
Minggu pagi Marsha sudah bangun dari tidurnya. Biasa hari minggu gini dia akan bangun siang. Tapi khusus minggu ini dia terbangun pagi-pagi. Semalaman dia tidak bisa tidur karena mengkhawatirkan Erick. Karena Erick basah kuyup kemarin, dan dia takut kalau Erick jadi sakit gara-gara dia.
Marsha mondar-mandir di kamarnya. Sambil membawa ponselnya. Dia ragu-ragu ingin mengirim pesan menanyakan kabar Erick atau tidak.
“enaknya gue chat atau ga ya? Tapi gue penasaran dia sakit ga ya? Semalam terakhir gue lihat dia sempet bersin-bersin.” ucapnya sendiri.
Setelah 1 jam mondar-mandir bagai setrikaan. Marsha memberanikan diri untuk menanyakan kabar Erick.
Marsha :
[Rick, lu sehat kan?]
Pesan terkirim, tapi Erick belum membalas pesan Marsha. 20 menit menunggu Erick tak kunjung membalas. Marsha semakin khawatir. Akhirnya dia menelepon Erick. Beberapa kali nada sambung, akhirnya telepon di angkat.
“halo.” terdengar suara di balik telepon yang sedikit parau.
“Erick, loe sakit ya?” tanya Marsha.
“Ga kok Sha, gue ga sakit.” tapi suara Erick sedikit lemas.
“bohong, suara loe kelihatan lemes gitu, loe sakit kan? Udah ke dokter?” tanya Marsha cemas.
Di balik sana Erick mengulum senyumnya. “gue ga sakit kok Sha, cuma meriang aja. Nanti juga sembuh. Ga perlu ke dokter, tadi udah minum panadol.”
“gue ke rumah loe sekarang.” ucap Marsha dan langsung menutup sambungan teleponnya. Marsha bergegas mandi dan bersiap-siap ke rumah Erick.
Selesai bersiap-siap Marsha turun ke bawah. Dia berpapasan dengan Rachel dan Antony yang baru saja pulang dari supermarket.
“Ma, Marsha pergi dulu ya. Mau ke rumah Erick, dia sakit, gara-gara kemarin kehujanan. Marsha mau nengokin.”
Rachel menatap wajah suaminya dengan senyum-senyum. “iya sayang, hati-hati ya.” ucap Rachel. Marsha mengangguk, dia langsung keluar dan masuk ke mobilnya menuju ke rumah Erick.
“siap-siap jadi nenek muda kamu Ma.” goda Antony.
“hot granny ya Pa.” mereka tertawa bersama.
**
Marsha sampai di rumah Erick. Rumah orang tua Erick lebih besar daripada rumah Marsha. Untuk masuk ke dalam rumah, tidak bisa hanya dengan berjalan kaki. Karena halamannya sangat luas.
Sampai di depan gerbang Marsha sudah disambut dengan seorang security.
“cari siapa Mbak?” tanya security itu.
__ADS_1
“saya cari Erick Mas. Bilang aja Marsha dateng gitu.” ucap Marsha. Security mengangguk, dia berjalan ke dalam posnya, beberapa menit kemudian pintu gerbang terbuka. Marsha mengucapkan terimakasih kemudian memasukkan mobilnya ke dalam.
Marsha memarkirkan mobilnya di parkiran khusus mobil. Yang memang disediakan untuk tamu yang datang ke rumah Erick. Keluarga Erick termasuk orang penting, jadi sering ada tamu yang berkunjung ke rumahnya.
Marsha keluar dari mobilnya dan langsung masuk ke dalam rumah Erick. Pintu rumahnya terbuka sehingga Marsha bisa langsung masuk. Seorang pelayan mendatangi Marsha.
“selamat siang Nona. Tuan muda sudah menunggu di kamar.” ucap pelayan itu. Marsha mengangguk dan langsung di antar menuju ke kamar Erick. Marsha baru dua kali datang ke rumah Erick itupun hanya berada di lantai bawah. Tidak pernah sampai masuk ke lantai atas, apalagi kamar Erick.
Pelayan mengetuk pintu kamar Erick, kemudian membukanya dan mempersilakan Marsha untuk masuk. Setelah itu dia membungkuk dan meninggalkan Marsha.
Marsha masuk ke dalam, dia melihat Erick yang sedang duduk bersandar di tempat tidurnya. Erick tersenyum ketika melihat Marsha datang.
“sini.” ucapnya meminta Marsha mendekat dan duduk di tepi ranjangnya. Marsha mendekat. Pertama kali yang di lakukan Marsha adalah memegang dahi Erick untuk mengecek suhu tubuh pria itu.
“badan loe masih panas Rick. Beneran ga mau ke dokter?” tanya Marsha, wajahnya nampak begitu khawatir dan bersalah.
“gue ga apa kok. Cuma masuk angin aja. Paling nanti udah turun panasnya.” jawab Erick.
“loe udah makan? Mau gue buatin bubur?” tanya Marsha.
“belum, emang loe bisa masak?”
“ih ngeledek loe, gue bisa masak tahu. Ya udah gue pinjem dapurnya ya, btw, tante Anita sama om Febry ada di rumah? Kok rumah loe sepi?”
“oh gitu, ya udah gue masakin loe bubur dulu.” Erick mengangguk. Marsha pun beranjak dan keluar dari kamar Erick.
Enak juga ya kalau nanti udah nikah. Sakit gini ada yang ngerawat, ada yang masakin bubur. Ah. Enak lagi kalau malem ada yang nemenin bobo. Erick terkekeh membayangkan malam-malam panasnya bersama Marsha.
Marsha turun ke bawah dan berjalan menuju dapur. Dia cukup kesusahan mencari dapur, karena rumah Erick luasnya ga ketulungan. Beruntung Marsha bertemu dengan satu pelayan dan mengantarnya ke dapur, kalau tidak dia bisa tersesat di sini.
“mau masak apa Nona?” tanya seorang wanita paruh baya berpakaian bak chef.
“saya mau buatin bubur daging buat Erick, Bi. Kira-kira ada bahannya ga ya?” tanya Marsha.
“nona butuh apa? Biar saya siapkan.”
“ehm. Beras, daging ayam atau sapi cincang, bawang putih, merica, kecap asin. Tulang sapi ada juga ga? Buat kaldu.” ucap Marsha.
“baik sebentar saya cek dulu Nona.”
“oke.” Marsha menunggu sambil melihat dekorasi dapur rumah Erick yang kelewatan mewahnya. Ada dua dapur di rumah Erick, dapur bersih dan dapur kotor. Tempat Marsha berdiri sekarang adalah dapur bersih.
Kira-kira kalau gue udah nikah sama tuh cowok, gue tinggal dimana ya? Masak di rumah ini? Besar gini, kalau ga terbiasa, gue bisa tersesat terus nih. Batin Marsha.
__ADS_1
Bi Minah datang menghampiri Marsha dengan semua bahan yang dibutuhkan. Marsha menerimanya dan langsung mengolah semua bahan makanan yang ada di hadapannya. Dan membuat bubur daging untuk Erick.
Bi Minah sedikit-sedikit membantu Marsha memasak. Dia cukup kagum dengan Marsha. Dari penampilannya tidak terlihat seperti gadis yang pintar masak, tapi ternyata Marsha sangat pintar masak. Bahkan sudah seperti chef.
“nona, berbeda sekali ya dengan gadis jaman sekarang yang ga suka ke dapur. Maunya semua di urus pembantu.” puji bi Minah.
“ahh.. saya biasa aja Bi. Saya emang suka masak dari kecil. Dan Mama bilang katanya kalau mau memikat hati suami, harus dengan makanan. Karena perut kenyang hati senang. Hehehe.”
“wah luar biasa nona ini. Udah cantik, pinter masak pula. Pasti tuan Erick bahagia sekali nanti kalau sudah menikah dengan nona.”
“bibi tahu darimana kalau saya mau menikah dengan Erick? Bibi juga kan baru ini bertemu dengan saya.” tanya Marsha.
“nyonya sudah memberitahu semua pelayan di rumah ini Nona. Kami juga sudah di tunjukkan foto Nona. Makanya begitu nona datang tadi, saya ga kaget. Karena saya tahu nona calon istri tuan muda.”
“owh gitu.” marsha mengangguk. Calon ibu mertuanya hebat sekali. Sudah mempersiapkan sampai seperti itu.
Bubur daging pun sudah ready. Harum semerbak langsung memenuhi isi dapur. Marsha langsung membawa bubur naik ke lantai 2 tempat Erick berada, dan dengan di bantu pelayan yang lain untuk menunjukkan jalan, karena kalau tidak Marsha bisa tersesat.
Erick sedang menonton televisi. Perutnya langsung keroncongan ketika mencium aroma makanan yang begitu wangi. Marsha menghampiri Erick dan meletakkan nampan berisi makanan itu ke atas kasur Erick. Erick memperhatikan semangkok bubur yang ada di depannya. Penampilannya begitu menarik, aromanya juga sedap, Erick sudah tidak sabar menyantapnya.
“ini gue cuma kasih merica, loe lagi sakit, jangan makan pedes dulu ya.” ucap Marsha, dia hampri mengaduk buburnya tapi Erick menghentikannya.
“stop. Sebentar, mau gue foto dulu.” ucap Erick, Erick mengambil ponselnya yang dia letakkan di atas nakas. Dan langsung memotret bubur itu. “done! Pasti enak nih.”
Marsha tersenyum, kemudian dia mengaduk buburnya, mencampurnya menjadi satu. Dia memberikan semangkok bubur itu kepada Erick. Erick mengambil sendok dan langsung memakannya.
“gimana enak ga?” tanya Marsha.
Erick mengangguk cepat, dia tidak menjawab lagi, dengan cepat dia menghabiskan bubur buatan Marsha dalam hitungan menit. Lidahnya tidak berbohong bubur buatanya Marsha sangat enak.
Dalam sekejap bubur buatan Marsha langsung habis, sampai mangkoknya sangat bersih.
“enak banget. Makasih ya.” ucap Erick sembari meletakkan mangkok kosong di atas nampan. Marsha tersenyum senang. Di lihatnya pinggir bibir Erick yang ada sisa bubur. Marsha langsung menyekanya dengan jarinya. Erick memegang tangan Marsha dan langsung mencium jari Marsha yang terkena bubur di bibir Erick. Mata mereka saling menatap. Hawa panas mulai menjalar di tubuh Marsha, jantungnya mulai berdegup kencang.
Dengan cepat Marsha menarik tangannya dari genggaman Erick. Wajahnya memerah dan suhu tubuhnya meningkat.
Erick mengusap lembut kepala Marsha. “makasih ya udah dijengukin. Gue seneng loe ngawatirin gue.”
“gue ngerasa bersalah aja. Gara-gara gue , loe sampai sakit gini. Harusnya loe ga perlu hujan-hujanan Rick, kan jadi sakit gini.”
“ga apa kok, kalau sakit enak gini. Gue mau sakit terus.”
“ih jangan dong. Sakit ga enak tahu Rick. Jangan gitu ah.” ucap Marsha
__ADS_1
“hahaha. Iya iya gue ga akan sakit lagi kok. Gue bakal sehat terus asal loe bahagia.” lagi-lagi ucapan Erick membuat wajah Marsha memerah. Entah Erick menggunakan pelet apa, sampai setiap ucapannya membuat Marsha meleleh.