Dahlia Hitam

Dahlia Hitam
Episode 28


__ADS_3

Rafaela Ommar adalah ibu


dari Lean dan Angela Ommar, serta istri dari Bellat Ommar atau yang lebih


sering dipanggil Raja Ommar. Tidak ada satu orang pun yang mengetahui kemana


Rafaela sekarang, banyak orang yang mengira dia sudah meninggal pada saat


perang bersama Gloria pada masa lalu. Anak nya sendiri, Angela mengira jika ibu


nya sudah mati. Namun tidak bagi Lean, dia percaya jika ibu nya berada di suatu


tempat di alam semesta ini.


            Rafaela adalah seorang penyihir dengan sihir penyembuh


terbaik pada masa nya. Dia memberikan andil besar pada saat perang dengan


menyembuhkan semua prajurit bahkan prajurit yang kehilangan anggota tubuh nya


masih bisa sembuh. Dia juga adalah ketua divisi kesehatan. Tidak heran, kedua


anak nya sekarang adalah ahli sihir yang baik. Baik Lean maupun Angela Ommar.


            Angela pada latihan nya yang sudah tidak terhitung


keberapa kali nya mengalami hal yang aneh. Hal yang tidak bisa dijelaskan. Saat


dia berusaha menggunakan sihir kegelapan, Angela kehilangan kesadaran dan


seorang perempuan tua mengambil alih tubuh Angela beberapa saat. Berbicara


dengan suara aneh dan mengaku bahwa dia adalah Rafaela Ommar. Namun, setelah


Angela terbangun dia bahkan tidak bisa mengingat apa yang sudah terjadi.


            “Jika itu memang terjadi, maka ini pasti ada hubungan nya


dengan larangan ayah. Ayah selalu melarang kakak dan aku untuk mempelajari


sihir kegelapan.” Angela berusaha untuk mencari tau jawaban nya. “Kalian semua,


jagalah aku kali ini. Gunakan sihir segel kalian untuk mencegah aku terbangun.


Aku penasaran apa yang akan terjadi” perintah Angela tersebut terdengar sedikit


ceroboh. “Lalu jika itu gagal bagaimana yang mulia?” tanya salah seorang


prajurit dengan wajah ketakutan. “Aku percaya pada kalian. Pengawal raja adalah


orang-orang terlipih dari yang terpilih.” Jawaban tersebut dibalas dengan


senyuman dan hormat dari para pasukan.


            “Tene et curum.” Keluarlah butiran butiran bewarna unggu


gelap disekitar Angela. Muncul juga tangan-tangan kegelapan dari tanah menopang


Angela berdiri. Mata nya seketika berubah warna menjadi hitam. “Tu-tunggu, aku


bisa merasakan kesedihan, kerinduan dan kasih sayang..” saat Angela berbicara


air mata keluar, membasahi pipi nya. Para prajurit pun langsung mensegel


keadaan tersebut. “Kalian siap? Time de Saxum!” semua pasukan mengeluarkan


sihir tersebut, membuat sebuah pilar-pilar besar jatuh dari langit. Di setiap


sisi pilar tersebut terdapat bola bewarna emas yang berputar-putar. Pilar-pilar


tersebut akan membuat siapa pun yang berada di sana tidak bisa keluar dan tidak


bisa mengeluarkan sihir.


            Angela diam. Tangan-tangan tersebut kemudian berusaha


menghancurkan pilar tersebut. Namun berapa kali pun tangan-tangan tersebut


mencoba, kekuatan segel pilar tidak akan bisa hancur. “Berani nya kalian


mengunci ku di sini! Kalian tidak bisa ap-“ kata tersebut belum selesai


diucapkan Angela. Namun, yang pasti itu adalah suara perempuan tua yang


menguasai tubuh Angela pada saat latihan, namun kali ini suara tersebut sangat


lah jelas.


            Jiwa Angela saat ini berada di dunia lain. Dunia yang


diciptakan oleh seseorang yang memiliki ilmu sihir tinggi untuk berkomunikasi


dengan orang yang masih hidup. Berbeda dengan yang dia rasakan saat mencari tau


keberadan ayahnya, kali ini tempat nya terasa damai. Tempat nya penuh dengan


warna, Angela merasa nyaman. Aneh nya adalah dia merasa jika dia pernah melihat


tempat ini di mimpi.


            “Apa yang kau lihat ini adalah Ommar pada jaman dahulu”


suara tersebut mengejutkan Angela. “Siapa kamu!?” tanya Angela dengan panik.


“Maafkan aku tidak memperkenalkan diriku. Namaku Rafaela Ommar. Memang terdengar


tidak masuk akal.” Penjelasan wanita tersebut membuat air mata Angela turun.


“Angela, kau tidak apa-apa?” wanita yang mengaku sebagai Rafaela tersebut


mencoba mendekati Angela. Namun Angela berteriak, “Jangan coba-coba menipu ku!


Iblis kegelapan.” Angela masih tidak percaya wanita tersebut adalah ibu nya.


            “Aku tau kau memang belum bisa menerima jika aku ibu mu,


kita juga baru saja bertemu beberapa detik yang lalu. Kau juga pasti binggung,


jika aku ibu mu mengapa aku berusaha mengambil alih kesadaran mu di dunia


nyata.” Penjelasan wanita tersebut ditanggapi dengan kepala dingin oleh Angela.


“Jelaskan semua nya, sekarang juga!” Angela masih sangat marah, yang membuat


nya tambah marah adalah dia tidak tau mengapa dia marah, dia juga merasakan


kesedihan.


            “Aku tidak bisa berbicara semua nya di sini. Kau harus


mencari tau nya lebih lanjut anak ku. Namun yang berusaha mengambil kesadaran


mu adalah sisi gelap ibu. Dia adalah mahluk yang tinggal di tubuh ku sejak ibu


masih kecil. Dia sangat kuat, ayah mu bahkan tidak kuat menghadapi nya, ibu

__ADS_1


juga tidak kuat mengendalikan nya. Pada saat ibu meninggal, ibu menggunakan


kekuatan nya untuk membuat jembatan dunia penghubung ini, agar kita bisa


berbicara suatu saat nanti. Namun ayah mu nampak nya melarang penggunaaan


kekuatan kegelapan. Dia takut suatu saat mahluk itu bisa keluar dari kegelapan


dan membawa kehancuran pada kerajaan.” Penjelasan tersebut masih belum


memuaskan Angela. “Kemana saja ibu selama ini?” tanya Angela tanpa memandang


ibu nya. “Ibu tidak bisa memberitau mu soal hal itu, maaf.”


            Angela yang mendengar penjelasan tersebut semakin marah.


Luapan emosi nya memberikan dampak di dunia nyata. Tangan-tangan tersebut


semakin kuat, tampak ada nya retakan pada pilar-pilar tersebut. Membuat para


prajurit ketakutan, “Kalian semua janganlah takut! Bersiap pada posisi


menyerang!” teriak salah satu dari para prajurit. Melihat luapan emosi yang


anak, Rafaela langsung menyadarkan Angela. “Hentikan amarah mu Angela! Kau


memberikan kekuatan kepada monster itu!.” Angela pun sadar jika luapan emosi


nya tadi berbahaya. Tubuh Angela di dunia nyata pun melemah kembali,


meninggalkan keheranan kepada para prajurit.


            “Kenapa kita baru bisa berbicara sekarang? Kenapa ibu.”


Angela semakin sedih. Rafaela yang melihat hal itu langsung memeluk anaknya,


“Maafkan lah ibu mu Angela, namun yang ibu lakukan ini demi melindungi kerajaan


kita.” Angela melepas rindu nya yang amat dalam dengan memeluk ibu nya dan


berteriak, dia sangat lah sedih, marah dan bahagia bisa menemukan kepingan dari


hidup nya yang hilang. Namun ketika dia baru saja ingin lanjut berbicara, tubuh


Rafaela bersinar terang, “Oh tidak! Waktu ku menipis, kita akan berjumpa lagi


Angela!”


            Angela langsung sadar dan terbangun di dunia nyata.


Tangan-tangan tersebut langsung lenyap meninggalkan keheningan. Angela langsung


berdiri dan memerintahkan para pasukan nya, “Pergi ke pusat arsip dan carilah


semua informasi mengenai pembentukan pertama Ommar dan mengenai Rafaela Ommar!”


perintah Angela diikuti dengan jawaban penuh semangat dari pasukan, “Baiklah


tuan putri!”


            Angela panik dan bingung apa yang sebenarnya terjadi pada


ibu nya. Apa yang ayah nya rahasiakan dari nya dan seluruh isi kerajaan. Tanpa


petunjuk apa pun Angela langsung pergi menuju tempat para dewan kerajaan. Jika


bahkan Angela tidak mengetahui jawaban mengenai apa yang terjadi di masa lalu


maka para dewan pasti mengetahui sesuatu.


mengembangkan diri mereka. Gloria juga terus berlatih agar menjadi lebih kuat


lagi. Walaupun begitu, mereka tetap merayakan kemenangan mereka, walaupun


wilayah mereka berhasil diambil oleh Ommar, namun mereka berhasil mendapatkan


sesuatu yang lebih baik. Tubuh sang panglima es. Firgas yang jatuh ketangan


Gloria.


            Firgas saat ini belum sepenuh nya mati. Dia masih


bernafas, namun dalam keadaan yang benar-benar kritis. Dalam ambang hidup dan


mati nya Firgas dikunci dalam sebuah ruangan yang dilapisi segel agar tidak ada


yang bisa melacak di mana keberadaan Firgas. Ruangan tersebut dikawal oleh dua pasukan


terbaik Gloria. Xordus bersaudara, salah satu dari beberapa pengawal pribadi


Gloria.


            Tidak seorang pun diperbolehkan untuk masuk ke ruangan


tersebut. Hanya Lean dan Gloria seorang lah. Gloria memerintahkan untuk membunuh


siapa pun yang mencoba masuk ke dalam ruangan tersebut. Melihat hal tersebut,


Lean jadi memikirkan sebuah rencana. Dengan bergabung dengan Gloria bukan


berarti Lean menjadi pendukung Gloria. Dia memiliki rencana nya sendiri.


            Tepat pada hari itu Gloria mengadakan rapat dengan Lean


dan para dewan kerajaan Gloria. Hal yang mereka bicaran pada hari ini adalah


mengenai Firgas. Ini adalah kali kedua Lean mengikuti rapat di kerajaan Gloria.


Dia masih tidak terbiasa dengan suasana rapat di sini. Seluruh dewan menutup


muka mereka dengan kain putih dan tidak pernah dari mereka yang mengeluarkan


suara selama rapat.


            “Perkenalkan nama ku Debtora Mythourusm, ketua divisi


kesehatan. Kita berdua belum pernah ketemu, tapi aku tau nama mu. Lean Ommar,


kakak Angela Ommar.” Debtora tidak memberi kesempatan Lean memperkenalkan diri


nya. Lean tidak suka Debtora, dia terlihat sombong dan terlihat meremehkan


Lean. Lean memang belum pernah bertemu dengan nya, namun kecantikan Debtora


membuat seluruh pasukan Gloria membicarakan nya. Dia adalah wanita di kerajaan


Gloria yang paling di sanjung.


            “Dalam rapat kali ini, aku ingin memperkenalkan mesin


pembunuh terbaru dari kerajaan kita. Ku sebut projek ini dengan nama projek


ortus. Projek mengendalikan pikiran seseorang secara penuh dan menggunakan nya


untuk membela Gloria.” Lean terkejut mendengar hal tersebut. Projek ortus

__ADS_1


adalah projek milik ayah nya yang kemudian dibuang begitu saja karena tampak


berbahaya. Lean bingung dari mana orang-orang Gloria bisa mendapatkan projek rahasia


Ommar.


            “Tubuh yang akan kita pakai adalah tubuh Firgas. Panglima


perang dari Ommar. Tuan Gloria berhasil mendapatkan tubuh nya saat pertarungan


beberapa waktu yang lalu. Saat ini dia berada di ruang bawah tanah.” Gloria


tersenyum saat mendengar nama nya disanjung. Lean menjadi sangat tertarik


mengetahui apa yang sudah orang-orang Gloria kembangkan dari projek ayah nya


tersebut.


            “Kita akan melakukan uji coba besok. Perintakanlah semua


orang untuk hadir di kastil pusat besok malam. Aku akan memperkenalkan mesin


pembunuh baru kepada publik” jelas Debtora. Lean memiliki rencana nya sendiri.


Dia dan Firgas memang tidak terlalu dekat, namun Lean masih memiliki rasa


hormat pada Firgas. Dia tidak akan membiarkan apa pun terjadi pada Firgas.


            Sesudah pembicaraan rapat pun selesai. Semua orang pergi


mengurus urusan nya masing-masing. Semua orang menjadi sibuk setelah


penyerangan Ommar ke Gloria waktu itu. Mereka semua menyiapkan semua hal


menjadi semula kembali. Lean langsung pergi menuju tempat Firgas. Lean


bertanya-tanya pada diri nya mengapa hanya dia dan Gloria yang bisa masuk


melihat Firgas, sedangkan Debtora tidak bisa.


            “Biarkan aku masuk!” perintah Lean yang langsung diikuti


oleh gerakan dari Xordus bersaudara yang membukakan pintu bagi Lean untuk


masuk. Lean langsung masuk ke dalam kegelapan. Jubah nya yang bewarna putih


langsung tidak terlihat. Dia menuruni tangga, turun ke bawah kegelapan. Siap


untuk bertemu dengan orang yang disebut nya sebagai pahlawan.


            “Firgas” sapa Lean dengan lembut. Suasa tampak hening,


Firgas pun tidak membalas Lean. Tiba-tiba saja hawa dingin yang menusuk


dirasakan Lean. Hawa yang sangat dingin yang membuat Lean sampai berlutut.


“Firgas! Dengar kan aku, aku punya rencana agar kau bisa pergi dari sini!”


suara Lean tidak berhasil menembus kedinginan yang diciptakan Firgas.


            “Apa yang kalian inginkan?” tanya Firgas kepada Lean.


Pertanyaan tersebut membuat suasana penjara semakin dingin. “Kau tidak mengerti


Firgas! Namun percayalah pada ku kali ini! Kau tidak ada urusan nya dengan


masalah keluarga Ommar! Kau harus selamat Firgas!” baru pertama kali Firgas


melihat Lean meminta seperti itu. Dia sadar jika Lean hanyalah seorang anak


perempuan kecil layaknya Angela Ommar.


            Udara dingin yang merasuki ruangan tersebut pun hilang


begitu saja. Suasa hening tersebut dipatahkan dengan kata dari Firgas, “Apa


rencana mu Lean?” tanya  Firgas. Lean


langsung senang mendengarnya, dia berhasil menyelamatkan pahlawan nya. “Dengar


baik-baik. Glora ingin mengendalikan pikiran mu dengan projek baru mereka,


menjadikan mu mesih pembunuh baru Gloria. Kau harus pergi dari sini dan pergi


ke Lazarus.” Firgas tampak tidak terkejut mendengar hal tersebut, dia tampak


mengetahui nya.


            “Sudah kuduga. Gloria tidak mungkin menangkap ku tanpa


tujuan yang pasti. Bagaimana aku bisa pergi?” lanjut Firgas dengan tenang. “Aku


akan membrikan sedikit tenaga ku lalu setelah aku pergi gunakan lah sihir teleportasi


dan pergilah.” Firgas setuju. Maka Lean langsung memulai proses perpindahan


tenaga. “Turncournis!” Lean langsung jatuh namun Firgas berhasil menahan tubuh


Lean.


            Tubuh Firgas menjadi lebih kuat sedangkan Lean kelelahan.


“Kau tidak apa-apa?” tanya Firgas sambil menatap mata Lean. “Aku baik-baik


saja. Terimakasih sudah percaya pada ku Firgas.” Senyum menghiasi wajah Lean.


Baru pertamakali ini Firgas melihat Lean seperti ini. “Lalu bagaimana dengan mu


Lean?” tanya Firgas ingin tau. “Aku memiliki tujuan untuk pergi ke sisi Gloria.


Apa yang aku lakukan adalah untuk melindungi adik ku. Sampaikan salam ku


kepadanya. Walaupun dia pasti sudah membenci ku.” Lean membalikan badan agar


Firgas tidak bisa melihat air mata nya.


            “Terimakasih Lean. Kami akan kembali lagi untuk menjemput


mu. Tunggulah saat nya.” Firgas tersenyum, dan membalikan tubuh nya. “Selamat


tinggal Firgas.” Lean menaiki tangga satu per satu tanpa melihat kebelakang.


Entah mengapa rasanya sesak. Dia juga ingin kembali ke sisi adik nya namun dia memiliki


sesuatu yang harus dia lakukan. Dia juga merasa sesak meninggalkan Firgas.


Entah kenapa perasaan itu tiba-tiba muncul.


            Xordus bersaudara membukakan pintu kepada Lean. Lean


langsung pergi meninggalkan tempat tersebut. Membiarkan Firgas pergi. Lean


berusaha menahan air mata nya agar tidak ada yang curiga terhadap nya.


Kesedihan amat berat dirasakan Lean saat ia harus melawan adik nya pada

__ADS_1


pertempuran. Berpura-pura menjadi orang jahat di mata Angela.


__ADS_2