
Hari itu adalah hari terakhir bagi Johanes. Hari terakhir
bagi nya untuk memutuskan akhir dari masalah ini. Dan mungkin juga akan menjadi
hari terakhir bagi salah satu dari mereka untuk menghirup udara bebas di luar
penjara. Hari ini akan menjadi jadwal interogasi Andrew Edden. Satu-satu nya
orang yang belum diinterogasi oleh Johanes. Johanes tidak tidur semalaman untuk
ini. Dia benar-benar mempersiapkan pikiran dan nurani nya matang-matang.
Sekali lagi Johanes melihat investigation board nya. Ia terus menunggu hingga hari ini untuk
mendapatkan bukti-bukti yang bisa membebaskan Fernando dari tuduhan semua
orang. Tapi Fernando tidak bisa mendapatkan bukti apa-apa. Dia malah diserang
oleh sekelompok orang yang berakar dari Clara Mara. Johanes tidak buta. Ia bisa
melihat dengan jelas bahwa Fernando tidak bersalah, dalam konteks pembunuhan
Marsella. Tetapi tidak ada yang bisa mendukung opini nya. Ditambah fakta lain
bahwa Fernando memperkosa Marsella. Hal ini akan sulit bagi Fernando untuk
lepas.
Interogasi Andrew akan dilaksanakan pada subuh hari
ini. Johanes memilih waktu ini karena hari ini juga tenggang waktu yang ia
punya untuk menentukan siapa pembunuh yang sebenarnya. Tidak ada waktu tersisa.
Johanes segera mengambil kunci mobil nya dan pergi menuju kantor polisi.
Seharusnya Andrew sudah berada di ruang interogasi menunggu diri nya.
Johanes tergesa-gesa masuk ke dalam ruang interogasi.
Seperti dugaan nya, sudah ada Andrew di sana. Johanes melepaskan jaket nya,
lalu duduk di depan Andrew. Andrew terlihat tenang. Dia malah bisa dibilang
sedikit terlihat bosan menunggu Johanes untuk tiba. Johanes langsung
mengeluarkan beberapa kertas dari dalam tas nya. Melihat nya dengan sekilas,
lalu menaruh nya di atas meja. Ia lalu memulai sesi interogasi terakhir ini.
“Andrew Edden, katakan, menurut mu siapa pembunuh nya?”
tanya Johanes langsung.
Andrew terlihat kaget akan pertanyaan Johanes.
“Tunggu, maksud mu pak?” tanya nya dengan sopan.
“Kita tidak usah mengikuti prosedur oke? Dengar, kasus
ini adalah kasus terparah yang pernah aku pegang. Tidak ada bukti. Pembunuhan ini
sama sekali tidak memikili bukti yang mengarah ke kalian semua. Tuhan tolong
aku Andrew. Aku tidak mau memasukan anak tidak bersalah atas pembunuhan ke
dalam penjara.” Johanes menarik nafas nya. Keringat turun dari kening nya pada
saat ia berbicara. Ia segera menyiku nya dengan lengan nya. “Aku sudah
mengawasi kalian semua. Walau aku tidak yakin betul dengan pengamatan ku. Kau
berbeda Andrew. Jadi, menurut mu siapa pembunuh nya? Lagi pula apa pun jawaban
mu tidak akan bisa mengubah kejadian yang sudah terjadi.”
Batin Andrew memberontak untuk mengatakan bahwa bukan
Fernando pembunuh nya. Tapi ia tidak tau harus bertindak bagaimana. Andrew
mengepal tangan nya kuat. Ia menatap Johanes di kedua mata nya. “Jika kau bisa
melihat mata ku. Kau akan tau jawaban ku pak. Aku tidak bisa mengatakan nya,
tapi mereka bilang mata manusia tidak bisa berbohong bukan?” jawab Andrew.
Johanes tersenyum. Lalu mengambil pen yang ia letakkan
di saku baju nya. Ia lalu menulis beberapa kata di atas kertas yang ia letakkan
di atas meja. Sayang, Andrew tidak bisa melihat nya. Jarak dari ujung ke ujung
terlalu panjang untuk dilihat. “Pertanyaan selanjutnya, siapa orang bernama
Jorge Ray Loscamilo ini?” tanya Johanes. Ia lalu menunjukan foto wajah Jorge.
“Kami tidak bodoh Andrew. Kau harus sampaikan itu pada
nya. Tapi kerja nya cukup rapi, kami hampir terkecoh kalau tidak teliti melihat
bukti-bukti nya lagi. Tapi lagi, tenang saja. Kami semua akan berpura-pura
bahwa kami terbodohi oleh bukti-bukti itu. Kami sedang menunggu sampai waktu tepat
untuk menyerang balik,” jelas Johanes.
Andrew lagi-lagi terkejut dengan pembukaan Johanes.
Johanes menumpahkan semua nya kepada Andrew. Pikiran nya soal kasus ini dan
juga rencana para polisi. Andrew masih belum mengetahui maksud dan tujuan
Johanes dibalik gerakan nya ini. Tapi Andrew percaya, Johanes bermaksud baik
dan percaya pada nya.
“Dia Jorge seperti yang kau sebut tadi. Teman Zach
yang membantu kami dalam kasus ini. Dia tidak bersalah pak. Dia bahkan tidak
tau apa-apa soal kasus ini. Percaya pada ku.”
Johanes mengamati jawaban Andrew dengan teliti. Dia
terlihat begitu peduli terhadap Jorge. Berusaha beberapa kali menekankan bahwa
Jorge tidak terlibat dan Jorge tidak bersalah. Johanes ingin bertemu dengan
orang bernama Jorge ini, tapi dia tidak mempunyai waktu lebih. Lagi pula tidak
ada juga bukti yang mengarah ke Jorge selain barang bukti yang diubah-ubah.
“Andrew, apa kau setuju Fernando dipenjara?” tanya
Johanes lagi. Sebenarnya pertanyaan-pertanyaan ini sudah melenceng dari apa
yang seharusnya Johanes tanyakan. Andrew seharusnya bisa-bisa saja menolak
menjawab, dan lalu melaporkan pertanyaan-pertanyaan Johanes yang aneh. Tapi
Andrew tau bahwa di dalam lubuk hati nya bahwa ia berusaha membetulkan semua
ini.
“Aku setuju dia dipenjara atas apa yang ia perbuat,
bukan atas apa yang tidak ia perbuat pak. Jangan katakan ini kepada Zach atau
pun Clara oke? Tapi aku tidak suka mereka melibatkan Jorge ke dalam kasus ini.
Aku juga tidak suka bahwa kita akan menuduh Fernando. Pak Johanes, semua ini
__ADS_1
terlalu berat untuk kami pikirkan dengan matang. Maksud ku, kami hanya
sekelompok anak SMA yang seharusnya sekarang sedang belajar untuk ujian
nasional. Tapi kau tau? Tidak, kami sedang berada di ruang interogasi untuk
kasus yang kami bahkan tidak ketahui. Maaf jika aku lancang pak. Tapi kalian
gagal. Kalian gagal menemukan siapa pelaku nya, sehingga kami harus melakukan
nya dengan cara kami sendiri.”
“Kami sedang berusaha sebisa kami Andrew. Kasus ini
juga benar-benar memuakkan. Aku benci pada diri ku sendiri karena aku harus
memasukkan Fernando ke dalam penjara hari ini.”
“Kau bercanda. Pak Johanes ku mohon, Fernando tidak
bersalah! Kau tidak bisa berbuat seperti itu!” teriak Andrew dengan histeris.
Sisi iba nya akhirnya muncul, setelah ditahan begitu lama. Pada akhirnya,
Andrew juga peduli pada Fernando.
“Maaf Andrew. Kami tidak ada pilihan lain, kecuali
pembunuh sesungguh nya bisa kami temukan. Dan lagi, terima kasih untuk waktu
mu. Interogasi untuk kasus pembunuhan Marsella telah usai.” Johanes lalu keluar
dari ruangan interogasi. Ia mengucek-ngucek mata nya. Ia lalu pergi ke teras.
Menyalakan sebatang rokok dan menghirup nya. Batin Johanes begitu tersiksa
ketika mendengar apa yang Andrew ucapkan tadi. Ia tidak bisa membayangkan
bagaimana jadi nya nanti.
Jam tujuh nanti konferensi pers akan diadakan untuk
mengumumkan siapa pembunuh sebenarnya. Jantung Johanes berdebar sangat kencang.
Rasanya seperti ada orang yang sedang menginjak perut dan dada nya. Ia merasa
ingin muntah saat itu juga. Dia menopang tubuh nya dengan tangan kanan nya.
Nafas nya habis seperti habis berlari. Johanes sama sekali tidak siap dengan
apa yang akan ia lakukan. Sungguh, malah sekarang ia berpikir, apa yang sedang
anak-anak itu rasakan?
Konferensi pers diadakan di depan kantor polisi.
Banyak jurnalis lokal dan juga bahkan jurnalis dari luar Aseline yang datang
untuk meliput. Rekan-rekan polisi Johanes sudah berdiri di podium. Menunggu
Johanes yang sedang berada di kamar mandi. Zach dan yang lain nya juga datang
menghadiri konferensi pers. Mereka percaya diri bahwa mereka sudah aman. Namun
Zach bingung. Clara, Jorge, dan juga Hayden tidak ada di sana. Semua sudah
mencoba menghubungi mereka, tapi tidak ada jawaban. Malah, Santriz hadir di
sana. Zach juga sudah bertanya kepada Santriz keberadaan Clara, tapi juga tidak
ada jawaban.
Fernando datang dengan wajah babak belur nya. Ia
menggunakan jaket Elizabeth. Fernando tidak menatap mata Zach dan yang lain. Ia
langsung duduk di deretan kursi paling belakang. Setelah Fernando datang,
seperti habis menangis.
Johanes langsung naik ke podium. Mengambil kertas yang
terletak di atas podium. Dan tanpa basa-basi atau salam pembuka apa pun, ia
langsung berbicara maksud nya. “Atas nama Kepolisian Aseline, saya sebagai
ketua penyelidikan kasus pembunuhan Marsella Gonzela, Johanes Alex El
menyatakan Fernando Germanotta sebagai pembunuh nya. Namun, sebelum kalian
menangkap nya atau mengatakan sesuatu, ada juga yang perlu saya sampaikan.
Clara Mara, salah satu tersangka dalam kasus ini memukul babak belur Fernando
Germanotta dengan dugaan untuk menutup bukti yang Fernando miliki di hp nya.
Oleh karena itu Clara Mara sedang kami tahan sampai informasi lebih lanjut.
Selanjutnya, Zachary Zebua, Andrew Edden, dan Jorge Ray Loscamilo. Jangan harap
kalian pikir aku akan melupakan kalian. Hayden Haranta dinyatakan bebas, dan
dalam masa pengawasan. Serta, kasus ini selesai, secara teori. Aku akan tetap
mencoba untuk menemukan dalang dari semua ini. Sekian, terima kasih.”
Johanes mundur beberapa langkah dari podium tempat nya
berdiri. Ia melipat tangan nya di dada dan melihat situasi yang tadi tenang
berubah menjadi rusuh. Fernando masih duduk tenang di kursi nya saat beberapa
anggota kepolisian menghampiri nya dengan borgol. Ia tersenyum kepada Johanes.
Johanes tidak membalas senyum nya, ia hanya mengangguk. Zach tidak percaya
dengan apa yang baru ia dengar. Ia berusaha menghampiri Johanes, tetapi
beberapa polisi menghalangi Zach untuk mencoba meraih Johanes. “Kau, Zach,
saran dari ku adalah jangan sampai kau tertangkap basah seperti Clara oke? Aku
akan selalu mengawasi kalian.”
“Kau tidak bisa semena-men—“ ucap Zach terpotong.
Johanes segera memotong kalimat Zach. Tatapan santai nya berubah marah. “Tentu
saja aku bisa. Tolong, aku adalah ketua penyelidikan ini, Zach.” Johanes lalu pergi turun dari podium tanpa
menghiraukan Zach. Ia menyalakan rokok nya dan pergi berdiri di dekat Fernando.
“Ku rasa, sampai ketemu di lapas?” tanya Fernando
sambil tersenyum. Johanes mengambil rokok nya dari mulut nya. Membuang asap
dari mulut nya, lalu berbicara. “Aku akan pastikan ini semua selesai dengan
semestinya, Fernando.”
“Ya. Aku akan menunggu hari itu.” Fernando lalu dibawa
pergi oleh para polisi. Ia tidak memberontak atau melawan. Ia menerima
penangkapan ini dengan biasa saja. Hati nya tau ia juga tidak bisa melawan.
Lagi pula, dengan tertangkap nya Fernando, Hayden bisa lepas. Hayden belum
memberitau apa-apa soal rencana nya dengan Jorge untuk mencari pelaku sebenarnya.
Fernando hanya tau, bahwa ia bisa mengandalkan Hayden dan Johanes.
__ADS_1
Sementara itu, Hayden, Hari dan Jorge memperhatikan
penangkapan Fernando dari jauh. Mereka sedang duduk minum kopi di Kedai TehEh.
“Aku penasaran dengan apa yang dikatakan Johanes,” ucap Jorge sambil meminum
kopi susu nya.
“Aku bertaruh nama mu disebut,” ucap Hayden.
“Dan aku tidak,” timpa Hari.
“Kita kurang satu orang lagi bukan?” tanya Jorge
sambil melirik satu kursi yang kosong.
“Ya. Ngomong-ngomong, orang itu sedang berjalan kemari,”
jawab Hayden sambil memberi tanda untuk melihat ke depan.
Gadis itu sadar dengan tatapan Hayden. Ia menatap
balik dengan senyum yang ramah. Ia kaget melihat Hari dan Hayden. Ia tidak
pernah sadar betapa mirip nya mereka berdua. Lalu Jorge. Jorge terlihat begitu
terkejut ketika melihat siapa yang datang. Hayden hanya tertawa dengan reaksi
Jorge. Gadis itu lalu menarik kursi ke belakang agar ia bisa duduk. Ia melipat
tangan nya di atas meja. Lalu, Duv datang untuk menerima pesanan orang baru
itu.
“Jadi apa yang kau mau pesan Santriz?” tanya Hayden.
“Satu susu kocok stroberi tolong,” ucap Santriz. Duv
langsung mencatat pesanan Santriz dan segera pergi menuju belakang untuk
membuatkan pesanan Santriz. Sementara itu, Jorge masih tidak percaya dengan apa
yang terjadi. Ia sama sekali tidak punya pikiran bahwa Santriz akan datang
sebagai gadis yang membantu mereka. Dari pada Santriz, Jorge tidak tau
sebenarnya siapa gadis yang akan datang.
“Ini terasa aneh. Aku tidak pernah membayangkan kalau
kita akan duduk bersama seperti ini,” ucap Santriz.
“Aku juga. Gagasan bergaul dengan teman Hayden
benar-benar tidak pernah ku pikirkan,” ucap Hari dengan nada sarkas. Ia
mengenyitkan alis nya dan tersenyum.
“Apa rencana kita?” tanya Santriz sambil menatap
Hayden, Jorge, dan Hari.
“Oh tidak. Jangan tanya aku. Aku hanya penggerak,
bukan pemikir,” jawab Hari.
“Mencari siapa pelaku nya. Dugaan ku adalah orang
dewasa. Dugaan lain nya adalah kediaman Mara menyimpan jawaban yang kita
inginkan,” jawab Hayden.
“Dan aku akan mencoba membantu Zach dan yang lain nya
agar sadar bahwa mereka salah. Mereka hanya perlu sedikit dorongan saja.
Sementara Clara ada di lapas, hanya tersisa dua orang untuk dicoba untuk diubah,”
jawab Jorge.
Santriz menghela nafas. Lalu mendongkakkan kepala nya ke
atas langit. Ia menutup sinar matahari dengan telapak tangan nya. Baru-baru ini
Santriz menerima telepon dari Hayden. Hayden meminta bantuan Santriz dengan
menceritakan semua nya, termasuk rencana Zach dan yang lain. Awalnya Santriz
menolak untuk membantu karena dia tidak mau mengkhianati Clara. Tapi setelah
tau Clara main hakim sendiri, Clara memilih untuk menolong Hayden mencari
pembunuh yang sebenarnya. Dengan begitu ia pikir ia bisa sekaligus membantu
Clara. Hayden juga sudah memberitau Santriz soal Fernando. Hanya Jorge yang
belum tau soal Fernando, dan Santriz yakin bahwa ini akan menjadi salah nanti
nya jika Hayden tetap tidak memberitau Jorge.
Hari bergabung dengan mereka karena ia tau bahwa
Hayden sedang dalam masalah. Seorang kakak dengan akal sehat tidak mungkin
membiarkan adik nya sendirian untuk mengurus perkara kriminal. Lagi pula, apa
yang dilakukan Zach dengan menuduh Fernando tidak benar.
Sementara itu, Zach dan Andrew berjalan pulang kembali
ke rumah Andrew. Zach belum juga pulang ke rumah nya sejak pertengkaran nya
dengan Ferdinand. Zach dan Andrew juga tadi sudah mencoba untuk menjenguk
Clara, tapi tentu saja hal itu mustahil tanpa izin Johanes. Johanes melarang
siapa pun yang merupakan bagian dari tersangka untuk menjenguk Clara. Zach kesal
dengan Clara karena rencana bodoh nya. Tidak hanya sekarang ia dipenjara.
Johanes juga menaruh kecurigaan kepada mereka semua. Mereka memang menang
dengan berhasil mengirim Fernando ke dalam penjara, tetapi kemenangan mereka
membuat Clara terjebak di dalam penjara.
Dua bulan lagi pengadilan akan dilaksanakan menurut
Johanes. Dalam waktu dua bulan juga semua akan berakhir. Drama, masalah, dan
amarah ini akan berakhir saat persidangan. Zach ingin sekali bisa melepas ini
semua dan kembali pada kehidupan pelajar SMA normal nya. Kehidupan nya sebelum
Marsella datang ke SMA Elizabeth. Ia ingin kembali bermain, dan mungkin tidak
usah memikirkan apa yang akan terjadi besok dan menyusun rencana dan sebagai
nya. Ia menarik nafas dalam perjalanan pulang ke rumah Andrew. Zach yakin ini
sudah usai, begitupun Andrew. Bahwa sisa waktu mereka akan mereka gunakan untuk
mempersiapkan diri untuk ujian universitas. Tidak ada lagi Marsella, tidak ada
lagi Fernando, hanya ada masa SMA normal bagi mereka. Dua bulan lagi, selesai
tidak selesai nya kasus ini tergantung dengan apa yang akan terjadi di Aseline
dalam kurun dua bulan. Untuk ukuran kota kecil ini, ku rasa tidak akan ada
banyak yang terjadi.
__ADS_1