Cucu Untuk Kakek

Cucu Untuk Kakek
Bab 15


__ADS_3

Universitas tempat Marsha kuliah terlihat ramai hari itu. Ada beberapa stand bazzar yang berdiri di pinggir halaman kampus. Juga ada panggung cukup besar yang di dirikan di tengah halaman kampus.


Hari ini hari Sabtu, kampus Marsha mengadakan acara musik “satu malam” . Beberapa universitas di Jakarta ikut mendukung kelangsungan acara.


Satu-satu dari mereka menampilkan talenta mereka dalam menyanyi. Karena acara hari itu adalah khsusus musik.


Marsha dan teman-temannya memilih untuk jajan di stand Bazzar. Sambil menikmati acara musik yang ada.


“Eh ada yang jual makaroni lho, ke sana yuk.” Ajak Rosie. Mereka pun langsung mengekor Rosie dan menuju stand bazzar yang menjual cemilan anak SD itu.


“Kak, makaroni pedas asinnya satu ya.” Ucap Rosie.


“Baik kak, level pedesnya mau berapa?” tanya si penjual.


“Level 5, pedes banget ya.” Ucap Rosie.


“Ros, level 5 apa ga kebakar mulut loe?” ucap Marsha, Rosie menggelengkan kepala.


“Gue lagi pengen yang pedes-pedes Sha.”


Marsha melirik Rosie penuh curiga setelah mendengar kata “pengen”. “loe ga lagi ngidam kan?” tanya Marsha menginterogasi.


Rosie melotot, “enak aja kalau ngomong, ga lah. Gue kagak hamidun tahu. Gue sama Kevin ga pernah ngapa2in.” Ucap Rosie tidak terima dengan tuduhan Marsha.


“Sorry deh, gue khawatir aja sama lu Ros. Kan tahu sendiri si Kevin sama Erick hobby banget nonton film begituan.” bisik Marsha pelan supaya tidak terdengar oleh kakak penjual.


“Iya thanks Sha, gue bakal jaga diri kok.” Marsha tersenyum, Rosie memeluk lengan sahabatnya itu.


Si penjual Makaroni menyerahkan 1 plastik sedang Makaroni pedas asin yang di beli Rosie. Dengan semangat Rosie langsung melahap cemilannya, dan di ikuti tangan-tangan yang lain.


“kalian tuh kalau pengen beli sendiri dong. Punya gue habis ntar.” Omel Rosie.


“Enak yang gratis Ros, kalau beli sendiri tuh entah kenapa jadi ga enak rasanya.” Ucap Icha dengan senyuman nyengir.


“Dasar pelit.” Ledek Rosie. Marsha dan Kezia terkekeh melihat pertengkaran Icha dan Rosie tapi tangan mereka tidak berhenti mengambil makaroni yang di cemil Rosie.


“Udah udah... Habis ni udahan.” Protes Rosie yang melihat Makaroninya sudah tinggal separo bungkus.


Marsha dan Kezia langsung mengerucutkan mulut mereka.


“Pelit amat sih.” Gumam Marsha.


Marsha mengambil botol minumnya. Rasa pedas makaroni Rosie menampar-nampar bibirnya. Bisa tahan pedes juga tuh anak pikir Marsha. Karena sedaritadi Rosie asyik mengemil makaroninya tanpa minum sedikit pun.

__ADS_1


Langkah Icha terhenti sehingga membuat Marsha yang berjalan di belakangnya tertabrak punggung Icha. Hampir dia tersedak air minumnya sendiri. Kezia dan Rosie pun berhenti.


“Kok berhenti mendadak? Untung gue ga kesedak nih.” Omel Marsha.


“Sha, tuh Erick ngapain?” Icha menunjuk ke arah panggung. Erick sedang berdiri di atas panggung dengan gitar yang di kalungkan di lehernya.


Marsha melihat ke arah panggung. “Ga tahu, paling mau tampil. Udah biarin aja.” Jawab Marsha cuek.


“Testt..” suara mic yang berasal dari arah panggung. Membuat langkah ke empat sekawan itu terhenti lagi. Icha sangat penasaran apa yang akan di lakukan oleh Erick. Dia memilih berjalan mendekati panggung, begitu juga Kezia dan Rosie. Hanya Marsha yang terpaksa mengikuti teman-temannya.


“Selamat sore semua.” Suara Erick dari balik mic begitu menggema sampai ke seluruh kampus.


“Sebelumnya saya mau ngucapin terimakasih buat Pak Bambang, karena sudah mengijinkan saya buat tampil di panggung sore ini.” Ucapan Erick terhenti, matanya nampak mencari seseorang dari kerumunan mahasiswa yang berdiri di depan panggung.


“Ehm.. sore ini saya mau menyanyikan sebuah lagu. Lagu ini udah terkenal pasti kalian semua tahu. Dan saya mau bawakan lagu ini buat seseorang yang spesial di hati saya. Semoga orang itu di sini dan mendengar lagu ini.” Erick tersenyum setelah menyelesaikan ucapannya. Dia membenarkan gitar yang di kalungkan di tubuhnya. Kemudian memberi kode kepada pihak sounds untuk memulai memutar backsounds lagu.


Para mahasiswa yang berdiri di depan mulai memperhatikan Erick. Beberapa dari mereka terutama mahasiswa cewek langsung mengambil ponsel mereka dan memotret Erick.


Lagu pun mulai terputar. Erick memejamkan matanya dan mulai mengeluarkan setiap lirik dari lagu itu.


Ku harap semua ini bukan sekedar harapan


Dan juga harapan ini bukan sekedar khayalan


Biarkan ku menjaganya sampai


Berkerut dan putih rambutnya


Tak main-main hatiku


Apapun rintangannya ku ingin bersama dia


Ku mau dia tak mau yang lain


Hanya dia yang slalu ada kala susah dan senangku


Ku mau dia walau banyak perbedaan


Ku ingin dia bahagia hanyalah denganku


Ooo.. ooo...


Biarkan ku menjaganya sampai

__ADS_1


Berkerut dan putih rambutnya


Tak main-main hatiku


Apapun rintangan aku ingin bersama dia


Ku mau dia tak mau yang lain


Hanya dia yang selalu ada


Kala susah dan senangku


Ku mau dia walau banyak perbedaan


Ku ingin dia bahagia hannyalah denganku


Bukan ku memaksa oh Tuhan


Tapi ku cinta dia


Ku mau dia


Mata Erick terbuka setelah dia selesai menyanyikan lagunya. Manik matanya bertemu dengan manik mata Marsha yang berdiri lurus di depan Erick. Erick tersenyum manis.


Semua penonton memberikan tepuk tangan dan sorak riuh.


“Wah enak banget yang jadi ceweknya. Di nyanyiin romantis gitu.”


“cowoknya ganteng lagi.”


“Kyaa gue mau dong punya satu yang kayak gitu.”


Banyak ucapan kagum yang keluar dari para mahasiswi yang melihat penampilan Erick malam itu.


Sedangkan Marsha hanya bisa terpaku. Dia tahu betul lagu itu di tujukan ke siapa, siapa lagi kalau bukan dirinya sendiri. Ada sesuatu yang menggelitik di hatinya ketika Marsha mendengar lagu itu keluar dari mulut Erick. Tanpa sadar Marsha mengulum senyumnya.


Icha, Rosie dan Kezia masih terpaku melihat penampilan mengagumkan Erick. Mereka baru sadar Erick mempunyai suara yang merdu di balik keisengannya.


“Gilaa..! Erick bener-bener menyanyikan lagu itu dari hati.” Puji icha, kepalanya geleng-geleng sambil berdecak kagum. Rosie dan Kezia manggut-manggut setuju dengan ucapan Icha.


“Sha, ayo buka hati loe. Dia beneran cinta sama lu tuh.” Kali ini ketiga pasang mata temannya menatap Marsha. Marsha jadi merasa tertuduh.


“Ya gampang.” Ucap Marsha kemudian memalingkan pandangannya.

__ADS_1


__ADS_2