
Di dalam angkot yang mengetem ini gue selalu memandangi layar handphone dengan cemas. Jam digital yang tertera pada layar menunjukkan angka 04:40, gue udah telat 10 menit. Gue menggigit bibir bawah gue sambil memandang ke arah supir, seakan-akan memberi isyarat gue udah telat, tolong jangan ngetem! Sementara si supir masih asyik menghisap asap racun dari tangan kanannya dengan santai.
Gue: Pak, bisa langsung berangkat? Saya udah telat nih.
Supir: Bade kamana atuh, ieu subuh keneh.
Gue mendengus kesal sambil merogoh uang receh yang berada di saku baju sebelah kiri lalu buru-buru turun dari angkot laknat ini.
Gue: Ini pak.
Supir: Lho....lho....lho, bade kamana? Buru naek deui mamang indit ayeuna!
Supir angkot tersebut berteriak memanggil gue yang sudah berjalan menjauhinya. Gue berbalik ke arahnya sambil memasang wajah kesal dan berjalan kembali masuk ke dalam angkot. Setelah gue duduk, si supir angkot memasukkan perseneling dan angkot tersebut melesat membelah dinginnya udara pagi ini.
Gue berlari ke arah gerbang sambil tergopoh-gopoh. Dari kejauhan sudah terlihat gerbang bercat hitam diterpa lampu berwarna putih yang berasal dari pos satpam. Gue melewati gerbang tersebut sambil menyapa satpam yang sedang asik mengopi. Gue berlari dan belok ke arah kiri, dengan kecepatan lari yang konstan gue menyusuri lorong dan kemudian berhenti di depan ruang osis. Gue mengatur nafas sebentar lalu mengetuk membuka pintu tersebut.
Gue: Sori sori gue telat, angkotnya ngetem terus ga mau maju.
Manda: Yeee suruh siapa ga bawa motor. Udah tau kalo pagi mah angkot ngetem terus. Nih pake langsung.
__ADS_1
Manda memberikan sebuah blazer hitam bergaris putih di belakangnya. Gue membuka lipatannya dan mengukur-ukur dengan badan gue yang ramping ini.
Gue: Yah, kegedean Mand. Ada lagi ga?
Manda: Ga ada Ay, adanya tinggal yang itu. Yang kecil udah dipake sama Rima sama Astri. Elo sih telat, salah sendiri kalo ga dapet yang ukuran kecil.
Gue: Blazer gue tukeran sama elo aja dong, pas tuh di badan gue kayaknya.
Manda: Gak mau weeek, udah pake aja yang itu.
Gue mendengus kesal dan menggunakan blazer hitam ini kemudian memutar-mutar tubuh di depan kaca. Duh gede banget. Dasar angkot sialan!
Manda: Udaaah cantik kok, cepet sana bantuin yang lain buat ngeberesin kelas. Jam setengah enam nanti murid baru udah pada dateng soalnya. Hus-hus!
Manda menggerakkan tangannya seperti sedang mengusir ayam dan gue kemudian keluar dari ruang osis, meninggalkan Manda yang sedang memberi arahan kepada anggota osis lainnya tentang susunan kegiatan acara ini.
Gue sekarang berdiri di pinggir lapangan di bawah pohon sambil memegang perut yang mulai bergejolak. Seisi lapangan kini sudah dipadati dengan anak-anak berbau kencur yang menggunakan seragam SMP. Gue tersenyum dan kembali mengenang masa-masa dimana gue masuk ke sekolah ini bareng kembaran gue dua tahun lalu, Amel. Lamunan gue terbuyar ketika Manda, ketua tatib tahun ini, memanggil gue.
Manda: Ay, lo stand by di depan gerbang gih bareng Daniel sama Bewok buat nungguin anak yang telat. Udah jam 6 kurang loh.
__ADS_1
Manda berbicara ke arah gue sambil melihat ke arah jam tangannya.
Gue: Suru si Astri aja Mand, gue mau ke toilet bentar.
Manda: Yee elo, nurut sama ketua kek.
Gue: Masa entar gue mau kentut-kentut di depan siswa baru? Malu kaleee wajah tatib gue mau disimpen dimana entar? Gue ke toilet bentar ya, daaaah!
Gue melambaikan tangan ke arah Manda sambil berjalan cepat menuju toilet, perut ini sudah tak mau lagi berkompromi.
Sekembalinya dari toilet, gue lihat cewek yang rambutnya dikuncir sedang berteriak memarahi siswa yang datang terlambat dari balik gerbang yang tertutup. Astri kalo lagi teriak cempreng banget ya suaranya, lucu! Gue masih berdiri di tempat khusus para tatib didampingi dengan anggota tatib lainnya yang masih menunggu giliran untuk beraksi. Ga lama kemudian, seluruh siswa baru diarahkan untuk berdiri dan berbalik ke ke arah podium. Sebentar lagi akan diadakan upacara pembukaan MOS. Gue dengan rekan tatib lainnya diinstruksikan untuk mengelilingi barisan para siswa dari samping dan belakang. Gue sendiri kebagian tugas menjaga di belakang barisan.
Sekitar 20 menit kemudian, sebuah suara gong sudah terdengar dan kepala sekolah pergi meninggalkan podium diiringi guru-guru yang lainnya. Manda kini telah mengambil alih kuasa terhadap seluruh lapangan dan mulai berteriak sangat keras dari atas podium upacara, menyuruh para siswa-siswi untuk mengenakan celemek dan topi bola. Gue menengok ke sebelah kanan dan mengangguk kecil memberi kode kepada rekan sesama tatib agar mulai memeriksa atribut siswa-siswi baru.
Barisan siswa-siswi yang tadinya sangat rapat kini telah diatur menjadi lebih renggang agar memudahkan kami (para tatib) untuk memeriksa kelengkapan atribut mereka. Gue mulai memeriksa barisan paling belakang, mengecek seluruh kostum khusus mereka. Lalu terdengar suara teriakkan Rudi dari sebelah kanan lapangan sambil menggiring 2 orang cowok untuk maju ke atas podium.
Sesaat setelah memeriksa barisan belakang, ujung mata gue melihat ada siswa yang melempar topi bolanya dan kemudian kaki sebelah kiri siswa tersebut berusaha menggapai topi tersebut. Buru-buru gue merangsek maju ke depan dan langsung menyambar topi bola tersebut.
Gue: INI TOPI PUNYA SIAPA? PUNYA KAMU DEK? NGAPAIN KAMU BUANG-BUANG? UDAH GA BUTUH LAGI ATRIBUTNYA? ATAU KAMU MAU DISURUH KEDEPAN?
__ADS_1
Gue berteriak kepada siswa tersebut, dia sedikit menengokkan kepalanya dan bola mata miliknya sudah mentok di ujung sebelah kiri rongga matanya. Bukan ekspresi takut yang gue dapatkan darinya, malahan dia menunjukkan sebuah ekspresi heran ketika melihat gue.
Ini anak kenapa ngeliatin gue kayak gitu?