
Setelah berkata seperti itu, Hanif pergi ke arah pintu keluar dengan santai dan meninggalkan gue yang masih mematung di depan foto keluarganya. Ini udah diluar perkiraan gue, sangat diluar perkiraan gue. Pikiran gue tiba-tiba bercabang saat gue memikirkan apa yang akan terjadi ketika gue bertemu dengan kedua orang tua Hanif, memikirkan bagaimana sikap yang harus gue tunjukkan di depan orang tua Hanif, dan gue memikirkan apa yang harus gue jawab ketika ditanya banyak macam oleh kedua orang tua Hanif. Pikiran yang terakhir ini ternyata membuat lutut gue lebih lemas daripada memegang tangan Hanif.
Makan bersama keluarga Hanif itu...
...sudah sangat diluar kuasa gue.
Gue pun kembali duduk di sofa untuk menenangkan pikiran sejenak. Lalu gue menoleh kepada Hanif dan memanggilnya.
Gue: Nif...
Hanif membalikkan badannya, menghampiri gue lalu duduk di sebelah gue.
Hanif: Kenapa Fal? Ih kok kamu kayak yang lemes gitu?
Iyalah gue lemes! Baru pertama kalinya gue diajak keluar sama cewek dan langsung ketemu sama orang tuanya!
Gue: Lo becanda kan kalo sekarang kita bakal makan bareng keluarga lo?
Hanif: Aku beneran Naufaaaal, kenapa? Pasti grogi yaaa mau ketemu sama orang tua akuuu hahahaha.
Hanif tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan kanannya dan badannya agak sedikit condong ke belakang. Sementara gue masih berpikir keras tentang hal-hal yang akan terjadi selanjutnya, membuat rencana lengkap dari A-Z di otak gue bersama rencana cadangannya jika ada kejadian di luar rencana. Jari-jari tangan dan kaki gue mulai terasa dingin, pengen banget gue ngomong kalo tiba-tiba gue ga enak badan dan langsung pulang. Tapi bakalan ga kebayang juga kalo misalkan gue ga nemenin Hanif makan sama keluarganya, mungkin dia bakal puasa ngomong sama gue sebulan penuh. Antara pergi dan ketemu keluarga Hanif atau melihat Hanif puasa ngomong sebulan itu merupakan pilihan yang sangat sulit sekali...
Gue: Acaranya dimulai jam berapa?
Hanif: Abis maghrib, udah yuk cepet sekarang udah jam 5 lebih, bisa-bisa telat di jalan. Cepeeeet!!!
Hanif berdiri dan menarik pergelangan tangan kanan gue secara paksa, dan akhirnya sekarang kami berdua sudah dalam perjalanan menuju tempat yang dituju.
Semoga lutut gue ga lemes...
Gue sekarang sudah berada di depan sebuah bistro café yang terkenal akan hidangan steak nya, dan juga gue yakin harganya juga sangatlah selangit. Bistro ini menggunakan konsep outdoor sehingga para pelanggan dapat menikmati indahnya bintang di langit dan kerlap-kerlip lampu yang berada di bawah kota.
Hanif: Ayo masuk, mamah sama ayah udah nunggu di dalem.
Hanif menggenggam tangan gue, deg! Jantung gue serasa berhenti sejenak lalu berdegup lebih cepat dari sebelumnya. Hanif selalu membuat gue seperti sedang menaiki roller coaster. Dia pandai dalam membuat gue naik darah dengan cepat karena sikapnya yang gila, dan dia juga pandai membuat lutut gue menjadi lemas seketika.
Hanif: Iiih ayo cepetaaan!
Genggaman tangan Hanif di tangan gue semakin erat sambil menarik-narik gue ke dalam. Lutut gue benar-benar susah untuk digerakkan seolah-olah gue menjadi lumpuh mendadak.
Hanif: Hahaha kamu lucu Fal, tangan kamu tiba-tiba dingin gini. Aneh, hahahaha.
Hanif tertawa kecil sambil sesekali menggoda gue karena dia melihat gue yang grogi. Memang sudah tak dapat dipungkiri, saat ini gue sangat grogi. Degup jantung gue menjadi ga beraturan, kedua lutut gue lemas, dan sekarang tangan gue menjadi dingin. Hanif memang benar-benar sebuah roller coaster yang sangat memacu adrenalin.
Setelah kami berdua masuk ke dalam café, Hanif celingukan mencari meja tempat keluarganya berada. Setelah menemukannya, Hanif melambaikan tangan ke arah keluarganya dan berjalan setengah berlari ke arah meja tersebut sambil menggenggam erat tangan kanan gue.
__ADS_1
Hanif: Kak Tamiiii!
Hanif melepaskan genggaman tangan gue dan kemudian memeluk seorang cewek, dari perkataanya gue mengasumsikan bahwa dialah kakaknya Hanif. Gue mengikuti Hanif dari belakang sambil mencoba menguatkan otot di kedua lutut gue.
Hanif: Oh iya, ini kenalin... Naufal.
Hanif menunjuk ke arah gue. Gue kemudian memperkenalkan diri gue dan menyalami mereka satu persatu. Ada bokap dan nyokapnya Hanif, kakak Hanif dan calon suaminya, serta ada om dan tante Hanif yang membawa seorang anak kecil.
Bokap Hanif: Oh ini yang namanya Naufal, Hanif sering nyeritain tentang kamu lho.
Gue: E...mm, nyeritain tentang apa aja pak?
Bokap Hanif: Katanya kalo di kelas itu kerjaan kamu tiduuur terus. Benar itu?
SKAK MAT!
Muka gue mungkin sekarang sudah pucat pasi, ternyata kebiasaan buruk gue sudah diketahui oleh orang tua Hanif.
Gue mengalihkan pandangan kepada Hanif, gue lihat dia hanya terkekeh sambil melihat gue.
Gue: I...iya pak, saya memang sering tidur di kelas.
Nyokap Hanif: Tapi ibu suka loh sama kamu, kata Hanif kamu juga sering pulang paling akhir buat ngerjain tugas di kelas. Ibu suka orang yang ga menunda-nunda pekerjaan.
Gue menjadi sedikit lega saat mendengar perkataan nyokapnya Hanif. Setidaknya, perilaku baik dan buruk gue seimbang. Yaaa, walaupun gue masih kikuk dalam menjawab pertanyaan dari kedua orang tuanya.
Hanif: Jangan ditanya terus dong yah, mah, orangnya belom duduk tuh kasian.
Bokap Hanif: Kamu duduk di sebelah Hanif aja sana, jangan gugup gitu Fal nanti gantengnya kamu kebanting sama cantiknya Hanif hahaha.
Kemudian seisi meja terkekeh, muka gue yang sudah pucat pasi sekarang digantikan oleh muka yang merah padam.
Tante Hanif: Oh iya, ngomong-ngomong kamu pacarnya Hanif ya Fal? Tadi tante liat kamu megang tangan Hanif terus.
Gue: Eh...
Gue bingung harus jawab apa, gue melihat ke arah Hanif untuk meminta jawaban. Namun gue lihat Hanif hanya tersipu malu. Karena gue bingung harus jawab apa, yasudah gue jawab yang sejujur-jujurnya.
Gue: Emmm, bukan kok tante. Saya cuma temennya Hanif.
Kak Tami: Jangan malu-malu Fal. Hanif juga boleh pacaran kok, iya kan yah?
Bokap Hanif: Kamu ini malu-malu segala, bapak juga ga melarang kamu untuk pacaran sama Hanif lho. Oh iya, kamu sama Hanif pesen makanan dulu sana. Bebas pilih yang mana saja.
Untung sekali bokapnya Hanif langsung mengganti topik pembicaraan, kemudian beliau memanggil pelayan dan memberi gue sebuah menu, lalu gue melihat-lihat isi menu tersebut. Gila meeen harganya kebanyakan diatas rata-rata banget! Uang jajan gue selama seminggu mungkin bakal langsung abis kalo gue bayar sendiri. Gue bingung harus milih menu makanan yang mana, akhirnya gue berbisik kepada Hanif.
__ADS_1
Gue: Nif, lo pilih yang mana?
Hanif: Aku sih pilih yang ini, sama minumannya yang ini.
Hanif menunjuk ke arah steak sirloin dan kemudian menunjuk minuman pilihannya. Karena gue ga suka sirloin yang isinya kebanyakan lemak, akhirnya gue memesan steak tenderloin dan minumannya disamakan dengan Hanif.
Gue dan Hanif sudah memesan. Sambil menunggu pesanan datang, gue kembali diinterogasi oleh bokapnya.
Bokap Hanif: Ayahmu kerja dimana sekarang Fal?
Gue: Papah kerja di pabrik tekstil. Sekarang pusatnya ada di Jawa Timur, terus juga papah lagi ngembangin usahanya ke Kalimantan.
Bokapnya Hanif hanya menganggukkan kepalanya dan kemudian kembali bertanya.
Bokap Hanif: Kalo ibumu?
Gue: Mamah kerjanya sebagai ibu rumah tangga, tapi kadang-kadang juga bantuin usaha ayah di kantor kalo misalkan ayah lagi ga bisa.
Bokap Hanif: Terus sekarang kamu tinggal sama siapa?
Gue: Saya tinggal sendiri disini pak.
Bokap Hanif: Ngekost?
Gue: Engga pak, saya tinggal di rumah sendiri.
Bokap Hanif: Sendirian?
Gue: Bisa dibilang sendiri, bisa dibilang enggak. Soalnya setiap pagi sama sore ada asisten rumah tangga di rumah.
Bokap Hanif: Bagus, kamu sudah mulai belajar mandiri.
Dan bokapnya Hanif kembali menganggukkan kepala sambil tersenyum. Saat gue ditanya-tanya oleh bokapnya Hanif, Hanif memegang erat tangan gue seakan memberi kekuatan kepada gue agar dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh bokapnya dengan benar. Dan untungya, lutut gue sudah ga terasa lemas namun jantung gue masih berdegup kencang.
Makanan sekarang sudah terhidang di atas meja, dan sekarang kami semua sudah berkonsentrasi untuk makan dan sesekali mengobrol hal ringan yang penuh dengan candaan. Ga perlu waktu yang lama agar gue bisa bercengkrama dengan keluarga Hanif, mereka sangat terbuka dengan kehadiran gue yang notabenenya bukan siapa-siapa mereka. Dan tentunya rasa grogi itu sedikit demi sedikit kini mulai menghilang digantikan oleh rasa percaya diri yang mulai tumbuh.
Sekitar pukul 10 malam, acara makan keluarga sudah selesai. Gue diantarkan pulang oleh kak Tami beserta calon suaminya. Sebelum pulang, bokapnya Hanif berpesan kepada gue untuk menjaga Hanif. Sebenernya gue ingin menolak, gue masih belum pantas untuk menjaga anak orang. Tapi gue juga ga mau mengecewakan kepercayaan yang sudah diberi kepada gue. Dengan mantap gue mengangguk untuk menjaga Hanif.
Sekarang gue sudah berada di dalam perjalanan pulang. Gue duduk di kursi penumpang bersama Hanif sedangkan kak Tami di depan beserta calon suaminya yang mengendarai mobil. Di dalam mobil, Hanif menggenggam tangan kiri gue dan kemudian berbisik:
Makasih ya Fal, aku seneng banget malam ini bisa ditemenin sama kamu terus kamu ketemu sama keluarga aku. Hihihi...
Setelah Hanif berbisik, dia menyandarkan kepalanya di bahu gue sebelah kiri.
Lagi-lagi lo ngebuat lutut gue lemes, Nif.
__ADS_1