
Hari yang sama bagi
mereka, tentara dan warga Ommar yang tertangkap oleh tentara Gloria, hari demi
hari menanti pembebasan namun tak kunjung terjadi. Beberapa dari mereka ada
yang memutuskan untuk membunuh diri mereka ketimbang disiksa atau hidup tanpa
harapan seperti itu. Beberapa lain nya memutuskan untuk percaya jika suatu saat
akan ada yang menolong mereka, mereka bahkan tidak tau jika sekarang Angela lah
yang memimpin negeri Ommar. Kondisi ini semakin parah setiap hari nya, seiring
dengan penyiksaan yang dilakukan oleh tentara Gloria.
Bukan nya tidak ada yang berusaha melawan, namun mereka
yang berusaha melawan tidak ada yang berhasil hidup-hidup. Dari segi kekuataan
memang sudah terlihat jika tentara Ommar tidak memiliki peluang melawan saat
ini. Namun beberapa di antara mereka sudah mempersiapkan rencana untuk kabur
dari istana kerajaan Gloria. Kelompok yang dipinpin oleh pangila perang Ommar,
Firgas Gothen, pria tinggi dengan rambut putih yang menutupi mata sebelah kiri
nya. Konon katanya rambut putih yang ia miliki disebabkan oleh penyakit yang
dia miliki sejak kecil. Firgas adalah salah satu panglima perang Ommar yang terkenal dengan element es nya
yang sangat berbahaya, namun sayang saat ini kondisi nya sedang tidak terlalu
baik, luka nya belum sembuh setelah dia diserang oleh tentara Gloria.
Rencana mereka adalah menyusup dengan menggunakan pakaian
tentara Gloria, baju tentara Gloria berwarna hitam dan merah dengan penutup
mulut, hal tersebut akan mempermudah mereka untuk kabur dari penjara. Namun
yang masih menjadi masalah adalah bagaimana mereka bisa melakukannya, semua
senjata mereka telah diambil oleh pihak Gloria, mengeluarkan sihir hanya dengan
tangan saat ini akan menguras lebih banyak energi ketimbang menggunakan
senajata mereka.
Beberapa saat setelah mereka usai berdiskusi, salah satu
tentara Gloria datang ke dalam penjara untuk mengambil salah satu warga untuk
disiksa kembali. Saat itulah peluang mereka untuk lolos, tanpa pikir panjang
Firgas pun berusaha membekukan tentara tersebut, “Pinaris!” sihir es dikeluarkan
oleh Firgas dan tampaknya rencana mereka berhasil walau hanya ada satu tentara
yang berhasil mereka kalahkan. Rencana mereka sedikit diubah sekarang, mereka
mengira jika mereka akan berhasil menangkap banyak tentara namun kenyataannya
malah sebaliknya. “Aku memiliki ide, kalian semua berpura-pura lah jika aku
berniat membawa kalian semua untuk disika, ini sedikit beresiko karena terlalu
banyak orang, namun kita tidak bisa menunggu lain waktu! Sekarang atau tidak
sama sekali” perintah Firgas yang langsung diikuti oleh pasukan dan warga lainnya.
Total mereka berjumlah sepuluh orang, terdiri dari 4 tentara dan 6 orang warga
biasa.
Sejauh ini semua berjalan lancar, mereka semua berjalan
menyelusuri istana. Tidak ada pasukan Gloria yang mereasa aneh atau janggal
melihat mereka, yang ditakutkan oleh Firgas adalah jika raja Gloria merasakan
hawa sihir milik Firgas, jika sampai itu terjadi maka tamatlah riwayat mereka,
Firgas tidak akan kuat melawan Gloria sendirian, bahkan dengan bantuan 3
pasukan lainnya. Firgas sudah memikirkan semuanya, jika benar-benar mereka
ketauan maka Firgas akan berkorban sebisa mungkin sampai yang lain bisa
selamat, Kerajaan Ommar adalah yang terpenting baginya.
Keadaan ini terlalu baik untuk menjadi kenyataan. Semua
berjalan terlalu lancar, bahkan tidak ada yang bertanya-tanya apa pun melihat
jumlah tahanan yang semua nya pergi keluar sel. Firgas menyadari sesuatu namun
jika mereka bisa kabur saat itu juga maka Firgas akan memilih bertindak cepat
untuk kabur dari sana. Menurut Firgas harusnya sedikit demi sedikit Raja Gloria
bisa merasakan hawa sihir milik Firgas, karena Firgas sendiri bisa merasakan
hawa milih Raja Gloria. Hawa yang dia rasakan berbeda dengan kebanyakan
pengguna sihir yang pernah ia lawan, Gloria adalah pengguna sihir yang spesial.
Dia bisa mengguasai seluruh sihir elemen kegelapan, karena itulah dia dipanggil
“Sang Kegelapan”. Kemampuan nya dalam sihir juga tidak bisa diragukan, pada
masa mudanya Gloria pernah menantang seorang raja dari Timur dan Gloria bisa
dengan mudah melawannya.
Mereka hampir sampai ke pintu gerbang kastil, hanya
sedikit lagi dan mereka bisa bebas. Namun sayang, rasanya nasib baik tidak
pernah berpihak kepada rakyat Ommar. Beberapa pasukan Gloria berdiri tepat di
belakang sang raja, Raja Gloria tampaknya tidak terlalu membuat Firgas
terkejut. “Jika kau berharap aku terkejut melihat mu, maka kau salah. Aku sudah
tau ini akan terjadi mengingat betapa mudah nya kami kabur,” perkataan Firgas
memang selalu dingin, bukan hanya kepada musuh nya, namun juga kepada
teman-teman nya. “Yah baiklah jika rencana ku gagal, aku akui aku sangat buruk
dalam hal seperti, jadi mari kita selesaikan di sini, Firgas!” kalimat terakhir
Gloria bagai bunyi bel yang menjadi tanda dimulai nya petarungan ini. Firgas
__ADS_1
berharap jika saja dia memiliki senjata saat itu maka ini akan menjadi sedikit
mudah, berbeda dengan Gloria, sang raja kegelapan tersebut tidak suka bertarung
dengan senjata.
“Punarius! Pinaris!” serangan beruntun dari Firgas
dikeluarkan. Gloria berhasil mengelak dengan mudah nya, “kemampuan mu masih
seperti itu juga ha?! Firgas!”, pertanyaan yang membuat Firgas teringat akan
pertarungan pertama nya dengan Gloria, yang berakhir dengan kekalahan Firgas.
“Kau pikir aku akan kalah kali ini!? Akan kubuktikan jika kau tidak akan
berhasil mengambil Putri Angela!, Punarius!” sihir es terus-terusan dikeluarkan oleh Firgas namun tak satupun
mengenai Gloria. “Baiklah ini saatnya giliran ku! Bersiaplah Firgas! Bilcirius
Ignisious!,” gabungan dari sihir kegelapan dan api. “Kalian pergilah duluan!
Aku akan menyusul kalian!” perintah Firgas kepada rakyat Ommar, nampaknya dia
tau bagaimana akhir dari pertempuran ini. “Kami tidak akan pergi tanpa mu, tuan
Firgas!” jawab seluruh penduduk. Saat ini yang ada di otak Firgas adalah untuk
membebaskan para penduduk, dia bersedia mati saat itu juga.
“Kalian semua pergilah tanpa ku! Ini adalah perintah dan
tidak boleh dilangar, pergilah ke kerajaan dan sampaikan pesan kepada Robert
dan Putri Angela! Bahwa sang raja berada di sini!” perintah terakhir dari sang
palima yang membuat para prajurit dan penduduk hanya bisa menurut, beberapa di
antara mereka bahkan menangis tak kuasa untuk meninggalkan Firgas. “Ini adalah
perang, sudah kewajiban ku untuk melindungi putri dan kerajaan, Persembahkan
lah apapun yang kalian miliki demi Ommar!” mereka semua langsung berlari
meninggalkan Firgas. “Hormat kami kepadamu! Tuan Firgas Gothen.” Namun
sayangnya Gloria tidak akan diam saja, melihat tahanan nya pergi dengan mudah,
“Salah, jika kaian pikir aku akan membiarkan kalian pergi begitu saja.
Ilixius!” sihir api digunakan Gloria untuk menutup jalan agar mereka tidak bisa
kabur. Kondisi mereka sudah sangat terpuruk saat ini.
Firgas memiliki ide, namun dia tidak yakin jika itu
pilihan yang tepat atau tidak. Firgas berniat menggunakan sihir teleportasi,
berusaha memindahkan para prajurit dan penduduk langsung ke kota Lazarus. Namun
konsekuensi nya adalah energi Firgas akan semakin habis. “Acierom!” seru Firgas
yang langsung membuat lubang teleport, melihat itu Gloria tidak ambil diam!
Gloria langsung menggunakan sihir Ilixius lagi. “Cepat lah masuk!” perintah
Firgas yang diikuti dengan serangan api ke arah portal. Para prajurit berhasil
masuk, menandakan keberhasilan Firgas dalam misi terakhirnya.
Gloria” perkataan Firgas malah menimbulkan senyum di muka Gloria, “Kau pikir
dengan kondisi mu yang begini, kau bisa menang melawan seorang raja!? Jangan
lah bermimpi Firgas” cibiran Gloria kepada Firgas nampaknya menandakan bahwa
Gloria tidak tau jika setiap ketua pasukan Ommar memiliki segel sihir yang akan
dibuka di saat-saat genting seperti sekarang. Segel itu memungkinkan mereka
untuk bertarung dengan memiliki energi yang sangat besar, bahkan melebihi para
raja pada umumnya. “Baiklah, kita lihat saja Gloria! Kita selesaikan
pertarungan kita pada masa lalu.”, “Anama!” segel itu pun segera terbuka dan
mata Firgas yang bewarna biru pun berubah menjadi putih. Kebanyakan orang yang
membuka segel ini biasanya akan berakhir dengan meninggal atau cacat.
“Ku rasa kalian para Ommar memang hebat mengembangkan
sihir ya, tak pernah kulihat hal seperti itu, ku acungkan jempol bagi tim
pengembangan sihir Ommar” pujian yang diberikan Gloria malah membuat Firgas
tertawa. “Akan ku buat kau menyesal berkata demikian. Voco: Magnarux!” Firgas memulai
pertarungan dengan salah satu dari banyak koleksi mahluk sihir nya. Magnarux
adalah seorang pria berbadan besar dan tinggi yang seluruh tubuhnya berbentuk
es, Magnarux menggunakan jubah berwarna putih dan menggunakan topeng berwajah
iblis di mukanya. Pedangnya memiliki gagang berbentuk bintang dengan ujung pedang nya memiliki tali bewarna
putih, jika pedang Magnarux mengenai sesuatu maka itu akan berubah menjadi es
dan hancur dalam sekejap. “Kau sudah siap Gloria? Ini akan sedikit menyakitkan.
Perkenalkan, Magnarux, Sang Kematian Jiwa Romantis.”
Pertarungan baru saja dimulai antara Firgas dan Gloria.
Gloria yang belum menunjukan kekuatan sesungguhnya masih diam saja menunggu
Firgas menyerang. Di sisi lain Firgas sudah menunjukan kekuatan nya,
memunculkan Magnarux. Sekarang posisi Firgas lah yang menguntungkan. Sisa waktu
Firgas tidaklah banyak, sesudah pertarungan ini bisa dipastikan Firgas akan
mati. Menang kalah nya akan mendapatkan hasil yang sama. Tujuan Firgas adalah
untuk melemahkan Gloria sehabis itu memberi sinyal kepada Angela untuk menyerbu
Kerajaan Gloria. Mengorbankan satu panglima perang tidak akan memberikan dampak
yang besar pada Kerajaan Ommar, itulah yang ada dipikiran Firgas.
Tidak butuh waktu lama, Magnarux langsung menerjang ke
__ADS_1
arah Gloria. Gloria tidak berusaha bergerak sedikit pun, dia menunggu serangan
itu datang ke arahnya. “Mari kita lihat hal yang kau sebut hebat ini” ucap
Gloria meremehkan Magnarux. Serangan datang, pedang Magnarux mengarah ke arah
dada Gloria. Sebelum tepat mengenai Gloria, Magnarux langsung hancur
berkeping-keping, layaknya es yang dihancurkan dengan kekuatan super. Bahkan
Gloria tidak menyetuh Magnarux ataupun menggerakan tubuhnya.
“Malurus Flocx, itu adalah nama sihirnya. Apakah kau
terkejut Firgas? Biar kujelaskan, lagi pula kau akan mati sebentar lagi. Sihir
ini akan memprediksi serangan musuh di masa depan lalu mengembalikan nya kepada
musuh di masa sekarang. Kau mengerti Firgas? Kau tidak memiliki kesempatan untuk
menang” keputusan Gloria menjelaskan panjang lebar akan sihir ciptaannya akan
berujung sebagai petaka baginya. Firgas malah tersenyum, tidak ada ekspresi
penyesalan atau terkejut dari muka sang panglima Ommar.
“Jika kau pikir itu bisa mengentikan Magnarux maka kau
salah Gloria, bahkan saat kau menghancurkan Magnarux kau baru saja membekukan
diri mu sendiri! Magnaruxius no 36: Nomur Busar!” seketika pecahan tubuh
Magnarux mencari dan langsung membentuk bunga raksasa yang seketika memakan
seluruh tubuh Gloria, “Sihir masa depan mu pun tidak akan mempan Gloria” bunga
tersebut semakin membesar, dan membeku, membuat sang raja kegelapan tenggelam
bersama rasa kesombongannya dan membeku.
Namun, kekuatan raja tetaplah lebih besar dari pada
kekuatan panglima kerajaan. Bunga tersebut berhasil hancur dengan mudah, namun
berhasil membuat Gloria kehilangan energinya. “Lumayan juga Firgas, ku akui kau
ada perkembangan! Namun jika itu kekuatan mu yang sesungguhnya maka kau perlu
100 tahun untuk membunuh ku” perkataan Gloria yang barusan membuat ekspresi
Firgas berubah menjadi lebih serius. Firgas nampaknya terlalu meremehkan Gloria
saat dia berhasil menangkap Gloria kedalam sihir bunganya. “Magnaruxius no 1:
Colinur” pecahan Magnarux mencair lagi lalu menjadi tubuh utuh kembali di
samping Firgas.
“Pertunjukan kedua, bersiaplah Gloria. Voco: Sumour!”
Firgas memunculkan monster es kedua nya. “Dia adalah Sumour, sang penyakit
kepercayaan,” jelas Firgas terhadap monster ke dua nya.
Sumour
terlihat seperti perempuan yang berpenampilan seperti seorang dewa anggun,
namun Sumour adalah seorang penyihir yang menggunakan ilusi sebagai senjata
utamanya. Dengan kecapi yang selalu dibawanya, dia memainkan melodi-melodi yang
membuat musuhnya terbawa ke dunia ilusi nya hingga akhirnya mati.
“Sudah cukup bermain-mainnya. Saggitcirus!” seru Gloria
sambil menggunakan sihir panah kegelapan miliknya. Seketika ruangan menjadi
gelap, dan oksigen yang berada di ruangan itu seperti akan menghilang saja.
“Ada apa ini, padahal hanya sihir biasa namun-“ sebelum Firgas bisa
menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba saja muncul jutaan panah dari atas.
Panah-panah itu diselimuti kobaraan api hitam.
“Cih. Sumour no 27: Haerimius dan Magnarux no 14:
Frgound!” dua sihir sekaligus yang langsung menggerakan kedua mosnter Firgas.
Keduanya langsung melindungi dan menyerang di saat bersamaan. Magnarux
mengayunkan pedang nya dan membuat serpihan es yang kemudian melebar dan
menahan panah-panah tersebut. Sedangkan, Sumour memainkan kecapinya membuat
gelombang yang menerjang pasukan Gloria, membunuh mereka semua dalam sekejap
dan berhasil mendorong Gloria kebelakang.
“Menarik. Aku bingung kenapa orang seperti mu tidak
menjadi raja, bukan orang tua bodoh yang kutahan ini” tanya Gloria sambil
meremehkan Raja Ommar. Ejekan tersebut membuat Firgas marah, amarah nya bahkan
tidak tertahan lagi ketika Gloria mengancam nyawa raja nya, “Bagaimana jika dia
kubunuh saat ini juga, ku rasa itu ide bagus” lanjut Gloria.
“Cukup! Sumour no 60: Par-“ sebelum mantra sihir tersebut
bisa selesai, Sumour sudah hancur, namun berbeda dengan Magnarux, Sumour hancur
dengan terbakar api kegelapan dan kemudian lenyap tanpa meninggalkan serpihan
es. Magnarux kemudian hancur kembali, namun kali ini dia menusuk diri nya
sendiri dengan pedang nya. Keadaan ini langsung membuat sang panglima kerajaan
Ommar bingung seketika. Ekspresi Firgas berubah menjadi ketakutan, dia bahkan
tidak melihat pergerakan Gloria.
“Kau sudah kubiarkan menari terlalu lama dalam mimpi mu
Firgas. Kau harusnya sadar kalau tidak ada orang biasa yang bisa mengimbangi
kemampuan seorang raja” setelah kalimat tersebut diucapkan sebuah pedang es
menembus perut Firgas. Siapa sangka jika pedang tersebut adalah pedang
Magnarux. Kondisi nya menjadi terbalik, kemenangan tentu sudah berada di tangan
Gloria.
__ADS_1