
Orang yang
kesakitan akan melakukan apa saja untuk menghilangkan sakit itu. Demikian yang
dilakukan Clara Mara dan Fernando Germanotta. Juga Andrew Edden dan Zachary
Zebua. Pikiran mereka tidak waras pada hari itu, dan apa yang terjadi
selanjutnya sama tidak warasnya. Fernando penuh dengan emosi bergerak menuju
kantor polisi untuk menuntaskan semua nya, dan Clara yang takut meminta bantuan
ayah nya, dengan gegabah. Saat itu sebenarnya Clara tidak tau apa yang
dilakukan nya. Lebih, dia tidak tau dampak apa yang akan ia sebabkan.
Hari
Haranta menjatuhkan tubuh nya di atas rumput yang sudah dipotong di lapangan
futsal terbengkalai. Keringat mengalir jatuh dari tubuh nya ke atas rumput, dan
punggung nya terasa sedikit gatal. Hayden sudah ditemukan tapi bagi nya masalah
jauh dari kata selesai. Fakta nya, masalah tidak akan benar-benar selesai,
hingga pembuat masalah itu bisa terungkap. Saat itu terik sekali. Dan juga
rasanya, siang ini bertahan selama nya. Hari Haranta hanya ingin masalah nya
selesai, tapi dia tau itu mustahil.
Ketakutan
terbesar Hari adalah Hayden. Tidak, Hari tidak takut secara emosional terhadap
adik nya. Ia takut tidak bisa membesarkan Hayden seperti yang kedua orang tua
nya inginkan. Atau lebih buruknya, menjadi seperti diri nya. Hari berganti
hari, Hari melihat Hayden menjadi diri nya. Hari punya segudang masalah
menunggu untuk diselesaikan, tapi rasa nya Marsella menambah beban nya menjadi
sampai menjadi beban yang tidak-bisa-ditahan-lagi.
Hayden
datang bersama dengan Zach dengan motor. Zach tidak beranjak dari tempat duduk
nya, dan hanya memperhatikan Hayden menghampiri Hari yang sedang tiduran di
rumput, tepat di bawah sinar matahari yang menyengat. Hayden membuka kancing
seragam nya dan menggulung celana sekolah nya yang tebal ke atas lutut nya. Dia
merebahkan diri dengan arah kaki yang berlawanan dengan Hari, sehingga kepala
mereka bisa bersebelahan.
“Bukankah
ini jam sekolah Hayden?” tanya Hari yang masih memandang ke atas sambil
memejamkan mata nya. Hayden mengeluarkan kaca mata hitam dari kantung celana
nya, lalu memakai nya. “Tidak,” jawab Hayden lembut. “Sebenarnya iya. Hanya
saja, kesehatan mental kakak ku lebih penting dari pendidikan dan masa depan
negara serta masa depan Keluarga Haranta.”
Hari
tidak tertawa. Tapi tubuh nya bergetar. Dan tidak lama suara tawa yang ditahan
dengan keras bisa terdengar kencang. Hayden lalu tertawa. Hayden menggulingkan
kepala nya hingga bersender di bahu Hari. Tangan Hari mengelus-ngelus rambut
Hayden. Apa pun yang terjadi, mereka berdua akan saling menjaga. Apa pun
perkataan Hari terhadap Fernando, dan apa pun ketidaksetujuan Hayden dengan
pendapat Hari. Tidak ada fakta yang bisa menyatakan jika mereka bukan kakak
adik yang saling mencintai.
“Aku
minta maaf. Kau benar, aku tidak akan bisa mengerti apa yang kau rasakan
Hayden. Sungguh, aku kakak yang buruk. Aku minta maaf, dan dengan tulus aku
memohon. Jangan pernah berpikir untuk mengakhiri hidup mu.” Suara Hari yang
dalam dan terdengar garang berubah menjadi sungguh halus. Dia membelai rambut
Hayden dengan lembut. Tangan Hari terasa hangat saat menyentuh kulit kepala
Hayden. Dan Hayden suka perasaan itu. Hari selalu melakukan ini pada saat
Hayden kecil dulu. Apalagi saat Hayden ingin pergi tidur. Hari selalu
mengelus-ngelus rambut nya hingga ia tertidur.
“Aku
bodoh untuk berpikir kabur ke Kanada. Dan Hari, kau satu-satu nya keluarga ku
yang tersisa. Hentikan bilang jika kau kakak yang bodoh. Selain Fernando, aku
tidak punya siapa-siapa lagi. Membayangkan hidup tanpa mu, rasanya sedikit aneh
bukan?” ucap Hayden. Sebenarnya jika dia membuka kaca mata hitam nya, maka akan
terlihat jika mata Hayden berkaca-kaca sekarang. Hayden mudah terbawa emosi.
“Hidup
terlalu singkat untuk kesedihan yang terlalu banyak,” ucap Hari. “Mama pernah
bilang seperti itu. Aku belum mengerti maksud nya waktu itu, tapi sekarang,
rasanya ia benar. Andai mereka masih hidup. Andai semua ini tidak terjadi.”
Pembicaraan mulai berganti. Hayden sadar, begitupun Hari. Hari ingin
membicarakan soal Marsella. Tapi ia tidak tau harus memulai dari mana. Ia takut
mengecewakan Hayden, dan takut jika Hayden melihat nya rendah setelah
mengetahui kebenaran soal kakak nya. Sementara itu, Hayden juga ingin tau apa
hubungan Hari dengan ini semua. Karena Hayden tau pasti Hari ada hubungan nya
dengan ini. Hari mengaku bekerja pada Ivan Gonzela. Pengakuan itu lebih dari
cukup. Serta Hayden tau jika baik Clara dan Andrew mengenal Hari bukan karena
Hari adalah kakak Hayden, tapi karena masalah ini. Entah bagaimana, mereka
semua terhubung dengan kebohongan.
Hayden
berdiri dan kemudian menarik tangan Hari agar ikut berdiri juga. Dia melepas
kaca mata nya dan memasangkan nya pada Hari. “Ayo jalan. Kita berdua tau kita
perlu bercerita dengan sangat panjang, dan pasti nya lapangan ini terlalu sempit
untuk cerita yang melelahkan bukan, Hari?” Hari berdiri dan menepuk-nepuk
belakang baju dan celana nya. Dia lalu merangkul pundak Hayden. “Ya.” Zach
segera pergi setelah melihat Hayden pergi ke arah nya bersama dengan hari.
Tugas Zach selesai di sini. Walau ia berharap untuk bisa mendapatkan jawaban
yang Hayden janjikan sekarang.
Haranta
Bersaudara itu pergi ke tengah kota dekat dari lapangan yang baru saja mereka
tiduri. Siang hari di Aseline memang sepi. Tidak banyak kendaraan lewat di
sini. Hanya ada beberapa orang yang berjalan kaki untuk istirahat. Daerah ini
dikenal sebagai Asline. Aslin adalah pusat minuman Aseline. Banyak minuman
beragam di sini, walau masih didominasi oleh kopi dan es kopi yang membosankan.
Aslin juga merupakan tempat rumah pertama Haranta. Setelah itu mereka pindah
untuk lebih dekat dengan kota dan sekolah. Berjalan di sini bisa memberikan
perasaan tenang dan nyaman bagi mereka berdua, walau dengan jelas cuaca sangat
menyengat.
Mereka
berhenti di toko penyewaan sepeda. Hayden mengeluarkan kartu kredit nya dan
menggesekkan nya pada mesin. Tiga jam. Lebih dari cukup atau bahkan mungkin
kurang bagi mereka. Hayden berdiri di belakang sepeda, dan Hari yang mengayuh
sepeda nya. Berkat sepatu bot tebal Hayden, kaki Hayden tidak terasa sakit.
Mereka sedang berkendara tanpa arah. Tidak ada dari mereka yang mau atau ingin
pergi ke mana. Mereka hanya mengikuti arah angin dan hati. Karena Hayden juga
tidak tau bagaimana memulai obrolan untuk bertanya.
Hari
berhenti di taman yang tidak terlalu luas. Taman itu penuh dengan tumbuhan
palsu atau setidaknya diberi cat agar terlihat menarik. Tapi tidak sama sekali.
Hayden adalah anak klub seni Elizabeth. Dia juga orang yang mengecat
bunga-bunga dahlia di kantin. Melihat tumbuhan-tumbuhan itu membuat Hayden
merasa jijik. Mereka duduk di sebuah mainan perosotan yang terbuat dari
plastik. Hari sempat coba menyentuh nya sebelum duduk, dan hasil nya jari nya
kesakitan sekarang. Mereka ada di atas nya. Di bagian yang tertutup atap.
Karena entah bagaimana, taman ini tidak memiliki bangku sama sekali. Udara
panas, dan menjadi sangat pengap karena tempat yang mereka duduki sangat
sempit.
“Kau
tau? Fakta bahwa kita duduk di sini sangatlah bodoh.” Hayden mengelap keringat
yang terus keluar dari kening nya. Hari lalu meluncur turun dengan perosotan
itu, diikuti dengan Hayden. Mereka berdua lalu tetap bersepeda. Hari merasa
sayang jika mereka hanya bersepeda sejauh ini. Dia memilih untuk bercerita
sambil bersepeda. Bukan ide yang buruk untuk tertabrak pada siang hari di
Aseline.
“Kau
tau bukan jika aku menjadi ‘itu’ bagi Keluarga Gonzela?” tanya Hari mulai
menjawab. ‘Itu’ yang dimaksud oleh Hari adalah pengedar. Keluarga Gonzela
memang sering ‘membantu’ mereka yang membutuhkan. Segala macam pekerjaan ada di
sana, dengan segala macam konsekuensi. Hari sudah berumur 20 tahun saat dia
bekerja bersama Ivan. Dia juga tau konsekuensi dari pekerjaan nya. Tapi demi
Hayden dan hidup nya, Hari memilih melakukan apa saja asal bisa bertahan hidup.
Hayden tidak marah atau benci terhadap pilihan yang diambil kakak nya. Malahan
Hayden bangga dan prihatin dengan pilihan Hari. Dia bangga karena punya kakak
__ADS_1
yang berkorban bahkan tau jika itu membahayakan diri nya, dan prihatin karena
diri nya saat itu tidak bisa terlalu membantu.
“Aku
akan selalu ada di sisi mu apa pun yang terjadi Hari. Katakan saja semua pada
ku, oke?” ucap Hayden sambil memandang ke Hari. Hayden adalah pengendara sepeda
yang handal. Memutar kepala nya 90 derajat sambil berkendara bukanlah hal yang
mustahil. Hari tersenyum. Senyum nya terlihat pudar karena pantulan matahari
yang saat itu mengenai muka Hari. “Aku adalah teman Marsella. Ku rasa. Kami
berbicara setiap aku ke rumah nya untuk mengambil paket yang Ivan tinggalkan di
rumah nya. Lama kelamaan kami menjadi semakin dekat, sampai ku rasa ia menaruh
rasa pada ku. Hingga suatu hari Marsella dengan rasa ingin tau sialan nya, dia
membuka paket itu dan tau apa isi nya. Singkat cerita ia ingin membantu ku
dengan berbicara pada kepolisian soal ayah nya. Tapi aku berusaha menghentikan
nya. Kami berkelahi, dan dia mengeluarkan darah. Karena aku benci terhadap
Fernando, aku menyuruh mu memberikan baju itu ke Fernando, sebagai baju baru
dengan bercak darah sebagai motiv. Aku bersumpah pada mu Hayden, bukan aku...”
Hayden
menarik nafas panjang dan waktu yang lumayan panjang untuk memproses semua yang
baru ia dengar. Bagaimana pun ia sudah berjanji untuk menerima jawaban Hari
atau tidak, bersikap sebagai adik saat kakak nya membutuhkan. Tapi demi apa
pun. Bahkan demi nilai tes universitas nya sekalipun, Hayden ingin meledak,
berteriak, dan menyembur Hari dengan ribuan kata kasar. Tapi ia menahan semua
nya. Hayden ahli menahan perasaan nya. Terkadang bahkan tidak ada yang tau apa
perasaan Hayden. Trauma masa kecil, dan lingkungan hidup nya yang membuat
Hayden menjadi Hayden.
Fernando
adalah segalanya bagi Hayden. Bahkan setelah mereka bertengkar. Diam-diam
Hayden selalu mencari tau soal kabar Fernando. Mereka tidak peduli apa kata
orang atau bagaimana sebagian dari dunia berusaha melawan mereka. Karena pada
akhirnya, itu adalah hidup mereka. Mereka lah yang menciptakan hidup mereka
berdasarkan keinginan mereka, bukan berdasarkan keinginan dunia maupun orang
lain yang bahkan tidak mereka kenal. Hari tidak pernah suka dengan Fernando,
dan hal itu memang membuat Hayden juga tidak menyukai Hari terkadang. Tetapi,
Hayden tidak pernah bisa memilih. Mungkin, sampai belakangan ini, di mana Hari
meminta Hayden untuk tidak menemui Fernando dan meminta hubungan mereka
berakhir. Itu adalah pertengkaran mereka. Alasan mengapa Hayden ingin kabur ke
Kanada.
“Aku
percaya pada mu. Kakak ku tidak mungkin membunuh orang. Sungguh Hari, aku
percaya pada mu. Tapi mengapa Fernando? Aku tau kau tidak suka pada nya, tapi
kau bisa saja menghancurkan masa depan nya. Kau tau itu?” balas Hayden dengan
pelan, lembut, dan berusaha sehebat nya untuk tidak meledak. Hari memandang
Hayden cepat, lalu menghadap ke jalan lagi. Dia tau begini reaksi Hayden. Dia
mengaku salah. Hari memang salah, sungguh salah dari semua hal. Dia menuduh dan
dia memukul wanita. Hayden tidak bisa mengucapkan hal yang kedua. Segala dalam
hidup nya mulai berjatuhan dan hal terakhir yang ia inginkan adalah kakak nya
yang merasa bersalah. Hayden juga tau diam dan membiarkan Hari mengira itu
tidak apa-apa jauh lebih buruk. Tapi fakta nya, posisi Hayden sekarang adalah
posisi serba salah. Dan Hayden memilih menjadi adik-penurut-dan-pendukung.
“Maaf
soal itu. Tapi aku sudah bilang jika aku mulai belajar untuk menerima nya sekarang.
Waktu itu pikiran ku kacau. Aku tidak bisa berpikir dengan baik, dan karena
situasi nya begitu terasa mencekik, aku mengambil keputusan dengan cepat,”
jelas Hari. “Lalu, aku tau kau mau ngomong soal aku memukul Marsella. Aku tau
Hayden. Aku sungguh brengsek. Aku seharusnya tidak berbuat hal itu. Jika dia
masih hidup, aku mau mengucapkan maaf.”
Hayden
tertawa. Ia langsung melupakan pikiran nya tadi soal diam saja. Hari sudah tau.
Hayden memang hebat menyembunyikan emosi nya, tapi tidak bagi Hari. Mungkin
juga ekspresi Hayden turut membantu Hari dalam memahami adik nya. “Kau tidak
memberi tau siapa-siapa bukan?” tanya Hari berusaha memastikan. Dalam hati, ia
sungguh berharap tidak. Bahkan saat ini, dia yakin jika diri nya tidak bisa
mempercayai orang lain terlalu penuh. Rahasia diri nya, dan rahasia kakak nya
sangat penting. “Edden. Saat itu aku panik, dan aku tidak tau apa yang aku
“Sialan!”
umpat Hayden. Dia tau bagaimana informasi ini akan berakhir. Ke tangan Clara
adalah kepastian yang terjadi. Mungkin saja, jika jatuh ke tangan Zach, Hayden
masih bisa berbicara dengan Zach. Tapi kedekatan Hayden dengan Andrew tidak
seperti diri nya dengan Zach. Semua bisa menjadi kacau dan di luar kendali jika
Clara mendapatkan informasi itu. Bukan apa, hanya saja Hayden bukan orang yang
mudah percaya orang lain. Clara dan Andrew masih menjadi orang asing bagi
Hayden.
Mereka
bersepeda hingga tiba di Jembatan Regren. Hayden dan Hari naik ke atas jembatan
untuk melihat matahari terbenam. Itu rencana mereka, tapi mereka sadar jika
mereka harus mengembalikan sepeda sebelum jam sewa mereka habis. Tapi mereka
tetap memilih untuk naik ke atas jembatan. Besi jembatan terasa panas ketika
diduduki. Oleh karena itu Hayden dan Hari memilih berdiri. Berdiri dengan
ketinggian yang sangat tinggi benar-benar memberi rasa yang berbeda dengan
duduk di jembatan. Tapi Hayden berusaha menjadikan siang itu jadi siang yang
menarik. Hayden menggelitik Hari lalu Hayden berlari di pinggir jembatan. Hari juga
ikut berlari, karena pikir nya Hayden sedang melihat keberanian nya. Mereka
menghabiskan beberapa menit di atas berlarian, dan tentu saja, tidak ada yang
peduli melihat dua orang berlarian di atas jembatan yang tinggi.
Sebuah mobil putih yang terlihat mahal
berhenti tepat di belakang Fernando. Sedangkan Fernando tidak memberikan satu
persen pun kepedulian pada mobil itu. Dia tetap melangkah dan berjalan menuju
kantor polisi membawa rekaman suara Andrew. Dia mau mengakhiri semua di sini,
sekarang, dan untuk selama-lama nya. Dia akan membawa Hayden keluar dari sana,
dan membersihkan nama nya dari tuduhan semua orang. Hanya itu. Hanya itu yang ada
di otak Fernando saat itu.
Dua orang keluar dari mobil itu.
Berpakaian layak nya orang normal. Jaket biru-hitam dengan celana jin hitam
panjang. Mereka menutup wajah mereka dengan bandana, dan mata mereka dengan
kaca mata hitam. Fernando hanya melirik sebentar ke belakang, dan pada saat itu
juga dia tau apa yang sedang terjadi. Clara dan Jorge keluar dari mobil dari
kursi belakang. Clara tidak mau menatap Fernando. Mata nya bergeming menghadap
ke samping. Clara, dia ketakutan, panik, dan seratus persen menyesal telah
menelpon ayah nya. Saat mengetahui Andrew dipukul Fernando dan Fernando telah
merekam percakapan mereka, Clara segera menelpon ayah nya. Dia panik, tidak ada
yang bisa mengatakan dia salah. Tapi, tidak ada juga yang bisa mengatakan itu
tindakan yang bijak.
Fernando memutar badan nya ke
belakang. Hingga menghadap dua pria itu. Dia memasang dua tinju nya ke atas,
lurus dengan wajah nya. Dia menguatkan kuda-kuda nya. bersiap juga dua orang
itu langsung menerjang ke arah nya. Fernando tau pasti dia tidak punya
kesempatan. Dua orang yang berada di hadapan Fernando memiliki tubuh kekar,
lebih dari Fernando. Fernando juga berpikir, bahkan jika ada Hayden di sini
mereka belum tentu bisa menang.
Pria bernama Marsel itu maju
pertama, diikuti oleh orang di sebelah nya, Alvred. Mereka berdua adalah murid
bela diri dari gym Ivan. Salah satu dari sekian orang sejenis Andrew dan Hari.
Mereka setahun lebih tua dari Fernando, tanpa mengetahui fakta itu saja
Fernando sudah pesimis untuk menang. Sebelum tinju Marsel melayang ke pipi
Fernando, Fernando hanya memikirkan Hayden. Bahwa ia bertarung untuk bisa
mengeluarkan Hayden dari penjara dan membersihkan nama nya. Titik.
Tinju pertama Marsel ke wajah
Fernando bisa Fernando hindari. Tinju kedua datang dari Alvred dari belakang
nya. Fernando menunduk untuk menghindar, dan berhasil. Fernando berlari ke
samping untuk memberi jarak antara diri nya dengan mereka berdua. Rencana
Fernando adalah membuat mereka lelah, lalu baru menghabisi mereka. Tapi
kelihatan nya, hal itu akan terbalik. Marsel maju lagi dengan tinju nya.
Fernando menahan dengan tangan nya, lalu meninju balik ke dagu Marsel. Hal itu
dicegah oleh Alvred yang meninju pipi kiri Fernando saat ia lengah. Fernando
mundur ke belakang, lagi untuk membuat jarak. Darah keluar dari bibir nya.
“Clara...” ucap Jorge menatap Clara.
__ADS_1
Jorge tau ini akan berakhir buruk bagi semua pihak. Clara bahkan tidak tau
harus berbuat apa. Dia baru pertama kali ini terlihat panik. Jorge tidak lagi
menunggu reaksi atau bahkan perintah Clara. Ia langsung berlari ke samping
Fernando untuk membantu. Jorge tidak bisa bertarung, tetapi dia tidak mau
melihat teman sekelas nya dipukuli atas alasan yang bahkan menurut nya tidak
jelas. Alasan Jorge ikut Clara adalah karena Clara tampak panik, dan Zach tidak
bisa ikut karena ia sedang membawa Andrew ke rumah nya.
“Sebelum kau berpikir hal lain
Fernando. Aku ke sini untuk menolong mu,” ucap Jorge sambil terus menatap
posisi tubuh Fernando. Ia lalu mengikuti nya. Dari posisi tangan, kaki, hingga
bentuk tubuh Fernando.
“Ucap seseorang yang keluar dari
mobil yang membawa dua orang ini. Kau teman Zach bukan?” Marsel dan Alvred
menyerang bersama ke depan. Mereka tidak peduli bahkan jika mengenai Jorge.
Atasan mereka adalah ayah Clara, yang berarti orang yang patut dijaga hanya
Clara. Bukan teman nya. Fernando dan Jorge bersamaan menghindar. “Nama ku
Jorge.” Fernando mengangguk pada Jorge. Saat itu Fernando butuh bantuan. Ia
menurunkan ego nya, dan memilih menerima bantuan dari siapa pun juga saat itu.
“Baiklah Jorge, kau bisa bertarung?” tanya Fernando.
Alvred meninju Jorge dari depan
langsung ke muka Jorge. Fernando terkejut dan berusaha berlari ke arah nya
untuk menolong Jorge. Saat itu Fernando bahkan lupa jika masih ada Marsel.
Marsel menyelengkat Fernando yang sedang berlari. Ia terjatuh menghantam aspal.
Kepala Fernando langsung pusing, dan dagu nya mengeluarkan darah yang banyak.
Saat itu, Fernando masih berusaha pergi ke arah Jorge yang sedang dipukuli
habis-habisan oleh Alvred. Tapi Marsel masih melanjutkan pekerjaan nya. Dia
memutar balikkan tubuh Fernando agar wajah mereka bisa berhadapan, lalu
Fernando dipukuli habis-habisan seperti Jorge.
Clara berteriak dari mobil untuk
menyuruh mereka berhenti. Lalu dia berlari ke arah Jorge yang tidak sadarkan
diri. Wajah Jorge dalam keadaan yang sungguh buruk. Clara histeris dan panik.
Ia segera membopong Jorge ke dalam mobil dan Fernando juga. Dia tidak
menghiraukan Marsel dan Alvred. Ia langsung membawa mobil itu ke rumah sakit
terdekat. Ia terus mencari posisi rumah sakit terdekat di aplikasi peta di hp
nya. Begitu ketemu, ia langsung dengan cepat menginjak pedal gas. Sementara
itu, Marsel dan Alvred menelpon ayah Clara untuk mengabarkan jika tugas mereka
sudah selesai.
Zach mengendong
Andrew yang mulai tidak sadarkan diri di punggung nya. Darah Andrew menembus
hingga ke baju Zach, lalu ke kulit nya. Sepanjang perjalanan Andrew terus
mengeluarkan darah. Tetesan darah nya bisa terlihat seperti sebuah jejak yang
tertinggal. Zach berkeringat parah. Dia terus berlari dari jembatan untuk
mencari mobil untuk ditumpang sampai ke apartemen nya. Lalu berlari menaiki
tangga satu persatu untuk mencari lif yang tidak penuh. Karena entah kesialan
apa yang menimpa mereka, lif lantai dasar penuh.
Zach mendorong pintu untuk terbuka
dengan pundak nya. Ferdinand yang saat itu sedang membaca buku sontak terkejut.
Anak nya berkeringat dan penuh bercak darah sedang mengendong orang yang tidak
sadarkan diri dan terus mengeluarkan darah. Tapi Ferdinand menahan emosi nya,
dan teriakan nya. Dia menutup buku nya dengan cepat dan bergegas membuka pintu
kamar Zach. Lalu ia pergi ke gudang di sebelah kamar mandi untuk mengambil
karpet untuk Andrew. Ferdinand lalu menutup pintu kamar Zach dan menarik nafas
yang panjang. Dia hanya berharap jika anak nya tidak melakukan suatu tindakan
yang ‘membahayakan’. Mengingat apa yang telah terjadi, Ferdinand sama sekali
tidak tenang. Dia bahkan tidak tidur selama beberapa hari. Dia takut jika Zach
berbuat sesuatu.
Zach segera mengeluarkan kotak obat
yang ada di laci meja kamar nya. Dia menekan-nekan dengan halus luka Andrew
dengan kapas yang sudah disterilkan dengan alkohol dan Betadine. Andrew tampak
kesakitan, tapi ia tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Zach merasa sungguh panas
dan berkeringat. Padahal jendela kamar nya sedang terbuka, dan angin berhembus
kencang di luar. Zach panik dan takut melakukan kesalahan. Sedangkan Andrew
hanya berbaring dan menunggu tindakan Zach. Saat semua luka Andrew sudah
diperban, Zach keluar dari kamar nya untuk menarik udara dan juga mengambil
minum untuk Andrew.
Ferdinand yang sedang duduk di sofa
langsung berdiri dan mendekat ke arah Zach. “Apa yang terjadi!?” ucap nya
dengan bisik-bisik pelan agar tidak sampai terdengar Andrew. Zach yang lelah,
dan sedang butuh ketenangan langsung disembur pertanyaan dan desakan untuk
menjawab dari ayah nya. “Bisa kah kau tenang saja sekali? Ayah! Teman ku sedang
terluka dan biarkan semua nya ku urus, oke?” Zach menghiraukan ocehan Ferdinand
dan langsung menuju dapur. Ia membuka jendela dapur agar angin bisa masuk. Zach
diam di depan jendela sebentar sebelum bergerak ke lemari untuk mengambil
gelas. Dia tidak mau buru-buru karena malas untuk mendengar ocehan Ferdinand
lagi. Sungguh, Zach hanya berharap satu hari di mana ayah nya bisa meninggalkan
nya sendirian dengan apa yang ingin ia lakukan.
Zach mengambil gelas itu lalu
mengisi nya dengan air. Ferdinand hanya melihat Zach pergi masuk ke kamar nya
lagi. Kali ini ia tidak berbicara apa-apa. Ferdinand tidak mengerti apa yang
sebenarnya terjadi di antara diri nya dengan anak nya. Semenjak beberapa tahun
terakhir, Zach menjadi semakin jauh dari Ferdinand. Dan di sisi lain, Ferdinand
semakin mengekang Zach. Hubungan mereka rumit, dan tidak ada satu pun dari mereka
yang mau berubah untuk memperbaiki situasi.
“Andrew. Sekarang, kau harus
memberitau ku apa yang terjadi.” Zach duduk di lantai sembari membantu Andrew
minum. Zach mengambil beberapa bantal untuk diri nya dan Andrew. Andrew masih
merasa pusing dan seluruh tubuh nya kesakitan. Zach memandang Andrew kasihan.
Dia sungguh kaget saat menerima telefon dari Fernando. Zach buru-buru pergi ke
taman dengan berlari dan bertemu Clara di jalan. Ceroboh sebenarnya. Jika Zach
tidak bertemu Clara di jalan maka bisa saja Andrew tak tertolong. Zach tidak
tau apa yang terjadi di antara mereka berdua. Sebelum nya Fernando bertengkar
dengan Hayden, lalu kini Andrew. Bahkan, sampai saat ini pun Hayden belum
bercerita alasan dia meninju Fernando waktu malam misa itu. Kebencian Zach
terhadap Fernando semakin menjadi karena kejadian-kejadian ini.
“Dia tidak bersalah. Mereka menangkap
Hayden, dan Fernando bereaksi.” Zach kaget ketika mendengar Hayden ditangkap.
Mereka belum berbicara banyak sejak Zach datang ke kantor polisi untuk
menggantikan Hayden yang terlihat panik. Malah bisa dibilang jika hubungan
mereka mulai berjarak. Zach di sisi lain merasa seperti satu-satu nya orang
yang tidak tau apa-apa, tapi mengambil peran dalam kasus ini. Walau itu tidak
sepenuh nya benar. Ada Jorge yang juga mengambil pihak. Walau belum jelas pihak
mana yang diambil Jorge. Tapi memang benar, Zach sebenarnya tidak punya
hubungan yang jelas. Dia bisa saja keluar dari masalah ini. Dan membiarkan
Clara mengurus semua sendirian. Tapi Zach mau menolong teman nya, Andrew dan
Hayde, serta Jorge dan Clara. Untuk itu, dia juga harus berperan dalam kasus
ini.
“Sial. Kenapa bisa Hayden
ditangkap?” tanya Zach bingung. Andrew menggeleng-gelengkan kepala nya. Tidak
ada orang yang tau, kecuali Johanes dan Fernando. Lagi, mendapatkan informasi
dari mereka berdua terdengar sungguh mustahil. Mengingat-ingat soal Johanes,
Zach teringat jika beberapa jam lagi adalah giliran Andrew untuk diinterogasi.
“Kau mau berita baik? Kau harus siap untuk ditanya ada apa dengan wajah mu saat
diinterogasi nanti.”
“Hanya perkelahian bodoh anak SMA,”
jawab Andrew. “Aku benci interogasi dan ***** bengek nya. Aku hanya ingin ini
berakhir, Zach.” Sesaat Zach lupa soal siapa mereka dalam kasus ini. Remaja.
Anak SMA, yang dalam beberapa bulan lagi akan melaksanakan ujian nasional. Yang
juga sebentar lagi akan belajar untuk tes masuk universitas. Mereka hanya bocah
yang baru melewati masa puber. Bocah yang seharusnya bermain dan membuat
kenangan SMA bersama karena sebentar lagi mereka akan berpisah. Tapi tidak,
mereka sekarang sedang bersama semua kasus pembunuhan, dengan rencana untuk
menuduh orang lain yang mereka benci agar mereka semua bisa lepas dari kasus
ini.
Zach menarik nafas lesu. Lalu
berbaring di sebelah Andrew dan menatap langit-langit kamar nya. “Aku juga. Aku
akan berbuat apa pun agar ini semua selesai. Kita akan menolong Hayden lepas,
__ADS_1
lalu ini semua akan selesai.”