Dahlia Hitam

Dahlia Hitam
Episode 16


__ADS_3

“Semua sudah


siap?” tanya Clara yang tampak letih. Lingkaran hitam tampak jelas di bawah


mata nya. Ini mungkin adalah pertama kali nya seorang Clara Mara terlihat letih


dan kacau.


            “Mereka memanggil Fernando.


Sekarang, tinggal Andrew dan ku rasa semua akan selesai.” Zach membuang nafas


panjang lalu menaruh kepala nya di meja. Kedai itu sangat pekat dengan wangi


kopi. Udara hujan yang dingin, dan AC yang juga dingin benar-benar membuat Zach


ingin tidur di sana.


            “Beberapa hari lagi. Kita bisa


melalui ini semua, bersabarlah.”


            “Semua


sudah siap?” Clara kaget. Ia sedang tidur di kelas saat orang yang duduk di


sebelah nya memanggil nama nya berulang kali. Dia adalah Santriz Rosmichelle,


sahabat Clara yang sama sekali tidak tau apa-apa soal kebenaran dari kehidupan


Clara Mara. Mereka sedang dalam pelajaran Ibu Ros Zebua, kakak Zach yang juga


mengajar sebagai guru. Pelajaran yang terkenal karena santai dan bebas nya.


Banyak orang yang karena itu tidak terlalu menghargai Ros, tapi tidak bagi


Clara. Clara adalah teman bicara Ros. Selain tidak dekat dengan guru lain, Ros


tidak punya siapa-siapa untuk diajak bicara kecuali Clara dan Zach. Dan


belakangan ini, pikiran Clara benar-benar dibuat berputar akibat kejadian yang


menimpa Marsella.


            “Ya,


ku rasa. Kita hanya perlu buru-buru pulang dan pergi menonton. Aku benar-benar


butuh tidur panjang setelah itu.” Clara melipat tangan nya di meja lalu menaruh


kepala nya di atas tangan. Dia berusaha kembali tidur lagi. Sebenarnya Clara


sedang tidak ingin pergi menonton. Bukan karena Santriz, hanya saja Clara


merasa dia sedang tidak ingin berbuat apa-apa. Bahkan pulang ke rumah rasanya


juga menyebalkan untuk dilakukan. Clara tidak mau bertemu ayah dan ibu nya.


Oleh karena itu sekarang Clara tinggal bersama kakek dan nenek nya yang juga


tinggal di Aseline.


            “Uhm,


sebenarnya kita tidak akan berbuat apa-apa hari ini. Tetapi ada perintah dari


kepala sekolah. Cari pasangan kalian, lalu kerjakan soal percobaan ujian


nasional ini.” Banyak orang yang berteriak ke Ibu Ros, dan Clara hanya diam dan


berusaha tidur. Ia bahkan tidak mencoba untuk mengajak Santriz. Tidak hari ini,


tetapi minggu ini, adalah minggu yang sial dan brengsek bagi Clara. Bunyi suara


meja yang digeser memenuhi ruangan, dan tidak ada yang mengajak Clara


bergabung. Santriz terlihat bingung terhadap Clara. Tepat sebelum Santriz


mengajak Clara berbicara, Zach datang ke meja Clara. Zach menatap Santriz


dengan tatapan memohon, dan Santriz yang tidak tau apa-apa hanya mengangguk.


            “Kau


sudah punya pasangan?” tanya Zach yang berdiri tepat di samping Clara dan


berpura-pura bertanya padahal Zach sudah tau jawaban nya. “Kelihatan nya tidak.


Hei Santriz?” jawab Clara yang masih dalam posisi tidur, sehingga suara nya


terdengar tidak begitu jelas.


            “Ku


rasa aku akan berpasangan dengan Jorge! Maaf Clara!” teriak Santriz yang sedang


menggeser meja nya untuk menyatu dengan Jorge. Clara langsung bangun dan


melirik ke arah Santriz. Jorge juga terlihat bingung. Dia hanya melambai-lambai


ke arah Zach dengan tatapan yang sedikit canggung. Zach mengangguk-angukkan


kepala nya, meminta Jorge untuk bekerja sama.


            “Wah,


wah. Dan kau sudah membawa kursi dan meja mu sendiri. Sebuah persiapan yang


sungguh menarik Zach. Baiklah kita berpasangan.” Zach menaruh lembaran


percobaan ujian nasional di meja nya. Lalu duduk di samping Clara. Satu hal


yang Zach tidak sadari pada saat malam itu, di mana mereka ber-empat duduk


bersama adalah wangi rambut Clara. Ia sungguh wangi. Sebelum semua ini, Zach


tidak pernah dekat, bahkan berbicara dengan Clara. Zach adalah orang yang


pendiam dengan teman dan kelompok nya sendiri, dan begitu juga dengan Clara.


Atau malah lebih tepat nya, seluruh isi kelas Zach dipenuhi dengan faksi-faksi


dengan cara dan aturan yang berbeda-beda. Sangat sulit merubah pertemanan dan


kelompok jika semua orang sudah masuk pada suatu kelompok tertentu.


            Zach


ingin memulai obrolan dengan pertanyaan yang dari tadi ingin ia tanyakan, dan


sekaligus menjadi tujuan Zach berpasangan dengan Clara. Tapi, jelas rasanya


tidak enak untuk langsung bertanya seperti itu dan berbasa-basi bukan keahlian


Zach. Clara dari tadi fokus terhadap lembaran soal, dan Zach terlihat sungguh


frustasi. “Ternyata benar, kau sungguh payah dalam mengobrol.” Zach tertawa dan


juga Clara. Itu adalah fakta yang tidak bisa Zach singkirkan.


            “Wah,


terima kasih. Aneh, kita sama sekali jarang berbicara selama ini.” Zach merogok


kantung celana nya dan mengeluarkan oreo. Zach mengulurkan tangan nya yang


sedang menggengam sebungkus oreo ke arah Clara. Clara mengambil nya dan


langsung melahap nya sekaligus. “Kau tertarik menjadi teman ku, Zach?” tanya


Clara dengan datar, dan dengan senyum nya yang khas. Terlihat arogan tetapi


masih bisa disebut rendah hati.


            “Bagaimana


jika ku jawab iya?” Entah apa yang terjadi pada Zach, tetapi hari ini dia bisa


selancar ini menggoda. Zach tidak panik atau takut atau cemas atau apa pun itu


yang biasa muncul di pikiran nya pada saat-saat seperti ini. Zach lancar dan


hanya mengikuti arus. Clara tersenyum manis, begitu juga dengan Zach.


“Bagaimana jika ku bilang jika kau sebenarnya seksi Zach?”


            Zach


meraih tangan Clara yang ada di atas meja. Dia menaikkan bibir kanan nya dan


tersenyum sambil menggigit bibir bawah nya. Clara sekarang merasa apa yang baru


saja ia katakan, bahwa Zach memang seksi jika dia sedang ingin tampil seksi.


“Kau terlihat cantik pagi ini,” ucap Zach yang membuat Clara hampir hilang


tampilan ke-angkuhan nya.


            “Sebaiknya


kita kerjakan soal ini dulu.” Clara melepaskan tangan Zach dan kembali pada


posisi duduk kaku nya. Ia kembali fokus pada kertas yang ada di atas meja, tapi


walau begitu, dia masih memikirkan yang tadi. Clara tidak bodoh, dia pintar,


cerdik, dan licik. Dia tau apa dan kenapa Zach mendekati nya, tapi biar begitu,


Clara hanya ikut bermain dengan permainan apa pun yang sedang dimainkan Zach.


            Sementara


itu, Santriz dan Jorge terus memperhatikan mereka berdua dari tadi. Lembar


mereka belum tersentuh sama sekali. Zach yang hanya terlihat bergaul dengan


sesama atlit cowok dan Clara yang biasa bergaul dengan Santriz dan Marsella.


Tiba-tiba mereka bisa duduk berdua dan mengobrol dengan sangat lancar. Jorge


yang bahkan cuek langsung ingin tau apa yang terjadi di antara mereka berdua.


“Kau sibuk malam ini Jorge?” tanya Santriz yang mata nya masih berada di Clara.


            “Tidak.


Tunggu, aku tau apa yang ada di pikiran mu,” jawab Jorge yang juga sedang


memandang Zach. Ibu Ros sadar akan dua kelompok aneh itu dari tadi, dan memilih


untuk membiarkan nya saja. Lagi pula ini SMA kan?


            “Kencan


ganda, sore ini jam 5 ikut kami nonton. Clara pasti akan mengajak Zach.” Jorge


langsung memandang Santriz. Ini bukan hal yang juga dipikirkan oleh Jorge. Jorge


mengira mereka bakal bertanya-tanya pada mereka berdua pada jam istirahat. Jorge


tidak dekat dengan Santriz, Clara, maupun Zach, dan bagi Jorge ini adalah


sebuah bencana sosial jenis canggung luar biasa. Tapi rasa penasaran Zach


melebihi pikiran rasional nya. Ia kembali menghadap ke arah mereka berdua dan


menjawab iya pada ajakan Santriz.


            “Kita


sedang dipandang loh.” Clara menyikut perut Zach dengan pelan. Zach reflek dan


menyentuh sikut Clara sebelum menyentuh perut nya. Zach, dengan posisi kepala


nya yang diam melirikkan mata nya ke arah Santriz dan Jorge. Ku rasa aku lupa


menyebut salah satu keahlian Zach. Dia jago melirik. Clara tertawa saat melihat


bola mata Zach yang terlihat aneh dari sudut pandang nya. “Wah kau benar. Kita


sedang dilirik, tapi tenang aku membalas lirikan mereka tanpa ketauan. Sekarang


kita impas.”


            Clara


cekikikan. Dia tidak pandai menutup tawa nya. Tapi agar Santriz dan Jorge tidak


sadar kalau mereka sedang dibicarakan juga, Clara berpura-pura sambil


menyikut-nyikut Zach agar terkesan kalau mereka berdua sedang tertawa karena


lawakan aneh. “Baiklah, kau mau ikut nanti malam? Nonton, bersama dengan


Santriz dan juga ku rasa bersama dengan Jorge.” Zach mengangguk-angukkan kepala


nya dan tersenyum manis seperti anak anjing ke Clara. Untuk menambah


kepura-puraan yang tadi Clara lakukan, Zach mengelitik perut Clara sampai Clara


tertawa layak nya orang gila. Semua orang melihat ke arah belakang, tempat


mereka duduk. Sedangkan Ibu Ros hanya melihat dari depan, dan tetap membiarkan


saja. “Sampai ketemu nanti sore, ku rasa?” ucap Clara sambil memandang Zach.


            “Ya,


ku rasa, hm?” jawab Zach yang sebenarnya tidak terasa seperti sebuah jawaban


dan juga tidak terasa seperti sebuah pertanyaan. Mereka kemudian melanjutkan


mengerjakan soal yang masih sedikit tersentuh itu. Hingga waktu nya bel


berbunyi, Zach pergi dari kelas. Santriz akhirnya duduk kembali bersama Clara


dan mulai bertanya-tanya apa saja yang baru mereka lakukan. Hayden dan Andrew


datang menghampiri Zach di kolam renang. Dan, sekarang tersisa Jorge Loscamilo.


Begini, Jorge adalah jenis orang yang punya banyak teman, tetapi tidak punya


teman dekat. Kedekatan sebentar nya dengan Santriz membawa nya pergi


meninggalkan realita nya yang sebenarnya, dan kini Jorge kembali ke realita


asli nya. Jorge menarik nafas panjang dan dengan keputusan cepat yang ia buat


ia segera berdiri dan mengejar Zach.


            Di


kolam renang hanya ada Zach, Hayden, dan Andrew. Murid SMA Elizabeth memang


tidak terlalu sering menggunakan kolam renang sekolah. Mayoritas murid


Elizabeth adalah pemain atau tidak, atlit klub voli. Hal itu membuat kolam


renang yang luas nya seluas lapangan ini sepi, dan hanya digunakan oleh


kelompok Zach. Yah, kelompok yang awal nya hanya dua orang ini bertambah


menjadi tiga, dan sepertinya akan bertambah lagi menjadi empat. “Hei! Aku boleh


ikut?” teriak Jorge yang berlari dari pintu masuk. Kedua tangan nya bertumpu


pada lutut nya, dan dia menarik-membuang nafas dengan cepat. Hal itu karena


jarak kelas dan kolam renang sangat, sangat, dan sangat, jauh. Kolam renang


Elizabeth berada di gedung khusus yang berada di luar gedung sekolah.


            “Tentu


saja, siapa nama mu?” tanya Hayden. Andrew memandang Zach, dan Zach membalas


pandangan Andrew dengan wajah yang sama bingung nya. Baik Andrew dan Zach,


mereka berdua kenal Jorge. Mereka hanya keget, tiba-tiba Jorge memutuskan


bergabung dengan mereka. Sudah lewat dua tahun lebih sejak awal masuk SMA, dan


ini adalah pertama kali nya mereka punya interaksi yang sungguhan. “Jorge


Loscamilo. Kau?” tanya Jorge yang mulai melepaskan kemeja nya. “Hayden Haranta.


Cukup Hayden, dan salam kenal!” Hayden langsung menjatuhkan diri nya dalam air.


Cipratan nya mengenai celana Jorge yang belum ditanggalkan. “Maaf Jorge!”


            Jorge


segera melepaskan celana nya dan langsung menjatuhkan diri nya ke dalam kolam.


Sekarang cipratan nya mengenai tubuh Zach dan Andrew yang masih berdiri

__ADS_1


kebingungan. Zach pun tertawa akan kebingungan nya dan langsung ikut berenang


bersama dengan Andrew. Air kolam terasa segar dan dingin, dibandingkan dengan


suasa Aseline yang sangat panas sekarang. Zach tiba-tiba naik ke pundak Andrew.


Andrew reflek memegang kedua kaki Zach dengan stabil agar Zach tidak jatuh.


Hayden dengan cepat melihat pergerakan Zach, dan bagai jika ini sebuah


pertempuran. Hayden menyuruh Jorge naik ke pundak nya. Jorge langsung naik ke


pundak Hayden, dan pertarungan kolam di selang istirahat dimulai. Zach


mendorong Jorge dengan sekuat tenaga. Dan Andrew serta Hayden berusaha menahan


bobot kedua orang yang sedang berdorong-dorongan itu agar tidak jatuh.


Otot-otot tangan Zach menguat. Urat-urat Jorge menonjol keluar. Entah


bagaimana, pertarungan ini menjadi serius. Pertarungan dimenangkan oleh Zach


dengan menjatuhkan Jorge dan Hayden ke dalam kolam.


            “Astaga!


Tadi seru gila!,” sahut Andrew kencang. Dia keluar dari kolam dan langsung


tiduran di lantai. Nafas nya benar-benar berantakan. Disusul Zach, Jorge dan


Hayden yang juga ikut keluar dari kolam. Hayden mengambil handuk-handuk dari


kamar ganti laki-laki, dan melemparkan nya ke tubuh mereka semua yang sedang


berbaring di lantai. “Kalian melakukan ini setiap hari?” tanya Jorge penasaran.


Jorge benar-benar merasakan keseruan dan kesenangan luar biasa selama lima


menit barusan. “Berenang? Beberapa hari dalam seminggu. Kalau dorong-dorongan


tadi tidak pernah. Permainan tadi butuh empat orang, sedangkan kami hanya


bertiga. Selamat datang di klub membosankan, Jorge.” Hayden membantu mereka


semua berdiri. Dan segera mereka kembali ke kelas karena bel sudah berbunyi. Andrew


meminjamkan jaket nya ke Jorge karena seragam nya yang basah total akibat


Hayden. Jam pelajaran selanjutnya adalah pelajaran matematika, dan juga akan


menjadi pelajaran terakhir hari ini.


Zach sedang duduk di kursi kayu karatan yang ada di


depan parkiran motor SMA Elizabeth. Jorge akan menjemput nya ke rumah Santriz.


Bagaimana Jorge bisa tau rumah Santriz? Tidak ada yang pernah tau, tapi yang


pasti, Jorge adalah pengfahal jalan terbaik yang bisa ditemukan di Aseline. Ini


semua terasa sedikit aneh. Karena hal serupa baru terjadi beberapa hari yang


lalu, tapi semua terasa benar-benar lama dan berubah total. Seperti jika hal


itu tidak pernah terjadi dalam hidup Zach. Marsella duduk di kursi ini, pada


jam yang sama, dan juga sedang menunggu.


            Jorge


datang dengan sepeda. Sepeda berwarna hitam, merah, dan kuning yang tampak tua,


dan dengan tempat duduk di belakang. Zach menepuk jidat nya dan lalu, dahi nya


tampak berkerut seraya melihat sepeda itu. Zach tidak tau jika masih ada yang


menggunakan sepeda ke sekolah, apalagi anak SMA. Dan lagi sepeda itu terlihat


terlalu pendek untuk Jorge dan Zach. Zach segera berdiri dari kursi nya. Bukan


karena ia ingin bertemu Jorge dengan cepat, dia hanya merasa jika dia tetap


duduk dan memanggil Jorge dari kursi ini maka semua akan terasa lebih mirip


pada saat waktu itu. Zach ingat dengan apa tujuan dia melakukan ini semua


sekarang. Dia ingin mengetahui kebenaran nya. Oleh karena itu tidak ada waktu


untuk memikirkan masa lalu.


            “JORGE!”


teriak Zach sambil menghampiri Jorge. Zach menggunakan kaos tanpa lengan


berwarna putih yang pas ke tubuh nya. Dengan celana jin hitam panjang yang


robek di bagian lutut nya. Sedangkan Jorge menggunakan kaos hitam dengan overall putih. “Aku tidak menggunakan


motor,” ucap Jorge dengan tawa kecil dan senyum canggung. Dia lalu


menepuk-nepuk tempat duduk yang terbuat dari besi itu. Zach naik, dan awal nya


terasa aneh. Sudah tiga tahun Zach tidak pernah menggunakan sepeda lagi. Rasanya


seperti takut jatuh, tapi lama kelamaan menjadi terbiasa dan lalu ingatan SD


dan SMP Zach yang menggunakan sepeda naik ke permukaan lagi.


            “Ngomong-ngomong,


nama ku seharusnya disebut dengan Horhe. J dibaca H. Ayah ku adalah orang NTT,


ku harap kau mengerti hubungan nya.” Zach baru sadar jika nama Jorge adalah


Jorge, bukan George. Dia bahkan tidak pernah tau jika Jorge adalah orang NTT.


Kulit nya terlihat putih-coklat. Hanya rambut keriting nya lah yang membuat


Zach sekarang sadar. “Baiklah, Horhe.” Zach tertawa karena rasanya aneh saat


mengucapkan nya. Jorge tertawa, dan rasa nya sepeda semakin bergoyang. Tapi


saat sepeda itu bergoyang, bukan rasa takut yang muncul, tapi tawa yang semakin


membesar dari Zach dan Jorge.


            Sementara itu di kantor polisi, Fernando


Germanotta datang sendirian. Dia keluar dari mobil polisi dengan borgol di


tangan. Muka nya sungguh berantakan. Lebam bekas tinju Hayden masih tersisa di


wajah nya. Dia tampak marah. Fernando baru saja selesai mandi, rambut nya masih


basah, dan dia langsung ditangkap polisi di rumah nya. Orang tua nya tidak bisa


berbuat apa-apa karena para polisi itu sudah memiliki surat penangkapan resmi.


Fernando belum ditetapkan menjadi pelaku, hanya sebagai tersangka yang


‘penting’.


            Fernando adalah orang ke-empat yang


masuk ke ruang interograsi itu mengenai kasus Marsella. Setelah Hayden,


Fernando adalah tersangka yang sangat menarik dan berharga bagi kepolisian.


Ruangan interograsi masih remang. Cat putih kebiruan nya menimbulkan efek gelap


dan dingin di ruangan itu. “Perkenalkan nama ku Johanes Alex El. Petugas polisi


yang bertugas menginterograsi para tersangka dalam kasus pembunuhan Marsella


Gonzela.”


            Fernando menatap mata Johanes dengan


tajam. Jika ini bukan kantor polisi dan yang di hadapan nya bukan petugas


polisi, Fernando pasti akan menghajar dia sampai babak belur. “Aku bisa


menuntut kalian semua atas pelanggaran hak ku. Katakan, apakah kalian bisa


dengan mudah nya menangkap ku tanpa bukti yang jelas?!” teriak Fernando. Dia


menggebrak meja di depan nya. “Sayang nya Fernando, tiga dari tersangka lain


nya menunjuk mu sebagai pelaku. Dan dengan begitu kami harus mengamankan mu.


Maaf, tetapi bisakah kita mulai interograsi ini?” balas Johanes dengan tenang.


meja nya tadi. Ingin rasanya Johanes bilang ke Fernando jika dia yakin ini


hanya tuduhan. Johanes bukanlah pemula dalam kasus seperti ini. Dia tau betul


apa-apa saja yang bisa terjadi. Tapi, kasus Marsella adalah kasus yang rumit


dan unik.


            “Pernyataan ini tidak ada hubungan


nya dengan Marsella secara langsung. Tapi jawaban mu akan bisa membantu kami


menghubungkan semua nya, dan mencari tau siapa pelaku sebenarnya. Jadi Fernando


jawablah dengan jujur. Apa hubungan mu dengan Hayden Haranta?”Hati Fernando


terasa seperti ditikam oleh banyak pisau. Hati nya jadi berdebar kencang, dan


ia takut akan apa yang mulut nya keluarkan. Fernando dan Hayden. Mereka berdua


akan melakukan apa pun agar tidak ada dari mereka yang terluka. Bahkan jika itu


artinya salah satu dari mereka harus mengkhianati sahabat mereka. Tapi itu


semua adalah masa lalu. Entah apakah Fernando dan Hayden masih punya pikiran


yang sama atau tidak.


            Fernando menarik nafas panjang, dan


menjawab pertanyaan itu. “Hayden adalah pacar ku. Dan jika kalian benar-benar


ingin tau siapa yang melakukan ini semua, biar ku bantu. Clara Mara, Andrew


Edden, Hari Haranta, Zach Zebua, Jorge Ray Loscamilo. Selidiki lah mereka dan


mungkin kau akan dapat jawaban nya. Sementara itu, Hayden tidak bersalah.”


Johanes sekarang mendapat gambaran akan apa yang terjadi pada malam itu. Ini hanya


bersifat pemikiran dan nalar Johanes saja, dan dia juga berharap ini semua


tidak benar. Hubungan antara Fernando, Hayden, dan Marsella adalah kunci utama


dalam memecahkan kasus ini, dan Fernando sudah memberi jawaban nya. Lebih dari


itu Johanes tidak peduli jika Fernando dan Hayden adalah pasangan. Fernando


adalah orang yang punya pemikiran terbuka dan prioritas nya saat ini adalah


untuk membawa Hayden lagi kemari secepat nya.


            “Bagaimana kau bisa yakin, jika


Hayden tidak terlibat? Rekaman kamera menunjukan jika dia pada malam kejadian


itu naik ke rumah Marsella tengah malam. Kami baru mendapat bukti itu beberapa


jam yang lalu” tanya Johanes. Johanes seharusnya tidak membiarkan Hayden pergi,


tapi Johanes tetaplah Johanes. Manusia yang punya perasaan dan bisa melihat


dari mata anak itu.


            “Kau punya kekasih Johanes? Kau


percaya pada kekasih mu apa pun keadaan nya? Jika aku tidak percaya dan memihak


nya pada keadaan seperti ini maka aku tidak pantas menjadi kekasih nya


Johanes,” Fernando menelan ludah nya. Rasanya sulit bagi nya untuk berbicara.


Apalagi mengatakan hal-hal seperti tadi ke orang asing. Fernando sangat ingin


menangis sekarang. Dia takut dan bingung. Lagi pula, dia hanya seorang remaja.


“Demi apa pun, aku tidak bersalah...”


            Supir


pribadi Clara lah yang mengantar mereka pergi menonton. Zach berterima kasih


kepada Santriz karena tanpa nya rasanya akan canggung sekali. Zach duduk


bersama Jorge di kursi paling belakang. Lalu Clara dengan Santriz. Malam ini


seharusnya menjadi kencan ganda anak SMA, tapi entah mengapa Santriz memilih


duduk bersama Clara di mobil. Sebelum itu Santriz sudah berjanji untuk


membiarkan Zach duduk bersama Clara saat menonton nanti, tapi Santriz sekarang


sedang ingin membicarakan sesuatu dengan Clara. Selama perjalanan, Santriz


terus berbicara dengan Clara, dan hal itu membuat Zach juga berbicara dengan


Jorge.


            “Horhe,


kau ikut klub apa di sekolah?” tanya Zach. Pertanyaan itu resmi menjadi


pertanyaan terburuk yang pernah keluar dari mulut Zachary Zebua. Kau tau,


ketika dua pria biasa ngobrol dan salah satu dari mereka tidak punya


kepribadian yang menarik, maka pertanyaan tadi bisa saja keluar kapan pun.


            Jorge


tertawa. Dia tidak tau harus jawab apa. Jorge sering dirundung atlit-atlit dan


beberapa pria lain karena dirinya payah dalam olah raga. Jorge sering dicap


sebagai banci hanya karena itu. Dan pertanyaan dari Zach barusan membuat nya


takut akan reaksi Zach. Karena bagi Jorge, Zach terlihat seperti atlit


perundung Elizabeth. Bahkan Zach dan Andrew adalah perundung. Jorge tau itu


ketika bermain bersama mereka di kolam. Dan saat itu, Jorge merasa tidak


terlalu nyaman dan tidak yakin. Namun setelah mereka mulai bermain, pikiran itu


segera lenyap.


            “Aku


tidak ikut klub apa pun. Aku payah dalam olah raga, dan aku tidak suka klub


non-olah raga yang lain. But I still hit


the gym, bro,” ucap Jorge menirukan suara orang kulit putih. Zach tertawa


dan menutup mulut nya dengan tangan nya. Badan nya gemetar dan begitu juga


Jorge yang melihat tawa Zach. Jorge lalu menguatkan otot bisep, lalu trisep nya


berkali-kali. Membuat Zach benar-benar lepas kendali. Clara tersenyum bersama


Santriz dari tempat duduk mereka. Clara menganggap jika Zach imut jika tertawa.


Mereka berdua terus menguatkan otot mereka berdua dan lanjut tertawa hingga


sampai.


            Koi


adalah bioskop kecil di Aseline. Sebenarnya tidak kecil, malahan besar. Tapi


orang-orang Aseline menyebutnya sebagai bioskop kecil karena dulu nama nya


memang begitu. Koi Sang Bioskop Kecil. Namun setelah terjadi kerusuhan di


Aseline, Koi hanya menjadi Koi saja. Gedung nya dibuat klasik dan unik. Dengan


banyak labu-labu ukir serta tanaman ivy di dinding-dinding nya yang terbuat dari batu bata merah yang tidak diberi


apa-apa lagi. Jadi benar-benar batu bata merah dengan semen yang rapih. Lalu di


atas bata merah itu terdapat lampu neon bertuliskan ‘Koi’ seperti di Hong Kong.


Lalu papan kayu kusam dengan tulisan mandarin ‘Koi’, dan juga papan nama

__ADS_1


bioskop normal juga, yang juga bertuliskan ‘Koi’.


            Sejak


turun dari mobil Zach terus berpikir bagaimana dia bisa mendapatkan informasi


dari Clara. Dia bahkan sangat buruk dalam memulai obrolan. Dan karena itu,


sejak dari tadi Zach selalu memperhatikan Clara saat membuka hp nya. Tangan


Clara selalu berkeringat, Zach sadar itu saat mereka mengerjakan soal bersama.


Hal itu membuat sensor sidik jari hp Clara tidak berguna, oleh karena itu Clara


selalu menggunakan pola. Dan sebagai anak IPS yang pintar, Zach sudah hafal


bagaimana bentuk kode nya. Tapi sekarang kembali ke titik awal. Pertanyaan


bagaimana Zach akan mendapatkan hp Clara sama dengan pertanyaan bagaimana Zach


memulai mencari tau informasi nya.


            Pada


saat dalam perjalanan, Clara memberitau semua nya kepada Santriz. Dari kenapa


masalah ini bisa terjadi, sampai apa yang Clara pikirkan mengenai tindakan


mendadak Zach. Santriz awalnya kaget, dan merasa jika ini hanya sebuah jebakan


candaan bodoh Clara, sampai Clara menunjukan wajah yang sangat serius. Clara


terus memikirkan nya di mobil. Memikirkan bagaimana kedepan nya. Clara, gadis


17 tahun itu sedang menanggung masalah yang sungguh berat. Tindakan dan pilihan


apa yang akan Clara ambil, akan menentukan bagaimana semua nya nanti. Termasuk


bagaimana nasib semua orang yang terlibat. Dan sayang nya, Jorge dan Santriz


sudah terlibat dalam kasus ini. Mereka sadari atau tidak, dengan berhubungan


dengan Zach dan Clara, mereka sudah jatuh terlalu dalam.


            Clara


sangat ingin memberikan keadilan bagi Marsella. Sungguh. Mereka adalah sahabat,


dan Clara sendiri hampir jatuh ke dalam depresi saat mengetahui apa yang


menimpa Marsella, karena itu bisa saja terjadi pada nya saat ini. Putri tunggal


Keluarga Mara adalah segala sesuatu, tetapi jika Clara mengkhianati keluarga


nya maka Clara hanya lah sebuah rintangan yang harus disingkirkan. Dan jika


begitu, itu artinya Clara harus menaruh nasib nya kepada teman-teman yang


bahkan tidak terlalu dikenali nya. Dia hanya remaja. Dia tidak bisa berpikir


seperti ini, di bawah tekanan gadis yang sudah meninggal dan tekanan keluarga


nya sendiri.


            Clara


menghampiri Zach beberapa menit sebelum film dimulai. Clara memberikan tas nya,


yang di dalam nya terdapat hp Clara, dan lalu masuk ke dalam toilet. Clara


sengaja melakukan itu. Pada saat itu, Clara benar-benar hanya bertindak dengan


apa yang menurut nya benar. Dan pada saat itu juga efek bola salju terjadi.


Pada saat di mana Zach membuka hp Clara, sesuatu yang kecil mulai terbentuk,


yang lama kelamaan akan menjadi terlalu besar. Terlalu besar hingga tidak bisa


lagi disembunyikan. Terlalu besar hingga menjadi kejatuhan mereka. Terlalu


besar hingga mereka mulai bertindak untuk menyelamatkan mereka semua.


            Clara


tidak benar-benar ke toilet. Dia bersender pada dinding yang berbalut karpet


itu. Dia berusaha mendengar jika kalau Zach bereaksi, tapi suara orang-orang


menutupi suara apa pun yang Clara harap. Saat itu juga, Jorge berada di sisi


Zach. Jorge tampak bingung dengan apa yang dilakukan Zach. Dan mata Zach begitu


bersinar saat melihat hp Clara. Zach percaya pada Jorge untuk tidak membocorkan


apa yang dia lihat. Entah bagiamana Zach bisa percaya begitu cepat pada orang


yang baru ia temui hari ini. Jorge sendiri juga jadi penasaran apa yang ada di


hp Clara.


            Zach


segera menuju ke aplikasi pesan Clara. Mata Zach dengan cepat mencari hal-hal


yang dirasa nya janggal. Gerakan tangan Zach berhenti ketika ia menjumpai pesan


dari Dad. Tanpa segan, Zach segera


membuka pesan yang belum dibaca itu. Ada banyak pesan dari ayah Clara yang


tidak Clara balas. Zach terus menggeser ke atas. Hingga hari Marsella ditemukan


meninggal. Jantung Zach berdebar sangat kencang ketika membaca pesan itu. Rasa


nya Zach ingin duduk, meremas kepala nya, dan mungkin membanting hp Clara. Dia


sangat ingin menelpon Andrew dan Hayden saat itu, tetapi dia tau jika pikiran


nya sedang tidak baik.


Dad    : Clara, jika kau tidak berbuat sesuatu mengenai Marsella maka


kita semua  akan hancur! Sayang, kami


sedang tidak berada di rumah, dan jika kami berada di rumah kami yang akan


melakukan nya. Kami mohon, sebagai bagian dari Keluarga Mara, lakukan tugas mu,


Clara.


Dad    : Kami sudah mendengar kabar soal Marsella. Bunuh diri? Kau yang


melakukan itu semua? Sungguh Clara. Kau hebat. Mama mu terus memuji mu dari


tadi. Kami tidak sabar bertemu dengan mu.


Dad    : Clara kau berada di mana sekarang? Kembali lah ke rumah.


Dad    : Tolong hubungi kami. Kami mohon Clara.


Dad    : Owen bilang jika kau bertemu dengan Andrew dan Hayden kemarin


malam. Biar ayah ingatkan kau Clara, jangan berbuat sesuatu yang tidak bisa kau


lakukan.


Dad    : Jika kau tidak pulang atau menghubungi ayah, Owen akan menjemput


mu secara paksa dari sekolah.


Dad    : Clara, ini peringatan terakhir.


Jika


begitu, biar ku pastikan anak angkat mu juga akan mati. Jangan lupa ayah,  aku tidak pernah suka Brook. Aku bisa membunuh


nya sekarang. Berhenti menghubungi ku. Aku adalah anak mu, bukan budak suruhan


mu!


          Clara akhirnya keluar dari kamar mandi. Dia tampak


gelisah, tapi masih bisa menampilkan muka tenang nya. “Aku melakukan ini semua


karena aku mau percaya pada kalian,” Clara menarik nafas nya dan memandang Zach


dengan dalam. Mata Zach benar-benar penuh emosi. Seperti jika Zach bisa saja


meledak kapan pun dari sekarang. “Aku tidak membunuh Marsella, maupun berniat


membunuh kakak angkat ku, Brook. Aku tidak akan pernah membunuh sahabat ku


sendiri. Aku berniat membantu Marsella kabur. Aku sudah siap, tapi semua


terlambat karena ada ******** yang membunuh dia. Dan ******** ini. ******** ini


merusak hidup ku sekarang. Dan mungkin hidup kau dan kita semua nanti nya.


Zach, saat kau memilih untuk menyelidiki ku, pada saat itu juga kau sudah


menjadi bagian dari kami. Marsella mungkin tidak percaya pada ku, dan


menganggap ku sama seperti ayah ku, tetapi biar ku buktikan pada mu jika itu


semua tidak benar.”


            Zach,


seorang diri, tidak tau apa yang baru saja ia dengar. Yang ia tau hanya diri


nya yang sebenarnya tidak tau apa-apa. Dan bahwa Andrew dan Hayden berbohong.


Zach sungguh kesal. Sungguh kesal hingga rasanya ia tidak mau menonton apa-apa


saat ini. Zach mengembalikan hp dan tas Clara lalu pergi dari bioskop. Dia


tidak berbicara apa-apa. Dan Clara tau bagaimana perasaan Zach saat ini. Jorge


yang bingung segera mengejar Zach. Zach berada di luar bioskop, sedang duduk


sendirian, dan wajah nya sungguh merah. Jorge duduk di sebelah Zach. Dia


sebenarnya bingung harus berbuat apa.


            “Kau


tau kau bisa berbicara. Aku di sini, Zach.” Jorge mencoba menatap mata Zach.


Mata Zach penuh dengan emosi. Kedua tangan nya dikepal dengan sangat kuat.


Seperti siap untuk meninju orang. Jorge pelan-pelan menyentuh tangan Zach. Lalu


mencoba menatap kedua mata nya lagi. Zach membalas tatapan mata Jorge, dan


tersenyum. Dia menarik nafas lalu membuang nya dengan dalam. “Aku rasa aku


tidak mau berpikir apa yang akan terjadi jika kau tidak di sini, Horhe.” Zach


tertawa. Tawa nya terdengar menyedihkan dan miris. Dia kelihatan sedih seperti


pada malam di kamar mandi Hayden waktu itu. Zach sungguh tidak tau apa-apa


mengenai ini semua. Lalu tiba-tiba dia tau jika semua orang di samping nya tau


dan memilih diam serta berpura-pura pada nya untuk tidak tau. Dia hanya mau tau


kenapa.


            “Aku


benci pembohong. Sumpah, rasanya aku sangat benci kepada Andrew dan Hayden hari


ini,” Zach merendahkan kepala nya hingga menyentuh paha. Suara nya kecil saat


mengatakan itu. Ini adalah sisi lemah Zach. Dan sisi yang paling jarah Zach


tunjukan ke orang lain. Hanya Andrew yang sering melihat Zach seperti ini.


Sekarang Jorge. Melihat Zach, Jorge merasa jika tidak semua orang sesuai dengan


apa yang orang lain pikirkan. Zach adalah atlit dan juga perundung, tapi bukan


berarti dia tidak punya sisi lembut. Zach tetap seorang manusia.


            “Kau


tidak benci. Kau marah. Dua hal itu berbeda, dan sebaiknya kau tidak


menggunakan kata benci kepada teman mu,” Jorge menepuk-nepuk pundak Zach. Mata


Jorge bersinar terkena refleksi lampu jalan yang mulai menyala. Sebagian dari


wajah nya bercahaya oranye. Zach menghembuskan nafas nya. Pikiran nya masih


belum tenang, walau begitu dia harus bertemu dengan Andrew ataupun Hayden. Zach


tidak yakin jika dia bisa tidur sebelum mendapat jawaban.


            Zach


mengambil hp nya. Dia baru ingat kalau dia tidak punya nomor Jorge. Dan jika


Zach mau memasukan nomor seseorang ke hp nya itu artinya orang itu sudah


menjadi teman Zach. Sungguh, Zach tidak punya nomor anak kelas nya. Dia bahkan


tidak masuk ke dalam grup pesan kelas. “Tidak akan ada yang mengatakan ini,


tetapi Horhe, kau adalah teman yang baik. Selamat datang di klub perundung.”


Zach menyodorkan hp nya ke Jorge dengan jendela kontak yang sudah terbuka.


Jorge memandang Zach sekali untuk memastikan jika apa yang dipikirkan nya benar


atau tidak. Lalu Zach tersenyum dan tertawa melihat tingkah Jorge. Jorge


memasukan nomor nya ke hp Zach. Nama kontak nya adalah Horhe.


            “Hayden, sayang...,” ada jeda sebelum


Fernando bisa melanjutkan kalimat nya. Dia menarik nafas yang cukup panjang.


“Kita sama sekali belum berbicara, dan aku tau aku bersalah. Aku minta maaf.


Sungguh, aku tau aku tidak layak untuk dimaafkan. Aku menyakiti mu, dan Marsella.


Aku sungguh ******** dan brengsek. Tapi ku mohon jangan diamkan aku seperti


ini. Rasanya seperti mati.” Fernando mengakhiri rekaman suara nya dan langsung


mengirim nya ke Hayden.


            Sejak misa waktu itu, Hayden dan


Fernando tidak pernah berbicara atau bertemu lagi. Hayden lepas kendali dan


begitu juga Fernando. Tidak ada yang bisa menyalahkan mereka berdua pada


kondisi yang seperti itu. Bahkan, orang dengan otak terdingin dan yang paling


tenang sekali pun pasti akan lepas kendali jika ada di posisi mereka. Dan hari


demi hari sejak kejadian itu, rasa nya bagi Fernando seperti mati. Dia dituduh


oleh Zach dan yang lain nya, dan Hayden, satu-satu nya orang yang dicintai dan


mencintai nya menghilang.


            Pernah sempat terpikirkan oleh


Fernando untuk kabur dari Aseline atau bahkan bunuh diri. Tapi dia yakin jika


nyawa nya lebih berharga dari tuduhan murahan ini. Fernando masih ingin


bahagia. Dia masih ingin bisa bahagia bersama Hayden, seperti dulu.


            Fernando sedang duduk di bar. Dia


minum terlalu banyak, dan menangis terlalu banyak. Walau kedua orang tua nya


percaya jika Fernando tidak bersalah, Fernando tetap merasa jika dia sendirian


dalam masalah ini. Dia hanya tidak tau bagaimana bisa Zach dan teman-teman nya


menuduh Fernando terlibat dalam pembunuhan Marsella.


            Fernando memang terlibat. Tapi dia


tidak membunuh Marsella. Fernando memiliki hubungan dengan Marsella. Hubungan


kecil-bodoh yang dibuat Fernando sendiri. Fernando ingin mencoba melakukan nya


dengan perempuan. Tapi yang disebut ‘coba’ oleh Fernando jelas adalah jelas


pemerkosaan. Dan hal itu membuat Fernando tidak bisa tenang. Dia tau dia

__ADS_1


bersalah, dan dengan sangat jelas Fernando tau dia tidak lebih dan lain dari


iblis.


__ADS_2