Cucu Untuk Kakek

Cucu Untuk Kakek
Bab 12


__ADS_3

13 Februari


“hey kuda..”


Marsha membalikkan tubuhnya ketika ada suara pria yang memanggilnya dari belakang. Pria itu berlari mendekati Marsha dengan senyum lebarnya yang tersungging di wajahnya.


“rambut loe tumben loe gerai. Pasti karena karet rambut loe di gue ya?” ucap Erick.


“ga, gue habis keramas jadi ga gue kuncir.”


Erick memegang rambut Marsha dan mencium aroma lembut pada rambut Marsha. Membuat detak jantung gadis itu berdegup kencang.


“wangii.. gue suka aroma rambut loe.” ucap Erick. Marsha tertunduk, pipinya merona merah. Entah kenapa setiap sentuhan Erick membuat jantungnya berdetak disco. Apakah ini yang namanya cinta? Karena hanya pria ini yang selalu membuat jantung Marsha berdetak tak keruan.


“erick…!” seorang murid laki-laki dari ujung kelas memanggil Erick.


Erick mendekatkan wajahnya ke telinga Marsha, “gue tinggal dulu ya.” ucapnya lembut. Kemudian Erick tertawa dan langsung pergi meninggalkan Marsha yang masih mematung seperti patung pancoran.


Perlakuan demi perlakuan yang Erick berikan buat Marsha membuat gadis itu menjadi menyukai lelaki itu. Entah Erick juga menyukai Marsha atau tidak. Dan besok valentine Marsha ingin mengungkapkan perasaannya pada Erick, walaupun mungkin mereka tidak mungkin berpacaran. Tapi yang penting Marsha sudah lega sudah bisa mengeluarkan perasaannya yang sudah terpendam selama 1 tahun ini.


Marsha dan Erick telah berteman cukup lama. Tapi baru 1 tahun terakhir ini Marsha menyadari kalau dirinya telah jatuh cinta dengan seorang Erick Alexander Petterson. Seorang pria yang selalu menjahilinya ketika mereka bertemu. Pertengkaran kecil yang mereka buat, menanam satu benih bernama “cinta” di hati Marsha.


Di dalam kelas selama pelajaran berlangsung. Marsha sibuk memikirkan Erick. Tangannya sibuk memegang pulpen dan menuliskan banyak nama Erick di buku pelajarannya. Semua pelajaran yang sedang diterangkan oleh guru di depan kelas tidak ada satupun yang masuk ke otaknya. Ke telinganya pun tidak. Semua panca inderanya seperti tertutup oleh sesuatu yang bernama “cinta”.


“sha..”


Marsha masih sibuk senyum-senyum sendiri. Dia membayangkan sentuhan yang diberikan Erick tadi pagi.


Dia bilang aroma rambut gue wangi, emang wangi banget ya..


“sha… woy..”


Kalau gitu gue ga bakal ganti shampo deh walaupun ternyata gue salah beli shampoo. Yang penting dia seneng sama aroma rambut gue.


“Marsha Velove Dinata!” teriakan seseorang membuyarkan semua lamunan Marsha. Rupanya guru wanita yang tadi sedang berada di depan kelas, sedang berdiri di samping Marsha.


Icha, Rosie dan Kezia hanya bisa menutup mata mereka. Mereka sudah bisa memastikan kali ini Marsha bakal kena marah.


“apa yang kamu tulis?” tanya Bu Dewi, guru matematika yang terkenal killer seantero sekolah. Dengan cepat Marsha langsung menutup bukunya.


“ga ada Bu.” jawab Marsha.


“maju ke depan kelas, kerjakan soal yang saya tulis di papan tulis.” perintah Bu Dewi. Marsha menelan ludah dengan berat. Sedaritadi dia tidak menyimak ucapan Bu dewi, gimana dia bisa mengerjakan soal di papan tulis.


Marsha menatap Icha di sebelahnya, tapi Icha juga tidak bisa berbuat apapun.


“ayo! Kenapa masih duduk saja? Sana kerjakan soal itu. Kalau kamu tidak bisa mengerjakannya. Turun menuju ruang BK. Dan renungkan kesalahanmu karena tidak memperhatikan guru ketika sedang mengajar.” ucap Bu Dewi. Kaki Marsha semakin bergetar, kalau dia sampai tidak bisa mengerjakan soal itu, dia akan ke ruang BK dan pasti keesokan harinya Papa atau Mamanya akan di panggil ke sekolah. Oh tidakkk..


Dengan berat Marsha mengangkat tubuhnya dan berjalan menuju depan kelas. Dia mengambil spidol yang ada di atas meja guru. Menghadpkan tubuhnya ke papan tulis dan melihat semua angka-angka yang tertulis di papan.


Pikirannya benar-benar kosong, dia tidak mengerti semua angka itu. Di dalam hati Marsha merutuki dirinya sendiri, kenapa dia malah melamun saat pelajaran Bu Dewi, sudah tahu itu guru killer.


“ayo di kerjakan!” perintah Bu Dewi lagi, karena melihat Marsha yang masih terdiam.


“gawat nih. Gue pastiin Marsha bakal ke ruang BK.” bisik Rosie kepada Kezia. Kezia hanya mengangguk dan melihat Marsha dengan raut cemasnya.


Marsha menghela nafas, dia membalikkan badannya. “maaf bu, saya tidak bisa mengerjakan soal di papan tulis.” ucapnya jujur. Kepalanya tertunduk, bersiap dengan semua semprotan yang sebentar lagi akan dia dapatkan.

__ADS_1


Dewi menggelengkan kepalanya sambil nafas kasar berhembus dari hidungnya. “kamu masih sekolah, ga usah cowok aja yang di pikir. Sekolah dulu yang pinter baru pacaran. Lihat tuh soal mudah begitu saja kamu tidak bisa mengerjakan.” tegur Bu Dewi, Marsha tidak membalas apapun, dia salah karena memang tidak menyimak selama pelajaran tadi.


“Aldo kerjakan soal di papan tulis. Dan kamu Marsha, sana turun ke ruang BK dan buat surat undangan untuk orang tuamu. Biar kamu jera dan tidak mengulang lagi kesalahanmu.” dengan langkah berat Marsha keluar dari kelasnya.


Icha, Rosie dan Kezia menatap Marsha dengan iba. Dia tahu betul setelah ini apa yang akan terjadi dengan Marsha, karena dia pasti akan kena hukuman dari Papanya.


Marsha berjalan turun ke ruang BK. Dia berjalan sambil merutuki nasibnya. Baru ini selama dia sekolah, dia harus ke ruang BK dan membuat orang tuanya di panggil ke sekolah.


Ahhh.. kenapa gue bisa **** gini sih?! teriaknya dalam hati. Marsha menarik nafas dalam-dalam, menahan air mata yang ingin keluar dari kelopak matanya.


Sesampainya Marsha di depan pintu Ruang BK, Marsha mengetuk pintu dan masuk ke dalam.


“permisi Pak.”


“eh Marsha, ada apa kamu kok ke sini? Buat masalah ya?” tanya Ricky, guru BK di sekolah Marsha yang juga teman dekat Antony, ayah Marsha.


“iya Pak, saya lalai ga menyimak Bu Dewi tadi waktu menerangkan pelajaran.” ucap Marsha sambil tertunduk malu.


Ricky tersenyum kemudian mempersilakan Marsha untuk duduk di bangku depan mejanya. “sini duduk dulu. Kamu sudah tahu Ibu Dewi itu galak, kok kamu malah tidak menyimak pelajarannya.”


“iya Pak, saya salah.” Marsha benar-benar ingin menangis saat ini.


 Ricky menyalakan komputernya dan kemudian mengetik sesuatu di layarnya. Kemudian selembar kertas keluar dari printer yang ada di samping komputernya.


Dia melipat kertas itu kemudian memasukkannya ke dalam sebuah amplop berwaran putih ber cap sekolah mereka di bagian depannya.


“ini berikan pada orang tua mu ya. Besok siang sepulang sekolah panggil mereka datang ke sini.” ucap Ricky sambil menyodorkan amplop putih itu kepada Marsha. Marsha menarik nafas dalam-dalam menahan air matanya yang sudah mengintip ingin di keluarkan. Dengan berat dia menerima amplop putih, mungkin hanya sekedar kertas tapi isinya bisa membuat perang dunia ke 3 meletus.


Marsha keluar dari ruangan BK setelah mengobrol sedikit dengan Ricky. Ricky memintanya untuk menunggu di luar sampai pelajaran selesai.


Marsha duduk di bangku panjang yang ada di depan ruang BK. Dia hanya terdiam sambil terus memandangi amplop putih yang ada di genggaman tangannya.


“loe kenapa di depan ruang BK? Bukannya ini masih jam pelajaran ya?” tanya pria itu, pria yang sudah membuat Marsha harus pergi ke ruang BK dan mendapat hukuman.


“iya kena hukuman.” jawab Marsha singkat.


Erick duduk di samping Marsha. Wajahnya sedikit bingung, karena setahu dia, Marsha adalah siswa yang cukup pintar dan tidak mungkin terkena hukuman.


“kok bisa?” tanyanya.


“gue ga nyimak waktu bu Dewi jelasin pelajaran. Alhasil waktu gue disuru kerjain soal di papan tulis, gue ga bisa.”


“oalah.. nah kok loe bisa ga nyimak sih Sha? Tumben amat.”


“ga apa.” tidak mungkin Marsha jujur kalau dia melamun saat pelajaran karena memikirkan Erick. “loe sendiri kenapa di sini?” tanya Marsha.


“gue habis dari toilet. Terus pas jalan mau balik ke kelas, gue lihat loe. Gue samperin deh.”


Marsha mengangguk.


“nih ga balik kelas Sha?”


“ga, gue di suru di sini dulu sama Pak Ricky, nanti setelah ganti jam pelajaran baru gue masuk kelas.” jawab Marsha.


“ow gitu. Ya udah, gue masuk kelas dulu ya. Takut kalau kelamaan ke toilet nanti di marahin. Lagi pelajaran pak Gunawan nih. Hehehe.” Erick berpamitan kemudian meninggalkan Marsha. Marsha menghela nafas dan merutuki nasib sialnya hari itu.


**

__ADS_1


Siang hari setelah sampai di rumah. Marsha langsung meminta Rachel untuk membantunya membuat brownies. Dia menyembunyikan dulu amplop yang di terima dari pak Ricky. Karena kalau Rachel membaca surat peringatan itu, bisa-bisa dia tidak akan mau mengajari Marsha membuat roti.


Seperti tidak terjadi apapun. Marsha terus berusaha tersenyum dan memperhatikan Rachel yang sedang menjelaskan step by step cara membuat brownies.


“orangnya pasti spesial banget ya buat kamu, sampai kamu mau buat roti khusus buat dia sayang?” tanya Rachel.


“iya Ma.” jawab Marsha malu-malu. Rachel menepuk pelan pipi putrinya itu. Putrinya tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Rachel bersyukur kepada Tuhan di anugrahi putri secantik Marsha.


Setelah 2 jam berkutik di dapur. Brownies buatan Marsha pun jadi. Setelah itu Marsha langsung meletakkannya ke dalam sebuah kotak khusus. Dan memasukkannya ke dalam lemari es, tidak lupa dia memberikan tulisan “jangan dimakan, ini milik Marsha” pada kotak roti itu. Karena dia tahu betul, kalau tidak diberi tulisan. Maka jika Nathan kakaknya melihat roti itu, dijamin besok pagi hanya tinggal kotaknya saja.


Malam harinya setelah selesai makan malam. Marsha menghampiri Antony yang sedang di ruang kerjanya. Marsha membawa amplop putih dan dia sudah mempersiapkan hatinya sejak sore tadi. Dia tidak akan membantah apapun mau nanti Antony akan memarahinya, karena memang ini sepenuhnya salah Marsha yang tidak memperhatikan guru saat jam pelajaran.


“Pa..” panggil Marsha. Antony melirik sebentar melihat putrinya berdiri di depannya.


“apa sayang?” tanya Antony kemudian fokus lagi pada layar laptopnya.


“ehm. Marsha mau kasih ini.” Marsha meletakkan amplop putih itu ke meja Antony.


Antony menggeser laptopnya kemudian melihat sebuah amplop putih. Di ambilnya amplop itu dan mulai membukanya. Raut wajahnya yang nampak biasa langsung berubah masam.


“ini apa?” tanyanya dengan nada sedikit tinggi.


“maaf Pa.” hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Marsha.


“kok bisa kamu sampai buat kesalahan dan membuat orang tua kamu di panggil sekolah?!” kali ini nada bicara Antony jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Marsha hanya tertunduk, dia sudah bertekad tidak ingin membantah Papanya.


Antony menggelengkan kepalanya, dia sedikit kecewa dengan putrinya itu. Kebetulan Rachel datang masuk ke ruangan suaminya sambil membawa cemilan dan teh hangat untuk suaminya.


“ma..” panggil Antony.


“iya Pa ada apa? Lho Sha kok kamu di sini, ada apa?” tanya Rachel sembari meletakkan nampan berisi sepiring kue marmer dan secangkir teh hangat.


“besok jam 1 siang kamu ke sekolah Marsha. Anak ini buat ulah sampai kita di panggil pihak sekolah.” ucap Antony.


“lho, kamu buat ulah apa Sha?” tanya Rachel bingung.


“maaf Ma, Pa, tadi selama pelajaran Marsha malah ngelamun, kebetulan guru pengajarnya galak, Marsha di suru ngerjain tugas di papan tulis. Tapi Marsha ga bisa, karena memang Marsha ga nyimak tadi. Akhrinya Marsha di suru ke ruang BK.” jelas Marsha. Antony menghela nafas kasar.


“besok kamu aja yang ke sana Ma. Papa ada meeting penting jadi ga bisa ke sekolah Marsha.”


“iya Pa.” jawab Rachel.


“maafin Marsha Pa, Ma. Marsha janji ga akan ulangin kesalahan ini lagi.” ucap Marsha tulus, suaranya hampir terisak.


Rachel memeluk putrinya itu. “udah ga apa, jangan merasa bersalah. Manusia ga ada yang sempurna sayang. Pasti buat kesalahan. Kesalahan kamu ini bukan aib kok. Jadi jangan terlalu merasa bersalah ya.”


Marsha mengagguk.


“makanya Papa ga ngijinin kamu pacaran. Baru ini aja kamu sudah buat masalah, apalagi kalau kamu pacaran, bisa-bisa kamu buat aib di keluarga kita.”


“papa! Jangan ngomong gitu!” tegur Rachel. Antony langsung diam kalau istrinya sudah menegurnya.


“sudah ucapan Papa jangan dimasukkan ke hati ya. Maksud Papa baik, Papa cuma mau menjaga kamu. Kamu anak perempuan, jadi Papa ga mau kamu di lecehin sama pria.” ucap Rachel bijak. Marsha mengangguk lagi.


“ya udah sayang, kamu tidur gih. Besok siang Mama ke sekolah kamu.”


“iya Ma. Kalau gitu Marsha tidur dulu. Met malam Pa, Ma.” pamit Marsha.

__ADS_1


“iya, tidur yang nyenyak ya.” ucap Antony.


Rachel mengangguk dan membiarkan putrinya itu keluar dari ruang kerja suaminya.


__ADS_2