir 1 jam lebih setelah melihat penampilan Hanif yang sukses membuat gue terpukau.
Gue: Uh, eh... Gapapa. Mau makan kemana emang sekarang?
Hanif: Makan sama keluarga aku! Soalnya nanti kakak aku yang itu mau nikah 2 bulan dari sekarang, jadi bakal jarang makan sekeluarga lagi.
Hanif menunjuk ke arah foto, menunjuk ke arah kakak perempuannya.
Dan gue kembali bengong,
Gue diajakin makan dan ketemu keluarganya?!
__ADS_1