Cowok Manja Merantau

Cowok Manja Merantau
Rumah Baru


__ADS_3

Pagi ini sangatlah macet, padahal sudah memasuki masa-masa liburan anak sekolah. Harusnya, kalo liburan pasti kan ga ada orang yang pergi ke sekolah jadi ga macet. Tapi gue sebagai anak baru di kota ini sama sekali belom mengetahui seluk beluk, hiruk pikuk, dan rutinitas di kota ini. Biarlah...


Di dalam taksi, si supir mengajak gue mengobrol namun gue hanya membalasnya dengan ogah-ogahan. Sebenernya, gue ingin mencoba mengobrol lebih jauh dengan supir taksi tersebut. Namun, untuk mencari sebuah topik pembicaraan ternyata sangatlah susah. Sesulit inikah untuk bersosialisasi?


Mungkin sekitar satu jam perjalanan, gue sudah sampai di rumah. Sebelum taksi itu pergi, gue hendak membayar taksi tersebut namun si supir menolak dengan alasan sudah dibayar oleh bokap gue. Akhirnya gue memberi selembar uang berwarna biru kepadanya sebagai uang rokok. Wajahnya sumringah ketika gue beri uang tersebut. Nampaknya, ia sangat bersyukur dengan uang yang gue beri yang menurut gue sendiri uang tersebut ga ada apa-apanya dibanding dengan yang gue punya sekarang. Dari sini gue belajar sesuatu, gue harus bisa bersyukur terhadap sesuatu sekecil apapun. Dari sini juga, gue tersadar bahwa gue kurang bersyukur dengan kelebihan yang gue miliki.


Taksi tersebut sudah pergi meninggalkan gue di depan sebuah rumah kecil sederhana namun terkesan modern. Rumah ini bercat cokelat dan berpagar hitam. Gue ga bisa ngeliat ke dalem karena pagar tersebut dilapisi oleh semacam, fiber glass? Entahlah, gue ga tau apa namanya.


Tangan gue mencoba memencet bel yang berada di atas kanan pagar rumah tersebut. Setelah menunggu cukup lama, muncullah seorang ibu-ibu yang sudah berumur dengan mengenakan daster.


Ibu-ibu: Punten bade milarian saha?


Gue: Ini, rumah dengan atas nama Bapak Bagus bukan bu? Saya Naufal.


Ibu-ibu: Oh cep Naufal, bentar-bentar cep bibi bukakan pagarnya dulu.


Bibi? Orang tua gue terlalu baik, memberi sebuah rumah lengkap dengan asistennya. Sepertinya memang gue ga bisa 100% terlepas dari kuasa orang tua gue.

__ADS_1


Bibi berjalan tergopoh-gopoh menuju pagar dan membukakannya. Gue melihat ke dalam rumah baru ini. Gue langsung disambut oleh sebuah lahan yang cukup besar untuk parkir sebuah mobil yang beratapkan kanopi berwarna biru. Melihat ke kiri, ada sebuah taman kecil yang berukuran sekitar 3x2 meter dan dipenuhi oleh rumput jarum, di tengah-tengahnya juga terdapat sebuah air mancur kecil. Di sekeliling taman tersebut, ada juga tanaman yang tertanam di sisi taman. Gue kemudian masuk ke dalam lewat pintu tengah sambil membawa koper.


Bibi: Sini cep biar bibi yang bawain kopernya.


Gue: Ga usah bi, makasih.


Gue menolak permintaan bibi. Tapi gue bingung, kenapa gue dipanggil dengan sebutan 'cep'? Tapi ya sudahlah, gue ga terlalu menghiraukan hal tersebut.


Masuk ke dalam rumah, gue langsung disuguhi dengan pemandangan ruang tamu yang bercat putih, memiliki sebuah sofa panjang berwarna hitam yang terbuat dari kulit, sebuah meja kaca dengan kaki-kaki yang berwarna abu-abu, serta di sudut ruang tamu ini terdapat 2 buah tanaman penghias ruangan.


Masuk lebih jauh ke dalam rumah, gue melihat sebuah ruang tengah lengkap dengan perabotannya. Ada sebuah sofa panjang empuk yang dilapisi beludru berwarna cokelat terang di sebelah kiri ruangan, lalu di sudut belakang ruangan tersebut terdapat sebuah meja makan lengkap dengan 4 buah kursi yang mengitari bentuk kotak dari meja makan tersebut, dan di sebelah kanan ruangan ada 2 buah sofa single seat yang memiliki warna senada dengan sofa panjang tersebut. Di tengah-tengah sofa single seat terdapat sebuah meja kecil dari kaca yang diatasnya ada sebuah tanaman yang masih berfungsi sebagai penghias. Di sudut yang berseberangan dengan meja makan, terdapat sebuah tv yang menempel di dinding, lengkap dengan DVD Player dan sound system-nya. Lalu di tengah ruangan terdapat sebuah meja kayu berornamen yang juga dihiasi oleh tanaman palsu.


Di belakang meja makan terdapat sebuah dinding yang membatasi antara ruang keluarga dengan dapur. Gue membuka pintu geser dan melihat isi dapur ini. Setelah melihat-lihat di dapur, gue kembali ke ruang tengah. Di samping kursisingle seat terdapat pintu menuju halaman belakang yang bisa digunakan untuk menjemur pakaian. Di halaman belakang tersesbut terdapat sebuah toilet yang mungkin berfungsi untuk mencuci pakaian.


Di samping kanan dan kiri sofa panjang, terdapat dua buah pintu yang gue tebak-tebak salah satunya adalah kamar yang akan gue tempati.


Gue: Bi, kalo pintu yang sebelah kiri sofa itu kamer siapa?

__ADS_1


Bibi: Oh itu kamar masih kosong. Pintu yang di sebelah kanan juga kamar kosong. Acep nanti bisa milih kamer yang mana aja buat tidur.


Gue: Terus kalo bibi tidur dimana?


Bibi: Bibi tinggal di belakang cep, jadi tiap pagi sama sore bibi kesini buat masak sama bebersih rumah.


Gue: Oooh...


Gue menangguk dan kemudian membawa koper menuju pintu yang berada di sebelah kiri sofa. Begitu masuk, gue langsung menyimpan koper di samping kasur dan gue merebahkan badan. Gue lebih memilih kamar ini karena letaknya yang dekat dengan halaman rumah.


Bibi: Cep, bibi pulang dulu ya nanti sore bibi kesini lagi. Kalo mau makan udah ada nasi di dapur sama lauknya udah di atas meja.


Gue: Iya bi, makasih ya.


Terdengar pintu ruang tamu tertutup diiringi dengan suara pagar yang terbuka dan kemudian tertutup.


Sendiri lagi deh gue...

__ADS_1


Tapi, gue lebih menikmati kesendirian gue disini. Mungkin karena dulu di rumah lebih sering menyendiri di kamar daripada keluar rumah.


Mulai sekarang, ini merupakan zona nyaman yang baru untuk gue...


__ADS_2