Dahlia Hitam

Dahlia Hitam
OUT OF TOUCH (END)


__ADS_3

Hari itu adalah hari terakhir bagi Johanes. Hari terakhir


bagi nya untuk memutuskan akhir dari masalah ini. Dan mungkin juga akan menjadi


hari terakhir bagi salah satu dari mereka untuk menghirup udara bebas di luar


penjara. Hari ini akan menjadi jadwal interogasi Andrew Edden. Satu-satu nya


orang yang belum diinterogasi oleh Johanes. Johanes tidak tidur semalaman untuk


ini. Dia benar-benar mempersiapkan pikiran dan nurani nya matang-matang.


Sekali lagi Johanes melihat investigation board nya. Ia terus menunggu hingga hari ini untuk


mendapatkan bukti-bukti yang bisa membebaskan Fernando dari tuduhan semua


orang. Tapi Fernando tidak bisa mendapatkan bukti apa-apa. Dia malah diserang


oleh sekelompok orang yang berakar dari Clara Mara. Johanes tidak buta. Ia bisa


melihat dengan jelas bahwa Fernando tidak bersalah, dalam konteks pembunuhan


Marsella. Tetapi tidak ada yang bisa mendukung opini nya. Ditambah fakta lain


bahwa Fernando memperkosa Marsella. Hal ini akan sulit bagi Fernando untuk


lepas.


Interogasi Andrew akan dilaksanakan pada subuh hari


ini. Johanes memilih waktu ini karena hari ini juga tenggang waktu yang ia


punya untuk menentukan siapa pembunuh yang sebenarnya. Tidak ada waktu tersisa.


Johanes segera mengambil kunci mobil nya dan pergi menuju kantor polisi.


Seharusnya Andrew sudah berada di ruang interogasi menunggu diri nya.


Johanes tergesa-gesa masuk ke dalam ruang interogasi.


Seperti dugaan nya, sudah ada Andrew di sana. Johanes melepaskan jaket nya,


lalu duduk di depan Andrew. Andrew terlihat tenang. Dia malah bisa dibilang


sedikit terlihat bosan menunggu Johanes untuk tiba. Johanes langsung


mengeluarkan beberapa kertas dari dalam tas nya. Melihat nya dengan sekilas,


lalu menaruh nya di atas meja. Ia lalu memulai sesi interogasi terakhir ini.


“Andrew Edden, katakan, menurut mu siapa pembunuh nya?”


tanya Johanes langsung.


Andrew terlihat kaget akan pertanyaan Johanes.


“Tunggu, maksud mu pak?” tanya nya dengan sopan.


“Kita tidak usah mengikuti prosedur oke? Dengar, kasus


ini adalah kasus terparah yang pernah aku pegang. Tidak ada bukti. Pembunuhan ini


sama sekali tidak memikili bukti yang mengarah ke kalian semua. Tuhan tolong


aku Andrew. Aku tidak mau memasukan anak tidak bersalah atas pembunuhan ke


dalam penjara.” Johanes menarik nafas nya. Keringat turun dari kening nya pada


saat ia berbicara. Ia segera menyiku nya dengan lengan nya. “Aku sudah


mengawasi kalian semua. Walau aku tidak yakin betul dengan pengamatan ku. Kau


berbeda Andrew. Jadi, menurut mu siapa pembunuh nya? Lagi pula apa pun jawaban


mu tidak akan bisa mengubah kejadian yang sudah terjadi.”


Batin Andrew memberontak untuk mengatakan bahwa bukan


Fernando pembunuh nya. Tapi ia tidak tau harus bertindak bagaimana. Andrew


mengepal tangan nya kuat. Ia menatap Johanes di kedua mata nya. “Jika kau bisa


melihat mata ku. Kau akan tau jawaban ku pak. Aku tidak bisa mengatakan nya,


tapi mereka bilang mata manusia tidak bisa berbohong bukan?” jawab Andrew.


Johanes tersenyum. Lalu mengambil pen yang ia letakkan


di saku baju nya. Ia lalu menulis beberapa kata di atas kertas yang ia letakkan


di atas meja. Sayang, Andrew tidak bisa melihat nya. Jarak dari ujung ke ujung


terlalu panjang untuk dilihat. “Pertanyaan selanjutnya, siapa orang bernama


Jorge Ray Loscamilo ini?” tanya Johanes. Ia lalu menunjukan foto wajah Jorge.


“Kami tidak bodoh Andrew. Kau harus sampaikan itu pada


nya. Tapi kerja nya cukup rapi, kami hampir terkecoh kalau tidak teliti melihat


bukti-bukti nya lagi. Tapi lagi, tenang saja. Kami semua akan berpura-pura


bahwa kami terbodohi oleh bukti-bukti itu. Kami sedang menunggu sampai waktu tepat


untuk menyerang balik,” jelas Johanes.


Andrew lagi-lagi terkejut dengan pembukaan Johanes.


Johanes menumpahkan semua nya kepada Andrew. Pikiran nya soal kasus ini dan


juga rencana para polisi. Andrew masih belum mengetahui maksud dan tujuan


Johanes dibalik gerakan nya ini. Tapi Andrew percaya, Johanes bermaksud baik


dan percaya pada nya.


“Dia Jorge seperti yang kau sebut tadi. Teman Zach


yang membantu kami dalam kasus ini. Dia tidak bersalah pak. Dia bahkan tidak


tau apa-apa soal kasus ini. Percaya pada ku.”


Johanes mengamati jawaban Andrew dengan teliti. Dia


terlihat begitu peduli terhadap Jorge. Berusaha beberapa kali menekankan bahwa


Jorge tidak terlibat dan Jorge tidak bersalah. Johanes ingin bertemu dengan


orang bernama Jorge ini, tapi dia tidak mempunyai waktu lebih. Lagi pula tidak


ada juga bukti yang mengarah ke Jorge selain barang bukti yang diubah-ubah.


“Andrew, apa kau setuju Fernando dipenjara?” tanya


Johanes lagi. Sebenarnya pertanyaan-pertanyaan ini sudah melenceng dari apa


yang seharusnya Johanes tanyakan. Andrew seharusnya bisa-bisa saja menolak


menjawab, dan lalu melaporkan pertanyaan-pertanyaan Johanes yang aneh. Tapi


Andrew tau bahwa di dalam lubuk hati nya bahwa ia berusaha membetulkan semua


ini.


“Aku setuju dia dipenjara atas apa yang ia perbuat,


bukan atas apa yang tidak ia perbuat pak. Jangan katakan ini kepada Zach atau


pun Clara oke? Tapi aku tidak suka mereka melibatkan Jorge ke dalam kasus ini.


Aku juga tidak suka bahwa kita akan menuduh Fernando. Pak Johanes, semua ini

__ADS_1


terlalu berat untuk kami pikirkan dengan matang. Maksud ku, kami hanya


sekelompok anak SMA yang seharusnya sekarang sedang belajar untuk ujian


nasional. Tapi kau tau? Tidak, kami sedang berada di ruang interogasi untuk


kasus yang kami bahkan tidak ketahui. Maaf jika aku lancang pak. Tapi kalian


gagal. Kalian gagal menemukan siapa pelaku nya, sehingga kami harus melakukan


nya dengan cara kami sendiri.”


“Kami sedang berusaha sebisa kami Andrew. Kasus ini


juga benar-benar memuakkan. Aku benci pada diri ku sendiri karena aku harus


memasukkan Fernando ke dalam penjara hari ini.”


“Kau bercanda. Pak Johanes ku mohon, Fernando tidak


bersalah! Kau tidak bisa berbuat seperti itu!” teriak Andrew dengan histeris.


Sisi iba nya akhirnya muncul, setelah ditahan begitu lama. Pada akhirnya,


Andrew juga peduli pada Fernando.


“Maaf Andrew. Kami tidak ada pilihan lain, kecuali


pembunuh sesungguh nya bisa kami temukan. Dan lagi, terima kasih untuk waktu


mu. Interogasi untuk kasus pembunuhan Marsella telah usai.” Johanes lalu keluar


dari ruangan interogasi. Ia mengucek-ngucek mata nya. Ia lalu pergi ke teras.


Menyalakan sebatang rokok dan menghirup nya. Batin Johanes begitu tersiksa


ketika mendengar apa yang Andrew ucapkan tadi. Ia tidak bisa membayangkan


bagaimana jadi nya nanti.


Jam tujuh nanti konferensi pers akan diadakan untuk


mengumumkan siapa pembunuh sebenarnya. Jantung Johanes berdebar sangat kencang.


Rasanya seperti ada orang yang sedang menginjak perut dan dada nya. Ia merasa


ingin muntah saat itu juga. Dia menopang tubuh nya dengan tangan kanan nya.


Nafas nya habis seperti habis berlari. Johanes sama sekali tidak siap dengan


apa yang akan ia lakukan. Sungguh, malah sekarang ia berpikir, apa yang sedang


anak-anak itu rasakan?


Konferensi pers diadakan di depan kantor polisi.


Banyak jurnalis lokal dan juga bahkan jurnalis dari luar Aseline yang datang


untuk meliput. Rekan-rekan polisi Johanes sudah berdiri di podium. Menunggu


Johanes yang sedang berada di kamar mandi. Zach dan yang lain nya juga datang


menghadiri konferensi pers. Mereka percaya diri bahwa mereka sudah aman. Namun


Zach bingung. Clara, Jorge, dan juga Hayden tidak ada di sana. Semua sudah


mencoba menghubungi mereka, tapi tidak ada jawaban. Malah, Santriz hadir di


sana. Zach juga sudah bertanya kepada Santriz keberadaan Clara, tapi juga tidak


ada jawaban.


Fernando datang dengan wajah babak belur nya. Ia


menggunakan jaket Elizabeth. Fernando tidak menatap mata Zach dan yang lain. Ia


langsung duduk di deretan kursi paling belakang. Setelah Fernando datang,


seperti habis menangis.


Johanes langsung naik ke podium. Mengambil kertas yang


terletak di atas podium. Dan tanpa basa-basi atau salam pembuka apa pun, ia


langsung berbicara maksud nya. “Atas nama Kepolisian Aseline, saya sebagai


ketua penyelidikan kasus pembunuhan Marsella Gonzela, Johanes Alex El


menyatakan Fernando Germanotta sebagai pembunuh nya. Namun, sebelum kalian


menangkap nya atau mengatakan sesuatu, ada juga yang perlu saya sampaikan.


Clara Mara, salah satu tersangka dalam kasus ini memukul babak belur Fernando


Germanotta dengan dugaan untuk menutup bukti yang Fernando miliki di hp nya.


Oleh karena itu Clara Mara sedang kami tahan sampai informasi lebih lanjut.


Selanjutnya, Zachary Zebua, Andrew Edden, dan Jorge Ray Loscamilo. Jangan harap


kalian pikir aku akan melupakan kalian. Hayden Haranta dinyatakan bebas, dan


dalam masa pengawasan. Serta, kasus ini selesai, secara teori. Aku akan tetap


mencoba untuk menemukan dalang dari semua ini. Sekian, terima kasih.”


Johanes mundur beberapa langkah dari podium tempat nya


berdiri. Ia melipat tangan nya di dada dan melihat situasi yang tadi tenang


berubah menjadi rusuh. Fernando masih duduk tenang di kursi nya saat beberapa


anggota kepolisian menghampiri nya dengan borgol. Ia tersenyum kepada Johanes.


Johanes tidak membalas senyum nya, ia hanya mengangguk. Zach tidak percaya


dengan apa yang baru ia dengar. Ia berusaha menghampiri Johanes, tetapi


beberapa polisi menghalangi Zach untuk mencoba meraih Johanes. “Kau, Zach,


saran dari ku adalah jangan sampai kau tertangkap basah seperti Clara oke? Aku


akan selalu mengawasi kalian.”


“Kau tidak bisa semena-men—“ ucap Zach terpotong.


Johanes segera memotong kalimat Zach. Tatapan santai nya berubah marah. “Tentu


saja aku bisa. Tolong, aku adalah ketua penyelidikan ini, Zach.”  Johanes lalu pergi turun dari podium tanpa


menghiraukan Zach. Ia menyalakan rokok nya dan pergi berdiri di dekat Fernando.


“Ku rasa, sampai ketemu di lapas?” tanya Fernando


sambil tersenyum. Johanes mengambil rokok nya dari mulut nya. Membuang asap


dari mulut nya, lalu berbicara. “Aku akan pastikan ini semua selesai dengan


semestinya, Fernando.”


“Ya. Aku akan menunggu hari itu.” Fernando lalu dibawa


pergi oleh para polisi. Ia tidak memberontak atau melawan. Ia menerima


penangkapan ini dengan biasa saja. Hati nya tau ia juga tidak bisa melawan.


Lagi pula, dengan tertangkap nya Fernando, Hayden bisa lepas. Hayden belum


memberitau apa-apa soal rencana nya dengan Jorge untuk mencari pelaku sebenarnya.


Fernando hanya tau, bahwa ia bisa mengandalkan Hayden dan Johanes.

__ADS_1


Sementara itu, Hayden, Hari dan Jorge memperhatikan


penangkapan Fernando dari jauh. Mereka sedang duduk minum kopi di Kedai TehEh.


“Aku penasaran dengan apa yang dikatakan Johanes,” ucap Jorge sambil meminum


kopi susu nya.


“Aku bertaruh nama mu disebut,” ucap Hayden.


“Dan aku tidak,” timpa Hari.


“Kita kurang satu orang lagi bukan?” tanya Jorge


sambil melirik satu kursi yang kosong.


“Ya. Ngomong-ngomong, orang itu sedang berjalan kemari,”


jawab Hayden sambil memberi tanda untuk melihat ke depan.


Gadis itu sadar dengan tatapan Hayden. Ia menatap


balik dengan senyum yang ramah. Ia kaget melihat Hari dan Hayden. Ia tidak


pernah sadar betapa mirip nya mereka berdua. Lalu Jorge. Jorge terlihat begitu


terkejut ketika melihat siapa yang datang. Hayden hanya tertawa dengan reaksi


Jorge. Gadis itu lalu menarik kursi ke belakang agar ia bisa duduk. Ia melipat


tangan nya di atas meja. Lalu, Duv datang untuk menerima pesanan orang baru


itu.


“Jadi apa yang kau mau pesan Santriz?” tanya Hayden.


“Satu susu kocok stroberi tolong,” ucap Santriz. Duv


langsung mencatat pesanan Santriz dan segera pergi menuju belakang untuk


membuatkan pesanan Santriz. Sementara itu, Jorge masih tidak percaya dengan apa


yang terjadi. Ia sama sekali tidak punya pikiran bahwa Santriz akan datang


sebagai gadis yang membantu mereka. Dari pada Santriz, Jorge tidak tau


sebenarnya siapa gadis yang akan datang.


“Ini terasa aneh. Aku tidak pernah membayangkan kalau


kita akan duduk bersama seperti ini,” ucap Santriz.


“Aku juga. Gagasan bergaul dengan teman Hayden


benar-benar tidak pernah ku pikirkan,” ucap Hari dengan nada sarkas. Ia


mengenyitkan alis nya dan tersenyum.


“Apa rencana kita?” tanya Santriz sambil menatap


Hayden, Jorge, dan Hari.


“Oh tidak. Jangan tanya aku. Aku hanya penggerak,


bukan pemikir,” jawab Hari.


“Mencari siapa pelaku nya. Dugaan ku adalah orang


dewasa. Dugaan lain nya adalah kediaman Mara menyimpan jawaban yang kita


inginkan,” jawab Hayden.


“Dan aku akan mencoba membantu Zach dan yang lain nya


agar sadar bahwa mereka salah. Mereka hanya perlu sedikit dorongan saja.


Sementara Clara ada di lapas, hanya tersisa dua orang untuk dicoba untuk diubah,”


jawab Jorge.


Santriz menghela nafas. Lalu mendongkakkan kepala nya ke


atas langit. Ia menutup sinar matahari dengan telapak tangan nya. Baru-baru ini


Santriz menerima telepon dari Hayden. Hayden meminta bantuan Santriz dengan


menceritakan semua nya, termasuk rencana Zach dan yang lain. Awalnya Santriz


menolak untuk membantu karena dia tidak mau mengkhianati Clara. Tapi setelah


tau Clara main hakim sendiri, Clara memilih untuk menolong Hayden mencari


pembunuh yang sebenarnya. Dengan begitu ia pikir ia bisa sekaligus membantu


Clara. Hayden juga sudah memberitau Santriz soal Fernando. Hanya Jorge yang


belum tau soal Fernando, dan Santriz yakin bahwa ini akan menjadi salah nanti


nya jika Hayden tetap tidak memberitau Jorge.


Hari bergabung dengan mereka karena ia tau bahwa


Hayden sedang dalam masalah. Seorang kakak dengan akal sehat tidak mungkin


membiarkan adik nya sendirian untuk mengurus perkara kriminal. Lagi pula, apa


yang dilakukan Zach dengan menuduh Fernando tidak benar.


Sementara itu, Zach dan Andrew berjalan pulang kembali


ke rumah Andrew. Zach belum juga pulang ke rumah nya sejak pertengkaran nya


dengan Ferdinand. Zach dan Andrew juga tadi sudah mencoba untuk menjenguk


Clara, tapi tentu saja hal itu mustahil tanpa izin Johanes. Johanes melarang


siapa pun yang merupakan bagian dari tersangka untuk menjenguk Clara. Zach kesal


dengan Clara karena rencana bodoh nya. Tidak hanya sekarang ia dipenjara.


Johanes juga menaruh kecurigaan kepada mereka semua. Mereka memang menang


dengan berhasil mengirim Fernando ke dalam penjara, tetapi kemenangan mereka


membuat Clara terjebak di dalam penjara.


Dua bulan lagi pengadilan akan dilaksanakan menurut


Johanes. Dalam waktu dua bulan juga semua akan berakhir. Drama, masalah, dan


amarah ini akan berakhir saat persidangan. Zach ingin sekali bisa melepas ini


semua dan kembali pada kehidupan pelajar SMA normal nya. Kehidupan nya sebelum


Marsella datang ke SMA Elizabeth. Ia ingin kembali bermain, dan mungkin tidak


usah memikirkan apa yang akan terjadi besok dan menyusun rencana dan sebagai


nya. Ia menarik nafas dalam perjalanan pulang ke rumah Andrew. Zach yakin ini


sudah usai, begitupun Andrew. Bahwa sisa waktu mereka akan mereka gunakan untuk


mempersiapkan diri untuk ujian universitas. Tidak ada lagi Marsella, tidak ada


lagi Fernando, hanya ada masa SMA normal bagi mereka. Dua bulan lagi, selesai


tidak selesai nya kasus ini tergantung dengan apa yang akan terjadi di Aseline


dalam kurun dua bulan. Untuk ukuran kota kecil ini, ku rasa tidak akan ada


banyak yang terjadi.

__ADS_1


__ADS_2