Cucu Untuk Kakek

Cucu Untuk Kakek
Bab 14


__ADS_3

Kembali ke masa kini.


Marsha sudah kembali ke kampusnya. Dia duduk di cafetaria depan kampus. Kepalanya sedikit pusing pagi itu, tapi karena ada ujian kelas mau tidak mau dia harus berangkat ke kampus.


Semalaman Marsha tidak bisa tidur. Dia terus memikirkan ucapan Erick di sore hari kemarin. Marsha masih belum mau membuka hatinya buat Erick, dia belum bisa percaya kalau Erick benar-benar mencintainya. Semua ucapan Erick yang dia dengar beberapa tahun lalu masih teringiang di otaknya.


“Permisi kak, ini kentang gorengnya, sama susu cokelat hangatnya.” Ucap seorang pelayan sambil menghidangkan pesanan Marsha.


“Makasih kak.”


Marsha langsung meneguk segelas susu cokelat hangat di hadapannya. Beberapa hari ini dia memilih sarapan di luar.


Ponsel yang Marsha taruh di atas meja bergetar. Satu pesan masuk dari Icha.


Icha :


[Loe dimana?]


Marsha :


[Cafe rainbow depan kampus]


Icha :


[Oke.. ni gw sma kezia susul ke sana]


Marsha :


[He em]


Marsha meletakkan lagi ponselnya di atas meja. Sebenarnya ada beberapa pesan masuk dari Erick, tapi tidak ada satupun yang Marsha buka. Bahkan beberapa panggilan masuk dia abaikan. Saat ini dia benar-benar tidak ingin bertemu dengan pria itu. Dia masih sedikit trauma dengan Erick karena sore itu hampir saja dia kehilangan semua.


Tringg! Bel pintu cafe berbunyi. Dua orang yang Marsha tunggu telah datang.


Icha dan Kezia langsung duduk di kursi depan Marsha. Wajah mereka tampak cemas melihat Marsha yang jelas sekali terlihat murung itu.


“Pesen dulu kalian mau sarapan apa.” Ucap Marsha.

__ADS_1


Kezia mengangguk sembari mengangkat tangannya memanggil pelayan. Tangannya membentuk huruf kotak yang artinya dia meminta menu makanan.


Dengan sigap pelayan cafe itu langsung mengambilkan menu dan memberikannya pada Kezia. Kezia meletakkan menu itu di antara dia dan Icha. Mereka pun memilih sarapan pagi.


“Nasi goreng telor ya Kak, sama minumnya teh manis hangat.” Ucap Icha.


“saya susu putih hangat sama roti bakar cokelat keju.” Ucap Kezia.


Pelayan perempuan itu langsung mencatat pesanan mereka. Setelah semua pesanan benar, dia pamit undur diri.


Icha menatap Marsha yang masih termenung melihat kaca jendela di sampingnya.


“kemarin loe ketemu Erick?” tanya Icha. Marsha mengalihkan pandangannya, kini matanya menatap Icha.


“Kok loe tahu?”


“Iya kemarin dia nyari elo, kita ketemu dia di kantin. Terus gue bilang aja loe pergi sama Calvin ke mall.” Jawab Icha.


Marsha memasang wajah malas. Dia kembali memandang kaca jendela di sampingnya.


“Kamu ada masalah Sha?” tanya Kezia.


“Kenapa Sha? Loe ga mau cerita ke kita, loe ada masalah apa? Biar lebih legaan gitu.” Bujuk Icha.


Marsha menghela nafas pelan, dia mengusap rambutnya ke belakang. “Kemarin gue hampir di perkosa dia.” Ucap Marsha pelan.


Mata Icha dan Kezia langsung terbelalak mendengar ucapan Marsha.


“kok bisa Sha?” tanya Kezia setengah tidak percaya kalau Erick berani melakukan itu.


“Ya gue salah, gue pergi sama cowok sedangkan posisi gue tunangan dia. Dan gue juga ga ijin sama dia. Gue Cuma belum ikhlas harus nikah sama dia.”


“kalau loe belum ikhlas kenapa loe setuju? Kenapa loe ga ngomong sama kakek loe buat membatalkan nikahan loe?”


“Percuma Cha. Loe kayak ga tahu kakek gue aja, dia lebih keras daripada batu. Semua ucapannya itu ga bisa dibantah.” Jawab Marsha.


Icha menggelengkan kepalanya. Tangannya terlipat di dada, dia cukup pusing memikirkan masalah sahabatnya itu. Perjodohan memang rumit. Apalagi kalau tidak ada cinta di dalamnya.

__ADS_1


“Tapi Sha, btw apa sih yang buat loe benci banget sama Erick? Kenapa loe ga bisa buka hati loe buat dia? Bukannya dulu waktu SMA loe suka sama dia kan? Terus gue tiba-tiba lihat loe jadi dingin banget sama Erick sampai sekarang.” Marsha hanya diam.


Selama ini dia memendam semua kejadian yang terjadi di hari Valentine beberapa tahun silam. Tidak ada satupun dari sahabatnya yang tahu penyebab kebencian Marsha dengan Erick.


“iya Sha. Kalau kamu masih belum bisa buka hati kamu buat Erick, nanti pernikahan kalian gimana.”


“Ya udah kalau udah ga kuat ya tinggal cerai.” Jawab Marsha cuek.


“Hussh.. ngawur kamu Sha. Cerai itu ga boleh Sha. Dilarang agama.” Tegur Kezia.


Marsha tersenyum simpul. Dia jadi teringat ucapan Mamanya di mobil malam itu setelah pulang dari rumah sakit tepatnya setelah penatapan pernikahannya dan Erick. Mamanya juga berkata hal yang sama dengan Papanya.


“Udah deh, kita bahas yang lain. Gue pusing mikirin itu terus.” Ucap Marsha.


“Oke oke. Oya minggu depan kampus ngadain acara malam seni lho. Dateng yuk, katanya manggil band terkenal gitu. Sama beberapa mahasiswa juga ngisi. Kayaknya asik deh.”


“Bukannya memang kita wajib dateng ya Cha?” ucap Kezia.


“ow iya betul kita harus dateng.” Ucap Icha kemudian tertawa.


Drttt! Drttt! Ponsel di atas meja bergetar.


“Sha, Erick nelpon tuh.” Icha menunjuk ponsel Marsha yang bergetar dengan mengedikan dagunya.


“Biarin.” Marsha menggeser tombol merah di ponselnya dan mematikan ponselnya.


“Ga di makan tuh?” tanya Marsha lagi sambil menunjuk makanan yang sudah terhidang di meja. Saking seriusnya mereka sampai tidak sadar kalau pesanan mereka sudah di hidangkan.


“Oya oke, gue makan dulu.” Ucap icha mengambil sendok dan langsung memakan nasi gorengnya. Begitupun dengan Kezia.


🌻🌻


Di tempat lain Erick sedang berusaha menghubungi Marsha, tapi tidak ada satupun pesan yang di balas dan telepon yang diangkat. Bahkan sekarang nomornya tidak bisa di hubungin.


“Gimana?” tanya Febry, sekarang Erick sedang duduk di bangku meja makan bersama keluarganya. Ada Johan juga disana, mereka sedang membahas masalah pernikahan Erick dan Marsha yang tinggal beberapa minggu lagi.


“Ga di angkat Pi. Nanti aja Erick samperin di kampus.” Ucap Erick. Febry mengangguk paham.

__ADS_1


“Ya gitu aja jadinya. Minggu depan kalian foto pre wedding. Mami kamu udah urus undangannya, tinggal minta data dari pihak keluarga Marsha siapa aja tamu mereka yang mau di undang. Secepatnya ya, karena waktu sudah mepet. Nanti beberapa undangan akan dibuat dalam bentuk file, supaya bisa di kirim by online. Untuk tamu yang dari luar kota dan luar negeri. Minggu ini semua undangan akan disebar.” Jelas Febry. Erick mengangguk paham, tak menyangka sudah tinggal beberapa minggu lagi. Tapi sampai detik ini Erick belum bisa mencairkan kebekuan hati Marsha.


“Nanti kalau kalian udah menikah. Di nikmati dulu waktu berdua, jangan terlalu fokus untuk kasih Kakek cucu. Ya? Kalian saling mengenal dulu, kalau emang Marsha sudah hamil ya ga apa. Yang pasti jangan menunda juga, lakuin seperti biasa.” Ucap Johan. Erick mengangguk dengan pipi merona karena mendengar kata “hamil”.


__ADS_2