
Pasukan dan penduduk yang
berhasil kabur dari istana Gloria berlari secepat yang mereka bisa dan
berteriak meminta bantuan kepada siapa pun. Mereka tidak akan mau meninggalkan
pemimpin mereka mati di sana. Kesedihan tergambar dengan jelas di muka mereka,
beberapa ada yang menangisi tindakan mereka meninggalkan Firgas. Kelelahan,
keputusasaan, dan kesedihan bercampur aduk menjadi satu di otak mereka saat
ini.
Setelah melewati wilayah Kerajaan Ommar mereka langsung
bertemu dengan pasukan divisi pengintai Kerjaan Ommar. Pemimpin divisi tersebut
Larvus Octourn berada di lokasi. “Bukankah kalian pasukan dan penduduk yang
menghilang, kami kemari mencari kalian dan sekarang kalian berlari ke arah
kami, apa yang terjadi?” pertanyaan Larvus tersebut memberi harapan bagi
pasukan-pasukan Ommar.
Mereka menjelaskan semua yang sudah terjadi, termasuk
keberadaan Raja Ommar dan Firgas yang mengorbankan diri melawan Gloria
sendirian. Mendengar hal itu Larvus langsung memerintahkan beberapa prajuritnya
untuk kembali ke Lazarus dan memberitau Angela. Larvus serta beberapa pasukan
lainnya akan segera ke istana Gloria. Sebagai tanda kondisi gawat, Larvus
mengeluarkan tembakan asap hitam ke udara sebagai tanda genting tingkat 1, ia
berharap prajurit yang berada di Lazarus melihat asap itu.
Pasukan yang bertugas memberitau Angela bergerak secepat
mungkin dengan kuda mereka. Waktu mereka sangatlah sedikit karena sekarang
perang sudah terjadi. Sesudah mereka sampai di gerbang kota Lazarus, beberapa
pasukan serta Actus sudah berada di gerbang juga, melihat betapa
terburu-burunya pasukan Larvus, Actus pun bertanya apa yang terjadi “Apa yang
sebenarnya terjadi? Kenapa kalian terburu-buru dan apa maksud dari asap hitam
itu?” actus melontarkan banyak pertanyaan yang bahkan tidak bisa dijawab semua
oleh mereka.
“Raja Ommar. Ketua Firgas. Mereka semua dalam bahaya di
kastil Gloria. Ketua Actus, kirimlah semua pasukan yang ada, aku akan
memberitau kapten Robert dan Putri Angela!” jelas pasukan itu terhadap situasi
yang sedang mereka hadapi. Mendengar kata raja dan temannya Firgas, ekspresi
muka Actus langsung berubah menjadi sangat marah. Tak perlu waktu panjang
seluruh pasukan Actus langsung bergerak ke arah kastil Gloria, “Aku serahkan
sisanya kepada mu! Beritau lah Robert dan Angela!”
“Firgas kenapa kau selalu bertindak sendiri seperti ini,
aku tidak akan membiarkan mu mati kali ini, tunggu lah aku” ucap Actus yang
terus memikirkan sahabatnya yang sedang melawan Gloria. Bahkan kekuatan Robert
saja tidak cukup untuk membunuh Gloria apalagi Firgas. Dengan memimpin pasukan
divisi nya, Actus menjalankan misi tanpa persetujuan Angela, lebih tepatnya
misi bunuh diri sekaligus penyelamatan yang mustahil.
“Tuan Putri! Kapten Robert! Berita buruk!” teriak pasukan
tersebut sambil menaiki anak tangga ke arah perkustakaan sihir kota Lazarus.
Nafas mereka sangat lah kacau, mereka bahkan terlihat hampir kehabisan nafas.
“Pelan-pelan! Ada apa ini?” tanya Angela yang sangat khawatir, Robert menyusul
Angela ke arah pasukan-pasukan itu sambil berlari kecil. “Kami menemukan Raja!
Raja saat ini berada di kastil Gloria bersama dengan Kapten Firgas. Kapten
Firgas melawan Gloria sendiri, serta Kapten Actus memimpin pasukannya ke arah
Gloria.” Mendengar hal itu Angela sangat terkejut, dia senang bisa menemukan
ayahnya namun di sisi lain ini adalah perang. Actus yang pergi sendiri serta
Firgas yang melawan sendirian, kondisi benar-benar kacau.
“Siapkan pasukan kita! Ini adalah perang, kerahkan semua
pasukan yang siap bertarung! Robert, pergilah duluan, aku akan memimpin
pasukan” perintah sang ratu sudah diberbunyi. Para pasukan bersiap ke kuda-kuda
mereka sambil menyiapkan senjata mereka. Lonceng-lonceng dibunyikan sebagai
tanda perang sudah dimulai, para penduduk kembali ke rumah mereka, beberapa di
antara mereka menyiapkan tongkat sihir dan pedang untuk berjaga-jaga.
Bendera Ommar berkibar disetiap punggung pasukan Ommar.
Bendera berlogo daun yang terbakar di atas tangga itu dilekatkan di setiap
tombak yang ada di punggung pasukan Ommar. Tidak ada pidato atau kata-kata yang
biasa diucapkan raja kepada pasukan nya sebelum memulai berperang, waktu sudah
tidak bisa menunggu. Angela hanya berkata “Kita akan merebut tanah kita yang
mereka rebut! Sekarang atau tidak sama sekali!” Angela tidak mewarisi keahlian
berbicara ayahnya.
Kuda-kuda itu pergi meninggalkan Lazarus membawa
pasukan-pasukan berani Ommar bersama sang ratu. Perang sudah ada di depan mata
namun hati Angela belum kuat, sihir-sihir yang dikuasai nya bukanlah sihir
perang. Angela ingin menemukan dan membawa pulang ayahnya serta membawa pulang
Firgas. Firgas tidak boleh mati, dia adalah potensi perang Ommar.
Actus di sisi lain sudah sampai di kastil Gloria. Pasukan
Gloria menyadari ada nya penyerangan dari Ommar. Melihat hal itu Actus
memerintahkan pasukan nya untuk mengurus mereka, “Kalian uruslah
pasukan-pasukan Gloria. Aku harus menolong Firgas” perintah sang kapten kepada
prajuritnya. “Kami mengerti kapten! Hati-hati lah” balas prajurit Actus. Actus
pun langsung bergerak secepat mungkin dengan kudanya.
Sesampainya di gerbang kastil barat, tempat lokasi Firgas
berada Actus langsung membuka gerbang dengan terburu-buru. “Firgas!” teriak
Actus saat melihat sahabatnya tertusuk pedang Magnarux di perutnya. “Ac-Actus,
bagaimana bisa?” tanya Firgas dengan suara lemas, wajahnya langsung memucat,
dan darah nya keluar banyak dari perutnya. Firgas pun langsung terjatuh,
melihat itu Actus langsung berlari dan memeluk Firgas.“Diam lah! Kumohon
bertahanlah Firgas! Kau ingat kau memiliki janji bertarung bersama dengan ku
bukan?” ucap Actus berusaha membaringkan Firgas.
“Maaf Actus. Tapi setiap ketua memiliki masa nya
sendiri-diri, begitupun aku. Waktu ku tinggal sedik-“ sebelum kalimat tersebut
berhasil diselesaikan Firgas, dia sudah batuk-batuk. Melihat teman nya yang
semakin sekarat, Actus langsung menggunakan sihir penyembuh, “Pacirinius.”
Sihir penyembuh pun tidak akan bisa menahan pembekuan dari efek pedang
Magnarux.
“Bertahanlah sebentar Firgas. Aku akan mengulur waktu
sampai bantuan tiba” ucap Actus yang lalu pergi meninggalkan Firgas. “Gloria.
Ini pertemuan kedua kita bukan? Kali ini akan kupastikan kau akan mati secara
mengenaskan!” wajah Actus saat berbicara sangatlah marah. “Coba saja Actus!”
Gloria berbicara sambil menantang Actus bertarung juga.
__ADS_1
Actus menerjang ke arah Gloria, gerakan nya sangat cepat,
bahkan tidak bisa dilihat dengan mata manusia biasa. “Voco: Emorut.” Gloria
memunculkan pedang kegelapan nya. Pedang Emorut, pedang yang pernah hancur terbelah
dua oleh Actus. Pedang yang bisa memunculkan api kegelapan dengan tebasan nya.
Tebasan-tebasan pedang Actus ditahan kembali oleh Gloria. Gloria tampak
kelelahan dengan Actus, beberapa tebasan dari Actus bahkan tidak bisa ditahan
Gloria.
Robert akhirnya sampai ke wilayah Gloria. Gloria langsung
membantu para pasukan Actus yang sedang melawan tentara Gloria. Kedatangan
Robert kemudian disambut oleh Nicorus, sang tangan kanan raja kegelapan. “Wah
kita sampai bersamaan ya Robert Zafr?” tanya Nicorus dengan senyum nya. “Tidak
perlu bertanya jika kau sudah tau, bukankah kau dulu berkata seperti itu
Nicorus Oblivium? Sang penghianat Ommar.” Nicorus dulunya adalah salah satu
dari panglima perang Ommar seperti Firgas, namun memilih bergabung dengan Gloria
karena tawaran kekuatan dari Gloria.
“Kami datang tepat waktu rupanya, bukankah begitu
Robert?” kedatangan Robert langsung disusul oleh Angela Ommar berserta para
pasukan Ommar yang lain. “Paman Nicorus, senang bertemu dengan mu lagi. Kau
tau? Aku sedikit merindukan mu.” Nicorus menunjukan senyum yang lebar bahkan
sampai tertawa mendengar itu, “Kau sudah berubah tuan putri, namun janganlah
sombong karena ku rasa dua melawan satu tidak adil. Perkenalkan, oh maaf aku
lupa kalau kalian adalah saudara” ucapan itu diikuti oleh munculnya Lean Ommar
di medan pertempuran. Pertemuan pertama kedua saudari setelah berbulan-bulan
perpisahan pun tiba.
“Kakak!” teriak Angela terkejut saat melihat kakaknya
berada di pihak musuh selama ini. “Kau! Lean Ommar! Apa yang kau lakukan di
situ!?” angela bertanya sekali lagi untuk memastikan tuduhan nya. “Apa yang
sudah kau lakukan kepada Lean!? Jawab aku Nicorus!” tanya Angela sekali lagi
yang membuat Nicorus tertawa terbahak-bahak. “Kau masih saja berisik bahkan
saat berada di pertarungan ya Angela.”
Angela masih tidak bisa menerima kenyataan ini. Kakak
yang selama ini ia cari malah bergabung dengan Gloria. Ia tidak menangis, kali
ini amarah Angela sudah melampaui batasan nya. “Lean apakah kau tau apa yang
sudah kau perbuat!?” teriak Ratu Ommar kepada saudara nya sendiri. “Aku hanya
meneruskan tradisi keluarga kita, adik kecilku.” Penjelasan Lean membuat Angela
kebingungan. Angela tidak peduli lagi, ia memilih untuk menangkap Lean dan
menginterograsi nya di Kota Lazarus. “Pasukan! Bersiaplah, target kalian adalah
Lean Ommar dan Nicorus Oblivium. Bunuh Nicorus dan tangkap Lean!” perintah
Angela dimengerti semua pasukan termasuk Robert. Mereka semua langsung
menerjang dan menyerang satu sama lain.
Actus masih sibuk dengan Gloria namun di sini, Gloria
sudah terluka. Sementara Actus kelelahan, sangat kelelahan. “Kau kelelahan
Actus? Kau tau luka-luka ini bisa kusembukan dengan mudah, Pacirinius!”
luka-luka di tubuh Gloria langsung hilang dengan sendirinya. Luka-luka besatan
pedang Actus tidak terlalu besar oleh karena itu hilang nya lebih mudah.
Ketimbang luka pedang Magnarux. “Mustahil.. bagaimana bisa dia bertambah kuat
sejak saat itu” Actus masih ingat ketika pertarungan pertama mereka. Actus
berhasil memojokan Gloria namun kini keadaan terbalik.
“Kau tau aku berlatih sangat keras setiap hari nya demi
kalian sehingga melemah. Yang kutau dulu kalian adalah kerjaan terkuat di
Angelus, namun sekarang mudah dihancurkan.” Perkataan Gloria ada benarnya,
keahlian Actus tidak bertambah pesat sejak kejadian dua tahun lalu. Sedangkan
di sisi lain kekuatan Gloria bertambah pesat, tidak heran ia bisa menaklukan
Kerajaan Ommar.
“Ini belum berakhir!” Actus langsung menerjang ke arah
Gloria, pertarungan babak kedua pun dimulai. “Occorur!” sihir yang digunakan
Actus berfungsi untuk menyelimuti pedang nya dengan api biru. Kali ini pedang
nya jauh lebih kuat dari sebelumnya.”Teknik yang bagus Actus” pujian Gloria
kepada Actus tidak membuat perubahan apa-apa, Actus tetap serius dan fokus
untuk mengalahkan Gloria. Gerakan nya bahkan jadi lebih cepat. “Indorog!” Actus
mengayunkan pedang nya kemudian mengeluarkan energi besar yang mengarah ke arah
Gloria. “Conis!” seketika posisi Actus berubah. Actus berada di depan Gloria
dan energi yang dikeluarkan pedang nya tadi berada di belakang. Tanpa Gloria
sadari terjadi ledakan dibelakang nya dan Actus langsung menyerang.
Serangan tersebut masih bisa ditahan Gloria, namun
serangan tersebut akhirnya bisa melukai sang kegelapan. Darah keluar dari sisi
perut bagian kiri Gloria. “Akhirnya Actus yang lama kembali juga.” Seusai
berkata demikian maka Gloria meloncat ke atas kemudian berteriak, “Inanbilus!”
seketika ruangan berubah menjadi gelap. Tidak ada yang bisa dilihat oleh Actus
dan Firgas. Keadaan juga menjadi hening, rasanya seperti matahari telah
menghilang.
“Aku ada di sini Actus!” teriakan itu berasal dari
sebelah kiri Actus. Beruntungnya Actus berhasil menahan serangan Gloria, namun
serangan tersebut berpindah arah ke belakang dan berhasil mengenai Actus.
“Actus apa kau masih kuat?” tanya Firgas dengan suara kesakitan. “Kau diam saja
di sana, aku akan menahan nya sampai Robert datang.” Actus tetap saja mencoba
bertahan walau luka nya sudah semakin parah. Pasukan nya yang masih berada di
belakang juga tidak mungkin bisa menolong nya.
“Jangan berlagak jika kau bisa menahan nya. Kau bukanlah
panglima seperti aku, dan karena aku adalah panglima maka biarlah aku ikut
bertarung” Firgas mencoba berdiri, walau tampak kesusahan ia akhirnya bisa
berdiri di samping Actus. “Firgas, namun..” Actus masih tidak yakin dengan
kondisi Firgas. “Lebih baik aku bertarung ketimbang aku diam dan menyaksikan mu
seperti tadi.” Senyum tergambar di muka Actus dengan air mata yang jatuh. Entah
mengapa sudah lama sekali sejak mereka berdua bisa bertarung seperti ini.
Berdampingan.
Kondisi yang gelap sama sekali membuat peluang mereka
untuk menyerang balik sangatlah kecil. Sayangnya tidak ada di antara mereka
berdua yang bisa menguasai sihir cahaya. “Voco: Custoran de Merator! Tenanglah
Actus, mungkin kita tidak bisa melihat, namun Gloria juga tidak bisa menyerang
kita.” Mahluk yang dimunculkan Firgas adalah para penjaga kaisar. Mereka adalah
mahluk es tingkat tinggi yang dimiliki Firgas. Total dari mereka berjumlah 10
orang. Berjubah dan menggunakan pakaian zirah bewarna putih, masing-masing dari
mereka membawa pelindung perisai dan tongkat panjang untuk membantu menggunakan
__ADS_1
sihir.
“Lagi-lagi mengeluarkan mahluk es aneh mu itu. Cara
bertarung kalian berdua sangatlah berbeda dari waktu kita bertarung dulu.”
Suara itu menggema di ruangan tersebut. Hal aneh ini pun disadari oleh mereka
semua. Suara pedang yang diayunkan pun terdengar sangat jelas, terutama langkah
kaki Gloria. Tiba-tiba saja ada pedang yang mengarah ke Firgas, namun para
penjaga tersebut merhasil menahan dan mengembalikan energi serangan Gloria
tersebut kembali ke Gloria sendiri. Sehingga Firgas dan Actus menyadari keberadaan
Gloria. “Di sana! Actus, dia di sana!” teriak Firgas. Actus pun langsung
melesat ke arah Gloria, sedangkan Firgas bersiap mengeluarkan sihirnya. “
Costudipunarosius!” 100 serpihan es pun melesat ke arah Gloria.
Serangan tersebut tidak ada yang berhasil mengenai
Gloria. Buruknya adalah serangan es milik Firgas malah mengenai Actus. “Actus!”
luka Actus menjadi lebih parah, bahkan kondisi nya tidak bisa bergerak.
Serpihan es tersebut membuat seluruh tubuh Actus membeku menjadi es.
“Fir-Firgas.. gunakan sihir teleportasi, kita harus pergi dari sini” Firgas
terkejut saat tau bahwa Actus masih bisa berbicara. Namun yang menjadi masalah
adalah energi yang dimiliki Firgas sangatlah sedikit sekarang.
“Acierom!” rupanya gerbang teleportasi masih bisa terbuka
namun terlihat lemah. Belum sampai 3 detik pun gerbang nya tertutup. Harapan
Firgas untuk lolos menjadi hilang. Para penjaga nya mengerumuni Actus dan
Firgas membuat Gloria tidak memiliki celah untuk bertarung. Firgas harus
bertahan hingga pertolongan datang, atau hingga maut datang kepada mereka.
Sementara itu Robert dan Angela masih sibuk bertarung.
Kekuatan sihir racun milik Nicorus mampu membuat beberapa pasukan Ommar terluka
parah bahkan beberapa ada yang tewas. Sementara Lean berhasil membuat Angela sibuk.
Nicorus mengeluarkan sihir racun nya lagi namun kali ini diarahkan tepat di
atas tanah tempat mereka bertarung. “Nubetoxus” membuat kondisi langit yang
semula cerah menjadi gelap. Awan-awan hitam tersebut tiba-tiba saja berkumpul
dan menjatuhkan air cairan asam.
“Celaka! Angela lari!” teriak Robert seraya langsung
mengeluarkan sihir perlindungan, “Sanxirus!” tubuh mereka berhasil terlidung,
juga beberapa pasukan, namun beberapa di antara mereka ada yang tidak sempat
berlindung. Nicorus terlihat menikmati ekspresi Robert dan Angela, keputusasaan
di muka Angela memang tergambar dengan jelas, namun tidak dengan Robert.
“Lamina de Treciusperator!” Robert menghilang dari pandangan Nicorus. Lalu
tiba-tiba saja muncul di depan muka Nicorus, Robert mengayunkan tangan nya,
yang kemudian mengeluarkan tiga belas pedang yang bersinar terang. Membuat Lean
tidak bisa melihat dan tepat menusuk ke tangan Nicorus.
Angela yang melihat itu langsung memanfaatkan situasi.
“Arerano!” sihir yang seharusnya menjadi sihir pelindung ini berhasil dibuat
Angela menjadi sihir penyerang. Pasir-pasir yang berasal dari tanah tersebut
mengeras dan menjadi duri-duri yang berhasil melumpuhkan pertahanan Kerajaan
Gloria. Melihat hal tersebut Lean pun langsung membalas adiknya, “Laodo mea
Regina!” mengeluarkan mahluk besar tampak di belakang nya. Bercahaya sangat
terang, membuat Robert pergi dari situ dan kembali di sisi Angela. Angela ingat
sihir itu, sihir milik ayah nya.
Mahluk besar itu bisa menyembuhkan segala luka yang ada.
Nicorus pun sembuh kembali, bahkan menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Namun,
mahluk tersebut tidak bisa bergerak maupun menyerang. Dia hanyalah sang putri
yang bertugas membantu Lean dan Nicorus. “Robert serang kakak ku terlebih
dahulu, kita tidak mungkin menang selama mahluk itu masih ada.” Rencana Angela
diikuti Robert dengan baik. Robert kembali ke hadapan Lean, namun sebelum Lean
menyerang balik Robert sudah tepat berada di belakang Lean. “Fulgeorutus!”
Ledakan besar tercipta oleh serangan tadi. Namun sayang
nya Nicorus berhasil melindungi Lean, “Rosanum.” Sihir rosanum membuat serangan
macam apa pun terserap kembali dan energi dalam serangan nya menjadi milik
pengguna sihir tersebut. “Kau terlambat Rober. Ilixius!” ledakan api dibuat
oleh Nicorus, namun sihir seperti itu tidak akan bisa melukai Robert. Robert
kembali mengayunkan tangan nya, namun kali ini bukan pedang yang ia keluarkan
namun sebuah tombak yang kemudian melontarkan mereka, membuat petir menyambar
tanah tersebut.
Tampa pikir panjang Robert memberikan pedang nya kepada
Angela untuk membunuh Nicorus dan kemudian membuat Lean pingsan. Pedang
tersebut berhasil Angela tangkap. Angela berlari secepat mungkin ke arah mereka
jatuh. Melihat hal itu Nicorus langsung berusaha melawan balik, “Radixohus” hal
itu tiba-tiba membuat Angela terdorong kembali ke tempat Robert oleh akar besar
yang keluar dari tanah. Sihir Nicorus memang tidak bias diremehkan, kemampuan
nya bahkan setara dengan Firgas.
Lean dan Nicorus berdiri dari tempat mereka jatuh.
Pertarungan ini harus nya bisa dimenangkan dengan mudah oleh Robert dan Angela,
namun Lean Ommar bisa melindungi Nicorus dengan sangat baik. Sihir pelindung
dan penyembuh milik keluarga Ommar memang tidak tertandingi. Sisa pasukan dari
pihak Kerajaan Gloria semakin sedikit. Lean yang sadar akan hal itu, berusaha
membuat jarak dengan Robert dan Angela, selangkah demi selangkah mundur.
“Apa kau sudah menyerah, Lean?” tanya Robert dengan
tatapan tajam ke arah wanita yang dulunya dia lindungi dan hormati. “Aku jadi
bingung, sihir apa yang Gloria pakai hingga bisa membuat dua orang kepercayaan
ku pergi dari Ommar.” Cara Robert berbicara berhasil membuat Lean buka mulut,
“Belum saatnya kau mengerti apa maksud ku, paman Robert.” Mendengar kata paman
dari Lean membuat Robert semakin marah.
“Surgerinus!” Robert mengeluarkan sihir andalan nya di
saat situasi genting. Sihir pembangkit, para pasukan yang baru saja mati
menjadi bangkit kembali dihadapan Lean dan Nicorus. Nicorus terlihat terkejut,
bahwa Robert mengeluarkan sihir terlarang tanpa membuka segel atau apa pun
semacamnya. Sejak kepergian Nicorus, Robert memang sudah berlatih dan
mengembangkan kekuatan nya, dia bersumpah untuk membunuh penghianat yang dulu
nya dia sebut teman.
“Nebul-“ tepat sebelum sihir kabut racun milik Nicorus
berhasil dikeluarkan, Robert sudah mengayunkan tangan nya dan mengeluarkan
tombak petir tadi. Kali ini, tombak tersebut tepat menusuk perut Nicorus. Petir
dari tombak itu juga menghempaskan Lean sangat jauh. “Saepor!” sekujur tubuh
Nicorus tertutup es. Tubuh nya terlindungi oleh es padat, Robert berniat untuk
membawa Nicorus kembali ke Ommar dan menginterograsi nya. “Angela berjaga lah
__ADS_1
di sini, aku akan mengejar Actus.” Seusai penangkapan Nicorus, Robert langsung
membawa pasukan nya dan pergi ke arah Actus