
Hari ini, hari sabtu. Tidak ada kegiatan apapun di kampus. marsha dan Nathan menghabiskan waktu di rumah. Nathan di dalam kamarnya sedang asyik pacaran by video call. Sedangkan Marsha membantu Rachel di dapur membuat roti.
Walaupun berasal dari keluarga kaya, Rachel selalu mendidik Marsha agar pintar memasak. Karena masakan istri itu yang membuat suami betah di rumah. Beruntungnya Marsha juga suka memasak, jadi dia akan selalu membantu Rachel begitu sedang memasak.
“Ma, menikah itu enak ga sih?” tanya Marsha.
“Hm? Ada suka dukanya sayang.” Jawab Rachel.
“Apa yang buat Papa dan Mama bertahan sampai sekarang, selain cinta?”
“Komunikasi sayang. Papa dan Mama saling komunikasi, ga ada yang kami sembunyikan. Mau itu hal negatif atau positif. Jadi kalau Mama sedang cemburu, ya Mama bilang sama Papa, begitu juga sebaliknya.”
“owh gitu.” Marsha mengingat kembali hubungan kedua orang tuanya yang begitu harmonis. Mereka tidak pernah terlihat bertengkar. Setiap hari selalu ucapan romantis yang di ucapkan Antony kepada istrinya. Sikap romantis Antony turun kepada Nathan, terbukti Nathan berhasil mendapatkan cewek dan sudah 3 tahun mereka berpacaran.
Saat Marsha sedang asyik mengaduk adonan roti. Antony datang ke dapur dengan tergesa-gesa. Raut wajahnya nampak cemas. Rachel yang melihat ekspresi suaminya langsung menghampirinya.
“Ada apa Pa?”
“Teman Kakek, Pak Johan masuk rumah sakit. Kakek meminta kita buat datang ke sana.” Ucap Antony.
“Lho sakit apa Pa?”
“Serangan jantung Ma, tapi syukur masih selamat. Ayo segera kita berangkat, kakek sudah memburu kita segera ke sana.”
__ADS_1
Rachel langsung menyuruh Marsha untuk berganti pakaian dan memanggil Nathan kakaknya. Rachel juga meminta Bi Siti untuk melanjutkan lagi roti yang dibuatnya. Kemudian dia masuk ke kamar bersama Antony untuk bersiap.
Setelah berganti Pakaian dan siap, seluruh keluarga itu langsung masuk ke mobil dan berangkat menuju rumah sakit Medika, tempat kerabat Kakek Gilbert dirawat.
Johan adalah sahabat dekat Gilbert, kakek Marsha. Johan juga adalah kakek dari Erick. Dia pendiri PeterGrup, perusahaan terbesar se Asean.
Sesampainya di rumah sakit Antony dan keluarganya langsung menuju ke ruang rawat. Johan sudah dimasukkan ke ruang rawat inap karena kondisinya sudah mulai membaik.
Mereka masuk ke sebuah lorong VVIP, tempat dimana hanya orang khusus yang bisa di rawat disana. Karena sekali rawat inap bisa sampai jutaan.
Antony dan keluarganya sampai disebuah pintu putih yang bertuliskan nama Johan. Pintu di ketuk kemudian mereka masuk ke dalam.
Di dalam sudah ada Gilbert yang sedang duduk di samping ranjang Johan. Menantu Johan, Anita dan Erick cucu semata wayangnya.
Antony mendekati Gilbert dan Johan, dan langsung menanyakan kondisi Johan. Sedangkan Rachel duduk di sofa di samping Anita.
“Gimana Kek kondisinya?” tanya Antony kepada Johan.
“sudah membaik. Terimakasih ya sudah menjenguk Kakek.” Ucap Johan dengan sedikit lemah. Antony mengangguk sambil mengusap punggung tangan Johan yang sudah nampak berkerut itu.
Johan melirik ke arah Rachel dan Marsha yang sedang duduk bersama Anita.
“Itu Marsha ya?” tanya Johan. Antony langsung memanggil Marsha untuk mendekat.
__ADS_1
“Halo Kek, sudah lama ga berjumpa. Kakek cepet sembuh ya.” Ucap Marsha. Johan langsung meminta Marsha untuk mendekatinya dan langsung memeluk tubuh kecil gadis itu.
“Semakin hari kamu semakin cantik saja.” Puji Johan.
“Makasih kek.” Kata Marsha tersipu malu.
“Ada yang mau kami bicarakan sama kalian.” Ucap Gilbert tiba-tiba, Rachel dan Anita yang sedang mengobrol langsung menghentikan obrolan mereka. Begitu juga Erick dan Nathan.
Seluruh mata menatap Gilbert saat ini. Pria yang hampir kepala 7 itu masih tampak sehat dan segar. Ketampanannya masih terlihat jelas dari garis wajahnya, walaupun sudah di tutup oleh keriput.
“Kakek dan Johan dulu pernah membuat sebuah perjanjian. Ketika kami muda, kami sangat menginginkan menjodohkan anak kami. Tapi sayang kakek dan Johan mempunyai anak laki semua yang tidak bisa di jodohkan. Akhirnya kami memutuskan untuk menjodohkan cucu kami. Dan kakek bersyukur, kakek mendapat cucu perempuan.” Gilbert menjeda ucapannya. Marsha yang sudah membaca arah kemana pembicaraan kakeknya hanya bisa melirik Erick.
“Nah sekarang melihat kondisi Johan yang seperti ini. Akhirnya kami memutuskan untuk segera menikahkan kalian. marsha dan Erick.” Ucap Gilbert. Semua yang ada disana langsung terkejut, tidak hanya Erick dan Marsha.
“tapi Kek, Marsha kan masih kuliah, Marsha belum mau menikah kek, apalagi sama..” Marsha melirik tajam Erick, sedangkan Erick tersenyum nakal.
“Marsha ini sudah keputusan. Ini perjanjian kakek dengan Johan. Johan juga ingin melihat cucunya bahagia.”
“aku juga ingin melihat buyutku sebelum aku meninggal.” Tambah Johan. Mata Erick dan Marsha langsung membulat.
“Buyut?” ucap mereka serempak.
“Iya, setelah kalian menikah tidak ada penundaan, segeralah punya anak.” Ucap Gilbert tegas.
__ADS_1