Dahlia Hitam

Dahlia Hitam
27


__ADS_3

            Actus dan Firgas yang sudah semakin kehilangan kesadaran


masih terus mencoba bertahan. Pembekuan Actus masih bisa diperlambat oleh


Firgas, namun luka Firgas semakin membesar. Kesadaran Firgas yang semakin


menghilang menyebabkan beberapa penjaga nya menghilang, beberapa masih bertahan


menjaga master mereka.


            Kegelapan di ruangan tersebut semakin pudar, cahaya mulai


bisa dirasakan oleh Firgas, namun sayangnya tepat setelah Gloria menyudahi


mantra kegelapan nya kesadaran Firgas hilang, bersamaan dengan hilang nya para


penjaga.


            “Sekarang mari kita akhiri ini Firgas.” Gloria mendekati


tubuh Actus dan Firgas sambil menepukan pedang nya di telapak tangan sebelah


kiri nya. “Pertarungan yang cukup menghibur, walaupun jadi sangat bosan tadi


nya” Gloria masih melanjuti ocehan nya. Dengan sadar Gloria menghindari sebuah


pedang yang terlempar ke arahnya. “Wah-wah, lihat siapa yang datang. Robert”


Gloria tampak terkejut melihat kedatangan Robert, namun dia tambah terkejut


saat melihat pasukan yang dibawa oleh Robert. “Wow! Aku suka ekspresi mu


Gloria”


            Gloria tau bahwa dia bisa saja melawan mereka semua,


namun dia ingin mengambil tubuh Firgas. Gloria memilih untuk kabur pergi. “Manus


de Abysses” sebuah tangan berwarna hitam muncul dari tembok-tembok, dan


lantai-lantai dengan jumlah yang banyak. Robert langsung mengerti maksud


Gloria. Maka dari itu, Robert langsung berlari ke arah tubuh Actus dan Firgas.


            Tangan Robert berhasil meraih Actus namun di sisi lain


tangan-tangan gelap yang dikeluarkan oleh Gloria berhasil meraih Firgas. Sontak


Robert langsung menggeluarkan sihir cahaya, “Lucynirus.” Cahaya tersebut sangat


terang sampai-sampai membuat Gloria harus menutup mata nya dengan tangan nya. Namun


perkiraan Robert salah, tangan kegelapan tersebut malah menarik Firgas


kebelakang.


            Tertawa Gloria terdengar dengan jelas di ruangan


tersebut, memecah keheningan yang baru saja tercipta. “Kau benar-benar berpikir


kau bisa menghancurkan hal itu? Robert cobalah berpikir rasional. Sepertinya


kau jadi tidak bisa berpikir jernih saat keadaan terdesak ya?” Gloria tertawa


lagi melihat Robert yang semakin panik. “Gloria! Apa yang kau inginkan


sebenarnya!?” amarah Robert bisa tergambar dengan jelas dari caranya berbicara.


            “Lepaskan Firgas atau akan kubunuh Nicorus!” Robert


berusaha untuk membuat kesepakatan dengan Gloria namun tampaknya usaha Robert


tidak akan membuahkan hasil. Gloria tidak menjawab apa-apa, suasana kembali


diam. Sampai akhirnya Robert menjadi sangat marah, dia menghilang dan kemudian


berada di depan hadapan Gloria. Robert mengangkat pedang nya. Pedang yang


bernama Sacro de Specutor, bentuk nya yang aneh juga menjadi ciri khas nya,


dengan pedang yang meruncing di sisi kiri dan kemudian memiliki bilah pedang


yang ukuran nya lebih kecil lagi di sebelah kanan. Robert kemudian menyerang


Gloria dengan pedang nya, namun Gloria berhasil menghindar dengan mudah.


            Tangan kegelapan tersebut kemudian malah mendorong Robert


mundur, melempar nya hingga menabrak dinding. “Gloria tunggu! Punarius!”


sebelum sihir tersebut mengenai Gloria, Gloria sudah menghilang, bagai


kegelapan yang disinari cahaya. Gloria hilang tampa jejak. Gloria pun berjalan


keluar dari ruangan itu, dengan tatapan kosong dia mengendong Actus di punggung


nya. Api ada di mana-mana, mayat para prajurit berhamburan di jalan, keadaan


sangat kacau, namun di sisi baik nya Kerajaan Ommar berhasil merebut wilayah


lamanya dan mengambil beberapa wilayah Gloria.


            Melihat Robert dan Actus, Angela langsung berlari


menghampiri Robert. “Robert kau baik-baik saja? Apa yang terjadi dan di mana


Firgas!?” Angela terlihat panik tidak bisa menemukan Firgas. Sementara Robert


hanya diam saja, dia tidak bisa berkata-kata, sampai tetesan air mata nya turun.


Angela menyadari hal itu dan langsung bertanya lagi pada Robert, “Katakan


padaku apa yang terjadi! Robert!”  langit


menjadi gelap, suasa nya menandakan sebentar lagi akan hujan.


            Robert menjelaskan semuanya kepada Angela, di mulai dari


keterlambatan nya, hingga pertarungan singkat nya dengan Gloria. Mereka


memutuskan untuk kembali ke Lazarus dan membuat rencana di sana. Semua kembali


tanpa terkecuali. Hujan pun turun, tidak terlalu deras. Namun tidak ada dari


mereka yang memperdulikan hujan. Hati mereka sedang bersedih, kehilangan


seorang kapten yang mereka banggakan. Tanpa Firgas maka Ommar tidak akan bisa


merebut wilayah nya kembali.


            Robert tidak sadarkan diri setelah bercerita panjang


lebar dengan Angela. Dia pingsan karena kelelahan dan mungkin juga disebabkan


kesedihan. Robert memang tidak dekat dengan Firgas, tetapi tetap saja Firgas


adalah rekan sesama kapten di Kerajaan Ommar. Walaupun Robert kemudian menjadi


tangan kanan raja, mereka tetap dekat, namun sekarang Robert bahkan tidak tau


apa yang akan terjadi pada Firgas. Dia pun tidak tau apa dia akan kuat


menceritakan hal ini kepada Actus setelah Actus sadar nantinya.


            Setelah sampai di Lazarus para rakyat yang menyambut


mereka tiba-tiba berhenti. Mereka tidak tau apa yang terjadi, namun raut muka


mereka sangatlah tertekan. Sorak-sorai yang tadi nya terdengar jelas menghilang


begitu saja termakan oleh suara hujan yang semakin deras. Angela, pemimpin


mereka berada di barisan paling depan, memimpin para pasukan pemberani Ommar


menyerbu Gloria tanpa rencana sama sekali, walaupun misi mereka gagal, tapi


mereka bisa mengambil kembali wilayah mereka. Raja Ommar yang masih bisa belum


ditemukan dan Firgas yang dibawa oleh Gloria.

__ADS_1


            Berminggu-minggu kemudian para tentara dan ketua-ketua


divisi yang terluka sudah pulih seperti sedia kala, namun tetap saja, kesedihan


mereka akan Firgas masih belum hilang. Actus yang baru saja terbangun setelah dua


minggu tertidur langsung mencari sahabat nya itu ke mana-mana. Luka nya yang


belum sembuh total membuat nya tidak bisa pergi jauh-jauh dari ruangan divisi


kesehatan. “Rupanya kau sudah bangun, Actus” ucap wanita tersebut dengan lemah


lembut. Dia adalah Remenia Crijk, kapten divisi kesehatan Kerajaan Ommar. Dia


sangatlah terkenal dikalangan rakyat, bukan hanya karena kecantikan nya, rambut


nya yang bewarna merah juga menjadi salah satu alasan, dia juga sangat ramah


kepada semua orang.


            “Seperti nya begitu. Lagipula aku sedang mencari Firgas,


di mana dia?” pertanyaan tersebut sukses membuat Remenia terkejut. Dia sudah


tau keadaan yang sebenarnya, dan dia tidak bisa memberi tau Actus saat ini,


“Tanya lah kepada Robert dan Putri Angela. Aku tidak tau soal hal itu. Maaf ya,


Actus.” Senyum yang ia berikan kepada Actus membuat Actus tersenyum juga, namun


tetap dia masih tidak bisa berhenti memikirkan Firgas. “Aku akan pergi ke


kastil. Terimakasih Remenia” setelah berkata demikian, Actus menatap mata


Remenia dan tersenyum lalu pergi dari ruangan itu. Remenia hanya bisa


tersenyum, dan berkata kecil setelah Actus pergi, “Kuatkanlah hati mu, Actus..”


            Actus pergi menuju kastil di mana Robert dan Angela


berada, namun karena kondisi nya yang masih belum terlalu sembuh Actus tidak


bisa berlari. Setiap warga yang melihat nya memberikan hormat kepada Actus,


beberapa ada yang memberikan bunga, ada yang membungkuk, dan ada yang berjabat


tangan. Semua rasa itu tentu menyenangkan bagi Actus tapi tetap hati nya tidak


akan tenang sampai dia bisa menemukan sahabatnya.


            Sesampai nya di kastil Robert yang berada di tangga


langsung melihat Actus. “Kau sudah bangun? Tapi tampaknya luka-luka nya belum


sepenuhnya sembuh. Kemarilah Actus!” Robert terlihat sangat bahagia, sambil


tertawa dia menghampiri Actus. Actus yang melihat Robert juga sama bahagia nya,


mereka berpelukan. Kemudian setelah selesai melepas rindu, Actus bertanya


kepada Robert, “Robert, katakan padaku di mana Firgas? aku mencari nya


kemana-mana, dan aku tidak bisa melihatnya” tanya Actus sambil tersenyum riang


kepada Robert.


            Robert menghela nafas, dia tau kalau ini akan terjadi.


“Maafkan aku Actus. Firgas berhasil diambil oleh Gloria, aku sudah mencoba


melawan Gloria namun dia bisa dengan mudah pergi, begitu juga dengan Raja. Kami


tidak berhasil menemukannya. Namun kami berhasil menangkap Nicorus kembali”


jelas Robert panjang lebar. Jawaban tersebut membuat Actus terkejut, dia tidak


bisa berkata apa-apa, terdiam seperti patung dengan tatapan kosong. Air mata


keluar, membasahi tangan nya. Waktu terlihat seperti mati sesaat. Angin kencang


yang membuat suara di atas loteng membuat situasi hening menjadi pecah. Namun


butuh waktu sendiri.” Actus pergi dari kastil dengan isak tangis. Robert tidak


mengejarnya, dia tau Actus butuh waktu sendiri.


 


 


            Robert kemudian menemui Angela lagi, “Angela bagaimana


selanjut nya?” pertanyaan tersebut terlintas dalam benak Robert setelah dia


sembuh, apa langkah selanjutnya yang akan dilakukan Ommar. “Aku sendiri tidak


tau Robert. Namun, kita harus memperbaiki kerusakan benteng Ommar yang berhasil


kita rebut dan mulai membuat benteng di sekitar wilayah Gloria yang berhasil


kita rebut. Aku sudah mengirim beberapa pasukan ke sana. Selanjutnya kita akan


melaksanakan rencana kita, berbicara dengan kerajaan-kerajaan kecil di Angelus


untuk menyelesaikan rencana besar kita. Oh ya! Kita belum menyelesaikan


latihan” jawaban panjang lebar dari Angela memberi kejelasan dan rasa tenang bari


Robert. Seperti nya keadaan sudah membaik dari sebelumnya. “Aku tidak lupa akan


latihan mu Angela.” Mereka berdua tersenyum, namun dari senyum mereka tetap ada


kecemasan dan kesedihan.


Bab


10


“Racun


Dari Ommar”


            Satu bulan setelah kejadian pengambilan wilayah Ommar,


rencana penghancuran Ommar sudah siap. Kondisi Actus sudah baik seperti dulu,


dia tidak lagi bersedih melainkan dia jadi lebih sering berlatih bersama Angela


dan Robert. Dia ingin bisa jauh lebih kuat untuk mengambil Firgas kembali dari Gloria.


Mereka semua berlatih dengan tujuan yang sama, mengambil hak mereka yang


direbut oleh Gloria. Angela di sisi lain sangat ingin bertanya dengan Lean


mengenai apa yang terjadi, namun dia harus menunggu kesempatan berikutnya.


            Nicorus yang menjadi es kini sudah dipenjara oleh tentara


Ommar. Mereka baru bisa menghancurkan es tersebut dalam waktu 3 minggu. Robert


mempelajari sihir segel itu dari Firgas. Segel itu sangatlah kuat, Firgas


berkata jika bahkan Gloria akan kesusahan untuk menghancurkan es itu. Namun,


kerja keras para pasukan terbayar sudah, es tersebut hancur dan Nicorus


langsung ditahan.


            Robert dan Actus berencana menginterograsi Nicorus besok


hari pada pagi-pagi buta. Sementara Angela akan berlatih dengan para prajurit


dan kapten divisi. Pagi-pagi buta sekali Actus dan Robert pergi ke penjara


bawah tanah. Suasana pagi hari di Ommar sangatlah dingin, terlihat dari pakaian


mereka berdua. Robert dan Actus menggunakan jubah yang bagian depan nya juga


menutupi bagian depan tubuh mereka. “Kau siap Actus?” tanya Robert memastikan

__ADS_1


pasangan nya, “Tentu saja, mari kita lakukan ini.”


            Nicorus yang masih tertidur dibawa oleh para pasukan ke


meja dan mereka menyiram Nicorus dengan air dingin agar dia terbangun. Tangan


dan kaki Nicorus sudah diborgol. “Kau sudah bangun? Tentara Racun Dari Ommar?”


tanya Robert, Tentara Racun Dari Ommar adalah sebutan orang lain terhadap


Nicorus saat dia masih menjadi panglima di Ommar. Dia pernah membunuh seluruh


tentara satu kerajaan hanya dengan racun nya. “Panggilan yang bagus.” Nicorus


langsung sadar bahwa dia diborgol, dia berusaha menggerakan tangan dan kaki nya


namun tidak bisa bergerak. “Jangan coba membuka segel nya dengan kekuatan


fisik, atau kau bisa terluka” peringatan dari Actus, membuat Nicorus sadar


bahwa dia sedang diinterograsi, “Wah-wah aku tak sabar apa yang akan kalian


lakukan.”


            “Di manakah Raja Ommar?” pertanyaan pertama diajukan oleh


Actus. Nicorus hanya terdiam, namun akhirnya ia berbicara. “Kau tau apa? Kau


bisa memberi ku pertanyaan bodoh mu itu kepada ku terus menerus tapi kau tidak


akan bisa membuat ku berbicara.” Hal itu tidak membuat Robert dan Actus


menyerah. “Ku kira ini akan memakan waktu yang cukup lama sampai kita masuk ke


sesi menyiksa, namun ini sangat cepan bukan kah begitu Robert?” Robert menjawab


dengan senyuman dan anggukan, “Mari kita lihat saja Nicorus.”


            “Veti de Colosus.” Robert mengeluarkan sihir ilusi


terlarang. Tidak heran jika Robert menguasai sihir-sihir terlarang, dia adalah


tangan kanan Ommar tentu saja dia kuat, lagipula sebelum dia menjadi tangan


kanan kerajaan dia adalah pemimpin utama divisi Ommar. “Jangan coba melawan


sihir ini Nicorus, atau kau akan terperangkap selamanya.” Tambah Robert.


            Nicorus terdiam, tapi bisa dilihat jika lama kelamaan ada


darah keluar dari telinga, mata, mulut, hidung, serta kulit. Hal tersebut


mengejutkan Actus, “Robert apa yang sebenarnya terjadi?!” tanya Actus dengan


panik, dia tidak ingin Nicorus terbunuh. “Tenang saja, dia hanya sedang terluka


parah di dunia ilusi yang kubuat.”


            Beberapa saat kemudian Nicorus terbangun, dia memuntahkan


darah yang banyak di lantai. Nafas nya sesak seperti habis bertarung


habis-habisan. Luka banyak muncul di tubuh nya, dan mata nya mengeluarkan


darah. “Apa itu barusan... APA ITU BARUSAN!? ROBERT!” Nicorus berteriak


kencang, sampai-sampai para pasukan yang menjaga pintu penjara mengecek keadaan


Robert dan Actus.


            “Tenang saja Nicorus ini hanya permulaan.” Senyum Robert


membuat Nicorus merinding. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi


selanjutnya. Pengalaman nya tadi di dunia ilusi tidak bisa dijelaskan dengan


kata-kata. Hal tersebut membuat kengerian pada Nicorus, bahkan mungkin trauma


jiwa. “Beritau kami apa yang kau ketaui atau kau akan mengalami hal yang lebih


buruk lagi!” gertak Actus.


            “Jika pun kalian membunuh ku aku tidak akan berbicara


sepatah kata pun! Kejayaan Gloria adalah hidup bagi ku! Perintah Gloria adalah


kehendak ku!” semangat Nicorus bergelora. Robert dan Actus tau tidak mungkin


membuat nya bicara, ini semua hanya membuang-buang waktu saja. Nicorus adalah


tangan kanan Gloria. Tidak mungkin dia menyerah semudah itu.


            “Apa yang harus kita lakukan Robert?” tanya Actus yang


masih belum mau menyerah. “Entah lah Actus. Jujur, aku sendiri sudah kehabisan


ide.” Baru pertama kali Actus melihat Robert seperti ini. Actus sendiri baru


pertama kali merasa seputus asa ini, walau di masa lalu pernah terjadi perang


yang lebih parah, namun mereka masih memiliki petunjuk untuk melawan. Sekarang,


mereka sama sekali buta, tidak tau apa yang harus dilakukan.


            Dulu mereka memiliki Raja Ommar untuk memimpin dan


memberi mereka petunjuk, namun sekarang raja telah menghilang. Dulu ada Firgas


dan Nicorus yang bersama para panglima lain untuk membantu, namun sekarang


Ommar telah kehilangan dua sosok mereka. “Apa kau sedang mengenang masa lalu


Robert?” tanya Nicorus, namun kali ini suara nya berbeda, dia tampak serius.


“Itu tidak penting bagi mu” jawab Robert tampak tidak peduli. “Nicorus yang kau


kenal memang sudah mati, namun kenangan di masa lalu tidak akan mati Robert.


Kita memang musuh, namun aku memiliki alasan ku. Maaf.” Nicorus semakin serius,


hal tersebut membuat Actus dan Robert menjadi bingung.


            “Sejarah yang selama ini ada sudah ditutupi oleh Raja


Ommar, bahkan Angela tidak tau sejarah Ommar yang asli begitupun kalian. Hanya


darah asli yang mendapat ingatan mengenai kebenaran. Itu adalah Lean Ommar dan


Rafaela Ommar.” Pernyataan Nicorus semakin membuat Actus dan Robert bingung.


“Jelaskan maksud mu Nicorus” perintah Robert. “Semua jawaban mu berada di tanah


ini. Tidak ada manusia yang bisa membunuh Gloria. Kekuatan Gloria melebihi raja


lain yang ada yang pernah kau ketahui Robert, Actus.”


            Setelah mendengar penjelasan tersebut Robert dan Actus


pergi dari ruangan tanpa sepatah kata apa pun. Actus memerintahkan prajurit


yang lain untuk memenjarakan Nicorus lagi. Mereka berdua langsung tau apa yang


harus dilakukan. Jika menurut Nicorus jawaban nya berada di depan mata mereka,


maka para dewan kerajaan mengetahui sesuatu. Robert dan Actus sudah lahir


beberapa tahun setelah kerajaan terbentuk. Tentu saja mereka tidak mengetahui


rahasia kerajaan.


            Di sisi lain Angela masih tetap berlatih, perkembangan


pun sudah bisa dilihat. Angela menguasai banyak teknik dan sihir. Namun, saat


dia mencoba untuk menguasai sihir kegelapan, Angela sering lepas kendali dan


malah terbawa oleh kegelapan itu sendiri. Hal ini tidak pernah terjadi sebelum


nya dalam sejarah Ommar. Pada saat Angela tidak sadar, para prajurit mengaku

__ADS_1


mendengar suara perempuan tua yang berbicara, dengan suara yang tidak jelas.


__ADS_2