Dahlia Hitam

Dahlia Hitam
Episode 26


__ADS_3

Pasukan dan penduduk yang


berhasil kabur dari istana Gloria berlari secepat yang mereka bisa dan


berteriak meminta bantuan kepada siapa pun. Mereka tidak akan mau meninggalkan


pemimpin mereka mati di sana. Kesedihan tergambar dengan jelas di muka mereka,


beberapa ada yang menangisi tindakan mereka meninggalkan Firgas. Kelelahan,


keputusasaan, dan kesedihan bercampur aduk menjadi satu di otak mereka saat


ini.


            Setelah melewati wilayah Kerajaan Ommar mereka langsung


bertemu dengan pasukan divisi pengintai Kerjaan Ommar. Pemimpin divisi tersebut


Larvus Octourn berada di lokasi. “Bukankah kalian pasukan dan penduduk yang


menghilang, kami kemari mencari kalian dan sekarang kalian berlari ke arah


kami, apa yang terjadi?” pertanyaan Larvus tersebut memberi harapan bagi


pasukan-pasukan Ommar.


            Mereka menjelaskan semua yang sudah terjadi, termasuk


keberadaan Raja Ommar dan Firgas yang mengorbankan diri melawan Gloria


sendirian. Mendengar hal itu Larvus langsung memerintahkan beberapa prajuritnya


untuk kembali ke Lazarus dan memberitau Angela. Larvus serta beberapa pasukan


lainnya akan segera ke istana Gloria. Sebagai tanda kondisi gawat, Larvus


mengeluarkan tembakan asap hitam ke udara sebagai tanda genting tingkat 1, ia


berharap prajurit yang berada di Lazarus melihat asap itu.


            Pasukan yang bertugas memberitau Angela bergerak secepat


mungkin dengan kuda mereka. Waktu mereka sangatlah sedikit karena sekarang


perang sudah terjadi. Sesudah mereka sampai di gerbang kota Lazarus, beberapa


pasukan serta Actus sudah berada di gerbang juga, melihat betapa


terburu-burunya pasukan Larvus, Actus pun bertanya apa yang terjadi “Apa yang


sebenarnya terjadi? Kenapa kalian terburu-buru dan apa maksud dari asap hitam


itu?” actus melontarkan banyak pertanyaan yang bahkan tidak bisa dijawab semua


oleh mereka.


            “Raja Ommar. Ketua Firgas. Mereka semua dalam bahaya di


kastil Gloria. Ketua Actus, kirimlah semua pasukan yang ada, aku akan


memberitau kapten Robert dan Putri Angela!” jelas pasukan itu terhadap situasi


yang sedang mereka hadapi. Mendengar kata raja dan temannya Firgas, ekspresi


muka Actus langsung berubah menjadi sangat marah. Tak perlu waktu panjang


seluruh pasukan Actus langsung bergerak ke arah kastil Gloria, “Aku serahkan


sisanya kepada mu! Beritau lah Robert dan Angela!”


            “Firgas kenapa kau selalu bertindak sendiri seperti ini,


aku tidak akan membiarkan mu mati kali ini, tunggu lah aku” ucap Actus yang


terus memikirkan sahabatnya yang sedang melawan Gloria. Bahkan kekuatan Robert


saja tidak cukup untuk membunuh Gloria apalagi Firgas. Dengan memimpin pasukan


divisi nya, Actus menjalankan misi tanpa persetujuan Angela, lebih tepatnya


misi bunuh diri sekaligus penyelamatan yang mustahil.


            “Tuan Putri! Kapten Robert! Berita buruk!” teriak pasukan


tersebut sambil menaiki anak tangga ke arah perkustakaan sihir kota Lazarus.


Nafas mereka sangat lah kacau, mereka bahkan terlihat hampir kehabisan nafas.


“Pelan-pelan! Ada apa ini?” tanya Angela yang sangat khawatir, Robert menyusul


Angela ke arah pasukan-pasukan itu sambil berlari kecil. “Kami menemukan Raja!


Raja saat ini berada di kastil Gloria bersama dengan Kapten Firgas. Kapten


Firgas melawan Gloria sendiri, serta Kapten Actus memimpin pasukannya ke arah


Gloria.” Mendengar hal itu Angela sangat terkejut, dia senang bisa menemukan


ayahnya namun di sisi lain ini adalah perang. Actus yang pergi sendiri serta


Firgas yang melawan sendirian, kondisi benar-benar kacau.


            “Siapkan pasukan kita! Ini adalah perang, kerahkan semua


pasukan yang siap bertarung! Robert, pergilah duluan, aku akan memimpin


pasukan” perintah sang ratu sudah diberbunyi. Para pasukan bersiap ke kuda-kuda


mereka sambil menyiapkan senjata mereka. Lonceng-lonceng dibunyikan sebagai


tanda perang sudah dimulai, para penduduk kembali ke rumah mereka, beberapa di


antara mereka menyiapkan tongkat sihir dan pedang untuk berjaga-jaga.


            Bendera Ommar berkibar disetiap punggung pasukan Ommar.


Bendera berlogo daun yang terbakar di atas tangga itu dilekatkan di setiap


tombak yang ada di punggung pasukan Ommar. Tidak ada pidato atau kata-kata yang


biasa diucapkan raja kepada pasukan nya sebelum memulai berperang, waktu sudah


tidak bisa menunggu. Angela hanya berkata “Kita akan merebut tanah kita yang


mereka rebut! Sekarang atau tidak sama sekali!” Angela tidak mewarisi keahlian


berbicara ayahnya.


            Kuda-kuda itu pergi meninggalkan Lazarus membawa


pasukan-pasukan berani Ommar bersama sang ratu. Perang sudah ada di depan mata


namun hati Angela belum kuat, sihir-sihir yang dikuasai nya bukanlah sihir


perang. Angela ingin menemukan dan membawa pulang ayahnya serta membawa pulang


Firgas. Firgas tidak boleh mati, dia adalah potensi perang Ommar.


            Actus di sisi lain sudah sampai di kastil Gloria. Pasukan


Gloria menyadari ada nya penyerangan dari Ommar. Melihat hal itu Actus


memerintahkan pasukan nya untuk mengurus mereka, “Kalian uruslah


pasukan-pasukan Gloria. Aku harus menolong Firgas” perintah sang kapten kepada


prajuritnya. “Kami mengerti kapten! Hati-hati lah” balas prajurit Actus. Actus


pun langsung bergerak secepat mungkin dengan kudanya.


            Sesampainya di gerbang kastil barat, tempat lokasi Firgas


berada Actus langsung membuka gerbang dengan terburu-buru. “Firgas!” teriak


Actus saat melihat sahabatnya tertusuk pedang Magnarux di perutnya. “Ac-Actus,


bagaimana bisa?” tanya Firgas dengan suara lemas, wajahnya langsung memucat,


dan darah nya keluar banyak dari perutnya. Firgas pun langsung terjatuh,


melihat itu Actus langsung berlari dan memeluk Firgas.“Diam lah! Kumohon


bertahanlah Firgas! Kau ingat kau memiliki janji bertarung bersama dengan ku


bukan?” ucap Actus berusaha membaringkan Firgas.


            “Maaf Actus. Tapi setiap ketua memiliki masa nya


sendiri-diri, begitupun aku. Waktu ku tinggal sedik-“ sebelum kalimat tersebut


berhasil diselesaikan Firgas, dia sudah batuk-batuk. Melihat teman nya yang


semakin sekarat, Actus langsung menggunakan sihir penyembuh, “Pacirinius.”


Sihir penyembuh pun tidak akan bisa menahan pembekuan dari efek pedang


Magnarux.


            “Bertahanlah sebentar Firgas. Aku akan mengulur waktu


sampai bantuan tiba” ucap Actus yang lalu pergi meninggalkan Firgas. “Gloria.


Ini pertemuan kedua kita bukan? Kali ini akan kupastikan kau akan mati secara


mengenaskan!” wajah Actus saat berbicara sangatlah marah. “Coba saja Actus!”


Gloria berbicara sambil menantang Actus bertarung juga.

__ADS_1


            Actus menerjang ke arah Gloria, gerakan nya sangat cepat,


bahkan tidak bisa dilihat dengan mata manusia biasa. “Voco: Emorut.” Gloria


memunculkan pedang kegelapan nya. Pedang Emorut, pedang yang pernah hancur terbelah


dua oleh Actus. Pedang yang bisa memunculkan api kegelapan dengan tebasan nya.


Tebasan-tebasan pedang Actus ditahan kembali oleh Gloria. Gloria tampak


kelelahan dengan Actus, beberapa tebasan dari Actus bahkan tidak bisa ditahan


Gloria.


            Robert akhirnya sampai ke wilayah Gloria. Gloria langsung


membantu para pasukan Actus yang sedang melawan tentara Gloria. Kedatangan


Robert kemudian disambut oleh Nicorus, sang tangan kanan raja kegelapan. “Wah


kita sampai bersamaan ya Robert Zafr?” tanya Nicorus dengan senyum nya. “Tidak


perlu bertanya jika kau sudah tau, bukankah kau dulu berkata seperti itu


Nicorus Oblivium? Sang penghianat Ommar.” Nicorus dulunya adalah salah satu


dari panglima perang Ommar seperti Firgas, namun memilih bergabung dengan Gloria


karena tawaran kekuatan dari Gloria.


            “Kami datang tepat waktu rupanya, bukankah begitu


Robert?” kedatangan Robert langsung disusul oleh Angela Ommar berserta para


pasukan Ommar yang lain. “Paman Nicorus, senang bertemu dengan mu lagi. Kau


tau? Aku sedikit merindukan mu.” Nicorus menunjukan senyum yang lebar bahkan


sampai tertawa mendengar itu, “Kau sudah berubah tuan putri, namun janganlah


sombong karena ku rasa dua melawan satu tidak adil. Perkenalkan, oh maaf aku


lupa kalau kalian adalah saudara” ucapan itu diikuti oleh munculnya Lean Ommar


di medan pertempuran. Pertemuan pertama kedua saudari setelah berbulan-bulan


perpisahan pun tiba.


            “Kakak!” teriak Angela terkejut saat melihat kakaknya


berada di pihak musuh selama ini. “Kau! Lean Ommar! Apa yang kau lakukan di


situ!?” angela bertanya sekali lagi untuk memastikan tuduhan nya. “Apa yang


sudah kau lakukan kepada Lean!? Jawab aku Nicorus!” tanya Angela sekali lagi


yang membuat Nicorus tertawa terbahak-bahak. “Kau masih saja berisik bahkan


saat berada di pertarungan ya Angela.”


            Angela masih tidak bisa menerima kenyataan ini. Kakak


yang selama ini ia cari malah bergabung dengan Gloria. Ia tidak menangis, kali


ini amarah Angela sudah melampaui batasan nya. “Lean apakah kau tau apa yang


sudah kau perbuat!?” teriak Ratu Ommar kepada saudara nya sendiri. “Aku hanya


meneruskan tradisi keluarga kita, adik kecilku.” Penjelasan Lean membuat Angela


kebingungan. Angela tidak peduli lagi, ia memilih untuk menangkap Lean dan


menginterograsi nya di Kota Lazarus. “Pasukan! Bersiaplah, target kalian adalah


Lean Ommar dan Nicorus Oblivium. Bunuh Nicorus dan tangkap Lean!” perintah


Angela dimengerti semua pasukan termasuk Robert. Mereka semua langsung


menerjang dan menyerang satu sama lain.


            Actus masih sibuk dengan Gloria namun di sini, Gloria


sudah terluka. Sementara Actus kelelahan, sangat kelelahan. “Kau kelelahan


Actus? Kau tau luka-luka ini bisa kusembukan dengan mudah, Pacirinius!”


luka-luka di tubuh Gloria langsung hilang dengan sendirinya. Luka-luka besatan


pedang Actus tidak terlalu besar oleh karena itu hilang nya lebih mudah.


Ketimbang luka pedang Magnarux. “Mustahil.. bagaimana bisa dia bertambah kuat


sejak saat itu” Actus masih ingat ketika pertarungan pertama mereka. Actus


berhasil memojokan Gloria namun kini keadaan terbalik.


            “Kau tau aku berlatih sangat keras setiap hari nya demi


kalian sehingga melemah. Yang kutau dulu kalian adalah kerjaan terkuat di


Angelus, namun sekarang mudah dihancurkan.” Perkataan Gloria ada benarnya,


keahlian Actus tidak bertambah pesat sejak kejadian dua tahun lalu. Sedangkan


di sisi lain kekuatan Gloria bertambah pesat, tidak heran ia bisa menaklukan


Kerajaan Ommar.


            “Ini belum berakhir!” Actus langsung menerjang ke arah


Gloria, pertarungan babak kedua pun dimulai. “Occorur!” sihir yang digunakan


Actus berfungsi untuk menyelimuti pedang nya dengan api biru. Kali ini pedang


nya jauh lebih kuat dari sebelumnya.”Teknik yang bagus Actus” pujian Gloria


kepada Actus tidak membuat perubahan apa-apa, Actus tetap serius dan fokus


untuk mengalahkan Gloria. Gerakan nya bahkan jadi lebih cepat. “Indorog!” Actus


mengayunkan pedang nya kemudian mengeluarkan energi besar yang mengarah ke arah


Gloria. “Conis!” seketika posisi Actus berubah. Actus berada di depan Gloria


dan energi yang dikeluarkan pedang nya tadi berada di belakang. Tanpa Gloria


sadari terjadi ledakan dibelakang nya dan Actus langsung menyerang.


            Serangan tersebut masih bisa ditahan Gloria, namun


serangan tersebut akhirnya bisa melukai sang kegelapan. Darah keluar dari sisi


perut bagian kiri Gloria. “Akhirnya Actus yang lama kembali juga.” Seusai


berkata demikian maka Gloria meloncat ke atas kemudian berteriak, “Inanbilus!”


seketika ruangan berubah menjadi gelap. Tidak ada yang bisa dilihat oleh Actus


dan Firgas. Keadaan juga menjadi hening, rasanya seperti matahari telah


menghilang.


            “Aku ada di sini Actus!” teriakan itu berasal dari


sebelah kiri Actus. Beruntungnya Actus berhasil menahan serangan Gloria, namun


serangan tersebut berpindah arah ke belakang dan berhasil mengenai Actus.


“Actus apa kau masih kuat?” tanya Firgas dengan suara kesakitan. “Kau diam saja


di sana, aku akan menahan nya sampai Robert datang.” Actus tetap saja mencoba


bertahan walau luka nya sudah semakin parah. Pasukan nya yang masih berada di


belakang juga tidak mungkin bisa menolong nya.


            “Jangan berlagak jika kau bisa menahan nya. Kau bukanlah


panglima seperti aku, dan karena aku adalah panglima maka biarlah aku ikut


bertarung” Firgas mencoba berdiri, walau tampak kesusahan ia akhirnya bisa


berdiri di samping Actus. “Firgas, namun..” Actus masih tidak yakin dengan


kondisi Firgas. “Lebih baik aku bertarung ketimbang aku diam dan menyaksikan mu


seperti tadi.” Senyum tergambar di muka Actus dengan air mata yang jatuh. Entah


mengapa sudah lama sekali sejak mereka berdua bisa bertarung seperti ini.


Berdampingan.


            Kondisi yang gelap sama sekali membuat peluang mereka


untuk menyerang balik sangatlah kecil. Sayangnya tidak ada di antara mereka


berdua yang bisa menguasai sihir cahaya. “Voco: Custoran de Merator! Tenanglah


Actus, mungkin kita tidak bisa melihat, namun Gloria juga tidak bisa menyerang


kita.” Mahluk yang dimunculkan Firgas adalah para penjaga kaisar. Mereka adalah


mahluk es tingkat tinggi yang dimiliki Firgas. Total dari mereka berjumlah 10


orang. Berjubah dan menggunakan pakaian zirah bewarna putih, masing-masing dari


mereka membawa pelindung perisai dan tongkat panjang untuk membantu menggunakan

__ADS_1


sihir.


            “Lagi-lagi mengeluarkan mahluk es aneh mu itu. Cara


bertarung kalian berdua sangatlah berbeda dari waktu kita bertarung dulu.”


Suara itu menggema di ruangan tersebut. Hal aneh ini pun disadari oleh mereka


semua. Suara pedang yang diayunkan pun terdengar sangat jelas, terutama langkah


kaki Gloria. Tiba-tiba saja ada pedang yang mengarah ke Firgas, namun para


penjaga tersebut merhasil menahan dan mengembalikan energi serangan Gloria


tersebut kembali ke Gloria sendiri. Sehingga Firgas dan Actus menyadari keberadaan


Gloria. “Di sana! Actus, dia di sana!” teriak Firgas. Actus pun langsung


melesat ke arah Gloria, sedangkan Firgas bersiap mengeluarkan sihirnya. “


Costudipunarosius!” 100 serpihan es pun melesat ke arah Gloria.


            Serangan tersebut tidak ada yang berhasil mengenai


Gloria. Buruknya adalah serangan es milik Firgas malah mengenai Actus. “Actus!”


luka Actus menjadi lebih parah, bahkan kondisi nya tidak bisa bergerak.


Serpihan es tersebut membuat seluruh tubuh Actus membeku menjadi es.


“Fir-Firgas.. gunakan sihir teleportasi, kita harus pergi dari sini” Firgas


terkejut saat tau bahwa Actus masih bisa berbicara. Namun yang menjadi masalah


adalah energi yang dimiliki Firgas sangatlah sedikit sekarang.


            “Acierom!” rupanya gerbang teleportasi masih bisa terbuka


namun terlihat lemah. Belum sampai 3 detik pun gerbang nya tertutup. Harapan


Firgas untuk lolos menjadi hilang. Para penjaga nya mengerumuni Actus dan


Firgas membuat Gloria tidak memiliki celah untuk bertarung. Firgas harus


bertahan hingga pertolongan datang, atau hingga maut datang kepada mereka.


            Sementara itu Robert dan Angela masih sibuk bertarung.


Kekuatan sihir racun milik Nicorus mampu membuat beberapa pasukan Ommar terluka


parah bahkan beberapa ada yang tewas. Sementara Lean berhasil membuat Angela sibuk.


Nicorus mengeluarkan sihir racun nya lagi namun kali ini diarahkan tepat di


atas tanah tempat mereka bertarung. “Nubetoxus” membuat kondisi langit yang


semula cerah menjadi gelap. Awan-awan hitam tersebut tiba-tiba saja berkumpul


dan menjatuhkan air cairan asam.


            “Celaka! Angela lari!” teriak Robert seraya langsung


mengeluarkan sihir perlindungan, “Sanxirus!” tubuh mereka berhasil terlidung,


juga beberapa pasukan, namun beberapa di antara mereka ada yang tidak sempat


berlindung. Nicorus terlihat menikmati ekspresi Robert dan Angela, keputusasaan


di muka Angela memang tergambar dengan jelas, namun tidak dengan Robert.


“Lamina de Treciusperator!” Robert menghilang dari pandangan Nicorus. Lalu


tiba-tiba saja muncul di depan muka Nicorus, Robert mengayunkan tangan nya,


yang kemudian mengeluarkan tiga belas pedang yang bersinar terang. Membuat Lean


tidak bisa melihat dan tepat menusuk ke tangan Nicorus.


            Angela yang melihat itu langsung memanfaatkan situasi.


“Arerano!” sihir yang seharusnya menjadi sihir pelindung ini berhasil dibuat


Angela menjadi sihir penyerang. Pasir-pasir yang berasal dari tanah tersebut


mengeras dan menjadi duri-duri yang berhasil melumpuhkan pertahanan Kerajaan


Gloria. Melihat hal tersebut Lean pun langsung membalas adiknya, “Laodo mea


Regina!” mengeluarkan mahluk besar tampak di belakang nya. Bercahaya sangat


terang, membuat Robert pergi dari situ dan kembali di sisi Angela. Angela ingat


sihir itu, sihir milik ayah nya.


            Mahluk besar itu bisa menyembuhkan segala luka yang ada.


Nicorus pun sembuh kembali, bahkan menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Namun,


mahluk tersebut tidak bisa bergerak maupun menyerang. Dia hanyalah sang putri


yang bertugas membantu Lean dan Nicorus. “Robert serang kakak ku terlebih


dahulu, kita tidak mungkin menang selama mahluk itu masih ada.” Rencana Angela


diikuti Robert dengan baik. Robert kembali ke hadapan Lean, namun sebelum Lean


menyerang balik Robert sudah tepat berada di belakang Lean. “Fulgeorutus!”


            Ledakan besar tercipta oleh serangan tadi. Namun sayang


nya Nicorus berhasil melindungi Lean, “Rosanum.” Sihir rosanum membuat serangan


macam apa pun terserap kembali dan energi dalam serangan nya menjadi milik


pengguna sihir tersebut. “Kau terlambat Rober. Ilixius!” ledakan api dibuat


oleh Nicorus, namun sihir seperti itu tidak akan bisa melukai Robert. Robert


kembali mengayunkan tangan nya, namun kali ini bukan pedang yang ia keluarkan


namun sebuah tombak yang kemudian melontarkan mereka, membuat petir menyambar


tanah tersebut.


            Tampa pikir panjang Robert memberikan pedang nya kepada


Angela untuk membunuh Nicorus dan kemudian membuat Lean pingsan. Pedang


tersebut berhasil Angela tangkap. Angela berlari secepat mungkin ke arah mereka


jatuh. Melihat hal itu Nicorus langsung berusaha melawan balik, “Radixohus” hal


itu tiba-tiba membuat Angela terdorong kembali ke tempat Robert oleh akar besar


yang keluar dari tanah. Sihir Nicorus memang tidak bias diremehkan, kemampuan


nya bahkan setara dengan Firgas.


            Lean dan Nicorus berdiri dari tempat mereka jatuh.


Pertarungan ini harus nya bisa dimenangkan dengan mudah oleh Robert dan Angela,


namun Lean Ommar bisa melindungi Nicorus dengan sangat baik. Sihir pelindung


dan penyembuh milik keluarga Ommar memang tidak tertandingi. Sisa pasukan dari


pihak Kerajaan Gloria semakin sedikit. Lean yang sadar akan hal itu, berusaha


membuat jarak dengan Robert dan Angela, selangkah demi selangkah mundur.


            “Apa kau sudah menyerah, Lean?” tanya Robert dengan


tatapan tajam ke arah wanita yang dulunya dia lindungi dan hormati. “Aku jadi


bingung, sihir apa yang Gloria pakai hingga bisa membuat dua orang kepercayaan


ku pergi dari Ommar.” Cara Robert berbicara berhasil membuat Lean buka mulut,


“Belum saatnya kau mengerti apa maksud ku, paman Robert.” Mendengar kata paman


dari Lean membuat Robert semakin marah.


            “Surgerinus!” Robert mengeluarkan sihir andalan nya di


saat situasi genting. Sihir pembangkit, para pasukan yang baru saja mati


menjadi bangkit kembali dihadapan Lean dan Nicorus. Nicorus terlihat terkejut,


bahwa Robert mengeluarkan sihir terlarang tanpa membuka segel atau apa pun


semacamnya. Sejak kepergian Nicorus, Robert memang sudah berlatih dan


mengembangkan kekuatan nya, dia bersumpah untuk membunuh penghianat yang dulu


nya dia sebut teman.


            “Nebul-“ tepat sebelum sihir kabut racun milik Nicorus


berhasil dikeluarkan, Robert sudah mengayunkan tangan nya dan mengeluarkan


tombak petir tadi. Kali ini, tombak tersebut tepat menusuk perut Nicorus. Petir


dari tombak itu juga menghempaskan Lean sangat jauh. “Saepor!” sekujur tubuh


Nicorus tertutup es. Tubuh nya terlindungi oleh es padat, Robert berniat untuk


membawa Nicorus kembali ke Ommar dan menginterograsi nya. “Angela berjaga lah

__ADS_1


di sini, aku akan mengejar Actus.” Seusai penangkapan Nicorus, Robert langsung


membawa pasukan nya dan pergi ke arah Actus


__ADS_2