
Sudah jalan seminggu sejak penetapan pernikahan Erick dan Marsha. Itu berarti kurang 3 minggu lagi menjelang hari pernikahan mereka. Mereka tidak terlalu sibuk karena semua sudah di atur oleh kedua orang tua mereka. Jadi tugas mereka hanya menikah saja dan yang pasti membuat anak untuk kakek mereka.
Hari Sabtu seperti biasa Erick dan Marsha libur kuliah. Di rumahnya Erick sedang asyik bermain game online. Dia tiduran di atas kasurnya dengan mulut sibuk mengeluarkan umpatan.
“stun stun stun! Anjirr!” seru Erick, dia begitu fokus dengan ponselnya sampai tak menyadari Anita yang sudah berdiri di sampingnya.
Dengan sigap Anita langsung mengambil ponsel Erick. Hampir Erick keceplosan mengumpat untung dia tersadar siapa yang mengambil ponselnya.
“eh Mami..”
“apa? Mau ngatain Mami?”
“Ga kok Mi..” Erick tertawa kecil.
“Kamu itu mau nikah tapi tingkahnya gini terus. Kamu itu mau jadi kepala keluarga lho Erick. Dewasa dikit Nak.” Omel Anita.
“Iya Mi, kan masih tiga minggu lagi. Jadi Erick mau menikmati masa lajang dulu. Hehehe.” Ucap Erick sambil memberikan puppy eyes nya.
Anita mencibik. “Dasar anak nakal. Suka banget godain Mami. Udah sana kamu pergi sama Marsha, nih malam minggu, ajak dia jalan.”
“Ga ah Mi. Marsha galak, Erick takut kena semprot kalau ngajak dia jalan.”
“Galak apa sih? Dia anak baik kok.” Bela Anita.
Mami ga tahu aja kalau dia udah marah, galaknya udah ngelebihin singa betina..
“Udah sana, Mami udah ngomong sama Tante Rachel kamu mau ajak jalan Marsha. Cepet mandi terus pergi jemput Marsha.” Paksa Anita. Akhirnya Erick melangkah dengan malas.
Selesai mandi Erick berpamitan dan langsung pergi ke rumah Marsha dengan mengendarai mobil sport merahnya.
Jarak antar rumah Erick dan Marsha cukup jauh. Menempuh sekitar 1 jam untuk sampai ke rumah Marsha, belum kalau macet. Mungkin bisa 2 jam. Beruntung sore ini tidak macet jadi tepat 1 jam Erick telah sampai di rumah Marsha. Erick sengaja menepikan mobilnya di taman samping rumah Marsha. Dia malas memasukkan mobilnya ke dalam.
Erick keluar dari mobilnya, dia merapikan kemeja yang dia pakai. Dan melirik kaca spion merapikan rambutnya.
“Cakep dah..” ucap Erick puas ketika melihat wajahnya. Erick terlahir dengan wajah tampan, perpaduan wajah Thailand-Jerman itu membuat Erick terlihat menarik dilihat dari manapun. Tubuhnya tinggi 185cm dan otot-otot yang tercetak, membuat kharismanya semakin terpancar. Banyak wanita yang tergila-gila dengan Erick, tapi hanya ada dua wanita yang pernah masuk ke hidupnya. Pertama adalah Valeria, pacar pertama Erick dan kedua adalah Marsha cinta pertama Erick.
Erick berjalan dengan penuh percaya diri. Dia menekan tombol bel di dekat pintu gerbang rumah Marsha. Seorang satpam keluar dan membukakan pintu gerbang.
“Eh ada Mas Erick. Masuk mas.” Ucap security yang menjaga rumah Marsha. Erick dengan senyuman tampannya langsung masuk ke rumah Marsha.
Di teras rumah sedang ada Bi Siti yang sedang menyiram tanaman, Bi Siti menyapa Erick.
“Den Erick, udah lama ga main ke sini, cari non Shasha ya? Masuk aja Den.”
“iya Bi. Makasih ya Bi, saya permisi masuk.” Ucap Erick sopan.
“Iya silakan Den.”
Erick masuk ke dalam rumah Marsha. Karena sudah terbiasa masuk ke dalam rumah. Erick langsung masuk ke paling dalam rumah itu.
“halo Rick.” Sapa Nathan yang sedang ada di ruang keluarga.
“Halo.” Erick menghampiri Nathan dan menjabat tangannya.
“cari Marsha?”
“Iya, nyokap nyuru gue ngajak jalan Marsha.” Ucap Erick.
“Hahaha. Bagus dong. Biar kalian makin deket. Dia udah siap-siap kok. Tapi lu hati-hati ya, dia terpaksa pergi jadi ngomel-ngomel daritadi. Lu yang sabar ya nanti.” Bisik Nathan. Erick hanya menghela nafas. Matilah gue pikirnya.
Dari dulu ketika Erick dan Marsha bertemu pasti akan selalu bertengkar. Mereka tidak pernah akrab sama sekali. Dan yang lebih sering memulai pertengkaran adalah Marsha. Semua bisa jadi masalah buat dia. Entah ada dendam kesumat apa antara Marsha dan Erick.
Menunggu 10 menit. Turunlah Marsha dari tangga rumahnya. Erick menatap Marsha cukup lama. Marsha memakai dress biru muda dengan tali tipis mengait di lehernya, tak lupa rambutnya di gulung ke atas sehingga memperlihatkan leher jenjangnya yang mulus dan putih, Marsha memakai sepatu kets warna putih sehingga membuat penampilannya terkesan casual n chick.
Erick menelan ludah susah payah melihat penampilan Marsha yang buatnya itu sangat cantik. Apalagi melihat bahu dan leher mulus Marsha membuat yang dibawah sedikit bangun.
“Napa loe lihatin gue kayak gitu? Ga pernah lihat cewek cantik ya?” ucap Marsha melihat Erick dengan tatapan tidak suka.
__ADS_1
Erick menggelengkan kepalanya, berusaha menyadarkan matanya. “iya gue emang baru ini lihat bidadari turun dari surga.” Ucap Erick jujur.
“Gombal!” ucap Marsha kemudian langsung berjalan keluar, tapi ada senyum tipis tersungging dari bibirnya.
Erick langsung berpamitan dengan Nathan dan mengejar Marsha.
“Mobil loe mana?” tanya Marsha melihat ke sekeliling tidak ada mobil Erick
“Di luar. Gue males bawa masuk.”
Mereka keluar dari rumah kemudian masuk ke dalam mobil. Erick menyalakan mesin mobilnya dan langsung melaju menuju Mall tujuan mereka.
Selama perjalanan mereka hanya diam. Marsha sibuk berswafoto dengan ponselnya. Kebiasaan para wanita kalau merasa cantik pasti semua tempat bisa dijadikan tempat foto, terutama kamar mandi. Sedangkan Erick hanya sesekali melirik Marsha.
Sesampainya di Mall, Erick memarkirkan mobilnya. Dan mereka berjalan berdua masuk ke dalam mall. Setelah sekian lama, baru ini Marsha pergi malam minggu dengan cowok. Biasa dia malam minggu selalu dihabiskan di rumah. Maklum dia jomblo kembang.
“kita mau ngapain?” tanya Marsha.
“ehm. Main timezone mau?”
“Main? Ya ampun. Ya udah.” Sedikit terpaksa akhirnya Marsha mengikuti ajakan Erick. Erick tersenyum senang, sudah lama dia tidak ke timezone.
Sampai di tempat bermain Erick langsung menuju loket karcis dan mengisi kartu timezone nya.
“Isi 50.000 ya mbak.” Ucap Erick.
“Baik Mas.”
Marsha berdiri di samping Erick sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
“Yuk.” Ajak Erick setelah berhasil mengisi kartu gamenya. Erick mengajak Marsha ke tempat bermain basket. Mainan kesukaan Erick ketika di timezone.
Erick langsung menggesek kartunya dan memencet tombol start. Tubuhnya memposisikan kuda-kuda sambil menanti bola bola yang akan keluar. Dengan gesit dan cepat Erick langsung memasukkan bola ke dalam ring. Tidak ada satupun yang miss. Erick hampir memimpin skor sebelumnya.
Beberapa orang mulai memperhatikan permainan Erick termasuk Marsha yang masih melongo melihat cowok itu yang begitu gesit dan seperti tidak capek memasukkan bola demi bola.
Erick membalikkan tubuhnya dan tersenyum riang pada Marsha. Marsha membalas dengan senyuman tipis.
“Gimana permainan gue keren ga?” tanya Erick
“Biasa aja.” Jawab Marsha sambil berjalan keluar dari timezone.
“sha gue haus.”
“Suru sapa main sampai gitu. Sana beli minum.”
“beliin Sha, gue capek banget harus ngantri. Gue pengen boba.” Erick menunjuk satu outlet yang menjual minuman boba dan kebetulan sedang antri panjang.
Marsha melihat tempat itu dan pengunjung yang mengular. “lu nyuruh gue ngantri? Ga salah loe?”
“kali ini aja Sha, gue bener-bener capek.” Ucap Erick dia langsung duduk di sebuah bangku.
Marsha memutar bola matanya jengah. Dia berjalan malas dan langsung mengantri minuman boba itu.
Hihh cowok macam apa dia, masak suru cewek yang antri. Dia juga yang haus kok jadi gue yang repot. Batin Marsha kesal.
Sekarang dia sedang mengantri minuman Boba yang cukup terkenal itu. Sesekali Marsha melirik Erick yang sedang menatapnya senyum-senyum.
“Awas loe.” Ucap Marsha tanpa bersuara kepada Erick. Sedangkan Erick mengerucutkan mulutnya seperti mau mencium. “Hisss..” desis Marsha kesal.
Saat sedang asyik mengantri. Marsha berpapasan dengan seorang cowok yang baru saja mendapatkan minuman yang dia beli.
Cowok itu menatap Marsha, Marsha pun begitu.
Sepertinya gue ga asing sama wajah cowok ini ucap Marsha dalam hatinya. Sambil mengingat-ingat siapa pemilik wajah itu. Begitupula dengan si cowok yang langkahnya terhenti ketika melihat Marsha.
“Marsha?”
__ADS_1
“Kak Steve?”
“Eh halo Sha. Ya ampun ga nyangka ketemu disini. Kamu cantik banget aku sampe ga ngenalin kamu lho.” Ucap Steve. Steve adalah kakak kelas Marsha ketika masih di SMA dulu. Dia termasuk cowok yang pernah di taksir oleh Marsha.
“Halo kak. Apa kabar? Udah lama ga ketrmu.” Marsha mengulurkan tangannya dan disambut senang oleh Steve.
“Baik Sha. Kamu sendiri kabarnya gimana? Kuliahnya lancar?”
“lancar kak. Kabarku baik kok. Oya bukannya kak Steve kuliah di Singapore, kok bisa ada di sini?”
“Iya Sha, lagi libur kuliah, jadinya pulang dulu ke sini.”
“owh.” Marsha mengangguk-angguk. Steve masih memandang Marsha, Marsha terlihat makin cantik daripada ketika sekolah dulu. Makin dewasa dan anggun.
Steve mengeluarkan ponselnya dan ingin meminta nomor HP Marsha. “Sha boleh min..”
“Hai Steve.” Potong Erick yang sudah ada disamping Marsha dan memeluk erat pinggang Marsha.
Steve kaget ketika melihat Erick yang tiba-tiba muncul. Matanya melihat tangan Erick yang sedang ada di pinggang Marsha.
“eh halo Rick. Ternyata gue juga ketemu elu disini.” Ucap Steve.
Marsha berusaha melepaskan tangan Erick dari pinggangnya tapi Erick semakin mengeratkan pelukannya.
“Iya udah lama ya ga ketemu. Sendirian aja?” tanya Erick basa basi.
“Iya gue sendirian aja. Ehm btw kalian?”
“Ah iya, gue sama Marsha udah tunangan, bulan depan kita nikah. Tunggu undangan dari gue ya.” Ucap Erick santai. Marsha Cuma bisa melotot mendengar ucapan Erick yang begitu santai.
Steve sedikit canggung setelah mendengar kalau Erick akan menikah dengan Marsha.
“Owh congratz ya Sha, Rick. Kalau gitu gue permisi dulu.” Ucap Steve berpamitan.
“Iya kak.” Jawab marsha sambil tersenyum. Sedangkan Erick tersenyum miring. Steve pun meninggalkan mereka.
Setelah kepergian Steve, Marsha langsung menepis tangan Erick dari pinggangnya. “lepasin tangan lu dari pinggang gue.”
“Ga mau.” Tolak Erick.
“Gue bilang lepasin. Gue risih!” ucapnya lagi.
“Biasain kalau risih.” Jawab Erick semakin mengeratkan pelukannya. Marsha tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dia juga tidak enak bertengkar di Mall karena sedaritadi orang depannya terus melirik Erick dan Marsha yang berisik.
Setelah mengantri minuman Boba. Marsha mengajak Erick untuk berjalan-jalan. Tiba-tiba Erick mengambil minuman Marsha dan meminumnya.
“Hmm enak punya lu. Manis.” Ucap Erick.
“Ihh lu kok minum punya gue sembarangan sih. Sedotan gue kan jadi bekas mulut loe.” Rengek Marsha.
“Kenapa? Gue ga punya penyakit menular kok dan lagi gue kan calon suami loe.” Ucap Erick santai dan kembali melanjutkan jalannya. Marsha hanya mendengus kesal. Andai ini bukan Mall dia udah ingin membogem hidung mancung Erick biar bengkok.
Marsha pun terbesit ide untuk mengerjai Erick. Dia mengajak Erick masuk ke toko Acc cewek.
Erick berjalan mengekori Marsha yang asyik memilih dan melihat beberapa pernak pernik cewek. Erick sebenarnya cukup malu masuk ke tempat yang serba pink itu. Tapi demi apa coba, dia udah terlalu bucin dengan Marsha sampai akhirnya mengiyakan ajakan Marsha.
“Rick..” panggil Marsha. Erick mendekati Marsha yang sedang memegang sebuah bando dengan bunga-bunga berwarna pink.
Marsha langsung meletakkan bando bunga-bunga itu ke atas kepala Erick. Tawa lepas langsung keluar dari mulut gadis itu. Melihat penampilan aneh Erick, gitu juga Erick hanya diam. Dia seperti terhipnotis karena baru ini dia melihat Marsha tertawa lepas ketika sedang bersamanya.
“Loe lucu banget Rick. Hahaha..” marsha memegang perutnya karena merasa sakit akibat tertawa terlalu semangat.
“puas loe?”
“Banget.. hahaha..” marsha mengusap air matanya yang menetes saking puasnya tertawa. Erick mengulum senyumnya apapun akan dia lakukan agar gadis itu bisa mencintainya.
Marsha mengambil ponselnya dan langsung mengabadikan penampilan lucu Erick. Dia juga mengambil foto mereka berdua. Dan berencana ingin menguploadnya di Instagram bukan karena dia ingin pamer kemesraan tapi dia ingin Erick di olok-olok teman-temannya.
__ADS_1