
Masa SMA 4 tahun lalu, 12 Februari
Suasana kelas X cukup ramai siang itu. Jam ini pelajaran kosong, karena semua guru sedang mengadakan rapat. Para murid di bebaskan untuk melakukan kegiatan apapun asal tidak membuat keributan atau kabur dari sekolah.
Marsha dan ketiga temannya sedang duduk santai di dalam kelas mereka. Kezia yang asyik membaca novel, Icha yang asyik berkaca sambil terus menyisir rambutnya padahal sudah rapi, Marsha dan Rosie yang sibuk bergossip ria.
“Sha, entar Valentine loe masuk kasih cokelat ke siapa?” tanya Icha.
“Ada deh.” Jawab Marsha sambil senyum-senyum sendiri.
“Gue yakin loe pasti dapet banyak cokelat dan bunga seperti tahun-tahun kemarin.”
“Ya nanti gue bagi ke kalian deh.” Ucap Marsha.
“Loe tuh banyak yang suka tapi masih jomblo aja.” Timpal Rosie.
“Ros, loe kan tahu sendiri nih anak, tuan puteri, incess, ga boleh pacaran. Nanti tinggal nunggu dicariin jodoh sama bokapnya baru dia pacaran.”
“Enak aja. Gue ga mau ya di jodohin. Emang siti nurbaya. Gue mau nikah sama cowok yang gue suka.” Ucap Marsha, bola matanya menerawang ke atas, membayangkan dirinya menikah dengan seseroang. Pria yang sudah lama dia suka. Marsha terkekeh sendiri membayangkan imajinasinya.
“loe ngapa senyum-senyum sendiri? Mukanya merah lagi. Loe mikir jorok ya?” ucap Rosie.
“Enak aja kalau ngomong. Gue lihat bokep aja ga pernah, gimana bisa mikir jorok. Asal jeplak aja loe.”
Rosie dan Icha tertawa lepas melihat ekspresi konyol Marsha. Wajahnya tetap merona merah.
“Eh nanti siang pulang sekolah ke toko bahan roti yuk. Aku mau buat cookies cokelat buat Vano.” Ucap Kezia. Ketiga pasang mata sahabatnya langsung menatap Kezia dengan mata puppy eyes mereka.
__ADS_1
“Aduh romantisnya sih neng geulis satu ini. Beruntung Vano bisa jadi pacar loe Kez. Udah loe cantik, baik, kalem, lembut, dewi banget deh loe.” Puji Icha.
“Kamu berlebihan deh Cha. Aku juga bisa marah lho, kalau udah marah serem.”
“Yang bener? Masalahnya kita ga pernah lihat loe marah Kez.” Ucap Icha.
“Jangan sampai Cha. Loe tahu orang sabar kalau marah jauh lebih serem daripada orang galak.” Timpal Marsha. Kezia mengangguk setuju.
Siang hari setelah jam pelajaran usai. Marsha dan Icha berjalan menyusuri lorong sekolah mereka. Kezia dan Rosie sudah mendahului mereka di depan.
Mereka asyik mengobrol sampai tidak meyadari ada seseroang yang membututi dari belakang.
Tangan orang itu mendekat ke rambut Marsha. Dan dia menarik ikat rambut Marsha sehingga membuat rambut gadis itu tergerai sempurna.
Marsha yang kaget langsung menoleh ke belakang mencari pelaku yang merusak ikatan rambutnya.
“Erickkk..” teriak Marsha. “Kembaliin ikat rambut gue.” Teriaknya lagi.
Erick membalikkan tubuhnya, dia berjalan munduru dengan badan menghadap Marsha.
“Ga mau. Gue ga suka kuncir kuda loe. Bagusan juga gini.” Ucap Erick, dia tersenyum manis kemudian berlari meninggalkan Marsha.
“Bye kuncir kudaa..!!” teriaknya dari jauh sambil melambaikan tangan ke Marsha.
Icha yang di sebelah Marsha langsung menyenggol tangan Marsha.
“Cieeee...” goda Icha karena melihat Marsha yang salah tingkah. Senyum tersimpul dari wajah Marsha sambil memegang tengkuk lehernya.
__ADS_1
Di toko Roti
Kezia sedang sibuk memilih beberapa bahan roti yang akan dibelinya. Dia akan membuat cookies cokelat buat pacarnya Vano. Mereka baru berpacaran selama 6 bulan.
Marsha juga asyik memilih bahan roti sambil memegang ponselnya. Dia ingin membuat brownies cokelat dan akan memberikannya pada seseorang di hari valentine nanti.
Sedangkan kedua teman mereka memilih untuk mengekor, karena mereka bukan tipe cewek yang mau susah. Alias mereka mau beli jadi saja, daripada harus repot-repot membuat roti atau kue cokelat.
“Lu mau kasih cokelat ke siapa Sha? Kalau Kezia kan udah jelas, nha elo?” tanya Icha. Marsha masih fokus melihat ponselnya. Dia tidak menjawab.
“ow gue tahu, lu mau kasih ke Erick ya.” tebak Icha. Marsha masih tetap diam, yang ada pipinya menjadi merona. Icha langsung tersenyum.
“cieee.. yang lagi kasmaran nih. Kalian kalau ketemu berantem mulu, jadi cinta kan.” goda Icha. Marsha mengulum senyumnya, kemudian berjalan meninggalkan Marsha.
Sesampainya di rumah Marsha langsung meletakkan semua bahan roti yang dia beli ke meja dapur.
“kamu mau buat roti sayang?” tanya Rachel pada putrinya ketika melihat Marsha meletakkan 2 plastik hitam isi bahan-bahan roti yang dia beli.
“iya Ma, Marsha mau kasih roti buat seseorang. Besok Mama ajarin Marsha buat bikin brownies.” pinta Marsha
“memang kamu mau kasih ke siapa hayoo? Jangan pacaran lho, inget ucapan Papa.”
“iya ga pacaran kok Ma, Marsha cuma mau kasih roti aja di hari valentine.” jawab Marsha sambil tersenyum manis. Rachel mengusap punca rambut putri bungsunya itu.
“oke. Nanti mama temanin kamu membuat roti.” Marsha tersenyum lebar dan memeluk Mamanya.
“makasih mama.”
__ADS_1