
“Nathan! Balikin ga HP gue! Issh nyebelin banget sih lu!” teriak Marsha sambil mengejar Nathanael yang berlari ke ruang makan sambil membawa HP Marsha.
“Eh pagi-pagi kok kalian udah ribut sih. Ada apa?” tanya Rachel yang pusing melihat kedua anaknya yang pagi-pagi sudah berisik.
“Kakak ambil HP aku Ma, dan ga di kembaliin.” Marsha menunjuk Nathanael yang sudah duduk di bangku makan. Rachel menatap anak lakinya itu. Sambil memberikan kode untuk mengembalikan HP adiknya.
Dengan setengah malas Nathan mengembalikan HP Marsha. “nih nih HP lu, dasar tukang ngadu!”
“Maaa..” Marsha mengadukan lagi Nathan kepada Mamanya.
“Nathan, adiknya disayang dong.” Ucap Rachel.
“Iya Ma, maaf.” Marsha langsung menjulurkan lidahnya mengejek Nathan. Sedangkan Nathan hanya tersenyum miring. Dalam hatinya dia berkata awas aja lu berangkat kampus naik ojek online aja.
“Pagi semua!” suara bariton seorang pria terdengar mendekati ruang makan. Pemilik suara itu adalah Antony, kepala keluarga mereka.
Antony berjalan menuju kursi kebesarannya, sudah berpakaian rapi karena akan berangkat kerja. Dia mencium kening istrinya kebiasaan pagi harinya yang tidak pernah luntur. Keromantisan orang tuanya terkadang membuat Marsha baper karena dia tidak pernah berpacaran.
“pa, jangan gitu ah di depan ku. Aku kan jadi baper.” Ucap Marsha sambil mengerucutkan mulutnya.
“Makanya cari pacar biar ga baperan mulu.” Ledek Nathan.
“ih kalau boleh cari pacar, udah dari dulu.” Ucap Marsha dengan nada berbisik.
“Marsha..” Antony menegur anaknya karena malah menyindir orang tuanya.
“Maaf Pa.”
“Udah udah, yuk makan. Papa nanti terlambat kerja lho. Kalian juga harus kuliah kan?” ucap Rachel
__ADS_1
Ketiga bayi besar Rachel langsung menurut dan menikmati sarapan pagi mereka bersama.
Selesai sarapan pagi Antony berpamitan untuk berangkat kerja. Begitu juga dengan Nathan dan Marsha yang berangkat bersama ke kampus mereka.
Mereka kuliah di kampus yang sama. Dengan jurusan yang sama, hanya saja Nathan mahasiswa 2 tahun diatas Marsha, alias dia mahasiswa akhir dan sedang membuat skripsi.
Sesampainya di kampus, mereka berpisah dan menuju ke tujuan mereka masing-masing. Nathan yang langsung menemui dosen pembimbingnya dan Marsha yang mencari keberadaan tiga sahabatnya. Kezia, Icha, dan Rosie. Mereka sudah berteman sejak masih di sekolah dasar. Dan persahabatan mereka sangat kental sampai sekarang.
Tin! Tin! Tin! Tin! Suara mobil di klakson begitu lama.
“Hih! Siapa sih? Perasaan gue udah jalan seminggir mungkin.” Ucap Marsha ketika dirinya di ikuti sebuah mobil dari belakang dan malah di klakson terus.
marsha membalikkan badannya melihat siapa pemilik mobil itu. Ketika dilihatnya si pengemudi mata Marsha langsung menatapnya tajam, sedangkan orang yang di dalam mobil itu tertawa lebar.
Brakk! Marsha memukul kap mobil orang itu.
“Heh! Pagi-pagi ga usah ngajak ribut!” ucapnya bar-bar. Marsha termasuk cewek bar-bar, dia tidak takut dengan siapapun, bahkan cowok preman sekaligus. Karena kemampuan taekwondo membuat Marsha menjadi pemberani dan sedikit tomboy.
Marsha tetap stay di tempatnya berdiri. Akhirnya membuat si pemilik mobil itu keluar.
“Marsha sayang, minggir dulu dong. Gue mau markir mobil.”
“Sayang sayang, gue bukan cewek lu. Dan lagi suru sapa ngisengin gue.” Ucap Marsha dengan nada menantang.
“Galak banget sih. Ati-ati jadi perawan tua lho.” Ledek cowok itu. Hampir Marsha mau membogem mentah si cowok, cowok itu langsung kabur masuk ke dalam mobil dan langsung melajukan mobilnya. Dia membuka jendela bagian samping kiri mobilnya. “Jangan galak-galak, nanti ga ada cowok yang mau sama lu.” Godanya lagi.
Marsha melotot, “dasar Erick sialann!” umpatnya, dan cowok itu langsung kabur dengan mobilnya.
Erick Alexander Petterson (20th) cowok setengah bule yang lahir di Indonesia itu adalah salah satu musuh bebuyutan Marsha. Mereka selalu saja bertengkar ketika bertemu. Erick merupakan pewaris tunggal PeterGrup, perusahaan yang terbesar se Asean.
__ADS_1
Keluarga Erick dan Marsha saling mengenal dan sangat dekat. Terutama kedua kakek mereka. Tapi tidak membuat Marsha baik dengan Erick, sejak SMP mereka selalu bertengkar ketika bertemu. Erick yang jahil, sangat suka menggoda Marsha.
Kembali lagi ke dunia nyata..
Dengan masih menahan emosi Marsha berjalan menuju gedung fakultasnya. Ketiga sahabatnya telah duduk di gazebo depan fakultas.
marsha menghampiri mereka dan langsung duduk di samping Rosie.
“Huh! Sebel banget gue.” Ucapnya.
“Hey cantik. Dateng-dateng kok udah ngambek gitu.” Goda Kezia, dari keempat cewek itu, Kezia paling dewasa dan kalem. Dia cantik seperti sandra dewi, wajahnya bak dewi yang turun dari kahyangan.
“Gue sebel banget sama Erick. Pagi-pagi udah ngajak ribut dia.”
“Emang kenapa sama Erick Sha? Dia ngapain loe lagi?” tanya Icha.
marsha menceritakan kronologis yang dia alami pagi tadi. Ketiga temannya hanya menertawakan Marsha. Bukan malah berempati, karena mereka sudah terbiasa melihat Erick dan Marsha yang selalu bertengkar ketika mereka bertemu.
“Sha, loe jangan terlalu benci sama Erick lho. Nanti jadi cinta.” Ledek Rosie.
“Ih ga, amit amit gue cinta sama cowok kayak gitu. Cakep sih tapi kelakuannya ga banget.” Tanpa Marsha sadari ternyata Erick berdiri di belakangnya.
“Bener ya Sha, awas kalau sampai lu suka sama gue. Hahaha.” Ucap Erick. Marsha menoleh ke belakang dan langsung menatap tajam Erick.
“Hati-hati lho kalian berantem terus nanti beneran suka.” Ucap Rosie lagi.
“Kagak! Amit amit gue suka sama dia.” Ucap Marsha. Beda dengan respon Erick, dia langsung mencubit pipi Marsha.
“Gue sih ga masalah suka sama Lu. Hahaha.” Setelah mengucapkan itu Erick langsung kabur karena pasti Marsha akan membogem mentah dia.
__ADS_1
“Erick!! Huhhh..” Marsha mengusap pipinya yang terkena sentuhan tangan Erick. Ketiga temannya tertawa geli melihat kelakuan sepasang anak adam yang tidak pernah akur dari dulu.