Cowok Manja Merantau

Cowok Manja Merantau
Hukuman Terakhir (2)


__ADS_3

Gue melihat Amel mengkerutkan keningnya ketika dia melihat gue, dan sama halnya ketika gue melihat Amel. Gue agak sedikit gak fokus dan lupa dengan perintah yang diberikan oleh Aya sebelumnya. Pikiran gue mulai bercabang memikirkan nasib gue selanjutnya setelah gue 'dikerjai' oleh Aya melalui guru ini, memikirkan tentang apa reaksi Amel di dalam dan di luar sekolah saat bertemu dengan gue. Gue kembali tersadar ketika guru tersebut menegur gue.


Guru: Ada apa dek?


Gue: Eh, pak... Saya dikasih tugas oleh tatib untuk foto bareng sama tanda tangan dari bapak, boleh pak?


Seklias tentang guru ini, seorang guru pria yang berumur sekitar 45-50 tahun, berpenampilan nyentrik dan tidak seperti guru pada umumnya. Memiliki kumis tipis yang lebat, berambut klimis, memakai kemeja kotak-kotak berwarna kuning berlengan pendek serta celana jeans biru dongker. Dari kostum yang dipakai olehnya serta melihat apa yang tergambar di papan tulis membuat gue mengasumsikan beliau adalah seorang guru seni rupa.


Guru: Oh boleh-boleh. Dengan satu syarat bahwa saya boleh mengatur gaya foto Anda saat Anda berfoto bersama saya. Gimana? Ngomong-ngomong kenapa Anda tidak mengikuti acara MOS hari ini?


Gue hanya bisa pasrah saat beliau mengajukan syarat tersebut.


Gue: Yasudah pak, boleh. Saya kena hukuman sama tatib gara-gara melanggar aturan, jadi saya ga ikut MOS hari ini pak.


Guru: Ternyata dari tahun ke tahun sama aja banyak yang kena hukuman, cuman bedanya hukuman tahun ini sepertinya lebih berat dari tahun-tahun sebelumnya. Sini, kamu bawa kamera kan?


Gue: Ada pak, pake kamera hp saya.


Guru: Di kelas ini ada yang mau jadi relawan tukang foto siswa ini bersama saya?


... : Saya pak!


Gue menoleh ke arah sumber suara. Amel berdiri dan mengangkat tangan kanannya dengan mantap sambil menatap guru tersebut.


Guru: Baik, Amelia sini ke depan. Kamu nak, siapa namanya?


Gue: Oh, saya Naufal pak...


Guru: Baik, nak Naufal sekarang buka topi bola kamu.


Gue membuka topi bola tersebut dan memegangnya dengan tangan gue. Lalu guru tersebut mendekat ke arah gue dan memainkan model rambut gue.


Guru: Hmmm, rambut kamu pendek ya. Kalo rambut kamu panjang dan berponi saya ingin poni kamu digerai di depan kening kamu seperti vokalis grup band yang sedang tenar saat ini, apa ya nama bandnya? Ada yang tahu model rambut seperti ini milik grup band siapa?


Guru tersebut mengacak-acak sendiri rambutnya, menggeraikan poninya hingga menutup matanya yang sebelah kiri sambil bergaya seperti seorang vokalis.


... : Vokalis Kangen Band pak!


Seisi kelas berkata 'woooooo' yang panjang dan kemudian tertawa terbahak-bahak.


Gue rasa muka gue mulai kembali memerah, walaupun siswa-siswi di kelas ini menertawakan kelakuan guru tersebut namun gue merasa gue yang semakin terpojok di kelas ini.


Guru: Karena rambut dari siswa ini ga panjang, ada saran untuk model rambut siswa ini? Ya! Kamu yang di tengah!

__ADS_1


Guru tersebut menunjuk ke salah seorang siswa yang mengacungkan tangannya dan siswa tersebut memberitahu gaya rambut yang menurutnya pas untuk gue.


... : Model spike pak! Yang model rambutnya dinaikin ke atas kayak gini pak!


Siswa tersebut memainkan tangannya, merubah model rambutnya yang awut-awutan menjadi spike.


... : Teu pantes maneh bu'ukna dikitukeun, ngerakeun umat wae maneh mah ah.


Seisi kelas kembali tertawa terbahak-bahak, gue ga ngerti apa yang diomongin salah satu siswa disini karena menggunakan bahasa Sunda.


Guru kini memain-mainkan rambut gue bak hairdresser profesional sambil membelakangi anak muridnya, mencoba gaya spike pada rambut gue seperti apa yang sudah diperlihatkan oleh salah seorang siswa tersebut. Gue hanya bisa pasrah rambut gue di ubek-ubek oleh guru ini.


Guru: Gimana, bagus kayak gini?


Seisi kelas: HAHAHAHAHA.


Mereka semua tertawa terbahak-bahak bahkan sampai ada yang memukul meja berulang kali. Tapi hanya ada satu orang siswi yang hampir ga tertawa sama sekali, Amel hanya berdiam diri di depan papan tulis sambil memperhatikan gue.


... : Iya pak gitu aja bagus pak! Hahahaha.


Guru: Yasudah, mari kita foto sekarang. Keburu habis jam pelajaran saya untuk dipake acara dadakan seperti ini. Amel, cepet ambil fotonya!


Amel memposisikan diri untuk mengambil gambar yang bagus tanpa berbicara. Dia menampakkan wajah dinginnya kepada gue, dan untuk pertama kalinya gue melihat ekspresi wajahnya yang seperti itu.


Amel: Siap ya, tiga...dua...satu...


Gue: Pak, satu lagi.


Guru: Oh masih mau foto lagi?


Gue: Bukan pak, saya cuma mau ngomong kalo saya berjanji tidak akan melanggar peraturan lagi.


Seisi kelas: HAHAHAHA.


Mereka semua kembali menertawakan gue. Gue ingin cepat-cepat keluar dari kelas ini, gue ga sanggup menahan malu yang melebihi kapasitas pertahanan gue.


Guru: Dikirain ada apa, sudah selesai kan?


Gue: Ini pak tolong ditanda tangani disini.


Gue menyerahkan kertas dan beliau menandatanganinya.


Guru: Ini, jangan melakukan kesalahan lagi. Anda sudah berjanji kepada saya.

__ADS_1


Gue: Baik pak... Terima kasih.


Guru tersebut memegang kedua pundak gue dan mempersilahkan gue keluar diiringi oleh suara tawa yang masih terdengar.


Setelah gue keluar dari kelas dan menutup pintu, tangan gue merogoh saku mengambil hp untuk melihat hasil jepretan Amel. Pantes pada ketawa, model rambut orang kayak orang kesetrum gini.


Tangan gue hampir membanting hp ini, kesal melihat rambut spike yang malah seperti rambut orang kesetrum.


Aya: Mana sini saya lihat hasilnya.


Gue menyerahkan hp gue beserta kertas yang berisi tanda tangan dari guru tersebut. Gue melihat perubahan ekspresi Aya ketika melihat foto gue bersama guru tersebut. Dia sedikit menahan tawa nya dan kemudian memberi tanda-tangan khusus para tatib pada kertas yang sudah dia pegang sebelumnya.


Aya: Tugas kamu hari ini selesai, saya minta kamu jangan pernah sekali-kali melanggar peraturan yang sama lagi. Mengerti?


Amel berkata dengan tegas sambil memainkan jari telunjuknya di depan gue.


Gue: Iya kak. Saya mengerti.


Aya: Sekarang, terserah kamu mau nunggu dimana. Jangan pulang sebelum bel pulang berbunyi.


Aya kemudian berjalan ke arah yang berlawanan, meninggalkan gue di depan kelas XII IPA 6.


Mata gue panas, sebuah danau kini telah terbentuk di pelupuk kedua mata dan sudah siap untuk menumpahkannya. Namun gue tahan-tahan dengan menempelkan ibu jari dan telunjuk di ujung kedua mata yang panas ini.


Gue beranjak dari depan kelas, menyusuri lorong yang kosong lalu kemudian menuruni tangga dan berbelok ke arah toilet. Di dalam toilet gue kembali berjongkok dan membasuh muka berkali-kali, air dingin yang menempel di wajah gue kini digantikan oleh air yang terasa hangat yang mengucur di atas pipi gue. Berkali-kali juga gue mengusap air mata dan kemudian membasuh kembali muka dengan air. Gue melakukan hal tersebut berulang-ulang sampai bel pulang terdengar.


Bel pulang memang sudah terdengar lebih dari setengah jam yang lalu namun gue masih berdiam diri di dalam toilet ini. Cahaya oranye kini memenuhi seisi toilet, gue sadar bahwa hari ini sudah sore. Gue memutuskan untuk keluar dan mengambil tas yang gue tinggalkan di dalam kelas tadi pagi.


Gue berjalan menyusuri lorong yang sudah mulai sepi ke arah lapangan. Dan ketika gue belok ke arah gerbang, gue melihat seorang cewek yang sedang duduk di samping pos satpam. Saat gue mulai mendekati gerbang, cewek tersebut menyadari kedatangan gue dan berdiri menghampiri gue.


Gue ga peduli dengan kehadirannya, gue berjalan melewatinya tanpa satu patah katapun yang terlontar dari mulut gue.


Amel: Fal...


Amel memegang pergelangan tangan gue dari belakang dan gue menoleh melihatnya.


Amel: Kamu abis nangis Fal?


Gue: Lepasin tangan gue, gue mau balik!


Amel: Gue mau tanya dulu, sebentar kok...


Gue: GUE BILANG LEPASIN YA LEPASIN!

__ADS_1


Gue melepaskan tangan Amel dengan paksa dan berjalan keluar gerbang, berjalan menjauhinnya. Suara isakan mulai terdengar dan gue ga peduli kalo dia mau nangis gara-gara perlakuan gue kepadanya. Sama sekali ga peduli!


Gue cuma ingin sendiri hari ini...


__ADS_2