
Pagi itu adalah neraka bagi murid kelas 12 SMA
Elizabeth. Pagi itu ide brilian datang mengunjungi kepala sekolah, dan entah
bagaimana dia mendadak mengadakan percobaan ujian nasional. Sebenarnya tidak
ada yang peduli pada percobaan kali ini. Bahkan ada yang masa bodoh dengan
nilai yang akan didapat. Termasuk Zachary Zebua. Dia bahkan tidak berniat
membuka buku nya. Dia dan Andrew sedang menunggu Hayden di kolam renang. Memang
tempat yang aneh untuk menunggu seseorang. Selain karena memang malas, Zach
tidak bisa fokus belajar sebelum mendapat jawaban dari Hayden soal Hari.
Andrew
sibuk membalik lembar buku nya dari tadi, dan Zach sibuk berenang di kolam.
Percobaan dimulai pada jam 9 nanti, dan sekarang masih jam 8. Dan Hayden belum
juga datang. Zach tidak suka belajar. Dia adalah tipe orang yang sulit fokus
jika itu adalah suatu keharusan. Zach hanya bisa belajar jika dia tidak
memiliki tekanan. Sekarang, dia memiliki segudang tekanan, dan Zach hanya bisa
mengandalkan otak nya nanti untuk menjawab semua soal. Zach adalah murid yang
cerdas. Begitulah yang orang dan diri nya kira. Jika tidak, tidak mungkin Zach
bisa mendapat beasiswa ke Elizabeth.
Pada
hari itu, Hayden memberitau Zach jika dia yakin Hari juga punya keterlibatan
dengan kasus ini. Hayden begitu yakin karena ia merasa ada yang janggal dengan
kasus ini. Hayden yakin jika mereka semua kurang satu orang lagi untuk
melengkapi kekurangan dalam kasus ini. Andrew, Clara dan diri nya tidak
memiliki bukti telah membunuh Marsella, walau salah satu dari mereka telah
membunuh Marsella pasti tidak akan ada yang mengaku. Tapi walau begitu, semua
alasan mereka memang jelas benar dan masuk di logika. Mereka semua memiliki
motif, dan Hayden juga mengakui itu. Motif mereka jelas, tetapi tidak ada yang
benar-benar membunuh. Hayden yakin jika Hari bukan pembunuh nya, tapi Hari
mungkin saja bisa melengkapi titik yang hilang.
Zach
keluar dari kolam dan langsung mengeringkan badan nya. Sebentar lagi percobaan
dimulai dan Hayden belum juga datang. Zach sudah mencoba menelpon bahkan
mengirim pesan secara terus-terusan ke Hayden. Andrew tidak terlihat terlalu
peduli pada hilang nya Hayden lagi. Zach sempat berpikir jika hal yang sama
terulang lagi pada Hayden. Dia sempat panik, lalu tenang lagi ketika memikirkan
tidak mungkin jika Hayden akan melewatkan percobaan ujian nasional ini.
Situasi
di Elizabeth sangat sepi dan diam. Tidak ada suara orang berbicara sama sekali,
kecuali suara sepatu bot Zach saat menaiki tangga. Banyak orang yang masih
belajar dan Zach memilih untuk naik ke lantai paling atas untuk mencari angin.
Andrew dari tadi juga lumayan diam. Dia terlalu terfokus kepada buku nya. Zach
sudah sebal melihat orang dari tadi terus-terusan belajar. Rasanya membuat Zach
merasa bersalah karena tidak belajar. Dan lebih dari itu, Zach tidak bisa
berhenti memikirkan Hayden yang menghilang. Tidak ada yang tau bagiamana rasa
nya ketika terakhir kali teman mu menghilang dia mencoba bunuh diri, dan
sekarang dia menghilang lagi.
Jorge
melihat Zach dan Andrew di lorong menuju tangga ke atas. Jorge segera menutup
laptop nya dan memasukkan nya ke dalam tas. “Zach!” seru Jorge dengan tidak
terlalu keras. Zach menengok ke arah suara itu, dan memberi arahan agar Jorge
menghampiri mereka. “Kau tidak belajar?” tanya Jorge yang mulai membuka buku
catatan Bahasa Indonesia. Zach sekarang merasa sungguh muak. Jika bisa ia ingin
berteriak agar dua orang di samping nya itu bisa berhenti membaca. “Tidak. Aku
khawatir, Jorge menghilang dan aku benar-benar tidak ingin belajar.”
Zach
menaiki tangga satu per satu dengan pelan lalu berhenti. Dia berpikir jika
rasanya lebih baik jika mereka pergi ke taman bunga dahlia. Zach lalu menuruni
tangga dengan cepat, diikuti oleh Andrew dan Jorge tanpa pertanyaan. Tinggal
beberapa menit lagi sebelum percobaan dan Zach semakin tidak niat untuk
mengikuti nya. Bahkan saat itu Zach berniat untuk bolos.
Suara
sirine polisi berbunyi mendekat ke sekolah. Zach segera mengintip melalui
jendela di samping tangga. Tidak hanya satu mobil, kira-kira ada lima mobil polisi
yang berhenti tepat di gerbang masuk sekolah. Zach menelan ludah nya, dan
telapak tangan nya berkeringat. Saat itu kepala nya sungguh pusing dengan beban
pikiran yang kiat memenuhi ruang otak nya untuk menghirup oksigen. Zach
buru-buru turun ke bawah. Dia melompati anak-anak tangga agar bisa lebih cepat.
Dalam hati nya Zach terus mengulangi kalimat agar ini bukan soal Hayden.
Para
polisi itu masuk ke dalam ruang ujian 12 IPS yang berada di lantai 1. Zach
segera mengikuti mereka dari belakang lalu masuk ke dalam kelas. Kebetulan
mereka bertiga berasal dari kelas itu, jadi itu akan menjadi alasan Zach jika
ia ditanyai. Para polisi itu melihat ke arah guru yang waktu itu sedang duduk
untuk menunggu waktu ujian dimulai. Polisi itu maju ke tengah kelas dan mulai
melihat-lihat semua orang yang ada di kelas. “Pagi semua nya. Maaf jika kami
menganggu waktu kalian. Tapi ini mengenai kasus bunuh diri Marsella Gonzela.
Berita terbaru nya itu bukanlah bunuh diri. Marsella dibunuh, dan dengan hormat
kami memanggil beberapa nama untuk ikut kami ke kantor polisi. Clara Mara,
Hayden Haranta, Zachary Zebua, dan Andrew Edden. Lalu, Fernando Germanotta.
Serta tambahan untuk Hayden Haranta, kakak mu sudah berada di kantor bersama
kami.”
Zach
kaget setelah mendengar itu. Dia terus mengulang apa keterlibatan nya dalam hal
masalah ini. Dia bahkan tidak berbuat apa-apa seperti Hayden maupun Andrew
ataupun Clara. Kecuali, dia adalah orang terakhir yang Marsella temui malam
itu. Seketika rasanya ia ingin lari dari kelas. Pergi sejauh mungkin sampai
tidak bisa ditemukan. Zach melirik ke arah Clara. Wajah Clara tampak pucat,
tapi ekspresi nya masih tampak tenang tidak bergeming. Santriz segera menengok
ke arah Clara yang terdiam tenang. Zach mencoba melakukan hal yang sama. Ia
menarik nafas dengan normal, dan membuang nya dengan normal. Walau begitu,
tangan nya tetap bergetar. Zach memasukkan kedua tangan nya ke kantung celana
agar tidak ada yang sadar. Walau begitu, jantung Zach tetap berdebar sangat
kencang. Tidak pernah sekencang ini. Dan entah bagaimana, Zach khawatir jika
ada orang yang bisa mendengar detak jantung nya. Dia menjadi sungguh paranoid.
Sementara itu Andrew terlihat biasa saja. Zach melirik Andrew, dan Andrew
memberi sinyal untuk bersikap wajar dan tenang. Jorge hanya terus menatap
mereka berdua terus-terusan. Jorge sama seperti semua orang di situ, tidak tau
apa-apa. Ada perasaan bingung dan marah dalam diri Jorge. Jorge sedikit marah
karena rasanya dia tidak diberitau apa yang terjadi, padahal mereka adalah
teman.
Salah
seorang polisi di belakang Zach berbisik-bisik. Mereka kemudian mengeluarkan
selembar kertas dari tas yang mereka bawa. Gambar dari kertas tersebut tampak
jelas karena cahaya lampu, dan kertas nya yang tipis. Zach bisa melihat nya
dengan samar-samar. Itu adalah kumpulan foto mereka. Salah seorang polisi itu
kemudian menunjuk mereka satu per satu. Clara lah yang pertama berdiri lalu
maju ke depan. “Ku rasa kami punya hak mendapat pengacara sebelum berbicara apa
pun bukan, petugas?” ucap Clara lantang.
“Betul.
Tapi sekarang, kalian wajib ikut kami ke kantor.” Pria yang menggunakan tanda
pengenal nama sebagai Johanes Alex El kemudian maju selangkah dan menyentuh
pundak Zach. Zach sontak kaget dan berbalik menghadap Johanes. Reaksi Zach
sungguh panik. Jorge lalu menenangkan Zach dengan menepuk-nepuk pundak Zach.
“Tenang. Kau tidak sendiri oke?” ucap Jorge. “Sebenarnya apa yang terjadi
Zach?”
Zach
menggelengkan kepala nya. “Panjang, sungguh. Aku akan menjelaskan semua nya
saat mereka tidak ada di sini” ucap Zach dengan bisik-bisik. Jorge hanya
mengangguk setuju. Dia tidak bisa banyak protes untuk ingin tau jika kondisi
nya seperti ini.
Tidak
ada satu pun dalam kelas yang berbicara. Antara mereka yang takut terhadap
kedatangan sejumlah polisi atau memang mereka terkejut akan kebenaran kasus
Marsella. Jika mereka terkejut hanya dengan ini saja, mereka akan lebih
terkejut lagi nanti nya. Kasus Marsella sungguh adalah kasus yang unik. Keterlibatan
murid Elizabeth sebenarnya hanyalah bagian kecil dari keseluruhan cerita ini.
Masih banyak lagi yang tersembunyi. Dan pada hari ini, pagi ini, semua akan
mulai terhubung, semua akan mulai bisa dimengerti kenapa dan mengapa. Hari ini
adalah titik awal bagaimana semua bisa terjadi.
“Bagaimana
dengan ujian percobaan kami? Kami butuh belajar loh, bagaimana kalau nanti
sore, setelah ini semua selesai,” ucap Andrew kepada petugas. Suara Andrew
tenang dan dia mengucapkan itu dengan sangat lancar. Zach bahkan terkejut
dengan fakta bahwa hanya Andrew, orang di antara mereka yang bisa tenang soal
hal ini.
Pria
bernama Johanes itu lalu melihat ke belakang. Ke arah rekan-rekan nya. Mereka
semua mengangguk. Padahal Johanes belum berbicara atau bahkan melakukan
apa-apa. “Baiklah. Kami akan ke sini setelah apa yang kalian lakukan ini
selesai. Terima kasih.” Para polisi itu lalu pergi dari ruang kelas. Seketika
Zach bisa bernafas lega. Oksigen yang tadi nya terasa dicuri oleh para polisi
sekarang sudah kembali di kontrol Zach. Clara segera menghampiri mereka. “Clara
sudah memperingati ku dan Hayden jika ini mungkin saja terjadi. Aku sudah
mempersiapkan nya. Tapi aku tidak tau soal selanjutnya.” Jorge kemudian
menyela. Dia tampak sedikit frustasi. “Sebenarnya ada apa? Bisakah salah satu
di antara kalian memberi tau ku?” desak Jorge. Guru yang saat itu mengawas lalu
mulai mendiamkan semua orang. Zach memberi tau Jorge jika saat jam istirahat
nanti dia akan mendapatkan jawaban nya. Sementara itu, mereka melanjutkan
kegiatan mereka.
30
menit berlalu, dan Zach tidak bisa fokus mengerjakan. Sebenarnya tidak hanya
Zach, Clara dan Andrew juga. Zach terus mencoret-coret meja nya dengan gambar
sketsa mata terus-terusan. Dia sungguh dalam keadaan yang tidak baik. Dia tidak
ingin bicara, dan dia tidak ingin berbuat apa-apa. Zach berada dalam posisi di
mana dia berharap dia tidak pernah terlibat dalam ini semua. Dia kepikiran
dengan apa yang akan ayah nya katakan. Karena pasti, Ferdinand tidak akan
__ADS_1
senang mendengar ini. Zach butuh dukungan dan ribuan kata-kata baik sekarang,
tapi rasanya itu tidak cukup untuk menenangkan nya.
Zach
menyelesaikan soal Bahasa Indonesia dalam waktu 1 jam setelah menghabiskan 30
menit dengan tidak berbuat apa. Zach terus melirik ke arah Andrew dan Clara.
Mereka berdua terlihat sedang serius mengerjakan soal nya. Zach juga melirik ke
Jorge yang juga sedang melirik Zach. Melihat Jorge, Zach jadi seperti melihat
diri nya sendiri. Dulu tidak tau apa-apa dan hanya berniat baik, tiba-tiba
entah bagaimana bisa tergabung dalam masalah sialan ini. Jorge belum terlibat,
dan Zach akan berbuat apa saja agar Jorge tidak sampai terlibat. Sudah terlalu
banyak orang terlihat. Zach sendiri tidak tau bagaimana bisa seseorang membunuh
sesama manusia lain, apalagi pelajar SMA. Jika pembunuh nya bukan Hayden,
Andrew, dan Clara, maka Zach berpikir pasti Fernando. Tidak ada yang bisa
menyalahkan fitnah Zach. Dia dalam keadaan terburuk nya, sebuah fitnah dalam
otak nya yang belum ia ucapkan adalah hal wajar.
Bel
tanda ujian berakhir berbunyi. Zach segera mengumpulkan lembar jawaban nya dan
keluar dari kelas untuk menunggu Andrew, Clara dan Jorge juga keluar. Mereka
semua keluar, dengan Santriz ikut di belakang mereka. Santriz terlihat sama
bingung nya dengan Jorge. Dia juga ingin tau apa yang terjadi dengan mereka
semua. Tapi Clara tidak ingin itu terjadi. Bukan Clara tidak mempercayai
Santriz. Clara percaya dengan Santriz melebihi Andrew, Zach dan Hayden. Tetapi
memberitau Santriz sama saja membuat nya tergabung dengan tidak sengaja dalam
ini semua. Dan Clara tidak akan membiarkan Santriz terseret. Clara memberitau
Santriz bahwa dia tidak bisa tau apa yang terjadi. Bahwa ini adalah informasi
personal, dan bahwa Clara akan menjelaskan semua nya nanti pada waktu yang
tepat. Santriz menjawab iya, dan pergi. Tetapi muka nya menunjukan wajah yang kecewa.
Mereka
berempat lalu turun ke lantai bawah. Mereka menuju kolam renang Elizabeth.
Tempat tersepi dan mungkin yang teraman untuk berbagi cerita pembunuhan. Zach
adalah orang pertama yang berteriak begitu Clara menutup pintu kolam renang.
Mereka punya waktu 20 menit jam istirahat sebelum mereka lanjut mengerjakan
soal percobaan ujian nasional matematika. Dan Zach tidak bisa menolong keadaan
nya, kecuali dengan histeris. “Katakan, bagaimana bisa ini terjadi?” ucap Zach
yang terdengar frustasi.
“Kita
tau ini akan terjadi. Kami kira ini hanya polisi yang menginvestigasi bunuh
diri saja, sumpah. Kami saja terkejut nya ketika tau bahwa ini adalah
pembunuhan. Maksud ku, kita semua tidak yakin itu adalah bunuh diri, tapi kami
tidak yakin juga itu adalah pembunuhan.” Clara berbicara sambil menyenderkan
tubuh nya pada dinding. Ekspresi dingin dan cuek nya sudah luntur. Kini, ia
terlihat sama panik nya dengan Zach. Masalah nya adalah pesan yang dikirim oleh
ayah Clara. Pesan itu tidak berbunyi cukup bagus bagi para polisi, dan Clara
sedang panik sengah mati jika pesan itu bocor kepada polisi. Dia tidak bisa
berhenti memikirkan apa yang akan terjadi sore nanti.
Andrew
sendiri cukup tenang. Dia tau dia tidak berbuat apa-apa yang salah. Dia, hanya
terlibat saja. Dia tau dia bukan pembunuh, dan dia percaya jika tiga orang di
depan nya ini bukan salah satu dari pembunuh nya. Dia hanya khawatir jika
reputasi nya hancur begitu polisi mulai menyelidiki nya. Soal pekerjaan nya
dengan Ivan Gonzela. Itu terlalu penting untuk diselidiki polisi. Andrew kali
ini bisa bersikap tenang dan tampak seperti acuh tak acuh. Tetapi Andrew sudah
bersiap untuk hari ini. Dia sedang memutar otak nya untuk bisa mengendalikan
situasi ini di tangan mereka.
Mereka
bertiga memang bukan pembunuh nya. Tetapi mereka bertiga punya sesuatu yang
mereka pertaruhkan jika polisi mulai menyelidiki mereka yang terlibat. Dan hal itu
sangat penting bari mereka bertiga. Tanpa mereka sadari pun, mereka sebenarnya
sedang bertarung untuk membuat hal yang mereka pertaruhkan itu tidak pernah
lepas dari mereka dan hanya menjadi milik mereka.
“Jadi,
kau tau Marsella Gonzela bukan, Horhe? Dia murid baru yang pindah. Sejak dia
datang banyak hal aneh yang terjadi di Elizabeth. Aku berniat untuk mencari tau
apa yang sebenarnya terjadi dengan mendekati nya. Sore itu, Marsella dan aku
jalan bersama. Besok nya dia ditemukan bunuh diri, tapi sekarang itu bukanlah
bunuh diri. Itu adalah pembunuhan. Dan kami semua, terlibat di dalam nya entah
bagaimana. Tapi aku bersumpah pada mu kami bukan pembunuh nya. Cerita
sebenarnya lebih panjang, soal bagaimana kita terlibat. Itu bukan hak ku untuk
menjelaskan nya,” jelas Zach. Jorge tidak membalas apa-apa. Dia terlihat sedang
memproses nya satu-satu. Soal bagaimana murid SMA bisa terlibat sejauh itu
dengan kasus ‘pembunuhan’.
Lalu
Andrew mulai menjelaskan keterlibatan diri nya dengan Marsella. Walau
sebenarnya keterlibatan nya adalah dengan Keluarga Gonzela. Andrew tidak yakin
harus percaya pada Jorge atau tidak, tetapi jika Zach percaya pada Jorge maka
Andrew juga bisa. Andrew sudah pernah bercerita pada Zach soal masalah nya
sehingga bercerita pada Jorge tidak terlalu menjadi masalah bagi nya. “Aku
bekerja pada ayah Marsella.” Zach langsung menengok Andrew saat ia mulai
bercerita. Dia terlihat kaget Andrew mau bercerita. “Aku adalah semacam male escort di luar ****. Aku melayani
inginkan terjadi. Tanpa ku sebutkan apa, ku harap kau tau maksud ku Jorge.
Marsella, dia baik. Dia hanya ingin membantu ku dengan melapor pada polisi,
tapi aku tidak siap. Itu adalah hidup ku, cerita ku, dan tubuh ku. Saat aku
mencoba menghentikan nya, Marsella sudah gantung diri di kamar nya. Aku tidak
melihat siapa-siapa di kamar nya sebelum itu.”
“Maafkan
aku Andrew, aku tidak tau soal itu...,” ucap Jorge. Andrew menggelengkan kepala
nya. “Bagaimana mungkin juga kau tau.”
Clara segera mulai menjawab keterlibatan
nya. Dia tau bahwa apa yang akan ia jawab sungguh sensitif dan mungkin akan
langsung membuat Jorge mengira jika dia adalah pembunuh nya. Tapi sama seperti
Andrew. Kepercayaan Zach yang cepat kepada Jorge membuat Clara juga bisa
percaya pada Jorge. “Kau pasti tau keluarga ku bukan Jorge? Keluarga Mara,
donasi terbesar sekolah. Tapi semua adalah bohong.” Apa yang akan Clara
ceritakan jauh dari apa yang harusnya ia ceritakan. Clara adalah gadis dengan
setumpuk rahasia, dan pada hari itu juga dia sudah jijik dengan rahasia yang ia
pegang. Terlalu berat, dan butuh ditumpahkan.
“Keluarga
Mara adalah pemilik dari SMA Elizabeth. Donasi setiap tahun yang kalian lihat
hanya pencitraan agar tidak ada yang tau kami pemilik nya dan membuat citra
ayah ku menjadi bagus. Lalu ada sahabat ayah ku. Ivan Gonzela, ayah Marsella.
Keluarga Mara dan Gonzela dengan cepat menjadi sebuah aliansi bisnis. Dengan
Ivan sebagai tangan kanan ayah ku. Marsella adalah boneka ayah Marsella untuk
meruntuhkan bisnis ayah ku dengan ‘membawa bencana’ ke Elizabeth. Segala bencana
yang kalian lihat adalah ulah Marsella, dengan paksaan Ivan. Aku berusaha
membantu Marsella lepas dari tugas nya, tapi tentu saja Marsella tidak percaya
siapa pun dari Keluarga Mara, dan malah, ia menganggap ku sebagai sebuah
jebakan. Ayah ku segera sadar soal ini dan meminta ku membunuh Marsella. Tapi
aku menjawab tidak, dan entah bagaimana semua ini lalu terjadi begitu saja.
Marsella terbunuh, dan Ivan tidak bisa ditemukan. Tapi pelaku nya bukan ayah
ku. Aku yakin, karena kami berdua sama kaget nya dengan hal ini.”
Jorge
tidak bisa berkata-kata. Entah dia menyesal telah bertanya atau tidak. Tapi
yang jelas dia sungguh tidak menebak jika begini informasi yang akan ia dapat.
Semua nya, bukan hanya Zach yang menyimpan rahasia. Semua orang punya rahasia,
dan rahasia-rahasia itu sungguh berhubungan dengan kasus ini. Jorge tidak sadar
bahwa ia telah terlibat dalam kasus begitu ia mengetahui kebenaran soal semua
teman-teman baru nya. Dia sungguh tidak tau harus berkata apa. Karena rasanya
dia benar-benar tidak mengenal mereka semua. Rahasia yang mereka miliki sungguh
jauh dan dalam. Dan Jorge, hanya pelajar SMA biasa, yang kebetulan terlibat
begitu memutuskan pergi ke kolam renang menyusul Zach dan yang lain.
“Ambil
waktu mu Horhe. Aku sama terkejut nya saat tau kebenaran nya.” Zach memeriksa
jam melalui hp nya. Ada sisa lima menit lagi sebelum bel masuk berbunyi. Jorge
masih teridam dan tidak tau harus berkata apa. Apalagi sebentar lagi waktu nya
matematika. Zach segera mengambil tas nya dan membuka pintu kolam bersiap untuk
pergi. Jorge melihat Zach terus dan berpikir apa yang akan Zach lakukan jika
berada di posisi nya. Jorge tau jika Zach terlibat dalam kasus ini karena dia
adalah orang terakhir yang Marsella temui dan dia ikut dalam kasus ini untuk
melindungi teman-teman nya. Pada saat itu, Jorge membuat keputusan yang amat ia
yakini jika itu yang terbaik. Bagi semua orang. Ini adalah pertama kali nya ia
mendapat teman dekat, dan mereka sungguh percaya dengan diri nya. Jorge tidak
bisa membalas nya dengan hal lain kecuali mendukung mereka. Jorge percaya
mereka tidak bersalah, seperti bagaimana mereka bisa percaya dengan Jorge.
“Zach,
Andrew, Clara, aku akan membantu kalian. Kalian tidak akan berjuang sendirian.
Aku akan membantu kalian sampai ini semua selesai dengan baik.” Zach menggeleng
lalu menghampiri Jorge. Zach meletakan kedua tangan nya di bahu Jorge. Lalu
menatap mata nya dengan serius. “Horge, jangan gila! Kita tidak tau bagaimana
ini akan berakhir. Menambah orang yang akan terlibat adalah hal yang malah
harus kami hindari.”
“Tidak.
Dengarkan aku Zach. Ini adalah pertama kali nya aku mendapat teman yang bukan
sekedar teman kelas. Coba pikir, bagaimana bisa kalian percaya pada ku begitu
cepat lalu memberitau ku semua ini? Kalian percaya pada ku, dan aku percaya
pada kalian. Kalian tidak mungkin pelaku nya, dan oleh karena itu aku harus
membantu kalian. Semakin banyak orang yang membantu, maka akan semakin baik.”
Zach
menekan pundak Jorge semakin keras. Kali ini malah seperti remasan. Zach sangat
bersungguh-sungguh ketika ia bermaksud bahwa ini berbahaya. Dia bahkan sudah
pusing sendiri memikirkan ini. Zach baru kenal Jorge, dan lalu menyeret nya ke
kasus ini benar-benar bukan hal yang harus ia lakukan. Zach mau melindungi
semua orang. Tapi dia tidak sadar, bahwa dirinya juga terkadang butuh untuk
dilindungi. Dan saat ini, tidak ada yang bisa mengoyahkan tekad Jorge.
Jorge
menyingkirkan tangan Zach dari pundak nya. Dia lalu meletakan tangan nya di
__ADS_1
pundak Zach dan gantian meremas nya. Dengan kedua mata nya yang menatap tajam
mata Zach. Kini, posisi mereka berganti. “Tidak. Kali ini kau yang dengarkan
aku Zach! Ini adalah pertama kali nya aku akan berjuang demi sesuatu yang aku
sayangi. Aku tidak akan diam saja menjadi murid biasa yang tidak punya siapa-siapa.
Kau diam, dan aku akan menjaga kalian semua.” Tidak ada yang pernah mendengar
Jorge berteriak atau terlihat serius dengan sesuatu. Dia adalah murid yang
selalu terlihat ramah dan ceria. Tipe murid yang selalu baik ke semua orang di
kelas. Tapi kali ini Jorge terlihat berbeda.
Andrew
bertepuk tangan. Dia tersenyum, lalu menhampiri Jorge dan Zach yang sedang
berargumen. Andrew melepas tangan Jorge dari Zach. Lalu berdiri di
tengah-tengah mereka. “Jorge benar Zach. Kita tidak bisa menghadapi ini sendirian.
Anggap saja ini...” ucap Andrew.
“Proyek
kelompok.” Clara lalu ikut berjalan ke arah mereka semua. Zach tertawa. Proyek
kelompok untuk menyelamatkan diri dari kasus pembunuhan. Zach tidak sabar
hingga seluruh orang tua memberi dukungan penuh terhadap proyek kelompok ini.
Zach terus tertawa. Rasa nya geli dan gila. Bagaimana semua ini berubah dan
terjadi begitu cepat. Dan bagaimana solusi yang mereka punya dirasa tidak masuk
akal. Coba katakan jika Zach di SMA akan berhadapan dengan polisi karena diri nya
terlibat dalam pembunuhan kepada Zach yang masih menjadi murid di SMP.
Andrew
lalu tertawa. Dia tertawa sambil menutup mata nya dengan tangan nya. Ditambah
perasaan miris. Melihat Zach dan Andrew, Clara tertawa. Wajah nya tampak sedih
sembari ia tertawa. Mereka bertiga tertawa kecuali Jorge. Tawa itu harusnya
adalah tangisan. Mungkin juga jeritan ketakutan. Mereka takut dengan masa depan
mereka. Mereka takut dengan apa yang akan orang katakan. Dan mereka juga takut
dengan bagaimana orang tua mereka akan bereaksi. Clara dan Zach terutama.
Hubungan mereka berdua dengan orang tua mereka tidak baik.
“Baiklah.
Proyek kelas,” ucap Zach. Air mata keluar dari mata Zach saat ia tertawa. Dia
buru-buru menghapus nya agar tidak ada yang sadar. Ia tidak menangis, ia hanya
tertawa terlalu berlebihan dan kencang. Mungkin dengan sedikit dibuat-dibuat
karena rasanya mereka semua butuh sedikit tawa hari itu. Guncangan yang mereka
dapat tadi pagi masih terasa hingga sekarang. Dan sejujurnya, mereka bingung.
Tidak tau harus berbuat apa, dan apa yang sebenarnya harus mereka lakukan.
Berbicara dengan orang tua atau guru BK rasanya hanya akan mempersulit situasi.
Mereka tidak percaya orang lain kecuali teman mereka. Hanya itu yang membuat
mereka merasa aman dalam situasi ini.
Mereka
menghabiskan lebih dari lima menit di dalam kolam. Ujian seharusnya sudah
berlangsung dari tadi. Tapi mereka tidak berniat sama sekali untuk bergerak
lebih cepat. Clara, yang orang nya paling ambisius dengan nilai tinggi juga
sudah tidak peduli saat itu. Ia memilih menghabiskan waktu nya dengan
teman-teman nya. Karena rasanya bersama mereka menjadi kuat. 30 menit berlalu
baru mereka bangkit berdiri dan bergegas menuju ruang ujian. Mereka sempat
mendikusikan cara-cara untuk menyontek saat ujian nanti agar nilai mereka
bagus. Clara dan Jorge adalah otak utama dalam misi menyontek mereka, dan
Andrew sebagai pengedar karena posisi duduk nya yang ada di tengah.
Membicarakan soal menyontek ini membuat mereka seketika lupa dengan
permasalahan yang tadi mereka pikirkan. Mereka tertawa dan bahkan berteriak
karena seru. Setidaknya, untuk sesaat mereka bisa melupakan nya.
Para petugas polisi sudah menunggu mereka di gerbang
sekolah. Saat ujian matematika selesai, mereka semua langsung bergegas menuju
gerbang. Sebagian dari mereka berharap jika polisi belum datang sehingga mereka
bisa pulang ke rumah duluan. Tapi tidak. Mereka sudah sampai, dan sekarang
mereka harus pergi ke kantor polisi. Andrew masuk bersama Clara dalam satu
mobil, dan Zach masuk ke mobil lain karena tidak muat. Dalam perjalanan tidak
ada yang berbicara atau saling berpesan. Mereka diam dan memikirkan apa rencana
mereka selanjutnya.
Di
depan kantor polisi ada Hayden. Zach segera berlari menghampiri Hayden. Zach
menarik nafas lega karena dugaan nya bahwa Hayden telah melakukan sesuatu hal
bodoh tidak benar. Hayden aman, tidak terluka dan juga berada di kantor polisi.
Melihat tatapan Hayden, Zach tau apa yang terjadi. Hayden juga sudah berada di
sini. “Kau juga dipanggil? Hayden, sungguh aku panik saat kau tidak ada. Aku
kira kau melakukan nya lagi” ucap Zach yang terlihat sangat panik.
Hayden
menggelengkan kepala nya. “Ya dan tidak sebenarnya. Kakak ku dibawa polisi.
Hari terlibat, dan Tuhan aku tidak tau harus bagaimana Zach. Tapi terima kasih
atas kecemasan mu itu. Aku membutuhkan nya.” Zach memeluk Hayen yang sedang
berbicara. Suara nya terdengar rapuh. Seperti ingin menangis, namun tidak
menangis. Entah mengapa semua pada hari ini terkesan buruk dan menyebalkan.
“Hei, maaf aku tidak ada di sana Hayden,” balas Zach. Hayden menggelengkan
kepala nya lagi, tapi kali ini lebih kencang. Lalu ia menepuk-nepuk pundak
Zach. “Bodoh, kau kan tidak di sini. Tenanglah, aku tidak apa-apa.”
Mereka
berempat lalu masuk ke dalam kantor polisi. Di sana Johanes sudah menunggu
mereka. Wajah nya terlihat tidak senang. Di depan nya terdapat meja yang ada
baki di atas nya. Di baki itu terdapat semua foto di dalam map. Hari baru saja
keluar dari ruangan yang terlihat seperti ruang interogasi. Dia lalu berdiri di
samping Hayden. Fernando muncul di belakang. Dia terengah-engah saat tiba.
Fernando baru saja berlari dari sekolah menuju kantor polisi. Zach, Andrew dan
Clara juga baru sadar bahwa seharusnya mereka pergi ke sini dengan Fernando,
tapi Fernando tidak ikut bersama mereka tadi. “Maaf, aku ada urusan dengan guru
BK.” Fernando lalu berdiri tepat di belakang Hayden.
Johanes
mulai berbicara ketika semua tersangka sudah berkumpul. “Sejauh ini kami sudah
menemukan satu bukti yang sangat penting.” Johanes lalu membuka map itu dan
mengambil beberapa lembar kertas. Kertas itu berisikan gambar percakapan ayah
Clara dengan Clara. Clara diam saja melihat itu. “Clara Mara, bisa kau jelaskan
apa maksud ayah mu untuk membunuh Marsella, dan kau yang mengancam ayah mu
untuk membunuh pria bernama Brook?” tanya Johanes.
“Maaf
jika kesan nya aku lancang Clara. Tapi kami benar-benar terlambat. Kemajuan
kasus ini sungguh lambat. Jika kalian pikir ini adalah hari pertama
investigasi, maka kalian salah. Investigasi berjalan sejak Marsella ditemukan
gantung diri, dan kemajuan yang kami dapat sangat kecil. Kami mohon kerja sama
nya.” Johanes memasukan kembali gambar
yang ia pegang ke dalam map. Ia tampak kelelahan. Kantung mata nya terlihat
hitam dan mata nya merah. Mungkin lebih tepatnya, seluruh polisi di sini
terlihat sangat lelah. Johanes lalu mengambil satu rokok dari kantung celana
nya dan membakar nya. Dia selalu menghadap ke belakang saat akan membuang asap
rokok. Sebenarnya tidak terlalu berguna juga, karena asap nya juga tetap akan
terhirup semua orang. Tapi Zach tetap menilai tindakan Johanes sebagai
setidaknya-dia-berusaha.
“Interogasi
kalian akan dimulai dua hari lagi. Oleh karena itu jangan lah berpergian
kemana-mana. Jaga kesehatan kalian, dan aku tidak tau apa lagi. Aku sungguh
buruk dalam memberi pesan moral. Kalian resmi menjadi tersangka utama dalam
kasus ini.” Johanes lalu pergi ke luar meninggalkan mereka. Tidak ada yang mau
berkomentar sama sekali. Hari dan Hayden adalah orang pertama yang meninggalkan
ruangan itu. Disusul oleh Zach dan yang lain. Di luar Johanes sedang menghisap
rokok nya. Hari juga menyalakan satu rokok dan menghisap nya di sebelah Johanes.
Johanes menengok ke belakang dan sadar jika semua nya ada di belakang nya. Dia
langsung mematikan rokok nya, lagi.
“Kalau
di luar, kau bukan menjadi polisi bukan?” tanya Hari. Johanes mengeluarkan
rokok nya dari mulut nya dan tersenyum. “Panggil aku Johanes kalau di luar.
Bersikap biasa saja kalau kita sedang di luar seperti ini.”
Hujan
mulai turun perlahan. Gerimis. Fernando melirik ke arah Hayden yang sedang
tersenyum dengan Hari dan yang lain nya merasa bercampur. Antara sedih dan
bahagia. Dia bahagia bahwa Hayden juga bahagia. Fernando lalu menarik tudung
jaket nya dan pergi dari situ menembus gerimis. Jarak rumah nya dengan kantor
sedikit jauh. Hayden tau itu, tapi Hayden tidak menyusul Fernando. Hari melihat
ekspresi sedih di wajah adik nya. “Susul dia. Tunggu apa lagi kau?” tanya nya.
Tapi Hayden tidak tau harus bagaimana. Karena setelah perkelahian itu semua
menjadi canggung dan tidak ada dari mereka yang mulai berbicara.
Sebuah
mobil putih kemudian berhenti tepat di depan kantor polisi. Kaca mobil lalu
diturunkan. Bahkan saat kaca mobil diturunkan, tidak ada yang tau siapa itu. Di
dalam mobil pasti sangatlah gelap, juga karena orang di dalam nya menggunakan
baju hitam. Clara segera berjalan maju. “Aku sudah dijemput. Kalau begitu aku
pulang dulu. Hati-hati semua.” Clara lalu masuk ke dalam mobil. Kaca mobil itu
sangatlah hitam. Sampai Clara tidak terlihat. Mobil itu lalu pergi.
“Baiklah.
Hanya tersisa kita yang tidak punya mobil. Ayo pulang,” ucap Hari. Dia
menjatuhkan rokok nya di lantai, menginjak nya, lalu mengambil nya lagi dan
membuang nya di tempat sampah. Hari keluar dari atap dan hujan membasahi tubuh
nya. “Tunggu apa lagi?” tanya nya saat tidak ada yang menyusulnya. Hayden,
Zach, dan Andrew lalu keluar dari atap. Mereka pulang bersama Hari.
Saat
itu terasa dingin. Hayden terus menyibak rambut nya ke belakang. Pengelihatan
nya sungguh buruk saat hujan turun. Itu adalah salah satu alasan mengapa ia
tidak suka keluar rumah saat hujan. Sepanjang perjalanan, banyak orang yang
sedang berteduh di pohon atau ada orang yang berkendara dengan sangat cepat
sehingga menciprat baju mereka. Entah mengapa mereka malah berjalan dengan
santai dan lambat saat itu. Terutama Zach. Dia takut pulang ke rumah. Dia tau
bahwa ayah nya akan marah besar jika tau. Atau tidak dia mengekspetasikan
teriakan yang sangat menyebalkan. Dia takut, karena perkataan ayah nya yang
terkadang lepas begitu saja dari mulut nya membuat nya sedih dan hati nya
terluka. Tidak ada yang sadar jika Zach yang sedih dan takut. Wajah nya basah
oleh air dan Zach terus-terusan mengelap-ngelap wajah nya. Saat itu, mungkin
adalah hari tersedih, tersial, dan terburuk yang pernah mereka semua hadapi.
__ADS_1
Apa yang mereka hadapi sekarang belum terlalu buruk, ketimbang apa yang akan
mereka hadapi nanti di rumah.