Cowok Manja Merantau

Cowok Manja Merantau
Daftar Sekolah


__ADS_3

Keesokan harinya di sore hari, gue keluar untuk jalan-jalan sambil menuju rumah Amel dengan harapan bahwa gue bakal ketemu dengan bokapnya. Masih beberapa puluh meter dari rumah Amel, ada sebuah mobil berwarna hitam yang melewati gue dan ga lama kemudian mobil itu berhenti di depan rumah Amel.


Gue menghentikan langkah gue sejenak, memperhatikan mobil tersebut dari kejauhan dan ga lama kemudian kemudian seorang laki-laki keluar dari dalam mobil dan memencet bel di pintu pagar.


Saat pintu pagar terbuka, seorang pria berbadan tegap keluar untuk menyambut kedatangan laki-laki tersebut. Mata gue memincing untuk memperjelas siapa sosok pria tegap tersebut dan gue terka-terka adalah bokapnya Amel. Mereka berdua sekarang masuk ke dalam rumah dan meninggalkan pagar dengan posisi sedikit terbuka.


15 menit berlalu, terlihat Amel keluar dan memasuki mobil hitam tersebut kemudian disusul oleh laki-laki yang membawa mobil. Sebelum masuk ke mobil, laki-laki tersebut berbincang dengan bokapnya Amel. Laki-laki itu manggut-manggut kemudian menyalami tangan bokap Amel lalu mobil hitam itu berjalan meninggalkan sang pria yang masih melihat mobil tersebut bergerak menjauh.


Gue langsung berlari menuju rumah Amel. Sesaat sebelum pagar tersebut ditutup gue agak sedikit berteriak.


Gue: Pak! Tunggu sebentar pagarnya jangan ditutup dulu!


Bapak tersebut kembali membukakan pagar dan mencoba mengingat-ngingat gue.


Bapak: Lho kamu ini.... Naufal kan? Tumben main kesini, ada apa dek? Nyari Amel? Amel baru aja pergi sama pacarnya. Sini, ayo masuk dulu dek Naufal.


Gue: Bukan pak. Ini lho pak, nggg.....nganu, saya kayaknya jadi masuk ke SMA XX yang bapak tawarkan sebelumnya.


Bapak: Oh bagus kalo begitu, bagus.


Gue: Nanti malam ba'da maghrib bapak ada di rumah nggak? Ayah saya mau mencari informasi tentang SMA XX ini.

__ADS_1


Bapak: Boleh, boleh. Silahkan, nanti bapak tunggu sehabis maghrib ya dek. Mau masuk dulu?


Lagi, bapak tersebut menawarkan gue untuk masuk. Kayaknya bapak ini ngebet banget ngajak gue masuk ke rumahnya.


Gue: Ngg.....nggak deh usah pak makasih. Saya permisi dulu, assalamualaikum.


Bapak: Waalaikumsalam.


Gue: Oh iya lupa, nama bapak siapa?


Si bapak tersebut terkekeh.


Gue: Oh, makasih ya pak Rendra. Saya permisi dulu.


Dan setelah shalat maghrib, gue dan bokap sudah berada di rumah pak Rendra


2 hari setelah pertemuan bokap gue dengan bokapnya Amel.


Bokap dan nyokap gue sudah pulang kembali ke kota asalnya kemarin malam dan kembali menggunakan kereta. Dari percakapan antara bokap gue dan bokapnya Amel tempo hari, dapat diketahui bahwa bokapnya Amel adalah seorang komite sekolah yang mengenal dekat dengan kepala sekolahnya sehingga prosesi pendaftaran sekolah baru gue bisa dibilang cukup cepat dan dapat dipastikan bahwa gue bakal sekolah disitu karena NEM yang gue miliki sudah di atas batas minimal agar bisa masuk. Sekarang, gue hanya tinggal melengkapi berkas-berkas yang harus diserahkan kepada sekolah dan batas waktu penyerahannya adalah 5 hari sebelum jadwal kegiatan belajar mengajar dimulai.


Jujur, disini gue agak kecewa karena setiap kali gue mendaftar sekolah, mulai dari SD sampai SMA gue ga pernah ditolak sekalipun dan pasti masuk ke sekolah tersebut dalam sekali coba. Gue ingin merasakan gimana rasanya kecewa ketika ditolak oleh sekolah yang kita idam-idamkan, merasakan capeknya berkeliling dari satu sekolah ke sekolah lain untuk mendaftar, memantau perkembangan nama siswa yang masuk berdasarkan urutan nilai, dan masih banyak lagi yang ingin gue rasakan dibalik kemudahan yang gue terima.

__ADS_1


Dan satu hal yang ga gue pahami tentang pola pikir bokapnya Amel adalah kenapa beliau bisa sebaik itu ke orang lain yang baru dikenalnya selama beberapa hari kebelakang. Tapi yang gue tangkap disini, bokapnya Amel selalu berpikiran positif terhadap orang lain. Ga seperti gue yang individualistis dan kadang meng-underestimate orang lain.


6 hari sebelum masa liburan berakhir, gue diantarkan oleh bokapnya Amel menuju sekolah untuk melaksanakan prosesi daftar ulang dengan menggunakan angkot. Awalnya, bokap Amel menolak dengan alasan menghemat dan bisa dianter pake mobil. Namun karena gue disini ga punya kendaraan dan harus menggunakan angkot, jadi beliau akhirnya setuju sambil mengajarkan rute-rute angkot yang melewati sekolah gue.


Prosesi daftar mendaftar telah selesai. Kemudian gue diberi selembar kertas yang berisi tentang susunan acara kegiatan Masa Orientasi Siswa atau MOS, barang-barang yang harus dibawa ketika MOS berlangsung, dll. Sepulangnya dari sekolah, pak Rendra memberi pesan jika kalo gue butuh apa-apa bisa langsung datang ke rumahnya.


Malam harinya, gue mengabarkan kepada orang rumah bahwa gue sudah diterima di sekolah yang bersangkutan. Sebelum tidur, gue tidur telentang sambil memandangi langit-langit kamar dan melipat lengan di atas kening.


Masa SMA ya, katanya ini masa yang paling indah.


Tapi masa SMA gue bakal kayak gimana?


Masih penuh dengan kemudahan lagi?


Masih ga punya teman akrab lagi?


Masih jadi individualistis lagi?


Gue benci situasi kayak gini. Selalu memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi.


Karena badan dan pikiran gue yang sudah mulai lelah oleh aktivitas hari ini, perlahan mata gue mulai menutup. Dan ga butuh waktu lama, gue sudah terbang ke alam mimpi...

__ADS_1


__ADS_2