Dahlia Hitam

Dahlia Hitam
14


__ADS_3

“Apa hubungan mu


dengan Fernando Germanotta?,” pertanyaan itu terdengar pertanyaan biasa. Tapi


bagi nya ini adalah pertanyaan yang menjebak. ‘Siapa yang memberi tau


kepolisian?’ benak itu terus berputar-putar di kepala nya. Dia tidak menjawab


pertanyaan itu. Dia diam selama beberapa detik, menanti dan memilih petugas


untuk mengajukan pertanyaan selanjut nya. Dia sadar jika petugas terus melihat


mata nya.


            “Dia hanya pelanggan kakak ku, tidak


lebih dari itu petugas.” Jelas sebuah kebohongan. Sang petugas tau itu. Hayden


Haranta menyimpan kebohongan yang lebih. Berbohong kepada petugas polisi


bukanlah hal bijak, apalagi jika dalam posisi interogasi. Petugas polisi


membiarkan hal itu. Dia hanya menuliskan fakta jika Hayden berbohong mengenai


hubungan nya dengan Fernando Germanotta. Fakta bahwa Hayden berbohong, membuat


nya masuk ke dalam tersangka utama dalam kasus ini.


            “Kalau begitu, apa yang terjadi pada


malam itu Hayden? Kami tau kau berada pada malam kejadian. Malah, kami tau jika


semua dari daftar tersangka ada pada lokasi kejadian malam itu. Ceritakan versi


mu Hayden.” Hayden merasa tercekik. Seperti orang asma yang kurang oksigen.


Tapi, Hayden tidak punya asma, dan oksigen sedang tidak habis di ruangan


interogasi. Petugas tau jika Hayden menyembunyikan sesuatu. Muka nya terlihat


takut dan panik. Dan petugas tau jika hanya butuh beberapa kalimat, dan kasus


melelahkan ini akan segera selesai. Bagi Hayden, kasus ini jauh dari kata


selesai. Pelaku utama nya masih berkeliaran, dan tidak akan pernah bisa tertangkap


pihak kepolisian. Hayden menggigit bibir bawah nya. Dan tidak melepas nya,


sampai dia membuka mulut.


            “Aku butuh pengacara. Aku punya hak


untuk diam. Kau tidak bisa memaksa ku berbicara petugas,” ucap Hayden dengan


tenang. Seperti semua kepanikan dan ketakutan yang tadi ia rasakan lenyap. Dia


hanya menghirup banyak udara, dan mengucapkan kalimat itu.


            “Kami mengerti. Terima kasih


Hayden.”


            Hari


Rabu seharusnya menjadi hari di mana semua murid menggunakan seragam pramuka.


Lalu, muncul Zach yang menggunakan batik hitam dengan celana panjang hitam.


Tidak membawa tas. Jika ada murid yang tidak mengenal Zach, maka bisa


dipastikan jika orang akan mengira dia sedang melayat di sekolah. Perpustakaan


sekolah dibuka pada jam 4 pagi, dan seharusnya Zach datang mengambil semua nya


jam 4. Namun, dia bahkan tidak bisa bangun jam 6. Mereka berdua baru bangun 10


menit yang lalu. Dengan Hayden dan Zach yang sekarang memegang kotak makan


mereka masing-masing sambil berjalan menuju gerbang sekolah.


            “Ola, Andrew.” Zach menjepit hp nya


dengan kepala dan bahu nya sambil makan. Andrew menelpon, dan patut diketahui


Andrew adalah tipe orang yang tidak menggunakan hp nya di pagi hari. Jika


Andrew menelpon Zach sekarang, maka itu pasti urusan yang penting.


            “Bisa


kau bawakan semua nya kepada ku? Aku sedang berjalan menuju halaman sekolah.


Ah, baiklah. Hayden! Bisa kau ambil hp ku dari bahu ku?,” teriak Zach yang


masih menjepit hp nya. Gerakan tangan nya yang terus menyendok nasi kuning


semakin cepat, saat jarak nya dengan kelas semakin dekat.


            Hayden


mengambil hp Zach dan memasukan nya ke kantung celana Zach. Mereka berdua


berpisah saat sampai di ruang kelas Zach. Seketika, Zach baru sadar jika dia


tidak tau Hayden kelas berapa dan di mana kelas nya. Begitu menengok ke arah


Hayden pergi, Hayden sudah tidak terlihat lagi. Zach bahkan lupa meminta nomor


Hayden. Dia menepuk jidat nya. Dan Andrew yang sedang bersandar di bingkai


pintu hanya bisa bingung.


            Andrew


menyerahkan tas, dan juga kemeja Zach. “Ini pagi yang aneh. Ngomong-ngomong


siapa dia?.” Zach langsung memikul ransel nya. Berat nya tidak bisa


dideskripsikan. Ada kira-kira 6 buku tebal dari pelajaran yang berbeda, tidak


termasuk 2 buku besar. Dia menggulung-gulung kemeja nya di pergelangan tangan


nya. “Hayden Haranta, teman baru ku, dan ku rasa akan jadi teman baru mu. Kau


tau dia dari kelas mana?,” tanya Zach sambil masuk ke dalam kelas yang masih


setengah terisi. “12 IPS KHUSUS. Kau tau kelas yang isi nya anak-anak beasiswa


yang super-super pintar?”


            Zach


tidak pernah dengar apa pun soal kelas itu, maupun kumpulan anak-anak beasiswa


yang super-super pintar. Dia juga pemegang beasiswa, tapi Zach merasa sekarang


dia tidak sepintar itu. Zach tidak sadar betapa banyak yang ia tidak ketahui


soal Hayden. Padahal mereka berdua sudah menghabiskan waktu banyak, dalam


banyak, menurut Zach semalam sudah banyak. Dan Zach merasa sudah dekat dengan


Hayden. Tapi, tidak ada satu hal pun yang Zach ketahui. Hayden masih terasa


misterius bagi Zach.


            Tiga


jam bukan waktu yang lama bagi Zach untuk dilewati. Tapi, barusan adalah tiga


jam pelajaran Matematika. Zach memandang anak-anak kelas nya kebanyakan sebagai


munafik. Mereka suka meminta jawaban dan meminta tolong dalam hal pelajaran


pada Zach, tapi Zach sering kali mendapati mereka berbicara mengenai Zach di


belakang. Zach hanya benar-benar tidak peduli jika yang meminta adalah Andrew.


Dan Zach tidak terlalu peduli pada mereka. Hanya satu tahun lagi menuju


kelulusan, dan hal yang sanga tidak ingin Zach miliki sekarang adalah


pertengkaran dan drama SMA.


            Fernando


adalah yang terparah. Dulu nya adalah teman Zach. Mereka bermusuhan karena


Fernando mendapat teman yang baru, dan lama kelamaan tidak sedekat yang dulu


dengan Zach. Lalu, Zach yang terlalu kesal dengan teman baru Fernando, mereka


cemburu dan merasa takut sendirian. Beberapa hari setelah memutuskan sendiri,


Zach bertemu dengan Andrew di kantin sekolah. Zach yang sedang duduk membaca


novel nya, tanpa menyentuh gado-gado nya dihampiri oleh Andrew. Sejak saat itu,


mereka menjadi teman, dan rencana menyendiri Zach lenyap begitu saja di kantin.


            Andrew


sedang tertidur di kelas. Sehingga Zach memutuskan untuk turun ke kantin. Kantin


SMA Elizabeth adalah yang terunik. Ruang makan kantin nya berada di luar


ruangan. Dengan sebuah taman bunga dahlia yang dicat hitam. Aneh, tapi menurut


anak klub seni, merah terlalu ‘normal’ bagi SMA Elizabeth. Zach membeli


gado-gado dan duduk persis di samping taman dahlia hitam. Tiba-tiba seorang


gadis duduk di samping Zach, lalu menghadap ke Zach dan tersenyum mengucapkan


selamat pagi.


            “Pagi


Zachary. Aku jarang melihat mu duduk di sini.” Saat orang mengatakan jika


Marsella adalah gadis yang ramah, Zach tidak terlalu yakin akan fakta itu.


Hingga kejadian tadi terjadi. Ada apa dengan gado-gado di kantin sekolah?


Setiap dia makan gado-gado di kantin dan duduk sendiri, selalu ada orang yang


menghampiri diri nya. Zach sedikit merasa jijik dengan panggilan Marsella pada


diri nya. ‘Zachary’ menimbulkan efek mual dan merinding bagi Zach. Dalam dua


tahun lebih di SMA Elizabeth, hanya guru-guru yang memanggil Zach ‘Zachary’


lalu muncul lah Marsella.


            “Pagi.


Aku sering membawa makanan dari rumah, namun karena kesialan maka hari ini


tidak. Bagaimana pagi mu?” Zach membuang ide untuk mendekati Clara Mara hari


ini. Ide itu digantikan dengan ‘mendekati Marsella Gonzela’. Ini bagai


tangkapan ikan yang besar. Orang yang mau Zach dekati malah mendekati diri nya


ke Zach. Tapi harus diakui, ini adalah percakapan yang lumayan canggung. Zach


yang gugup dan Zach yang tidak pernah berbicara sepatah kata pun dengan


Marsella.


            “Membosankan!


Hp ku disita Bu Hamjah hanya karena ibu ku menelpon pada saat pelajaran.


Padahal sudah berusaha ku matikan,” ucap Marsella memelas. “Bagaimana dengan


kau?.” Percakapan ini sungguh terlalu normal. Zach merasakan kecanggungan luar


biasa dari percakapan ini. Rasanya Zach sangat ingin menguap, dan Zach terus


menutup mulut nya untuk tidak memberi kesan pertama yang kurang bagus. Sembari


ia berbicara mengenai pagi nya, ia terus memutar otak nya untuk mencari topik


yang bagus. Kurang lebih bisa disimpulkan jika Marsella lah yang menggendong


topik percakapan ini.


            “Biar


ku tebak. Kau yang menggendong topik pembicaraan ini Marsella?,” ucap Hayden


yang tiba-tiba muncul di belakang mereka. Ia lalu melompati pondasi taman yang


kira-kira tidak terlalu tinggi. Dan duduk di tengah-tengah Zach dan Marsella.


Entah ini hal yang Zach inginkan atau tidak. Tapi setidaknya sekarang topik nya


tidak akan se-keruh tadi.


            Hayden


menepuk pundak Zach dan Marsella, lalu menunjuk ke belakang mereka. Bunga


dahlia hitam. “Kau tau kenapa anak klub seni mencat warna dahlia nya menjadi


hitam?.” Hayden bergantian menatap mata Zach, lalu Marsella, lalu terus


diulangi sampai salah satu di antara mereka mau menjawab. Zach hanya


menggelengkan kepala nya, begitu juga Marsella. Jika Zach, dia hanya ingin tau


jawaban nya saja tanpa menebak-nebak.


            “Dahlia


merah melambangkan ketidakjujuran dan pengkhianatan. Lalu anak klub seni


berpikir jika ketidakjujuran dan pengkhianatan tidak mencerminkan realita


dunia. Mereka lalu menambahkan warna hitam, yang mereka artikan sebagai


kematian karena pengkhianatan dan ketidakjujuran.” Zach tidak terlalu ambil


pusing dan peduli soal arti dari kumpulan bunga yang bahkan jarang dilihat nya.


Tapi satu hal yang Zach dapat dari informasi tadi adalah, bahwa anak klub seni


isi nya adalah orang-orang edgy.


Seketika, Zach mendapat kilas balik masa SMP nya, terutama awal-awal puber.


Ingatan-ingatan menjijikan itu membuat Zach merinding dan merasa jika


pembicaraan mengenai anak klub seni yang edgy harus segera dihentikan.


            “Baiklah.

__ADS_1


Kita punya sekumpulan orang-orang aneh di sini. Ehm! Mari kita ganti arah


pembicaraan ini. Kau kosong malam ini Marsella?,” tanya Zach dengan cepat dan


yang entah dari mana Zach bisa selancar barusan. Zach langsung sadar apa yang


baru saja ia ucapkan ketika Hayden memberi nya tampang ‘apa yang baru saja kau


lakukan bung!?’. Zach menepuk jidat nya dengan pelan.


            “Mari


bertemu di sekolah. Pukul 5, jangan terlambat Zachary.” Marsella kemudian


berdiri dan memegang kepala Zach lalu mengelus-ngelus nya sebelum dia pergi


meninggalkan kantin. Hayden nampak binggung. Dan jika Hayden bingung, apalagi


Zach. Dia terdiam dan super bingung akan apa yang baru saja terjadi. Pertama,


kencan mendadak itu, lalu tindakan Marsella. Zach yakin jika dia hanya terlalu memikirkan


ini, dan Zach berkomitmen untuk tidak luluh. Tujuan Zach kepada Marsella


hanyalah sebatas informan untuk memecahkan misteri sekolah.


            “Malam misa itu, mengapa kau meninju


Fernando di sana Hayden?,” tanya petugas polisi. Hayden sudah bersama pengacara


nya. Tapi tetap saja, pengacara atau tidak ada pengacara, tidak ada yang bisa


menghilangkan rasa yang dialami Hayden saat ini. Apa yang terjadi sekarang,


tidak seperti yang direncanakan. Rencana mereka akan gagal jika Hayden


melakukan tindakan yang salah. Hayden tau itu, jika keberhasilan mereka


sekarang di pundak Hayden. Hayden adalah yang kedua untuk diwawancara. Clara


berhasil melakukan nya dengan baik, tapi Hayden, siapa yang tau apa yang akan


terjadi.


            “Hanya sebuah pertengkaran normal


anak SMA, aku yakin kau dulu juga pernah mengalami atau bahkan melakukan hal


serupa, petugas.” Petugas terlihat tidak memakan jawaban Hayden. Tapi, tentu


saja jawaban Hayden tidak cukup untuk melepaskan Hayden. Petugas menarik


secarik kertas dari amplop yang ada di atas meja. Kertas itu dibaca nya dengan


cepat, lalu dimasukan lagi ke dalam amplop. Tidak ada yang tau apa isi amplop


itu. Tapi yang jelas, ada hubungan nya dengan Hayden, Zach, dan Marsella.


            “Apa yang Fernando lakukan terhadap


mu? Maksud ku, jika itu hanya pertengkaran normal anak SMA, tidak ada salahnya


untuk bercerita bukan?,” ucap petugas sembari memasukan kertas ke dalam amplop.


Mata nya menatap lurus ke arah Hayden.


            Hayden menatap pengacara yang


berdiri di belakang nya. Sang pengacara kemudian berdiri di samping Hayden. Dia


meletakkan kedua tangan nya di atas meja. “Pertanyaan itu lebih baik disampikan


kepada Fernando Germanotta. Ku rasa pertanyaan untuk klien ku sudah selesai.


Kami pergi. Selamat malam petugas.”Akhir dari interograsi Hayden. Atau


begitulah yang dikira Hayden. Siapa pun orang selanjutnya, Hayden hanya


berharap ia tidak gagal. Siapapun dia, dia harus bisa menutup kasus ini untuk


selamanya. Demi Marsella, dan demi keselamatan yang lain.


Sekolah masih ramai. Hari rabu adalah hari ekstra bagi


klub pramuka Elizabeth. Klub tersepi sekaligus klub yang paling dibenci oleh


kebanyakan murid. Selain karena kebijakan wajib pramuka 1 tahun bagi semua


murid. Pramuka di Elizabeth dinilai terlalu banyak peraturan yang memaksa dan


mengikat murid nya. Hayden adalah salah satu murid pendiri Penolakan Klub


Pramuka Elizabeth, atau PKPE. Isi nya adalah seluruh klub-klub Elizabeth yang


bergabung satu untuk meminta kepala sekolah menutup klub itu dan menghilangkan


kebijakan wajib satu tahun. Mereka tidak pernah berhasil, tapi anggota mereka


selalu bertambah.


            Marsella


sedang duduk di bangku besi yang sudah karatan di dekat parkiran motor. Dia


terlihat cantik hari ini bagi Zach. Rambut nya digerai, dan dia choker hitam


dengan tali yang menjulai ke bawah. Zach berhenti sebentar di sisi jalan dan


melihat tubuh nya. Ya, memang tidak bisa terlihat. Zach menggunakan jersey


basket hitam dengan pinggiran berwarna emas dan celana basket lusuh. Zach


menepuk jidatnya dan merasa bodoh. Dia sekarang terlihat seperti orang yang


baru selesai bermain basket dan memutuskan untuk mengajak orang berkencan.


            “ZACHARY!,”


teriak Marsella dari tempat duduk nya. Dia melambai-lambaikan tangan nya. Lalu


berlari menuju Zach. Zach sedang mempersiapkan diri nya untuk berpikir keras


dengan menyiapkan banyak topik sepanjang perjalanan. Jantung nya berdebar


kencang. Tidak, tentu saja bukan karena Zach suka terhadap Marsella. Hanya saja


Zach suka merasa canggung dengan orang yang tidak dikenal nya dengan baik.


Terutama karena Zach suka memikirkan apa yang orang lain pikirkan terhadapnya.


            “Kau


terlihat cantik Marsella.” Hayden adalah orang yang menyuruh Zach berkata


seperti itu. Sekarang reaksi Marsella akan menentukan, apakah Hayden akan


dipukul Zach besok atau tidak.


            “Dan


kau terlihat seksi. Aku tidak tau kau menggunakan anting telinga, hidung, dan


punya tato.” Marsella menarik tangan Zach dan mulai berjalan. “Ayo. Biarkan aku


menjadi pemandu kota mu malam ini.”


            Zach


memerah. Sangat-sangat merah. Tidak ada yang pernah menyinggung soal anting dan


tato nya. Dan kini, ia sungguh merah. Mengalahkan semua warna merah pada benda


nya, dan berakhir di bisep kiri nya. Aku tau, Zach sungguh terlihat bodoh


sekarang. Zach tersenyum sendiri, dan tiba-tiba menjadi semangat. Zach yang


tampak nya mulai menggeser komitmen untuk menyelidiki misteri sekolah.


            Mereka


tidak makan atau minum atau bahkan melakukan hal yang biasa nya dipikirkan oleh


kebanyakan remaja akan mereka lakukan saat hanya ada dua orang. Berdua.


Bersama. Dan mungkin saling menaruh harapan berlebih? Hayden dan Marsella


berjalan kaki mengelilingi kota. Cukup jauh, sampai rasanya mereka sudah


berjalan lebih dari 30 menit. Kali ini, banyak percakapan yang mereka lakukan.


Tentu saja, bukan Zach yang memulai. Marsella yang terus memulai topik.


Marsella tidak keberatan akan hal itu, malah dia melihat Zach sebagai cowok


yang imut dan seksi di saat bersamaan. Pikiran Zach sedang bingung apa yang dia


lakukan. Dia bahkan tidak bertanya apa pun soal misteri sekolah pada Marsella.


Malam itu, Zachary Zebua hanya menikmati malam remaja normal nya bersama gadis


populer SMA. Malam yang dinantikan cowok-cowok SMA lain nya.


            Mereka


berjalan masuk ke dalam perumahan yang tampak seperti perumahan orang kaya.


Rumah-rumah bertingkat dengan banyak cat putih. Taman rumah mereka sungguh luas,


dan jika dipikir-pikir, luas taman di sini seluas dapur rumah Zach. Di sini


ramai. Banyak rumah yang sedang berpesta, atau begitu kelihatan nya. Banyak


juga orang yang berjalan di luar. Berpasangan dan tidak sendiri. Marsella


berhenti di suatu rumah. Rumah berlantai tiga di jalan berbentuk T. Rumah


bercat putih dengan kolam renang 360 derajat di lantai paling atas.


            Marsella


menarik tangan Zach untuk masuk ke dalam. Rumah nya gelap. Dan juga sepi. Tidak


ada suara selain suara sepatu Zach dan Marsella. “Orang tua ku tidak tinggal di


sini. Jadi hanya ada kita berdua Zachary.” Zach sudah terlalu sering menonton


video dan film seperti ini, kalimat tersebut, adalah awal dari permulaan yang


tidak bagus dan juga bagus. Zach tidak membalas apa-apa. Dia hanya mengikuti


Marsella naik ke lantai tiga rumah nya. Zach tau Andrew akan sangat girang


begitu melihat kolam ini. Zach mengambil foto kolam nya.


            “Aku


tidak tau atlet tenis suka terhadap kolam,” ucap Marsella yang datang membawa


botol soju. Bagaimana Zach bisa tau itu botol soju? Zach dan Andrew adalah


peminum soju terbaik di Aseline. Tentu saja, mereka melanggar peraturan dengan


minum di bawah umur. Tapi, bukankah semua remaja berbuat demikian?


            “Kita


belum boleh minum Marsella,” ucap Zach agar tampak polos di depan Marsella.


Zach seketika merasa jijik dengan apa yang dia ucapkan. Tidak biasanya dia


berusaha menjaga reputasi nya seperti ini. Zach adalah orang yang jujur ceplas


ceplos. Dan perkataan nya barusan, benar-benar merubah diri nya. “Berani


bertaruh? Tidak ada remaja di kota kecil ini yang belum pernah minum atau


melanggar peraturan. Anak SMP di sekolah kita bahkan sudah mengendarai motor.


Itu juga melanggar peraturan bukan Zach.”


            Marsella


sungguh menggoda Zach malam ini. Pergantian panggilan dari Zachary ke Zach


membuat Zach benar-benar terbang. Dan jika bisa diekspresikan dengan kata, Zach


terangsang dengan suara Marsella. Zach mendongkakkan kepala nya ke langit


malam. Jari-jari tangan nya menekan bola mata nya dan mengucek nya. Lalu, Zach


menarik nafas yang banyak. Berusaha untuk mewaraskan kembali otak nya. Berusaha


untuk mengembalikan diri nya kembali ke tujuan awal nya. “Maaf Marsella. Tapi, aku


serius. Seperti nya aku harus pulang.”


            “Aku


suka pada mu.”


            Zach


berusaha mencerna apa yang baru dia dengar. Marsella menyakan suka pada Zach.


Jika saja ada Andrew dan Hayden di sebelah Zach saat ini untuk memberi tau nya


apa yang harus ia katakan. Karena dalam lubuk hati Zach yang terdalam, dia sama


sekali tidak menaruh perasaan pada Marsella. Malah, Zach menuduh Marsella


sebagai dalang misteri sekolah. Kencan ini, dan semua yang Zach lakukan hanya


untuk mendapatkan informasi belaka. Dan jika apa yang dikatakan Marsela benar,


Zach merasa amat bersalah.


            Tangan


Zach meraih botol soju yang Marsella letakkan di meja, dan meminum nya sampai


habis dalam sekali teguk. Saat ku bilang Zach adalah peminum yang terbaik, aku


bersungguh-sungguh. Zach lalu menjatuhkan diri nya ke dalam kolam di belakang


nya. Sungguh, Marsella terlihat bingung apa yang baru saja terjadi. Demikian


juga Zach. Dia tidak tau bagaimana, kenapa, dan mengapa. Zach tidak tenggelam


seperti biasa ia lakukan. Dia mengapung di kolam dengan sepatu dan seluruh


pakaian nya yang masih melekat. “Marsella, kau yakin jika kau tidak suka pada


orang yang salah?,” ucap Zach pelan sambil menatap langit malam. Hingga


akhirnya semua terasa gelap, dan perlahan-lahan rasanya Zach jatuh ke dalam,


dan semakin dalam.

__ADS_1


Badan Zach sudah tidak menapak tanah. Badan nya


bergetar-getar dan kepala nya berada di atas punggung orang. Zach sedang


dibopong oleh Andrew. Zach kemudian pura-pura tidur. Ingatan akan apa yang baru


saja terjadi mulai masuk dengan sangat cepat ke otak nya. Dia merasa malu.


Meneguk satu botol soju dan tenggelam di kolam orang yang bahkan tidak dikenal


nya dengan baik. Malam yang seharusnya menjadi kencan berubah menjadi sesuatu


yang jauh dari kata kencan. Zach masih bersender di punggung Andrew, namun mata


nya tidak tertutup. Dia terus melihat ke arah jalan.


            “Terima


kasih Andrew,” ucap Zach pelan seperti orang yang habis bangun tidur. Dia


kemudian menggeliat agar Andrew melepaskan nya. “Haaa... kita, tidak perlu


membahas apa yang baru saja terjadi, oke?”


            “Apa


yang baru saja terjadi di rumah Marsella, Zach?” Saat Zach berharap tidak ada


yang membahas hal memalukan itu, Andrew malah memulai percakapan dengan topik


itu. Bahkan, rasanya Zach tidak mau menatap Marsella besok. Zach merasa sudah


melakukan sesuatu yang sungguh memalukan, yang tentu nya akan diingat Marsella


sampai mereka lulus. Skenario bagaimana cara menghindari Marsella selama satu


tahun kini sedang dimainkan di otak Zach.


            “Soju.


Kolam. Jatuh. Pertolongan. Gendong.” Zach rupanya belum sadar apakah dia sudah


tidak mabuk atau mabuk atau memang benar-benar bodoh. Zach kemudian jatuh


dengan sengaja ke arah tubuh Andrew. “Ku mohon maafkan aku, ini tidak akan


terjadi lagi.” Zach menggeleng-gelengkan kepala nya dan menggendong Zach lagi


ke punggung nya. Mereka berjalan menuju rumah Andrew. Andrew tau Zach tidak


akan sadar betul hingga pagi. Mereka berdua sudah terlalu sering menghabiskan


waktu bersama, sampai-sampai bisa tau setiap senti tubuh mereka berdua.


            Bulan


sedang bersinar terang. Malam ini tidak berawan. Dan bulan berbentuk bulat


sempurna. Jika Zach sedang di rumah nya, dia akan naik ke genteng. Kepala


menghadap ke langit. Menonton Netflix sambil memakan biskuit yang dicelup ke


dalam teh. Tapi malam ini, dia malah terkapar di punggung Andrew. “Kau tau


Andrew? Aku tidak yakin jika aku saat ini sadar atau tidak?”


            Andrew


memundurkan kepala nya ke belakang, hingga rambut nya mengenai muka Zach.


“Rambut mu halus,” ucap Zach dengan pelan dan sungguh lembut. Dia nampak seperti


bayi sekarang. Bayi besar yang sungguh menjengkelkan. “Berarti kau sadar.


Baiklah Zach, kapan terakhir kali aku memperingati mu untuk berhenti minum?


Kita sudah kelas 12, bla bla dan bla bla lagi, kita harus belajar, kau tau itu


bukan? Aku sumpah ini terdengar bukan seperti ku, tapi kau bermimpi masuk UI


bukan?” Andrew Edden bukan lah orang yang mengejar nilai, maupun bersikap layak


nya murid yang belajar, ulangan, tidur, dan mengulangi kegiatan itu sampai


lulus. Andrew adalah pemberontak nakal yang sial berbakat. Dia mendapat


beasiswa ke Amerika Serikat. Oleh karena itu Andrew bertekad untuk membantu


Zach, setidaknya masuk ke universitas yang menurut ia mustahil.


            “Kau


tidak terdengar seperti Andrew,” sahut Zach. Jarak rumah Andrew dari posisi


mereka sekarang masih jauh. Sedangkan Andrew sudah berkeringat basah. Dia


khawatir jika Zach sadar punggung nya basah, Zach akan turun dan tidak mau


merepotkan. Hayden mulai mencari bahan pembicaraan untuk membuat mereka berdua


lupa akan waktu. Berbicara di perjalanan suka berhasil dalam mengurangi waktu


perjalanan. “Ceritakan bagaimana Hayden orang nya.” Andrew seketika sadar jika


itu adalah pertanyaan yang aneh dan salah. Zach baru saja menghabiskan malam di


rumah seorang gadis, bukankah seharusnya Andrew bertanya bagaimana Marsella?


            Zach


tertawa selama beberapa detik sebelum menjawab. Tertawa nya kencang dan


terdengar seperti maniak. “Aku tidak tau kau begitu Andrew. Hayden orang yang


sungguh seru, kalian harus bertemu. Dia selalu tau saat aku tidak memberi tau,


ku rasa kami bisa menjadi sahabat yang baik.” Jawaban Zach terdengar keluar


dari mulut orang yang sadar, walau begitu Andrew masih terus menggendong nya.


Andrew sendiri tidak punya opini apa-apa akan jawaban Zach. Andrew kenal


terhadap Hayden, walau hanya sebatas berpas-pasan di lorong. Tapi satu hal


lagi, Andrew tau sesuatu mengenai Hayden. Rahasia Hayden. Rahasia yang


seharusnya tidak Andrew ketahui.


            “Lalu


bagaimana dengan Marsella, kau menyukai dia?” tanya Andrew yang mulai


memelankan kecepatan jalan nya. Zach sadar akan hal itu. Dia pun menarik pundak


Andrew untuk jatuh ke salah satu kursi taman. Andrew hanya mengikuti arahan


dari dorongan Zach. Sekarang mereka berdua duduk di taman. Di belakang mereka


terdapat sebuah taman lagi yang tidak se-sepi tempar mereka sekarang. “Tidak.


Rencana ku untuk mendekati nya hanya sebatas mengetahui keterlibatan nya dalam


misteri sekolah kita, tidak lebih.” Zach menyudahi jawaban nya sebelum ia


hampir menyebut jika Marsella mengakui perasaan nya kepada Zach. Zach tetap


merasa bersalah, bahkan setelah sebotol soju, dan malam yang panjang ini. Malu


dan merasa bersalah, itu yang Zach rasakan.


            Zach


merasa ingat sesuatu. Dia seperti, sadar jika ada yang salah, tapi ia bahkan


tidak tau apa itu yang salah. Zach meraba-raba tubuh nya, lalu melihat baju dan


celana nya. Lalu mengintip ke dalam celana untuk melihat celana dalam nya.


“Anjing! Apa-apaan Andrew!?” Andrew tidak bisa menahan tawa nya saat Zach


akhirnya benar-benar sadar. Sekarang, tawa Andrew terdengar lebih maniak dari


pada tawa Zach tadi. “Siapa. Yang. Mengganti. Baju. Ku?”


            “Kau


ingin aku menjawab Marsella, atau aku, atau kami berdua?”Andrew tidak bisa


menatap Zach. Dia terus tertawa, bahkan lebih kencang. Zach kemudian menjepit


leher Andrew dengan tangan nya. Tapi usaha nya tidak bisa menghentikan tawa


Andrew. “Tentu saja aku bodoh.” Tidak ada jawaban yang benar-benar membuat Zach


tenang. Andrew berarti sudah melihat Zach telanjang, dan pikiran itu membuat


Zach lebih malu dari ******** nya terhadap Marsella tadi. “Astaga, malam ini


sumpah malam yang sial!” teriak Zach berusaha mengalahkan tawa Andrew yang


masih kencang. Andrew benar-benar tidak tahan. Dia mendapat telepon dari


Marsella, meminta nya untuk datang menjeput Zach. Lalu Marsella meminta lagi


untuk membawa baju ganti. Andrew tidak pernah membayangkan jika dia harus


mengganti baju dan juga celana dalam dan lagi, menggeringkan tubuh Zach dengan


handuk. Hal yang tidak bisa dilupakan oleh Zach dan juga Andrew.


            “Pertanyaan


tambahan. Di mana baju ku?” tanya Zach yang badan nya bergetar-getar. Dia juga


tertawa. Entah apakah Zach menertawai kebodohan malam ini atau menertawai fakta


jika teman nya melihat tubuh nya telanjang. “Marsella akan membawa nya besok.”


Zach tertawa lepas dan kencang. Kesialan nya bertambah lagi. Besok dia


benar-benar sudah tidak bisa menghindari Marsella. Zach tertawa karena kesialan


nya sudah berada jauh di luar kemampuan nya untuk menerima kesialan.


            “Kau


lapar?” tanya Andrew. Rahang mereka berdua sudah sakit akibat tertawa berlebih


yang bertahan bermenit-menit. Zach menguap hingga air mata nya keluar. Rupanya


tawa tadi membuat nya mengantuk. “Entahlah Andrew, aku hanya ingin pulang ke


rumah mu dan tidur sekarang, mungkin kita bisa makan pagi saja?”


            Andrew


berdiri dan menarik tangan Zach untuk bangun. Tangan Andrew melingkari pundak


Zach dan juga Zach demikian. Mereka berdua berjalan pulang ke rumah, dengan


postur jalan dan tubuh layaknya dua pria kantor lembur yang mabuk. Mungkin kata


mabuk tepat untuk mendeskripsikan Zach. Zach sengaja jalan terhuyung-huyung


untuk membuat candaan orang mabuk, dan Andrew juga mengikuti nya jalan


terhuyung-huyung. Sekarang jika muncul satpol pp, maka keadaan bisa menjadi


lebih sempurna bagi mereka.


            Petugas polisi ikut keluar dari ruang


interograsi setelah Hayden dan pengacara nya ikut keluar. “Tunggu!,” petugas


menarik nafas yang dalam, dan memandang Hayden dari belakang. Hayden sama


sekali tidak melirik ke belakang untuk melihat apa yang terjadi. Pengacara


Hayden menyuruh Hayden untuk terus berjalan. “Hayden Haranta, anda kami tahan


atas dasar tuduhan dalam pengikut sertaan pembunuhan Marsella Gonzela.”


            Hayden langsung berbalik menghadap


petugas polisi. Dia sekarang tidak merasakan takut dan gemetar yang tadi ia


rasakan. Dia marah. Hayden sungguh amat marah, karena ia mengetahui kebenaran


yang ada. Tapi kebenaran itu tidak bisa ia sampaikan. Jika sampai kebenaran


soal Marsella jatuh ke kepolisian, maka yang akan ikut jatuh bukan hanya sang


pelaku, tapi juga mereka semua. Hayden, Zach, Andrew, Clara, Fernando, dan


Hari.


            “APA SEMUA TIDAK JELAS BAGI MU!?


MARSELLA BUNUH DIRI. DIA TIDAK DIBUNUH SIAPA PUN. TUHAN TOLONG AKU, TAPI KAU


HARUS MEMBUKA MATA MU UNTUK SADAR!,” teriak Hayden. Banyak anggota kepolisian


yang keluar dari ruangan mereka untuk melihat apa yang terjadi.


            “Kau sentuh Hayden dan hal terakhir


yang akan terjadi adalah laporan dari ku soal tuduhan tidak berbukti kalian.”


Zach datang sambil berlari-lari di lorong. Nafas nya terengah-engah. Dia


kelihatan pucat, dan juga lebih panik dari pada Hayden. Petugas tidak bingung


melihat datang nya Zach. Zach, orang terdekat kedua dengan Marsella selain Clara


Mara. Merupakan tersangka dalam kasus ini. “Nama ku Zachary Zebua, aku datang


duluan untuk bersaksi. Bebaskan Hayden, dia tidak bersalah!”


            Zach maju dan berpas-pasan dengan


Hayden. Zach menepuk punggung Hayden. Memegang tangan nya dengan posisi panco mereka.


“Tenang lah bung, kami akan membereskan sisa nya.”


            “Kau bisa pergi Hayden. Silahkan


ikut aku Zachary.” Petugas pergi bersama Zach masuk ke dalam ruang interograsi.


Hayden bersama pengacara nya pergi meninggalkan kantor polisi. Hayden terus


menarik nafas panjang. Dia sungguh tenang sekarang. Hati nya berhenti berdebar


kencang, dan kembali dalam kecepatan normal. Sedangkan mata nya, terus menatap


ke belakang. Dia khawatir akan apa yang Zach hadapi di dalam. Dia berharap


semua ini tidak harus terjadi. Hayden berharap dia tidak pernah melihat ‘itu’

__ADS_1


semua. Hayden sangat berharap, dia tidak menjadi adik dari Hari Haranta.


__ADS_2