
Rafaela Ommar adalah ibu
dari Lean dan Angela Ommar, serta istri dari Bellat Ommar atau yang lebih
sering dipanggil Raja Ommar. Tidak ada satu orang pun yang mengetahui kemana
Rafaela sekarang, banyak orang yang mengira dia sudah meninggal pada saat
perang bersama Gloria pada masa lalu. Anak nya sendiri, Angela mengira jika ibu
nya sudah mati. Namun tidak bagi Lean, dia percaya jika ibu nya berada di suatu
tempat di alam semesta ini.
Rafaela adalah seorang penyihir dengan sihir penyembuh
terbaik pada masa nya. Dia memberikan andil besar pada saat perang dengan
menyembuhkan semua prajurit bahkan prajurit yang kehilangan anggota tubuh nya
masih bisa sembuh. Dia juga adalah ketua divisi kesehatan. Tidak heran, kedua
anak nya sekarang adalah ahli sihir yang baik. Baik Lean maupun Angela Ommar.
Angela pada latihan nya yang sudah tidak terhitung
keberapa kali nya mengalami hal yang aneh. Hal yang tidak bisa dijelaskan. Saat
dia berusaha menggunakan sihir kegelapan, Angela kehilangan kesadaran dan
seorang perempuan tua mengambil alih tubuh Angela beberapa saat. Berbicara
dengan suara aneh dan mengaku bahwa dia adalah Rafaela Ommar. Namun, setelah
Angela terbangun dia bahkan tidak bisa mengingat apa yang sudah terjadi.
“Jika itu memang terjadi, maka ini pasti ada hubungan nya
dengan larangan ayah. Ayah selalu melarang kakak dan aku untuk mempelajari
sihir kegelapan.” Angela berusaha untuk mencari tau jawaban nya. “Kalian semua,
jagalah aku kali ini. Gunakan sihir segel kalian untuk mencegah aku terbangun.
Aku penasaran apa yang akan terjadi” perintah Angela tersebut terdengar sedikit
ceroboh. “Lalu jika itu gagal bagaimana yang mulia?” tanya salah seorang
prajurit dengan wajah ketakutan. “Aku percaya pada kalian. Pengawal raja adalah
orang-orang terlipih dari yang terpilih.” Jawaban tersebut dibalas dengan
senyuman dan hormat dari para pasukan.
“Tene et curum.” Keluarlah butiran butiran bewarna unggu
gelap disekitar Angela. Muncul juga tangan-tangan kegelapan dari tanah menopang
Angela berdiri. Mata nya seketika berubah warna menjadi hitam. “Tu-tunggu, aku
bisa merasakan kesedihan, kerinduan dan kasih sayang..” saat Angela berbicara
air mata keluar, membasahi pipi nya. Para prajurit pun langsung mensegel
keadaan tersebut. “Kalian siap? Time de Saxum!” semua pasukan mengeluarkan
sihir tersebut, membuat sebuah pilar-pilar besar jatuh dari langit. Di setiap
sisi pilar tersebut terdapat bola bewarna emas yang berputar-putar. Pilar-pilar
tersebut akan membuat siapa pun yang berada di sana tidak bisa keluar dan tidak
bisa mengeluarkan sihir.
Angela diam. Tangan-tangan tersebut kemudian berusaha
menghancurkan pilar tersebut. Namun berapa kali pun tangan-tangan tersebut
mencoba, kekuatan segel pilar tidak akan bisa hancur. “Berani nya kalian
mengunci ku di sini! Kalian tidak bisa ap-“ kata tersebut belum selesai
diucapkan Angela. Namun, yang pasti itu adalah suara perempuan tua yang
menguasai tubuh Angela pada saat latihan, namun kali ini suara tersebut sangat
lah jelas.
Jiwa Angela saat ini berada di dunia lain. Dunia yang
diciptakan oleh seseorang yang memiliki ilmu sihir tinggi untuk berkomunikasi
dengan orang yang masih hidup. Berbeda dengan yang dia rasakan saat mencari tau
keberadan ayahnya, kali ini tempat nya terasa damai. Tempat nya penuh dengan
warna, Angela merasa nyaman. Aneh nya adalah dia merasa jika dia pernah melihat
tempat ini di mimpi.
“Apa yang kau lihat ini adalah Ommar pada jaman dahulu”
suara tersebut mengejutkan Angela. “Siapa kamu!?” tanya Angela dengan panik.
“Maafkan aku tidak memperkenalkan diriku. Namaku Rafaela Ommar. Memang terdengar
tidak masuk akal.” Penjelasan wanita tersebut membuat air mata Angela turun.
“Angela, kau tidak apa-apa?” wanita yang mengaku sebagai Rafaela tersebut
mencoba mendekati Angela. Namun Angela berteriak, “Jangan coba-coba menipu ku!
Iblis kegelapan.” Angela masih tidak percaya wanita tersebut adalah ibu nya.
“Aku tau kau memang belum bisa menerima jika aku ibu mu,
kita juga baru saja bertemu beberapa detik yang lalu. Kau juga pasti binggung,
jika aku ibu mu mengapa aku berusaha mengambil alih kesadaran mu di dunia
nyata.” Penjelasan wanita tersebut ditanggapi dengan kepala dingin oleh Angela.
“Jelaskan semua nya, sekarang juga!” Angela masih sangat marah, yang membuat
nya tambah marah adalah dia tidak tau mengapa dia marah, dia juga merasakan
kesedihan.
“Aku tidak bisa berbicara semua nya di sini. Kau harus
mencari tau nya lebih lanjut anak ku. Namun yang berusaha mengambil kesadaran
mu adalah sisi gelap ibu. Dia adalah mahluk yang tinggal di tubuh ku sejak ibu
masih kecil. Dia sangat kuat, ayah mu bahkan tidak kuat menghadapi nya, ibu
__ADS_1
juga tidak kuat mengendalikan nya. Pada saat ibu meninggal, ibu menggunakan
kekuatan nya untuk membuat jembatan dunia penghubung ini, agar kita bisa
berbicara suatu saat nanti. Namun ayah mu nampak nya melarang penggunaaan
kekuatan kegelapan. Dia takut suatu saat mahluk itu bisa keluar dari kegelapan
dan membawa kehancuran pada kerajaan.” Penjelasan tersebut masih belum
memuaskan Angela. “Kemana saja ibu selama ini?” tanya Angela tanpa memandang
ibu nya. “Ibu tidak bisa memberitau mu soal hal itu, maaf.”
Angela yang mendengar penjelasan tersebut semakin marah.
Luapan emosi nya memberikan dampak di dunia nyata. Tangan-tangan tersebut
semakin kuat, tampak ada nya retakan pada pilar-pilar tersebut. Membuat para
prajurit ketakutan, “Kalian semua janganlah takut! Bersiap pada posisi
menyerang!” teriak salah satu dari para prajurit. Melihat luapan emosi yang
anak, Rafaela langsung menyadarkan Angela. “Hentikan amarah mu Angela! Kau
memberikan kekuatan kepada monster itu!.” Angela pun sadar jika luapan emosi
nya tadi berbahaya. Tubuh Angela di dunia nyata pun melemah kembali,
meninggalkan keheranan kepada para prajurit.
“Kenapa kita baru bisa berbicara sekarang? Kenapa ibu.”
Angela semakin sedih. Rafaela yang melihat hal itu langsung memeluk anaknya,
“Maafkan lah ibu mu Angela, namun yang ibu lakukan ini demi melindungi kerajaan
kita.” Angela melepas rindu nya yang amat dalam dengan memeluk ibu nya dan
berteriak, dia sangat lah sedih, marah dan bahagia bisa menemukan kepingan dari
hidup nya yang hilang. Namun ketika dia baru saja ingin lanjut berbicara, tubuh
Rafaela bersinar terang, “Oh tidak! Waktu ku menipis, kita akan berjumpa lagi
Angela!”
Angela langsung sadar dan terbangun di dunia nyata.
Tangan-tangan tersebut langsung lenyap meninggalkan keheningan. Angela langsung
berdiri dan memerintahkan para pasukan nya, “Pergi ke pusat arsip dan carilah
semua informasi mengenai pembentukan pertama Ommar dan mengenai Rafaela Ommar!”
perintah Angela diikuti dengan jawaban penuh semangat dari pasukan, “Baiklah
tuan putri!”
Angela panik dan bingung apa yang sebenarnya terjadi pada
ibu nya. Apa yang ayah nya rahasiakan dari nya dan seluruh isi kerajaan. Tanpa
petunjuk apa pun Angela langsung pergi menuju tempat para dewan kerajaan. Jika
bahkan Angela tidak mengetahui jawaban mengenai apa yang terjadi di masa lalu
maka para dewan pasti mengetahui sesuatu.
mengembangkan diri mereka. Gloria juga terus berlatih agar menjadi lebih kuat
lagi. Walaupun begitu, mereka tetap merayakan kemenangan mereka, walaupun
wilayah mereka berhasil diambil oleh Ommar, namun mereka berhasil mendapatkan
sesuatu yang lebih baik. Tubuh sang panglima es. Firgas yang jatuh ketangan
Gloria.
Firgas saat ini belum sepenuh nya mati. Dia masih
bernafas, namun dalam keadaan yang benar-benar kritis. Dalam ambang hidup dan
mati nya Firgas dikunci dalam sebuah ruangan yang dilapisi segel agar tidak ada
yang bisa melacak di mana keberadaan Firgas. Ruangan tersebut dikawal oleh dua pasukan
terbaik Gloria. Xordus bersaudara, salah satu dari beberapa pengawal pribadi
Gloria.
Tidak seorang pun diperbolehkan untuk masuk ke ruangan
tersebut. Hanya Lean dan Gloria seorang lah. Gloria memerintahkan untuk membunuh
siapa pun yang mencoba masuk ke dalam ruangan tersebut. Melihat hal tersebut,
Lean jadi memikirkan sebuah rencana. Dengan bergabung dengan Gloria bukan
berarti Lean menjadi pendukung Gloria. Dia memiliki rencana nya sendiri.
Tepat pada hari itu Gloria mengadakan rapat dengan Lean
dan para dewan kerajaan Gloria. Hal yang mereka bicaran pada hari ini adalah
mengenai Firgas. Ini adalah kali kedua Lean mengikuti rapat di kerajaan Gloria.
Dia masih tidak terbiasa dengan suasana rapat di sini. Seluruh dewan menutup
muka mereka dengan kain putih dan tidak pernah dari mereka yang mengeluarkan
suara selama rapat.
“Perkenalkan nama ku Debtora Mythourusm, ketua divisi
kesehatan. Kita berdua belum pernah ketemu, tapi aku tau nama mu. Lean Ommar,
kakak Angela Ommar.” Debtora tidak memberi kesempatan Lean memperkenalkan diri
nya. Lean tidak suka Debtora, dia terlihat sombong dan terlihat meremehkan
Lean. Lean memang belum pernah bertemu dengan nya, namun kecantikan Debtora
membuat seluruh pasukan Gloria membicarakan nya. Dia adalah wanita di kerajaan
Gloria yang paling di sanjung.
“Dalam rapat kali ini, aku ingin memperkenalkan mesin
pembunuh terbaru dari kerajaan kita. Ku sebut projek ini dengan nama projek
ortus. Projek mengendalikan pikiran seseorang secara penuh dan menggunakan nya
untuk membela Gloria.” Lean terkejut mendengar hal tersebut. Projek ortus
__ADS_1
adalah projek milik ayah nya yang kemudian dibuang begitu saja karena tampak
berbahaya. Lean bingung dari mana orang-orang Gloria bisa mendapatkan projek rahasia
Ommar.
“Tubuh yang akan kita pakai adalah tubuh Firgas. Panglima
perang dari Ommar. Tuan Gloria berhasil mendapatkan tubuh nya saat pertarungan
beberapa waktu yang lalu. Saat ini dia berada di ruang bawah tanah.” Gloria
tersenyum saat mendengar nama nya disanjung. Lean menjadi sangat tertarik
mengetahui apa yang sudah orang-orang Gloria kembangkan dari projek ayah nya
tersebut.
“Kita akan melakukan uji coba besok. Perintakanlah semua
orang untuk hadir di kastil pusat besok malam. Aku akan memperkenalkan mesin
pembunuh baru kepada publik” jelas Debtora. Lean memiliki rencana nya sendiri.
Dia dan Firgas memang tidak terlalu dekat, namun Lean masih memiliki rasa
hormat pada Firgas. Dia tidak akan membiarkan apa pun terjadi pada Firgas.
Sesudah pembicaraan rapat pun selesai. Semua orang pergi
mengurus urusan nya masing-masing. Semua orang menjadi sibuk setelah
penyerangan Ommar ke Gloria waktu itu. Mereka semua menyiapkan semua hal
menjadi semula kembali. Lean langsung pergi menuju tempat Firgas. Lean
bertanya-tanya pada diri nya mengapa hanya dia dan Gloria yang bisa masuk
melihat Firgas, sedangkan Debtora tidak bisa.
“Biarkan aku masuk!” perintah Lean yang langsung diikuti
oleh gerakan dari Xordus bersaudara yang membukakan pintu bagi Lean untuk
masuk. Lean langsung masuk ke dalam kegelapan. Jubah nya yang bewarna putih
langsung tidak terlihat. Dia menuruni tangga, turun ke bawah kegelapan. Siap
untuk bertemu dengan orang yang disebut nya sebagai pahlawan.
“Firgas” sapa Lean dengan lembut. Suasa tampak hening,
Firgas pun tidak membalas Lean. Tiba-tiba saja hawa dingin yang menusuk
dirasakan Lean. Hawa yang sangat dingin yang membuat Lean sampai berlutut.
“Firgas! Dengar kan aku, aku punya rencana agar kau bisa pergi dari sini!”
suara Lean tidak berhasil menembus kedinginan yang diciptakan Firgas.
“Apa yang kalian inginkan?” tanya Firgas kepada Lean.
Pertanyaan tersebut membuat suasana penjara semakin dingin. “Kau tidak mengerti
Firgas! Namun percayalah pada ku kali ini! Kau tidak ada urusan nya dengan
masalah keluarga Ommar! Kau harus selamat Firgas!” baru pertama kali Firgas
melihat Lean meminta seperti itu. Dia sadar jika Lean hanyalah seorang anak
perempuan kecil layaknya Angela Ommar.
Udara dingin yang merasuki ruangan tersebut pun hilang
begitu saja. Suasa hening tersebut dipatahkan dengan kata dari Firgas, “Apa
rencana mu Lean?” tanya Firgas. Lean
langsung senang mendengarnya, dia berhasil menyelamatkan pahlawan nya. “Dengar
baik-baik. Glora ingin mengendalikan pikiran mu dengan projek baru mereka,
menjadikan mu mesih pembunuh baru Gloria. Kau harus pergi dari sini dan pergi
ke Lazarus.” Firgas tampak tidak terkejut mendengar hal tersebut, dia tampak
mengetahui nya.
“Sudah kuduga. Gloria tidak mungkin menangkap ku tanpa
tujuan yang pasti. Bagaimana aku bisa pergi?” lanjut Firgas dengan tenang. “Aku
akan membrikan sedikit tenaga ku lalu setelah aku pergi gunakan lah sihir teleportasi
dan pergilah.” Firgas setuju. Maka Lean langsung memulai proses perpindahan
tenaga. “Turncournis!” Lean langsung jatuh namun Firgas berhasil menahan tubuh
Lean.
Tubuh Firgas menjadi lebih kuat sedangkan Lean kelelahan.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Firgas sambil menatap mata Lean. “Aku baik-baik
saja. Terimakasih sudah percaya pada ku Firgas.” Senyum menghiasi wajah Lean.
Baru pertamakali ini Firgas melihat Lean seperti ini. “Lalu bagaimana dengan mu
Lean?” tanya Firgas ingin tau. “Aku memiliki tujuan untuk pergi ke sisi Gloria.
Apa yang aku lakukan adalah untuk melindungi adik ku. Sampaikan salam ku
kepadanya. Walaupun dia pasti sudah membenci ku.” Lean membalikan badan agar
Firgas tidak bisa melihat air mata nya.
“Terimakasih Lean. Kami akan kembali lagi untuk menjemput
mu. Tunggulah saat nya.” Firgas tersenyum, dan membalikan tubuh nya. “Selamat
tinggal Firgas.” Lean menaiki tangga satu per satu tanpa melihat kebelakang.
Entah mengapa rasanya sesak. Dia juga ingin kembali ke sisi adik nya namun dia memiliki
sesuatu yang harus dia lakukan. Dia juga merasa sesak meninggalkan Firgas.
Entah kenapa perasaan itu tiba-tiba muncul.
Xordus bersaudara membukakan pintu kepada Lean. Lean
langsung pergi meninggalkan tempat tersebut. Membiarkan Firgas pergi. Lean
berusaha menahan air mata nya agar tidak ada yang curiga terhadap nya.
Kesedihan amat berat dirasakan Lean saat ia harus melawan adik nya pada
__ADS_1
pertempuran. Berpura-pura menjadi orang jahat di mata Angela.