Dahlia Hitam

Dahlia Hitam
TINTA HITAM #5, FERNANDO GERMANOTTA


__ADS_3

Pagi itu masing-masing dari mereka menerima telepon


dan juga surat serta email dari


Kepolisian Aseline. Semua orang tua mengetahui itu. Termasuk Ferdinand. Ia


menerima surat yang menyatakan untuk mempersiapkan Zach untuk interogasi. Di


dalam surat juga dituliskan bahwa Zach punya hak untuk pengacara. Sayang nya


Zach tidak ada di rumah. Ia tidak pernah pulang. Ferdinand tau bahwa


kemungkinan besar Zach berada di rumah Andrew, tetapi Ferdinand tau juga, bahwa


lebih baik membiarkan Zach waktu sendiri dulu. Lagi pula dia pasti sudah


mendapat nya dari email.


Ferdinand sedikit takut dengan apa yang akan terjadi


selanjutnya dalam hidup Zach. Dia mengkhawatirkan putra nya. Setelah semalaman


berpikir dengan kepala dingin dan merenungkan apa saja yang telah ia katakan


dan lakukan kepada Zach. Ferdinand mulai mencapai titik revolusi nya. Dia


berjanji pada diri nya sendiri, jika ia tidak ada di sisi putra nya di


saat-saat membutuhkan, apakah ia pantas disebut sebagai seorang ayah? Elizabeth


telah tiada dan sudah terjadi lama sekali. Tidak ada waktu nya bersedih. Waktu


nya sekarang adalah mendukung Zach. Apa pun rencana atau keputusan Zach.


Keributan juga terjadi di rumah Clara. Orang tua nya


panik. Tentu yang paling panik adalah ayah nya. Santriz masih terlelap di kamar


Clara saat orang tua nya terus-terusan berteriak kepada Clara untuk bertindak


lebih aktif. Clara diam saja. Dia bersikap acuh. Kali ini Clara yang akan


bertindak sendiri. Dia tidak akan menjadi boneka orang tua nya seperti


Marsella. Clara adalah seorang Mara, dan menjadi seorang Mara berarti bertindak


sendiri, tanpa ada benang dari dalang. Clara lekas mandi dan kemudian pergi ke


sekolah, karena hari itu percobaan ujian nasional masih berlangsung.


Zach datang bersama Andrew ke sekolah. Zach sekarang sudah


terlihat tenang sama seperti Andrew. Sepanjang perjalanan mereka mendiskusikan


rencana mereka selanjutnya. Sebenarnya Zach hanya berencana untuk jujur, karena


memang dia tidak melakukan apa-apa. Hubungan nya dengan Marsella dan pembunuhan


ini hanyalah kebetulan yang sial saja. Tapi untuk Andrew beda hal. Zach dan


Andrew tidak mau sampai rahasia Andrew terbongkar. Reputasi nya berharga,


begitupun harga diri nya.


Hayden datang bersama Hari. Jarang melihat Hayden


diantar Hari. Mereka menggunakan mobil yang terlihat tua. Warna biru dengan kap


yang terlihat setengah terbuka. Asap hitam keluar dari knalpot. Hayden tidak


langsung turun dari mobil. Dia berbicara sebentar dengan Hari. Pembicaraan


mereka terlihat serius. Zach sedang menunggu hingga pembicaraan mereka selesai,


tapi tidak kunjung selesai. Zach lalu memutuskan masuk ke sekolah duluan.


Begitu Clara bertemu dengan Zach dan Andrew,


pembicaraan soal surat mulai berjalan. Mata Clara bersinar-sinar penuh semangat


saat sedang berbicara. “Kalian sudah dapat suratnya?’ tanya Clara dengan suara


yang kecil. Tidak bisik-bisik, tapi tidak juga lantang. Dia lalu mengeluarkan


surat itu dari kantung jaket nya. Di situ tertulis nama Clara Mara berserta


logo Kepolosian Aseline. Zach dan Andrew mengangguk.


“Bukankah itu sudah jelas,” jawab Andrew. “Sialan. Aku


tidak mengira ini akan berjalan secepat ini.” Dia tampak sedikit frustasi. Mata


nya terus melihat ke kanan dan ke kiri. Entah ada apa.


“Tenanglah. Kita perlu rencana. Clara?” ucap Zach. Dia


menepuk pundak Andrew untuk menenangkan nya lagi. Sementara itu Clara tidak


punya rencana. Mengurus keluarga nya saja sudah pusing. Clara belum sempat


berpikir untuk ini. Sama seperti Andrew. Dia tidak mengira interogasi akan


datang secepat ini. Ini terlalu cepat untuk dipikirkan.


Tekanan mereka sangat banyak. Sungguh. Ini adalah


tahun terakhir mereka di Elizabeth, berarti tidak ada waktu luang lagi bagi


mereka. Dan mereka tertimpa dengan kasus ini. Mereka sama sekali belum


memikirkan soal ujian nasional, ujian sekolah, maupun ujian untuk universitas


negeri. Andrew saja tidak pernah lagi ikut latihan klub renang, begitupun Zach


dengan klub tenis nya. Mereka semua benar-benar stres parah. Terlalu banyak


masalah, untuk waktu yang terlalu sedikit.


“Kalian membicarakan surat?” tanya Hayden dari


belakang. Ia datang menghampiri mereka semua. Hayden kelihatan sedikit pucat


hari ini. Zach segera menyentuh kening nya untuk memastikan apakah dia demam


atau tidak. Hasil nya tidak. Hayden lalu tertawa. Tapi tawa nya terdengar tidak


sepenuh nya. “Ku rasa aku mendapat wajah pucat ini karena surat tadi pagi.


Berita brengsek nya, Hari juga dipanggil untuk interogasi” jawab Hayden serius.


Ia lalu mengeluarkan rokok dari kantung celana dan menyalakan nya. Halaman


Elizabeth tidak punya kamera pengawas, sehingga bagi siswa yang perokok tempat


ini adalah suaka mereka.


Tidak ada yang tau soal hubungan Hari dengan kasus


ini. Zach bahkan lupa untuk meminta Hayden menceritakan apa yang dia tau soal


Hari. Hayden seketika merasa bodoh. Dia keceplosan menceritakan soal surat


interogasi Hari. Dia mengumpat dalam hati nya akan kebodohan nya. Sebentar lagi


pasti akan ada yang bertanya apa soal Hari, pikir Hayden. Hayden berpikir untuk


kabur dari sana, tapi tentu itu bukan pilihan yang tepat. Tidak ada pilihan


yang tepat sebenarnya. Tapi Hayden tidak akan menyebutkan apa-apa. Rahasia Hari


adalah absolut. Lagi pula hubungan Hari dengan kasus ini tidak terlalu banyak.


Hari hanya tidak sengaja, menurut Hayden. Walau bisa dibilang Hari berhubungan


dengan Fernando, dan lalu berhubungan dengan Hayden. Semua membuat satu


kesatuan. Menyebut bahwa Hari tidak berhubungan banyak dengan semua nya adalah


kebohongan. Jika orang-orang tau apa yang telah dilakukan Hari, pasti semua


orang akan muak. Dan Hayden akan ada di sana untuk mencegah hal itu.


“Ah, maksud ku lupakan. Kau tau otak ku sedang tidak


beres belakangan ini. Tidak ada yang terjadi dengan Hari oke? Sebentar lagi


ujian mulai, ayo masuk.” Hayden lalu pergi meninggalkan mereka dengan santai,


muka normal, dan mata yang bisa menatap mata orang lain. Hayden tidak


meninggalkan jejak-jejak bahwa ia sedang berbohong. Tapi tanpa jejak itu


sekalipun, Zach tau Hayden sedang berbohong. Zach memilih untuk tidak


mengetahui soal Hari. Zach menghargai ‘keputusan’ Hayden soal kakaknya.


Ujian lalu berlangsung tanpa ada pembicaraan lebih


lanjut soal Hayden, surat, maupun rencana mereka. Hayden mengerjakan soal itu


dengan tenang dan lancar. Ia tentu memikirkan soal Hari, tapi dia juga tau


bahwa itu adalah Hari. Hari cerdas dan mungkin sedikit licik. Dia pasti


baik-baik saja. Satu-satu nya orang diruang itu yang otak nya tidak sedang


berada di ruangan adalah Zach. Pikiran nya pergi ke segala pikiran dan pilihan


serta kemungkinan. Dia memikirkan mengenai semua orang, bahkan ketika dia tidak


mau. Zach tau betapa penting nya ujian ini, tapi dia juga tidak bisa bilang


bahwa apa yang terjadi dalam hidup mereka tidak penting.


Fernando saat itu sedang memperhatikan Hayden. Dia


berpikir jika Hayden bersikap terlalu tenang untuk ukuran orang yang sedang berhadapan


dengan masalah besar seperti ini. Dan Zach bersikap terlalu panik untuk orang


yang tidak terlalu terlibat. Fernando diam, tapi dia bisa melihat semua nya.


Fernando yang saat itu duduk di pojok belakang kelas, bersender pada dinding.


Ia telah menyelesaikan soal nya. Dia sebenarnya sangat ngantuk pada saat itu.


Tadi malam, ia tidak bisa tidur. Orang tua nya sudah menyuruh Fernando tidak


usah panik dan lebih baik istirahat. Tetapi menyuruh lebih gampang ketimbang


bertindak. Fernando tidak tidur. Apa yang lebih ia butuhkan adalah teman


bicara, yang pada saat itu tidak ia punya.


Fernando beruntung memiliki orang tua yang mendukung


dan percaya pada nya. Fernando terlihat tenang luar dalam. Tidak telihat sedih,


maupun menunjukan wajah stres terhadap perkara ini. Dia tetap tertawa, dan


bercanda dengan teman seperti biasa nya. Tapi tidak ada yang mengenal Fernando


betul seperti Hayden mengenal Fernando. Fernando belum memberitau orang tua nya


soal apa yang telah ia lakukan terhadap Marsella. Orang tua Fernando yang baik


hanya berpikir jika anak nya adalah anak lucu yang tidak bersalah dan harus


dilindungi. Walau sebetulnya memang benar. Fernando tidak punya siapa-siapa


untuk bercerita, dan seperti nya mulai jatuh dalam depresi. Karena tidak semua


penjahat sadar betul dengan apa yang mereka perbuat. Terkadang ada beberapa


yang malah menjadi korban atas kejahatan nya sendiri. Contohnya adalah


Fernando.


Untuk menangani depresi nya, Fernando menulis benak


nya dalam sebuah buku. Buku yang selalu ia bawa kemana-mana, dan selalu ia


coret-coret ketika ia benar-benar merasa ingin meledak. Bukan apa, tetapi


pikiran soal apa yang telah ia lakukan terhadap Marsella terus muncul dan


muncul. Bahkan ketika dalam mimpi, ia tidak bisa kabur dari fakta bahwa ia


telah menghancurkan Marsella. Buku Fernando sebenarnya hanya berisi coretan


tidak bermakna. Berantakan dan mungkin hanya bisa dimengerti oleh Fernando


seorang.


Fernando selalu ingin memulai pembicaraan dengan


Hayden. Seperti menyapa nya duluan untuk bisa berbicara. Tapi ia tidak pernah


yakin jika itu adalah pilihan yang tepat. Ia takut bahwa itu hanya akan


memperburuk keadaan. Ia juga takut Hayden akan meninju nya lagi. Menjaga


perasaan Hayden dan menjaga agar situasi ini tidak melebar adalah tujuan


Fernando saat ini. Juga untuk memastikan diri nya bisa lepas dari masalah ini.


Apa lagi fakta bahwa dia tetap akan masuk ke dalam penjara jika polisi sampai


mengetahui soal diri nya lebih dalam.


Ketika bel selesai berbunyi, Fernando segera pergi


dari kursi nya. Ia membawa kantong makan nya keluar untuk makan di kantin


sekolah. Saat itu ruang kelas kosong. Hanya ada Zach seorang dengan pikiran nya


yang di luar kendali. Zach kenal semua orang yang terlibat dan menjadi


tersangka. Semua nya sudah diketahui motif nya masing-masing, kecuali Hari,


namun Zach mau percaya terhadap Hayden bahwa Hari baik-baik saja. Maka yang

__ADS_1


terakhir untuk diketahui adalah Fernando Germanotta. Anak perundung galak yang


dibenci Zach dan teman-teman nya.


Tidak ada yang bisa menyalahkan perbuatan Zach di


sini, sekali lagi. Zach sungguh paranoid, takut, dan hanya mencurigai Fernando.


Zach tidak tau apa-apa soal Fernando. Dia tiba-tiba langsung terlibat begitu


saja dengan kasus ini. Lalu, pada misa Marsella, Hayden langsung meninju muka


Fernando. Zach tidak terlalu sadar dan peduli akan hal-hal ini sampai sekarang.


Sampai dia sadar bahwa waktu menipis, dan mereka sama sekali tidak menemukan


kemajuan dalam kasus ini. Zach sedang menerapkan moto ‘bergerak duluan atau


ditikam nanti.’ Zach harus memulai mencari duluan, atau jika tidak seluruh grup


ini akan tumbang di akhir. Clara, Andrew, dan Hayden, mereka semua terlalu


fokus dengan urusan pribadi mereka dan tidak ada yang sadar bahwa potongan


terakhir dalam masalah ini mungkin saja Fernando.


Zach mengeledah tas Fernando. Memeriksa dari ujung ke


ujung untuk memastikan ada hal aneh atau tidak. Semua hanya berisi buku


pelajaran, kotak pensil, earphone,


lalu sebuah buku tulis yang tidak pernah ia lihat sebelum nya. Dengan cepat


Zach mengambil buku itu lalu membuka nya per halaman. Zach sungguh bersemangat.


Ia percaya bahwa buku ini adalah kunci nya. Bahwa akhirnya mereka bisa bernafas


lega karena pembunuh nya sudah Zach temukan.


Pertama, tulisan dalam buku ini tidak jelas. Lebih


mirip coretan anak kecil yang tidak bisa menulis. Coretan tinta hitam yang


kebanyakan berupa garis atau gambar-gambar yang tidak memiliki bentuk untuk


disebut gambar. Beberapa kata yang ditulis dengan banyak juga ditemukan,


seperti mati, pusing, sedih, teman, dan Hayden. Zach lalu membuka halaman berikut


nya. Kali ini dalam bentuk paragraf. Panjang dan tersusun rapi. Zach tertegun.


Dia lalu mengambil hp nya dan memfoto halaman ini. Ia lalu mengembalikan buku


itu di posisi semula. Lalu duduk di bangku nya untuk mulai membaca.


Mata Zach bergerak pelan. Ke kana dan ke kiri, untuk


memastikan tidak ada satu pun yang terlewat. Sepanjang membaca jantung nya


berdebar kencang. Perasaan takut ada orang masuk semakin menjadi-jadi. Ada


perasaan seperti ingin muntah. Perasaan seperti ada sesuatu dari perut Zach yang


memaksa keluar. Tangan nya menjadi berkeringat dan terasa sedikit dingin


mungkin. Ia ingin berhenti membaca, tapi ia harus terus membaca untuk


mengetahui. Raga nya memaksa otak nya untuk berhenti. Tapi tidak akan pernah


bisa berhenti. Tidak ada yang bisa memaksa kebenaran untuk tidak keluar dengan


sendiri nya. Tidak ada juga yang bisa menghentikan Zach untuk mencari kebenaran


nya. Takdir telah terjadi, dan waktu bagi Fernando untuk membayar akan segera


datang.


“Kau bercanda bukan?” ucap Zach setelah selesai


membaca. Mata nya berlinang air mata. Ia tidak tau harus merasakan apa setelah


selesai membaca. Mual? Benci? Marah? Atau menyesal?. Ia segera keluar dari


kelas dan berlari menuju toilet. Ia memuntahkan banyak isi perut nya. Ia merasa


sungguh mual. Ia lalu mencuci mulut nya dan melihat refleksi wajah nya di


cermin. Muka dan mata nya merah. Tangan nya gemetar. Tidak ada perasaan lebih


besar dalam diri Zach untuk membunuh Fernando sekarang juga jika perlu.


Fernando bukan manusia, namun iblis *** yang harus dibalas. Tidak ada bukti


konkret yang menunjuk Fernando sebagai pelaku pembunuh Marsella. Tapi fakta


bahwa apa yang telah Fernando lakukan pada Marsella sudah lebih dari cukup.


Zach tidak akan membiarkan ini jadi angin lalu. Ia akan bertindak. Demi keadilan


untuk Marsella.


Ia tidak mengerti bagaimana bisa manusia berperilaku


seperti itu. Apalagi bagi seorang anak SMA. Ini adalah alasan mengapa Hayden


tiba-tiba meninju Fernando saat misa waktu itu. Hayden menyembunyikan kebenaran


penting ini dari semua orang. Zach benar-benar tidak mengerti. Apa mau mereka


berdua. Terlebih Fernando. Zach tidak bisa membayangkan apa yang harus Marsella


lewati dalam hidup nya. Digunakan keluarga nya dan harus bertemu dengan pria


macam Fernando. Zach geram, marah, dan ingin meledak. Ia mengepal tangan nya


kuat-kuat. Lalu memukul kaca yang ada di depan nya hingga pecah. Tangan nya


berdarah. Rasa sakit tangan nya tidak bisa melebihi rasa sakit yang ia rasakan


di dada nya sekarang. Sakit yang dirasakan Zach tidak terlihat, tapi sungguh


berasa. Kuat dan mencekik, seperti meminta Zach untuk tidak memikirkan ini


lagi. Membawa jurnal Fernando benar-benar meninggalkan bekas luka besar di hati


Zach.


Ia keluar dari kamar mandi dan mencari Hayden. Semua


orang yang berpapasan dengan Zach di lorong melihat nya dengan takut. Darah


mengalir di tangan nya, dan muka nya terlihat seram. Zach sedang mengatur nafas


dan emosi nya agar tidak tiba-tiba berteriak di lorong. Ia sungguh, benar-benar


tidak tahan lagi untuk berteriak di depan wajah Hayden. Zach berusaha sekuat


nya untuk melupakan apa yang dia baca tadi. Semua nya. Penderitaan Fernando,


ketakutan Fernando, mimpi buruk nya, penyesalan nya, dan depresi nya. Zach


memiliki perasaan-perasaan nyata seperti itu? ****. Fernando adalah


**** sialan bagi Zach.


Zach langsung menarik kerah baju Hayden ketika melihat


nya. Ia membanting tubuh Hayden ke tembok. Andrew dengan cepat menahan tangan


Zach. “Zebua! Kau gila?” teriak Andrew yang masih menahan tangan Zach. Clara


mundur dan memegang tombol alarm kebakaran. Bersiap-siap jika sesuatu yang


tidak diinginkan terjadi. “Mundur Andrew! Ini bukan urusan mu!” Zach mendorong


Andrew mundur, tapi tenaga Andrew lebih kuat dari Zach, sehingga hal itu tidak


terjadi.


Andrew mendorong Zach ke tembok dan dengan cepat Clara


menarik Hayden keluar. Andrew mengunci leher Zach. “Tentu saja ini urusan ku


bodoh! Kita semua teman bukan?” teriak Andrew. Zach lalu tertawa. Muka nya


semakin memerah. Lalu ia menunjuk Hayden dengan jari telunjuk nya. “Kalau


begitu, bisa kau minta teman mu jelaskan apa yang terjadi pada malam misa itu?


Kenapa kau memukul Fernando, Hayden? Kenapa? Kami semua ingin mendengar jawaban


mu.”


Hayden terdiam. Dia tidak menjawab apa-apa. Dia


menatap lurus ke mata Zach. Ia tampak terkejut. Ia tidak tau bagaimana harus


bereaksi, terlebih, ia tidak tau bagaimana bisa Zach tau soal itu. “Kau tidak


bisa menjawab nya bukan Hayden? Apa perlu aku yang memberi tau apa yang pacar


mu lakukan pada Marsella!?” suara Zach meninggi. Zach mulai mengertak Hayden.


Hayden ketakutan. Di sisi lain Zach adalah teman nya, sisi lain nya lagi, ia


sedang melindungi Fernando. Ia tidak bisa memilih, sisi mana yang harus ia


pilih.


“Itu bukan salah nya... ku mohon Zach, beri dia


kesempatan untuk menjelaskan,” pinta Hayden. Suara nya lemah dan kecil. Tidak


sebanding dengan suara keras Zach. Banyak orang yang langsung berkerumun untuk


melihat. Clara segera mengusir mereka semua untuk pergi. Clara mulai dengan


mengambil foto salah satu murid dan mengancam untuk menghancurkan hidup nya


dengan bantuan ayah nya jika mereka tidak pergi. Kerumunan mulai berkurang.


Ketika kerumunan berkurang, Zach mulai berbicara lagi. “Apa dia memberi


Marsella kesempatan untuk menolak? Apa dia memberikan nya kesempatan Hayden!?


***! Pacar mu telah memperkosa Marsella dan kau diam saja?!” teriak Zach.


Pada saat itu ia tidak lagi peduli apakah ada yang mendengar atau tidak. Zach


sungguh tidak mau berpikir apa pun lebih jauh. Ia hanya ingin keadilan dan dia


akan mendapatkan itu dengan cara apa pun yang ia bisa gapai. Termasuk


menjatuhkan Fernando.


Andrew melepaskan tangan nya dari leher Zach. Dia


mundur perlahan. “Maksud mu?” tanya Andrew bingung. Sebaian dari diri nya tidak


bisa menerima apa yang baru saja Zach katakan. Sama seperti Zach, Andrew


bingung saat pertama kali mendengar nya. Dia berbalik dan menatap Hayden.


“Hayden, apa itu benar?” tanya Clara. Ia juga menatap


mata Hayden. Mereka berdua tidak tau harus percaya siapa. Hayden tidak menjawab


apa-apa. Clara menganggap itu sebagai jawaban iya Hayden. Clara datang


mendekati Hayden dengan gerakan yang cepat lalu menampar nya dengan kereas.


Pipi Hayden langsung memerah. Hayden tidak merespon balik. Ia tau ia pantas,


dan dia tidak menyesali pilihan nya sama sekali. “Kau tega Hayden. Harusnya kau


bilang kepada kita!” ucap Clara sambil menarik-narik baju Hayden sambil


menangis.


Andrew satu-satu nya orang yang tidak berbuat apa-apa.


Tidak tau harus bagaimana. Ia tidak pernah membayangkan skenario di mana ada


orang yang diperkosa di dekat nya. Ia tidak siap untuk berkomentar atau


bertindak. Lebih baik diam, ketimbang melakukan sesuatu yang fatal, pikir


Andrew. Andrew hanya menatap Hayden dengan kecewa. Zach dan Clara benar.


Rahasia seperti ini krusial. Bukan hanya krusial pada kasus yang sedang mereka


hadapi. Tapi krusial karena Andrew baru sadar betapa brengsek nya Fernando. Dia


juga siap untuk memukul Fernando sampai sekarat. Tapi Andrew bukan binatang.


Dia memilih jalur tenang. Bertanya pada Fernando tidak ada artinya, tapi bukan


berarti memukul Fernando adalah pilihan paling bijak.


“Zach, Clara... ayo pergi. Kita benar-benar tidak ada


waktu untuk omong kosong ini. Kita...” Andrew menghela nafas panjang sebelum


lanjut menyelesaikan kalimat nya. Ia susah berbicara karena ia sedang menatap


Hayden. Andrew tau Hayden tidak punya pilihan dan tindakan Zach dan Clara


seharusnya dituju kepada Fernando bukan Hayden. Andrew merasa sedikit tidak


tega. “Kita akan pikirkan rencana kita selanjutnya.”


“Kau gila... Clara, saat aku bilang improvisasi, bukan ini maksud ku!” ucap Zach marah. Dia


sedang berdiri melihat kondisi Jorge yang kacau dan ranjang Fernando yang


berantakan. Dia juga sudah mendengar soal hp Fernando yang hancur. Semua nya.


Clara tidak meninggalkan satu detail pun dalam cerita nya. Zach


menggeleng-gelengkan kepala nya sambil tersenyum ke Clara. Zach sedang

__ADS_1


memikirkan efek apa yang akan terjadi karena apa yang Clara lakukan. Bahwa ini


akan berakhir buruk.


“Aku sumpah Zach. Aku panik dan aku tidak tau apa yang ku lakukan. Dengar, aku akan memperbaiki


ini semua.” Clara lalu mengambil hp nya dan mulai menelpon seseorang. Zach


dengan cekatan sadar hal itu. “Oh tidak, tidak. Letakan hp itu Clara. Kau tidak


akan memperbaiki hal ini, tidak ada yang akan memperbaiki hal ini.” Zach


meremas dahi nya. Dia tampak frustasi dengan semua kejadian yang makin lama


makin terlihat buruk. “Kita harus mencari Fernando. Suka tidak suka, kalau


sampai kepolisian melihat nya babak belur kita akan dalam masalah.”


Clara sadar bahwa Zach menyebutkan kita yang dalam masalah, bukan dia yang dalam masalah. Clara


lega, bahwa dalam situasi seperti ini, Zach masih bisa berpikir rasional dengan


tidak marah dan lalu meninggalkan Clara mengurus semua nya sendirian. Sebenarnya,


entah dia harus lega atau tidak. Karena masalah yang Clara timbulkan adalah


masalah baru. Masalah yang akan menjadi cabang baru dari masalah Marsella.


Sebelum Zach membuka pintu keluar, Johanes datang membuka pintu itu duluan. Zach dan Clara


terkejut. Tapi yang paling terkejut adalah Clara. Ia takut, dan mungkin panik


hingga tidak bisa bergerak atau berkata-kata. Kali ini, Johanes memiliki bukti


kuat. “Clara Mara, kau ditangkap atas penganiayaan Fernando Germanotta. Detail


nya akan kami jelaskan di kantor polisi.”


“Johanes, Clara masih di bawah umur. Kau tidak bisa membawa nya begitu saja... dia butuh orang


tua nya,” ucap Zach dengan nada yang tidak yakin. Kalimat itu keluar begitu


saja dari mulut nya. Ia bahka tidak tau jika yang ia ucapkan tadi benar atau


tidak.


“Zach lebih baik kau tidak ikut campur dalam hal ini. Ini adalah hal yang berbeda dengan kasus


Marsella. Lagi pula, Clara sudah berumur 18 tahun. Apa-apaan jika kau berpikir


aku akan percaya kalian semua di bawah umur. Sekarang, permisi.” Clara bergerak


mengikuti Johanes dari belakang. Ia terus menghadap ke Zach. Muka nya terlihat


pucat. Zach saat itu segera memutar otak nya. Ia harus mencari jalan keluar


dari semua ini. Clara adalah unsur penting dalam rencana.


Mereka semua berkumpul di rumah Andrew setelah ujian


selesai. Zach dan Andrew sedang bermain konsol dan Clara sedang memakan keripik


kentang nya. Tidak ada Hayden di situ. Ia tidak diundang. Karena beberapa


alasan, yang salah satu nya adalah Andrew dan Clara yakin bahwa Zach masih


marah. Ruangan itu sangat berisik dengan volume lagu yang sangat kencang.


Mereka bisa menyebut itu sebagai pesta. Corry tidak ada di sana juga karena


Andrew menyuruh nya untuk pergi sebentar. Mereka ingin minum, dan Corry masih


di bawah umur.


Clara membawa tiga botol anggur dari gudang rumah nya.


Anggur dari cabang bisnis Keluarga Mara. Bukan yang terbaik di Aseline, tapi


yang terbaik yang pernah Zach rasakan. Andrew merencanakan ini sebagai


pengalihan terhadap emosi Zach yang tadi terlalu membeludak. Zach sudah tenang


sekarang. Ia malah sudah tidak lagi menyinggung soal Hayden. Zach sudah


terlelap tidak sadar karena ngantuk dan mungkin karena sedikit wine yang ia


minum. Andrew lalu memberhentikan permainan nya dan mulai fokus pada rencana


nya yang sebenarnya.


“Kau setuju dengan rencana nya Clara?” tanya Andrew.


Tidak pikir panjang, Clara menganggukkan kepala nya. Jika rencana Andrew bisa


membawa nya keluar dari malapetaka ini maka ia akan setuju. Lagi pula rencana


Andrew tidak buruk. Ini akan memuaskan Zach, memberi keadilan bagi Marsella,


dan meloloskan mereka dari hukuman, serta memberi hukuman bagi Fernando. Andrew


sebenarnya terlihat tidak yakin ketika menawarkan rencana ini. Rencana ini


adalah rencana terakhir yang terpikirkan Andrew. Mereka mulai kehabisan waktu, dan


salah satu dari mereka harus bisa mengendalikan situasi.


“Tentu saja. Lalu bagaimana dengan yang lain?” Andrew


tidak memahami Clara dengan maksud nya ‘yang lain’. Andrew tidak memikirkan


siapa-siapa lagi. Tidak mungkin Hayden karena jelas Clara juga tidak berada


dalam keadaan damai dengan Hayden saat ini. Lalu, orang terakhir yang mungkin


Clara maksud adalah Jorge dan Santriz.


“Kau gila jika kau berencana membawa Jorge dan Santriz


ke dalam ini semua Clara. Sial, maksud ku kita bahkan tidak tau bagaimana


rencana ini akan berakhir.” Clara kemudian membuka tas nya. Dia mengeluarkan


beberapa map. Clara melempar map-map itu ke lantai. Beberapa isi nya keluar.


Ada gambar dari rekaman CCTV, gambar percakapan nya dengan ayah nya, gambar


hubungan Keluarga Mara dengan Keluarga Gonzela, dan masih banyak lagi. “Dengar


Andrew. Kita harus mengubah bukti-bukti ini. Dan sepengetahuan ku tidak ada


dari kita yang bisa melakukan ini semua.” Clara lalu mengeluarkan sesuatu lagi


dari dalam tas nya. “Lihat ini.”


Kertas itu adalah kertas penghargaan kota. Penghargaan


untuk siswa terbaik yang bisa merakayasa barang bukti tertentu. Penghargaan itu


adalah milik Jorge Ray Loscamilo. Andrew mengerti maksud Clara, tapi ia tetap


tidak setuju. Membawa orang lain ke dalam bukanlah ide bagus. Dan bukankah ini


sedikit curang dan licik. Clara ingin melindungi Santriz dengan tidak membawa


nya ke dalam masalah ini, namun untuk menyelesaikan masalah ini, Clara menyetet


Jorge ke dalam untuk kepentingan nya dengan mengatasnamakan kepentingan bersama.


Pada saat itu, Andrew sadar betapa licik nya Clara.


“Sekali tidak akan tetap tidak. Clara jangan gila.


Jika kau ingin libatkan Jorge maka libatkan juga Santriz.” Zach terbangun


mendengar perdebatan mereka. Dia sebenarnya dari tadi bisa mendengar apa yang


Andrew dan Clara debatkan. Zach sebenarnya tau Andrew benar. Namun Clara juga


ada benarnya. Mereka tidak bisa melakukan ini semua sendirian. Harus ada yang


membantu. Jorge lagi pula menawarkan diri nya untuk membantu. Apa yang akan


diputuskan dan diucapkan Zach dalam waktu ini tidak bisa dianggap benar, atau


bahkan serius. Dia masih kesal, marah, sedih, dan bingung, walau sama sekali


tidak menunjukan nya.


“Andrew, Clara benar. Kita butuh Horhe untuk ini


semua. Dan Hayden. Kita perlu bertemu lagi dengan nya. Memberi tau kita rencana


ini. Dia harus sadar bahwa dia tidak bisa selamanya melindungi Fernando. Sekali


pemerkosa tetaplah seorang pemerkosa.” Zach berdiri lalu pergi ke kemar mandi


untuk membasahi muka nya. Kepala nya terasa sedikit pusing, dan hidung nya


terasa tersumbat. Dia menatap refleksi wajah nya di cermin. Mengingat apa yang


tadi siang ia perbuat pada kaca kamar mandi sekolah. Ia jadi penasaran, apakah


ia sedang dalam masalah besok karena telah merusak properti sekolah. Zach


merasa seharusnya aksi menonjok kaca toilet itu tidak benar-benar diperlukan.


Ia merasa malu sendiri sekarang.


Zach kembali ke ruang tamu dengan segelas air putih


hangat. Dia terus menghirup asap yang keluar untuk membuat hidung nya normal


kembali. “Jadi rencana nya kita melempar ini semua ke Fernando bukan?” tanya


Zach memastikan.


“Iya. Itu adalah rencana nya,” jawab Clara dengan


penuh keyakinan. Sedangkan Andrew terlihat tidak begitu yakin dengan ini semua.


Dia tau ini tidak benar, dan sebenarnya tidak ada jalan yang benar di sini.


Ketakutan mengambil alih akal sehat mereka. Ketakutan bahwa polisi akan mengira


mereka lah pembunuh nya, walau belum tentu polisi akan mengira mereka. Jika


dipikir-pikir lagi, sebenarnya ini sebuah berlatar belakang ketakutan mereka


bukan?


Fernando tersenyum saat melihat Clara turun dari mobil Johanes. “Wah, wah, lihat bagaimana keadaan


nya berganti. Kau adalah yang pertama Clara, selanjutnya adalah teman-teman


mu,” ucap Fernando yang berbicara dari depan pintu kantor polisi. Clara


tersenyum balik ke Fernando. Jika senyum yang Fernando lontarkan terlihat


sombong, maka senyum yang Clara berikan pada Fernando adalah senyum yang


terlihat sinis. “Aku tidak akan begitu yakin dengan kesombongan seperti itu


Fernando.”


Para polisi melihat ada nya luka pada seluruh wajah Fernando saat ia datang untuk


mengunjungi Hayden. Sebelum nya, Johanes sudah memerintahkan mereka semua untuk


melapor jika ada hal yang janggal. Mereka menganggap jika luka di wajah


Fernando adalah salah satu hal janggal yang harus dilaporkan. Mereka tidak


menanyakan itu pada Fernando. Secara diam-diam mereka melaporkan ini kepada


Johanes. Fernando lalu diminta untuk tidak pergi dulu, dan menunggu sampai


Fernando datang dengan Clara.


Fernando menganggap ini adalah langkah kecil. Clara adalah awal, dari sesuatu yang


besar. Baik bagi kubu Zach maupun kubu Fernando. Clara adalah awal dan Fernando


adalah akhir. Clara adalah pengawal semua ini. Dari rencana nya untuk membantu


Marsella, hingga rencana ayah nya untuk menghabisi putri Ivan Gonzela. Clara


juga adalah orang pertama yang diinterogasi untuk menuduh Fernando. Baik bagi


kedua pihak yang sedang berseteru, Clara adalah awalan mereka. Clara adalah


awal di mana Fernando mulai bisa membongkar kebusukan Zach dan yang lain.


 


Mulai dari hari itu. Hari di mana rencana mereka yang


sebenarnya tercipta. Hari di mana semua nya berubah. Mereka semua yang terlibat


dan yang hampir terlibat dalam kasus Marsella harus memilih pihak mereka. Kubu


Zach atau kubu Fernando. Zach jelas menang jumlah. Ia tidak menganggap ini


sebagai perang. Tapi sekarang ia menganggap ini lebih dari untuk melindungi


Andrew. Ia menanggap kasus ini sebagai media untuk memberikan keadilan bagi


Marsella. Sedangkan Fernando tidak tau apa yang akan ia hadapi sebentar lagi.


Seluruh hidup nya akan hancur. Dalam kesendirian dan kehancuran hidup nya itu


ia tidak benar-benar sendiri. Karena jika ia sendiri, tidak akan ada yang nama


nya kubu Fernando. Orang yang dianggap menjadi penolong, bisa saja berubah


haluan menjadi seseorang yang menolong pihak yang dianggap salah. Jorge Ray


Loscamilo adalah aset penting dalam masalah ini. Dan dia sudah memilih kubu nya


dari awal. Salah satu pengkhianat dalam organisasi dan salah satu penolong


Hayden dan Fernando.

__ADS_1


__ADS_2