
Actus dan Firgas yang sudah semakin kehilangan kesadaran
masih terus mencoba bertahan. Pembekuan Actus masih bisa diperlambat oleh
Firgas, namun luka Firgas semakin membesar. Kesadaran Firgas yang semakin
menghilang menyebabkan beberapa penjaga nya menghilang, beberapa masih bertahan
menjaga master mereka.
Kegelapan di ruangan tersebut semakin pudar, cahaya mulai
bisa dirasakan oleh Firgas, namun sayangnya tepat setelah Gloria menyudahi
mantra kegelapan nya kesadaran Firgas hilang, bersamaan dengan hilang nya para
penjaga.
“Sekarang mari kita akhiri ini Firgas.” Gloria mendekati
tubuh Actus dan Firgas sambil menepukan pedang nya di telapak tangan sebelah
kiri nya. “Pertarungan yang cukup menghibur, walaupun jadi sangat bosan tadi
nya” Gloria masih melanjuti ocehan nya. Dengan sadar Gloria menghindari sebuah
pedang yang terlempar ke arahnya. “Wah-wah, lihat siapa yang datang. Robert”
Gloria tampak terkejut melihat kedatangan Robert, namun dia tambah terkejut
saat melihat pasukan yang dibawa oleh Robert. “Wow! Aku suka ekspresi mu
Gloria”
Gloria tau bahwa dia bisa saja melawan mereka semua,
namun dia ingin mengambil tubuh Firgas. Gloria memilih untuk kabur pergi. “Manus
de Abysses” sebuah tangan berwarna hitam muncul dari tembok-tembok, dan
lantai-lantai dengan jumlah yang banyak. Robert langsung mengerti maksud
Gloria. Maka dari itu, Robert langsung berlari ke arah tubuh Actus dan Firgas.
Tangan Robert berhasil meraih Actus namun di sisi lain
tangan-tangan gelap yang dikeluarkan oleh Gloria berhasil meraih Firgas. Sontak
Robert langsung menggeluarkan sihir cahaya, “Lucynirus.” Cahaya tersebut sangat
terang sampai-sampai membuat Gloria harus menutup mata nya dengan tangan nya. Namun
perkiraan Robert salah, tangan kegelapan tersebut malah menarik Firgas
kebelakang.
Tertawa Gloria terdengar dengan jelas di ruangan
tersebut, memecah keheningan yang baru saja tercipta. “Kau benar-benar berpikir
kau bisa menghancurkan hal itu? Robert cobalah berpikir rasional. Sepertinya
kau jadi tidak bisa berpikir jernih saat keadaan terdesak ya?” Gloria tertawa
lagi melihat Robert yang semakin panik. “Gloria! Apa yang kau inginkan
sebenarnya!?” amarah Robert bisa tergambar dengan jelas dari caranya berbicara.
“Lepaskan Firgas atau akan kubunuh Nicorus!” Robert
berusaha untuk membuat kesepakatan dengan Gloria namun tampaknya usaha Robert
tidak akan membuahkan hasil. Gloria tidak menjawab apa-apa, suasana kembali
diam. Sampai akhirnya Robert menjadi sangat marah, dia menghilang dan kemudian
berada di depan hadapan Gloria. Robert mengangkat pedang nya. Pedang yang
bernama Sacro de Specutor, bentuk nya yang aneh juga menjadi ciri khas nya,
dengan pedang yang meruncing di sisi kiri dan kemudian memiliki bilah pedang
yang ukuran nya lebih kecil lagi di sebelah kanan. Robert kemudian menyerang
Gloria dengan pedang nya, namun Gloria berhasil menghindar dengan mudah.
Tangan kegelapan tersebut kemudian malah mendorong Robert
mundur, melempar nya hingga menabrak dinding. “Gloria tunggu! Punarius!”
sebelum sihir tersebut mengenai Gloria, Gloria sudah menghilang, bagai
kegelapan yang disinari cahaya. Gloria hilang tampa jejak. Gloria pun berjalan
keluar dari ruangan itu, dengan tatapan kosong dia mengendong Actus di punggung
nya. Api ada di mana-mana, mayat para prajurit berhamburan di jalan, keadaan
sangat kacau, namun di sisi baik nya Kerajaan Ommar berhasil merebut wilayah
lamanya dan mengambil beberapa wilayah Gloria.
Melihat Robert dan Actus, Angela langsung berlari
menghampiri Robert. “Robert kau baik-baik saja? Apa yang terjadi dan di mana
Firgas!?” Angela terlihat panik tidak bisa menemukan Firgas. Sementara Robert
hanya diam saja, dia tidak bisa berkata-kata, sampai tetesan air mata nya turun.
Angela menyadari hal itu dan langsung bertanya lagi pada Robert, “Katakan
padaku apa yang terjadi! Robert!” langit
menjadi gelap, suasa nya menandakan sebentar lagi akan hujan.
Robert menjelaskan semuanya kepada Angela, di mulai dari
keterlambatan nya, hingga pertarungan singkat nya dengan Gloria. Mereka
memutuskan untuk kembali ke Lazarus dan membuat rencana di sana. Semua kembali
tanpa terkecuali. Hujan pun turun, tidak terlalu deras. Namun tidak ada dari
mereka yang memperdulikan hujan. Hati mereka sedang bersedih, kehilangan
seorang kapten yang mereka banggakan. Tanpa Firgas maka Ommar tidak akan bisa
merebut wilayah nya kembali.
Robert tidak sadarkan diri setelah bercerita panjang
lebar dengan Angela. Dia pingsan karena kelelahan dan mungkin juga disebabkan
kesedihan. Robert memang tidak dekat dengan Firgas, tetapi tetap saja Firgas
adalah rekan sesama kapten di Kerajaan Ommar. Walaupun Robert kemudian menjadi
tangan kanan raja, mereka tetap dekat, namun sekarang Robert bahkan tidak tau
apa yang akan terjadi pada Firgas. Dia pun tidak tau apa dia akan kuat
menceritakan hal ini kepada Actus setelah Actus sadar nantinya.
Setelah sampai di Lazarus para rakyat yang menyambut
mereka tiba-tiba berhenti. Mereka tidak tau apa yang terjadi, namun raut muka
mereka sangatlah tertekan. Sorak-sorai yang tadi nya terdengar jelas menghilang
begitu saja termakan oleh suara hujan yang semakin deras. Angela, pemimpin
mereka berada di barisan paling depan, memimpin para pasukan pemberani Ommar
menyerbu Gloria tanpa rencana sama sekali, walaupun misi mereka gagal, tapi
mereka bisa mengambil kembali wilayah mereka. Raja Ommar yang masih bisa belum
ditemukan dan Firgas yang dibawa oleh Gloria.
__ADS_1
Berminggu-minggu kemudian para tentara dan ketua-ketua
divisi yang terluka sudah pulih seperti sedia kala, namun tetap saja, kesedihan
mereka akan Firgas masih belum hilang. Actus yang baru saja terbangun setelah dua
minggu tertidur langsung mencari sahabat nya itu ke mana-mana. Luka nya yang
belum sembuh total membuat nya tidak bisa pergi jauh-jauh dari ruangan divisi
kesehatan. “Rupanya kau sudah bangun, Actus” ucap wanita tersebut dengan lemah
lembut. Dia adalah Remenia Crijk, kapten divisi kesehatan Kerajaan Ommar. Dia
sangatlah terkenal dikalangan rakyat, bukan hanya karena kecantikan nya, rambut
nya yang bewarna merah juga menjadi salah satu alasan, dia juga sangat ramah
kepada semua orang.
“Seperti nya begitu. Lagipula aku sedang mencari Firgas,
di mana dia?” pertanyaan tersebut sukses membuat Remenia terkejut. Dia sudah
tau keadaan yang sebenarnya, dan dia tidak bisa memberi tau Actus saat ini,
“Tanya lah kepada Robert dan Putri Angela. Aku tidak tau soal hal itu. Maaf ya,
Actus.” Senyum yang ia berikan kepada Actus membuat Actus tersenyum juga, namun
tetap dia masih tidak bisa berhenti memikirkan Firgas. “Aku akan pergi ke
kastil. Terimakasih Remenia” setelah berkata demikian, Actus menatap mata
Remenia dan tersenyum lalu pergi dari ruangan itu. Remenia hanya bisa
tersenyum, dan berkata kecil setelah Actus pergi, “Kuatkanlah hati mu, Actus..”
Actus pergi menuju kastil di mana Robert dan Angela
berada, namun karena kondisi nya yang masih belum terlalu sembuh Actus tidak
bisa berlari. Setiap warga yang melihat nya memberikan hormat kepada Actus,
beberapa ada yang memberikan bunga, ada yang membungkuk, dan ada yang berjabat
tangan. Semua rasa itu tentu menyenangkan bagi Actus tapi tetap hati nya tidak
akan tenang sampai dia bisa menemukan sahabatnya.
Sesampai nya di kastil Robert yang berada di tangga
langsung melihat Actus. “Kau sudah bangun? Tapi tampaknya luka-luka nya belum
sepenuhnya sembuh. Kemarilah Actus!” Robert terlihat sangat bahagia, sambil
tertawa dia menghampiri Actus. Actus yang melihat Robert juga sama bahagia nya,
mereka berpelukan. Kemudian setelah selesai melepas rindu, Actus bertanya
kepada Robert, “Robert, katakan padaku di mana Firgas? aku mencari nya
kemana-mana, dan aku tidak bisa melihatnya” tanya Actus sambil tersenyum riang
kepada Robert.
Robert menghela nafas, dia tau kalau ini akan terjadi.
“Maafkan aku Actus. Firgas berhasil diambil oleh Gloria, aku sudah mencoba
melawan Gloria namun dia bisa dengan mudah pergi, begitu juga dengan Raja. Kami
tidak berhasil menemukannya. Namun kami berhasil menangkap Nicorus kembali”
jelas Robert panjang lebar. Jawaban tersebut membuat Actus terkejut, dia tidak
bisa berkata apa-apa, terdiam seperti patung dengan tatapan kosong. Air mata
keluar, membasahi tangan nya. Waktu terlihat seperti mati sesaat. Angin kencang
yang membuat suara di atas loteng membuat situasi hening menjadi pecah. Namun
butuh waktu sendiri.” Actus pergi dari kastil dengan isak tangis. Robert tidak
mengejarnya, dia tau Actus butuh waktu sendiri.
Robert kemudian menemui Angela lagi, “Angela bagaimana
selanjut nya?” pertanyaan tersebut terlintas dalam benak Robert setelah dia
sembuh, apa langkah selanjutnya yang akan dilakukan Ommar. “Aku sendiri tidak
tau Robert. Namun, kita harus memperbaiki kerusakan benteng Ommar yang berhasil
kita rebut dan mulai membuat benteng di sekitar wilayah Gloria yang berhasil
kita rebut. Aku sudah mengirim beberapa pasukan ke sana. Selanjutnya kita akan
melaksanakan rencana kita, berbicara dengan kerajaan-kerajaan kecil di Angelus
untuk menyelesaikan rencana besar kita. Oh ya! Kita belum menyelesaikan
latihan” jawaban panjang lebar dari Angela memberi kejelasan dan rasa tenang bari
Robert. Seperti nya keadaan sudah membaik dari sebelumnya. “Aku tidak lupa akan
latihan mu Angela.” Mereka berdua tersenyum, namun dari senyum mereka tetap ada
kecemasan dan kesedihan.
Bab
10
“Racun
Dari Ommar”
Satu bulan setelah kejadian pengambilan wilayah Ommar,
rencana penghancuran Ommar sudah siap. Kondisi Actus sudah baik seperti dulu,
dia tidak lagi bersedih melainkan dia jadi lebih sering berlatih bersama Angela
dan Robert. Dia ingin bisa jauh lebih kuat untuk mengambil Firgas kembali dari Gloria.
Mereka semua berlatih dengan tujuan yang sama, mengambil hak mereka yang
direbut oleh Gloria. Angela di sisi lain sangat ingin bertanya dengan Lean
mengenai apa yang terjadi, namun dia harus menunggu kesempatan berikutnya.
Nicorus yang menjadi es kini sudah dipenjara oleh tentara
Ommar. Mereka baru bisa menghancurkan es tersebut dalam waktu 3 minggu. Robert
mempelajari sihir segel itu dari Firgas. Segel itu sangatlah kuat, Firgas
berkata jika bahkan Gloria akan kesusahan untuk menghancurkan es itu. Namun,
kerja keras para pasukan terbayar sudah, es tersebut hancur dan Nicorus
langsung ditahan.
Robert dan Actus berencana menginterograsi Nicorus besok
hari pada pagi-pagi buta. Sementara Angela akan berlatih dengan para prajurit
dan kapten divisi. Pagi-pagi buta sekali Actus dan Robert pergi ke penjara
bawah tanah. Suasana pagi hari di Ommar sangatlah dingin, terlihat dari pakaian
mereka berdua. Robert dan Actus menggunakan jubah yang bagian depan nya juga
menutupi bagian depan tubuh mereka. “Kau siap Actus?” tanya Robert memastikan
__ADS_1
pasangan nya, “Tentu saja, mari kita lakukan ini.”
Nicorus yang masih tertidur dibawa oleh para pasukan ke
meja dan mereka menyiram Nicorus dengan air dingin agar dia terbangun. Tangan
dan kaki Nicorus sudah diborgol. “Kau sudah bangun? Tentara Racun Dari Ommar?”
tanya Robert, Tentara Racun Dari Ommar adalah sebutan orang lain terhadap
Nicorus saat dia masih menjadi panglima di Ommar. Dia pernah membunuh seluruh
tentara satu kerajaan hanya dengan racun nya. “Panggilan yang bagus.” Nicorus
langsung sadar bahwa dia diborgol, dia berusaha menggerakan tangan dan kaki nya
namun tidak bisa bergerak. “Jangan coba membuka segel nya dengan kekuatan
fisik, atau kau bisa terluka” peringatan dari Actus, membuat Nicorus sadar
bahwa dia sedang diinterograsi, “Wah-wah aku tak sabar apa yang akan kalian
lakukan.”
“Di manakah Raja Ommar?” pertanyaan pertama diajukan oleh
Actus. Nicorus hanya terdiam, namun akhirnya ia berbicara. “Kau tau apa? Kau
bisa memberi ku pertanyaan bodoh mu itu kepada ku terus menerus tapi kau tidak
akan bisa membuat ku berbicara.” Hal itu tidak membuat Robert dan Actus
menyerah. “Ku kira ini akan memakan waktu yang cukup lama sampai kita masuk ke
sesi menyiksa, namun ini sangat cepan bukan kah begitu Robert?” Robert menjawab
dengan senyuman dan anggukan, “Mari kita lihat saja Nicorus.”
“Veti de Colosus.” Robert mengeluarkan sihir ilusi
terlarang. Tidak heran jika Robert menguasai sihir-sihir terlarang, dia adalah
tangan kanan Ommar tentu saja dia kuat, lagipula sebelum dia menjadi tangan
kanan kerajaan dia adalah pemimpin utama divisi Ommar. “Jangan coba melawan
sihir ini Nicorus, atau kau akan terperangkap selamanya.” Tambah Robert.
Nicorus terdiam, tapi bisa dilihat jika lama kelamaan ada
darah keluar dari telinga, mata, mulut, hidung, serta kulit. Hal tersebut
mengejutkan Actus, “Robert apa yang sebenarnya terjadi?!” tanya Actus dengan
panik, dia tidak ingin Nicorus terbunuh. “Tenang saja, dia hanya sedang terluka
parah di dunia ilusi yang kubuat.”
Beberapa saat kemudian Nicorus terbangun, dia memuntahkan
darah yang banyak di lantai. Nafas nya sesak seperti habis bertarung
habis-habisan. Luka banyak muncul di tubuh nya, dan mata nya mengeluarkan
darah. “Apa itu barusan... APA ITU BARUSAN!? ROBERT!” Nicorus berteriak
kencang, sampai-sampai para pasukan yang menjaga pintu penjara mengecek keadaan
Robert dan Actus.
“Tenang saja Nicorus ini hanya permulaan.” Senyum Robert
membuat Nicorus merinding. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi
selanjutnya. Pengalaman nya tadi di dunia ilusi tidak bisa dijelaskan dengan
kata-kata. Hal tersebut membuat kengerian pada Nicorus, bahkan mungkin trauma
jiwa. “Beritau kami apa yang kau ketaui atau kau akan mengalami hal yang lebih
buruk lagi!” gertak Actus.
“Jika pun kalian membunuh ku aku tidak akan berbicara
sepatah kata pun! Kejayaan Gloria adalah hidup bagi ku! Perintah Gloria adalah
kehendak ku!” semangat Nicorus bergelora. Robert dan Actus tau tidak mungkin
membuat nya bicara, ini semua hanya membuang-buang waktu saja. Nicorus adalah
tangan kanan Gloria. Tidak mungkin dia menyerah semudah itu.
“Apa yang harus kita lakukan Robert?” tanya Actus yang
masih belum mau menyerah. “Entah lah Actus. Jujur, aku sendiri sudah kehabisan
ide.” Baru pertama kali Actus melihat Robert seperti ini. Actus sendiri baru
pertama kali merasa seputus asa ini, walau di masa lalu pernah terjadi perang
yang lebih parah, namun mereka masih memiliki petunjuk untuk melawan. Sekarang,
mereka sama sekali buta, tidak tau apa yang harus dilakukan.
Dulu mereka memiliki Raja Ommar untuk memimpin dan
memberi mereka petunjuk, namun sekarang raja telah menghilang. Dulu ada Firgas
dan Nicorus yang bersama para panglima lain untuk membantu, namun sekarang
Ommar telah kehilangan dua sosok mereka. “Apa kau sedang mengenang masa lalu
Robert?” tanya Nicorus, namun kali ini suara nya berbeda, dia tampak serius.
“Itu tidak penting bagi mu” jawab Robert tampak tidak peduli. “Nicorus yang kau
kenal memang sudah mati, namun kenangan di masa lalu tidak akan mati Robert.
Kita memang musuh, namun aku memiliki alasan ku. Maaf.” Nicorus semakin serius,
hal tersebut membuat Actus dan Robert menjadi bingung.
“Sejarah yang selama ini ada sudah ditutupi oleh Raja
Ommar, bahkan Angela tidak tau sejarah Ommar yang asli begitupun kalian. Hanya
darah asli yang mendapat ingatan mengenai kebenaran. Itu adalah Lean Ommar dan
Rafaela Ommar.” Pernyataan Nicorus semakin membuat Actus dan Robert bingung.
“Jelaskan maksud mu Nicorus” perintah Robert. “Semua jawaban mu berada di tanah
ini. Tidak ada manusia yang bisa membunuh Gloria. Kekuatan Gloria melebihi raja
lain yang ada yang pernah kau ketahui Robert, Actus.”
Setelah mendengar penjelasan tersebut Robert dan Actus
pergi dari ruangan tanpa sepatah kata apa pun. Actus memerintahkan prajurit
yang lain untuk memenjarakan Nicorus lagi. Mereka berdua langsung tau apa yang
harus dilakukan. Jika menurut Nicorus jawaban nya berada di depan mata mereka,
maka para dewan kerajaan mengetahui sesuatu. Robert dan Actus sudah lahir
beberapa tahun setelah kerajaan terbentuk. Tentu saja mereka tidak mengetahui
rahasia kerajaan.
Di sisi lain Angela masih tetap berlatih, perkembangan
pun sudah bisa dilihat. Angela menguasai banyak teknik dan sihir. Namun, saat
dia mencoba untuk menguasai sihir kegelapan, Angela sering lepas kendali dan
malah terbawa oleh kegelapan itu sendiri. Hal ini tidak pernah terjadi sebelum
nya dalam sejarah Ommar. Pada saat Angela tidak sadar, para prajurit mengaku
__ADS_1
mendengar suara perempuan tua yang berbicara, dengan suara yang tidak jelas.