
Marsha dan Calvin sudah sampai di dalam Mall. Mall yang sama yang Marsha kunjungin kemarin bersama Erick. Calvin tidak punya kendaraan, jadi mereka naik mobil Marsha untuk pergi ke mall.
Sesampainya di dalam mall mereka berjalan-jalan biasa. Dan seperti biasa semua mata memandang Marsha dan Calvin karena penampilan mereka yang begitu mencolok. Marsha yang berpakaian kaos polo putih dengan celana skinny jeans biru, tak lupa hak tingginya. Sedangkan Calvin memakai kaos kerah biasa, celana longgar dan tas ransel hitam. Benar-benar perbedaan yang mencolok.
“kita mau kemana?” tanya Marsha.
“Ehm.. cari makan mau?”
“Boleh.”
Calvin pun mengajak Marsha makan di sebuah restoran sejuta umat, s*laria. Harganya terjangkau di kantong mahasiswa.
Setelah masuk dan mendapat tempat duduk. Pelayan langsung memberikan menu.
“Nanti pemesanan dan pembayaran di kasir ya kak.” Ucap pelayan itu, Marsha mengangguk. Kemudian menyodorkan kertas tulisan menu kepada Calvin.
“loe dulu yang pesen Cal.” Ucap marsha.
Calvin langsung memilih menu yang ingin dia makan. Setelah selesai memilih dia memberikan menu itu kepada Marsha dan gantian Marsha yang memilih.
Selesai Marsha memilih dia terdiam sejenak. Di pikirannya Calvin yang akan pergi ke kasir dan memesankan makanan mereka. Tapi Calvin juga diam saja. Akhirnya Marsha inisiatif untuk memesankannya.
“Gue pesen dulu ya.” Ucap Marsha, Calvin mengangguk.
Kayaknya gue yang keluar duit nih.. batin Marsha. Saat berjalan menuju ke kasir.
Setelah dari kasir Marsha kembali lagi ke tempat duduknya. Dia sengaja menunjukkan selembar struk kepada Calvin tapi pria itu tetap diam.
Mungkin lagi ga ada duit ya.. pikir Marsha. Akhirnya Marsha tidak ambil pusing. Toh juga tidak masalah buat Marsha mentraktir orang sekali-kali. Hanya saja dia jadi teringat Erick. Kemarin sabtu Erick yang langsung membayar semua yang di beli Marsha.
Ah kenapa gue jadi mikirin Erick.. Marsha berusaha menepis pikirannya.
“Cal, dulu loe sekolah dimana?” akhirnya Marsha memilih untuk membuka obrolan dengan Calvin daripada memikirkan Erick.
“Du-dulu di Ci-cirebon.” Jawab Calvin.
“Owh loe orang Cirebon. Kok milih kuliah di sini?”
“Dapet beasiswa.”
“wah keren dapet beasiswa. Ga heran sih tapi, loe pinter banget. Hehehe.” Puji Marsha. Calvin hanya tersenyum tipis dengan kepala masih menunduk.
Duh kenapa gue boring gini ya.. daritadi gue berasa wawancara.. tanya jawab tanya jawab..
Marsha memperhatikan Calvin yang masih terus menunduk. Sambil kakinya bergerak-gerak seperti orang gugup.
__ADS_1
Emang gue serem banget ya, sampai dia ga ngelirik gue sama sekali?
Bersama Calvin, Marsha hanya sibuk membatin. Beda ketika bersama Erick. Pria itu begitu cerewet dan menyebalkan membuat Marsha selalu ingin memarahinya. Lah kenapa jadi inget Erick lagi.
Tak lama pesanan mereka datang. Marsha langsung menyantap makan siangnya. Dia sudah kelaparan, karena belum sarapan pagi juga.
Sambil makan Marsha memperhatikan Calvin lagi. Dia penasaran dengan Calvin, kenapa cowok itu begitu minder. Sedaritadi Calvin betah banget menunduk. Bahkan makan saja pelan-pelan. Sesekali juga keringat menetes di wajahnya. Padahal AC mall sangat dingin.
“Cal, gue ke toilet dulu ya.” Ucap marsha. Calvin mengangguk. Marsha membawa tas kecilnya dan langsung menuju toilet.
Sesampainya di toilet, Marsha melirik wajahnya di cermin.
Emang gue jelek ya, atau mungkin dia gugup duduk bareng cewek cantik? Ah sepertinya yang itu marsha terkekeh sendiri mendengar ucapannya dalam hati.
Selesai buang air kecil dan membersihkan tangannya. Marsha berjalan keluar. Tiba-tiba lengannya di tarik oleh seseorang dan langsung dibawa ke ruangan pintu keluar darurat.
Marsha sangat kaget ketika dirinya dibawa oleh seorang pria. Tapi setelah melihat pria yang ada di hadapannya sekarang tatapannya menjadi dingin.
“Loe ngapain pergi sama Calvin?” ucap Pria yang tak lain adalah Erick.
“Loe ngikutin gue?”
“Iya, jelas gue harus ngikutin loe. Loe calon istri gue, gue berhak tahu kemana loe pergi.”
“Baru calon, belum istri loe. Jadi gue ga perlu ijin kemana gue mau pergi.”
“Coba aja kalau loe berani!” tantang Marsha.
“oh jadi loe nantang gue? Oke.” tanpa persetujuan Marsha, Erick langsung membawa Marsha keluar dari Mall melalui pintu keluar darurat.
Dia membawa Marsha masuk ke dalam mobilnya. Tangannya masih menggenggam Marsha dengan erat, sampai gadis itu merintih.
“Loe mau bawa gue kemana?” tanya Marsha. Erick hanya tersenyum miring tanpa menjawab apapun. Dia langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi keluar dari parkiran Mall.
“Erickk! Jangan ngebut-ngebut! Gue masih pengen hidup!” teriak Marsha tapi Erick tidak menggubris, dia semakin mempercepat laju mobilnya. Marsha hanya bisa memejamkan matanya dan berdoa kepada Tuhan.
Cittttt! Suara ban yang di paksa berhenti terdengar begitu keras. Jantung Marsha sudah hampir lepas ketika merasakan mobil Erick berputar tajam dan berhenti mendadak.
Marsha membuka pelan matanya. Dia melihat sekitarnya. Gue masih hidup ucapnya dalam hati sambil menghela nafas.
Di liriknya Erick yang masih terdiam. Kemudian Erick turun dari mobilnya dan membuka pintu mobil tempat Marsha duduk. Menggeret lengan gadis itu dan memaksanya keluar dari mobil.
Mereka berjalan masuk ke sebuah hotel. Beberapa staff hotel terlihat membungkuk ketika melihat kedatangan Erick.
Erick berjalan membawa Marsha masul ke lift pribadi. Hanya orang penting atau tamu VVIP yang bisa menggunakan lift itu. Sesampainya di lantai tujuan, Erick membawa Marsha masuk ke sebuah kamar. Di lantai itu hanya ada satu kamar.
__ADS_1
“Loe mau apa?” ucap Marsha kali ini nada suaranya begitu ketakutan. Erick tetap diam sambil membuka pintu kamar itu. Dengan cepat dia mendorong tubuh Marsha masuk ke dalam kamar dan langsung menutupnya.
Erick menyeringai senang ketika melihat raut wajah Marsha yang sudah sangat ketakutan saat ini. Dia berjalan mendekati Marsha sedangkan Marsha terus melangkah mundur.
“loe mau apa Rick?”
“Gue? Gue mau hancurin hidup loe.” Ucapnya santai, Erick membuka sabuk celananya kemudian melemparnya jauh-jauh.
Marsha terus melangkah mundur sambil memeluk tubuhnya dengan tangan.
“gue mohon jangan Rick. Maafin gue. Gue salah.” Langkah Marsha terhenti karena kakinya sudah terbentur tempat tidur. Sedangkan Erick terus melangkah mendekati Marsha.
“bukannya tadi loe nantang gue kan? Apa gue bisa hancurin hidup loe atau ga? Kenapa loe jadi takut gitu sayang?”
Marsha menggeser mundur tubuhnya dari tempat tidur. Dengan cepat Erick sudah menindih tubuh Marsha dan langsung memegang kedua lengan Marsha.
Setetes air mata keluar dari mata bulat Marsha. Kali ini dia benar-benar ketakutan.
“gue mohon Rick jangan..” pinta Marsha memohon belas kasihan Erick.
Erick hanya tersenyum tipis. Dia mendekatkan wajahnya ke leher Marsha. Kemudian mengecup leher itu begitu keras, memberikan tanda kepemilikannya di leher Marsha. Marsha hanya bisa memejamkan matanya dan mengigit bibir bawahnya merasakan ciuman Erick di lehernya.
Tangan Erick masuk menelusup ke balik kaos kerah yang di pakai Marsha.
“Please Rick jangan..” air mata Marsha sudah menetes terus. Tubuhnya bergetar, dia betul-betul ketakutan. Tapi dia tidak bisa bergerak karena tubuh Erick begitu kuat menindihnya.
Erick mengeluarkan tangannya, dia tersenyum. Kali ini dia mencium bibir Marsha dengan lembut. Tidak ada balasan dari Marsha tapi Erick terus melakukannya. Sampai Marsha meronta karena kehabisan nafas.
Erick tersenyum geli. “loe belum pernah ciuman?”
Marsha menggelengkan kepalanya. Pacaran saja dia tidak pernah apalagi ciuman.
“Berarti gue orang pertama yang mencium loe?” Marsha mengangguk pelan.
Erick kembali tersenyum. Dia melihat wajah Marsha yang sudah basah karena air mata.
“Gue akan lepasin loe kali ini sampai nanti waktunya tiba, dan saat itu gue ga akan lepasin loe.” Bisik Erick tepat disamping telinga Marsha.
Erick mengangkat tubuh Marsha dan mendudukkannya. Dia membenahi pakaiannya Marsha dan rambutnya yang sedikit berantakan.
“Loe tahu Sha. Gue cinta sama loe. Dan itu udah lama.” Ucap Erick. Marsha terkejut dengan pernyataan Erick.
“Makanya gue ga pernah nolak pernikahan ini. Karena ini adalah kesempatan gue buat bisa sama loe.” Erick melanjutkan ucapannya.
“gue juga ga tahu kenapa loe segitu bencinya sama gue Sha. Sampai loe ga kasih gue kesempatan buat deketin loe.” Erick tersenyum, dia menyelipkan rambut Marsha ke belakang telinga.
__ADS_1
“Ku mohon, buka hati mu buat aku. Biar hatiku bisa berlabuh di hatimu. Dia sudah terlalu lelah mengejar hatimu Sha. Dia ingin segera bersandar, di sini (menunjuk dada Marsha).”
Tanpa disadari air mata Marsha menetes. Terlalu banyak alasan yang membuat Marsha menutup rapat pintu hatinya untuk Erick. Dan untuk membukanya lagi, Marsha tidak tahu kunci itu di mana, karena Marsha telah membuang kunci itu begitu jauh.