Dahlia Hitam

Dahlia Hitam
25


__ADS_3

Hari yang sama bagi


mereka, tentara dan warga Ommar yang tertangkap oleh tentara Gloria, hari demi


hari menanti pembebasan namun tak kunjung terjadi. Beberapa dari mereka ada


yang memutuskan untuk membunuh diri mereka ketimbang disiksa atau hidup tanpa


harapan seperti itu. Beberapa lain nya memutuskan untuk percaya jika suatu saat


akan ada yang menolong mereka, mereka bahkan tidak tau jika sekarang Angela lah


yang memimpin negeri Ommar. Kondisi ini semakin parah setiap hari nya, seiring


dengan penyiksaan yang dilakukan oleh tentara Gloria.


            Bukan nya tidak ada yang berusaha melawan, namun mereka


yang berusaha melawan tidak ada yang berhasil hidup-hidup. Dari segi kekuataan


memang sudah terlihat jika tentara Ommar tidak memiliki peluang melawan saat


ini. Namun beberapa di antara mereka sudah mempersiapkan rencana untuk kabur


dari istana kerajaan Gloria. Kelompok yang dipinpin oleh pangila perang Ommar,


Firgas Gothen, pria tinggi dengan rambut putih yang menutupi mata sebelah kiri


nya. Konon katanya rambut putih yang ia miliki disebabkan oleh penyakit yang


dia miliki sejak kecil. Firgas adalah  salah satu panglima perang Ommar yang terkenal dengan element es nya


yang sangat berbahaya, namun sayang saat ini kondisi nya sedang tidak terlalu


baik, luka nya belum sembuh setelah dia diserang oleh tentara Gloria.


            Rencana mereka adalah menyusup dengan menggunakan pakaian


tentara Gloria, baju tentara Gloria berwarna hitam dan merah dengan penutup


mulut, hal tersebut akan mempermudah mereka untuk kabur dari penjara. Namun


yang masih menjadi masalah adalah bagaimana mereka bisa melakukannya, semua


senjata mereka telah diambil oleh pihak Gloria, mengeluarkan sihir hanya dengan


tangan saat ini akan menguras lebih banyak energi ketimbang menggunakan


senajata mereka.


            Beberapa saat setelah mereka usai berdiskusi, salah satu


tentara Gloria datang ke dalam penjara untuk mengambil salah satu warga untuk


disiksa kembali. Saat itulah peluang mereka untuk lolos, tanpa pikir panjang


Firgas pun berusaha membekukan tentara tersebut, “Pinaris!” sihir es dikeluarkan


oleh Firgas dan tampaknya rencana mereka berhasil walau hanya ada satu tentara


yang berhasil mereka kalahkan. Rencana mereka sedikit diubah sekarang, mereka


mengira jika mereka akan berhasil menangkap banyak tentara namun kenyataannya


malah sebaliknya. “Aku memiliki ide, kalian semua berpura-pura lah jika aku


berniat membawa kalian semua untuk disika, ini sedikit beresiko karena terlalu


banyak orang, namun kita tidak bisa menunggu lain waktu! Sekarang atau tidak


sama sekali” perintah Firgas yang langsung diikuti oleh pasukan dan warga lainnya.


Total mereka berjumlah sepuluh orang, terdiri dari 4 tentara dan 6 orang warga


biasa.


            Sejauh ini semua berjalan lancar, mereka semua berjalan


menyelusuri istana. Tidak ada pasukan Gloria yang mereasa aneh atau janggal


melihat mereka, yang ditakutkan oleh Firgas adalah jika raja Gloria merasakan


hawa sihir milik Firgas, jika sampai itu terjadi maka tamatlah riwayat mereka,


Firgas tidak akan kuat melawan Gloria sendirian, bahkan dengan bantuan 3


pasukan lainnya. Firgas sudah memikirkan semuanya, jika benar-benar mereka


ketauan maka Firgas akan berkorban sebisa mungkin sampai yang lain bisa


selamat, Kerajaan Ommar adalah yang terpenting baginya.


            Keadaan ini terlalu baik untuk menjadi kenyataan. Semua


berjalan terlalu lancar, bahkan tidak ada yang bertanya-tanya apa pun melihat


jumlah tahanan yang semua nya pergi keluar sel. Firgas menyadari sesuatu namun


jika mereka bisa kabur saat itu juga maka Firgas akan memilih bertindak cepat


untuk kabur dari sana. Menurut Firgas harusnya sedikit demi sedikit Raja Gloria


bisa merasakan hawa sihir milik Firgas, karena Firgas sendiri bisa merasakan


hawa milih Raja Gloria. Hawa yang dia rasakan berbeda dengan kebanyakan


pengguna sihir yang pernah ia lawan, Gloria adalah pengguna sihir yang spesial.


Dia bisa mengguasai seluruh sihir elemen kegelapan, karena itulah dia dipanggil


“Sang Kegelapan”. Kemampuan nya dalam sihir juga tidak bisa diragukan, pada


masa mudanya Gloria pernah menantang seorang raja dari Timur dan Gloria bisa


dengan mudah melawannya.


            Mereka hampir sampai ke pintu gerbang kastil, hanya


sedikit lagi dan mereka bisa bebas. Namun sayang, rasanya nasib baik tidak


pernah berpihak kepada rakyat Ommar. Beberapa pasukan Gloria berdiri tepat di


belakang sang raja, Raja Gloria tampaknya tidak terlalu membuat Firgas


terkejut. “Jika kau berharap aku terkejut melihat mu, maka kau salah. Aku sudah


tau ini akan terjadi mengingat betapa mudah nya kami kabur,” perkataan Firgas


memang selalu dingin, bukan hanya kepada musuh nya, namun juga kepada


teman-teman nya. “Yah baiklah jika rencana ku gagal, aku akui aku sangat buruk


dalam hal seperti, jadi mari kita selesaikan di sini, Firgas!” kalimat terakhir


Gloria bagai bunyi bel yang menjadi tanda dimulai nya petarungan ini. Firgas

__ADS_1


berharap jika saja dia memiliki senjata saat itu maka ini akan menjadi sedikit


mudah, berbeda dengan Gloria, sang raja kegelapan tersebut tidak suka bertarung


dengan senjata.


            “Punarius! Pinaris!” serangan beruntun dari Firgas


dikeluarkan. Gloria berhasil mengelak dengan mudah nya, “kemampuan mu masih


seperti itu juga ha?! Firgas!”, pertanyaan yang membuat Firgas teringat akan


pertarungan pertama nya dengan Gloria, yang berakhir dengan kekalahan Firgas.


“Kau pikir aku akan kalah kali ini!? Akan kubuktikan jika kau tidak akan


berhasil mengambil Putri Angela!, Punarius!”  sihir es terus-terusan dikeluarkan oleh Firgas namun tak satupun


mengenai Gloria. “Baiklah ini saatnya giliran ku! Bersiaplah Firgas! Bilcirius


Ignisious!,” gabungan dari sihir kegelapan dan api. “Kalian pergilah duluan!


Aku akan menyusul kalian!” perintah Firgas kepada rakyat Ommar, nampaknya dia


tau bagaimana akhir dari pertempuran ini. “Kami tidak akan pergi tanpa mu, tuan


Firgas!” jawab seluruh penduduk. Saat ini yang ada di otak Firgas adalah untuk


membebaskan para penduduk, dia bersedia mati saat itu juga.


            “Kalian semua pergilah tanpa ku! Ini adalah perintah dan


tidak boleh dilangar, pergilah ke kerajaan dan sampaikan pesan kepada Robert


dan Putri Angela! Bahwa sang raja berada di sini!” perintah terakhir dari sang


palima yang membuat para prajurit dan penduduk hanya bisa menurut, beberapa di


antara mereka bahkan menangis tak kuasa untuk meninggalkan Firgas. “Ini adalah


perang, sudah kewajiban ku untuk melindungi putri dan kerajaan, Persembahkan


lah apapun yang kalian miliki demi Ommar!” mereka semua langsung berlari


meninggalkan Firgas. “Hormat kami kepadamu! Tuan Firgas Gothen.” Namun


sayangnya Gloria tidak akan diam saja, melihat tahanan nya pergi dengan mudah,


“Salah, jika kaian pikir aku akan membiarkan kalian pergi begitu saja.


Ilixius!” sihir api digunakan Gloria untuk menutup jalan agar mereka tidak bisa


kabur. Kondisi mereka sudah sangat terpuruk saat ini.


            Firgas memiliki ide, namun dia tidak yakin jika itu


pilihan yang tepat atau tidak. Firgas berniat menggunakan sihir teleportasi,


berusaha memindahkan para prajurit dan penduduk langsung ke kota Lazarus. Namun


konsekuensi nya adalah energi Firgas akan semakin habis. “Acierom!” seru Firgas


yang langsung membuat lubang teleport, melihat itu Gloria tidak ambil diam!


Gloria langsung menggunakan sihir Ilixius lagi. “Cepat lah masuk!” perintah


Firgas yang diikuti dengan serangan api ke arah portal. Para prajurit berhasil


masuk, menandakan keberhasilan Firgas dalam misi terakhirnya.


Gloria” perkataan Firgas malah menimbulkan senyum di muka Gloria, “Kau pikir


dengan kondisi mu yang begini, kau bisa menang melawan seorang raja!? Jangan


lah bermimpi Firgas” cibiran Gloria kepada Firgas nampaknya menandakan bahwa


Gloria tidak tau jika setiap ketua pasukan Ommar memiliki segel sihir yang akan


dibuka di saat-saat genting seperti sekarang. Segel itu memungkinkan mereka


untuk bertarung dengan memiliki energi yang sangat besar, bahkan melebihi para


raja pada umumnya. “Baiklah, kita lihat saja Gloria! Kita selesaikan


pertarungan kita pada masa lalu.”, “Anama!” segel itu pun segera terbuka dan


mata Firgas yang bewarna biru pun berubah menjadi putih. Kebanyakan orang yang


membuka segel ini biasanya akan berakhir dengan meninggal atau cacat.


 


 


            “Ku rasa kalian para Ommar memang hebat mengembangkan


sihir ya, tak pernah kulihat hal seperti itu, ku acungkan jempol bagi tim


pengembangan sihir Ommar” pujian yang diberikan Gloria malah membuat Firgas


tertawa. “Akan ku buat kau menyesal berkata demikian. Voco: Magnarux!” Firgas memulai


pertarungan dengan salah satu dari banyak koleksi mahluk sihir nya. Magnarux


adalah seorang pria berbadan besar dan tinggi yang seluruh tubuhnya berbentuk


es, Magnarux menggunakan jubah berwarna putih dan menggunakan topeng berwajah


iblis di mukanya. Pedangnya memiliki gagang berbentuk bintang  dengan ujung pedang nya memiliki tali bewarna


putih, jika pedang Magnarux mengenai sesuatu maka itu akan berubah menjadi es


dan hancur dalam sekejap. “Kau sudah siap Gloria? Ini akan sedikit menyakitkan.


Perkenalkan, Magnarux, Sang Kematian Jiwa Romantis.”


            Pertarungan baru saja dimulai antara Firgas dan Gloria.


Gloria yang belum menunjukan kekuatan sesungguhnya masih diam saja menunggu


Firgas menyerang. Di sisi lain Firgas sudah menunjukan kekuatan nya,


memunculkan Magnarux. Sekarang posisi Firgas lah yang menguntungkan. Sisa waktu


Firgas tidaklah banyak, sesudah pertarungan ini bisa dipastikan Firgas akan


mati. Menang kalah nya akan mendapatkan hasil yang sama. Tujuan Firgas adalah


untuk melemahkan Gloria sehabis itu memberi sinyal kepada Angela untuk menyerbu


Kerajaan Gloria. Mengorbankan satu panglima perang tidak akan memberikan dampak


yang besar pada Kerajaan Ommar, itulah yang ada dipikiran Firgas.


            Tidak butuh waktu lama, Magnarux langsung menerjang ke

__ADS_1


arah Gloria. Gloria tidak berusaha bergerak sedikit pun, dia menunggu serangan


itu datang ke arahnya. “Mari kita lihat hal yang kau sebut hebat ini” ucap


Gloria meremehkan Magnarux. Serangan datang, pedang Magnarux mengarah ke arah


dada Gloria. Sebelum tepat mengenai Gloria, Magnarux langsung hancur


berkeping-keping, layaknya es yang dihancurkan dengan kekuatan super. Bahkan


Gloria tidak menyetuh Magnarux ataupun menggerakan tubuhnya.


            “Malurus Flocx, itu adalah nama sihirnya. Apakah kau


terkejut Firgas? Biar kujelaskan, lagi pula kau akan mati sebentar lagi. Sihir


ini akan memprediksi serangan musuh di masa depan lalu mengembalikan nya kepada


musuh di masa sekarang. Kau mengerti Firgas? Kau tidak memiliki kesempatan untuk


menang” keputusan Gloria menjelaskan panjang lebar akan sihir ciptaannya akan


berujung sebagai petaka baginya. Firgas malah tersenyum, tidak ada ekspresi


penyesalan atau terkejut dari muka sang panglima Ommar.


            “Jika kau pikir itu bisa mengentikan Magnarux maka kau


salah Gloria, bahkan saat kau menghancurkan Magnarux kau baru saja membekukan


diri mu sendiri! Magnaruxius no 36: Nomur Busar!” seketika pecahan tubuh


Magnarux mencari dan langsung membentuk bunga raksasa yang seketika memakan


seluruh tubuh Gloria, “Sihir masa depan mu pun tidak akan mempan Gloria” bunga


tersebut semakin membesar, dan membeku, membuat sang raja kegelapan tenggelam


bersama rasa kesombongannya dan membeku.


            Namun, kekuatan raja tetaplah lebih besar dari pada


kekuatan panglima kerajaan. Bunga tersebut berhasil hancur dengan mudah, namun


berhasil membuat Gloria kehilangan energinya. “Lumayan juga Firgas, ku akui kau


ada perkembangan! Namun jika itu kekuatan mu yang sesungguhnya maka kau perlu


100 tahun untuk membunuh ku” perkataan Gloria yang barusan membuat ekspresi


Firgas berubah menjadi lebih serius. Firgas nampaknya terlalu meremehkan Gloria


saat dia berhasil menangkap Gloria kedalam sihir bunganya. “Magnaruxius no 1:


Colinur” pecahan Magnarux mencair lagi lalu menjadi tubuh utuh kembali di


samping Firgas.


            “Pertunjukan kedua, bersiaplah Gloria. Voco: Sumour!”


Firgas memunculkan monster es kedua nya. “Dia adalah Sumour, sang penyakit


kepercayaan,” jelas Firgas terhadap monster ke dua nya.


Sumour


terlihat seperti perempuan yang berpenampilan seperti seorang dewa anggun,


namun Sumour adalah seorang penyihir yang menggunakan ilusi sebagai senjata


utamanya. Dengan kecapi yang selalu dibawanya, dia memainkan melodi-melodi yang


membuat musuhnya terbawa ke dunia ilusi nya hingga akhirnya mati.


            “Sudah cukup bermain-mainnya. Saggitcirus!” seru Gloria


sambil menggunakan sihir panah kegelapan miliknya. Seketika ruangan menjadi


gelap, dan oksigen yang berada di ruangan itu seperti akan menghilang saja.


“Ada apa ini, padahal hanya sihir biasa namun-“ sebelum Firgas bisa


menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba saja muncul jutaan panah dari atas.


Panah-panah itu diselimuti kobaraan api hitam.


            “Cih. Sumour no 27: Haerimius dan Magnarux no 14:


Frgound!” dua sihir sekaligus yang langsung menggerakan kedua mosnter Firgas.


Keduanya langsung melindungi dan menyerang di saat bersamaan. Magnarux


mengayunkan pedang nya dan membuat serpihan es yang kemudian melebar dan


menahan panah-panah tersebut. Sedangkan, Sumour memainkan kecapinya membuat


gelombang yang menerjang pasukan Gloria, membunuh mereka semua dalam sekejap


dan berhasil mendorong Gloria kebelakang.


            “Menarik. Aku bingung kenapa orang seperti mu tidak


menjadi raja, bukan orang tua bodoh yang kutahan ini” tanya Gloria sambil


meremehkan Raja Ommar. Ejekan tersebut membuat Firgas marah, amarah nya bahkan


tidak tertahan lagi ketika Gloria mengancam nyawa raja nya, “Bagaimana jika dia


kubunuh saat ini juga, ku rasa itu ide bagus” lanjut Gloria.


            “Cukup! Sumour no 60: Par-“ sebelum mantra sihir tersebut


bisa selesai, Sumour sudah hancur, namun berbeda dengan Magnarux, Sumour hancur


dengan terbakar api kegelapan dan kemudian lenyap tanpa meninggalkan serpihan


es. Magnarux kemudian hancur kembali, namun kali ini dia menusuk diri nya


sendiri dengan pedang nya. Keadaan ini langsung membuat sang panglima kerajaan


Ommar bingung seketika. Ekspresi Firgas berubah menjadi ketakutan, dia bahkan


tidak melihat pergerakan Gloria.


            “Kau sudah kubiarkan menari terlalu lama dalam mimpi mu


Firgas. Kau harusnya sadar kalau tidak ada orang biasa yang bisa mengimbangi


kemampuan seorang raja” setelah kalimat tersebut diucapkan sebuah pedang es


menembus perut Firgas. Siapa sangka jika pedang tersebut adalah pedang


Magnarux. Kondisi nya menjadi terbalik, kemenangan tentu sudah berada di tangan


Gloria.

__ADS_1


__ADS_2