
Orang terakhir yang akan berperan penting dalam kisah
ini adalah orang yang tidak diduga-duga. Siapa yang akan menduga, bahwa orang
pendiam dan yang baru kenal dengan Zach itu bisa merubah segala nya. Mulai dari
sang pelaksana rencana Zach hingga sang pembantu Hayden dan Fernando. Jorge Ray
Loscamilo adalah orang yang sampai detik ini mungkin belum tau apa posisi nya
dalam kisah ini. Tidak berpendirian dan tidak tau bagaimana arus akan bergerak,
Jorge hanya mengikuti hati nya. Dan hati nya mengatakan bahwa tidak ada orang
yang benar dalam kisah ini.
Setiap
orang adalah protagonis dalam kisah nya sendiri. Lalu musuh mereka akan menjadi
sang antagonis nya. Hal itu adalah konstan dalam variabel. Zach memiliki ambisi
untuk memberikan keadilan bagi Marsella tanpa memandang kondisi Fernando, bahwa
yang dilakukan nya tidak ada bedanya dengan Fernando. Fernando yang akan
mengelak bahwa dirinya bersalah. Bahwa dia bukan pembunuh, tapi juga tidak
sadar bahwa yang dilakukan nya sama dengan pembunuhan. Dia telah membunuh
harapan paling kecil di waktu-waktu terpuruk nya Marsella.
Aseline
hanya kota yang sangat kecil dulu nya saat Keluarga Loscamilo datang ke sini.
Sebagian dari kota adalah hutan yang pinggiran nya masih sawah dan perkebunan
kecil. Mereka adalah imigran dari Spanyol yang datang untuk mengubah nasib
mereka. Dengan janji bahwa Keluarga Loscamilo tidak akan melibatkan diri dalam
kejahatan apa pun di dunia yang baru ini. Jorge tampak nya tidak berpegang
teguh pada prinsip keluarga itu.
Pagi
hari itu Zach mengajak Jorge untuk bertemu di toko kopi di dekat kantor polisi.
Di sana juga ia akan bertemu denagn Hayden nanti nya setelah urusan Jorge
beres. Tujuan Zach untuk bertemu dengan Hayden tidak lain adalah untuk meminta
pertolongan nya mengubah bukti-bukti yang jelas terhadap Clara dan Andrew. Hal-hal
yang mungkin bisa saja digunakan untuk melawan mereka nanti nya. Zach
sebenarnya tidak enak meminta Jorge, dan tau betul akibat untuk menyeret Jorge
ke dalam ini semua. Tapi setinggi apa pun kesadaran nya, rencana ini tidak akan
berjalan tanpa Jorge sebagai tulang belakang nya.
Bel
pintu berbunyi. Sebuah bunyi lonceng klasik yang terdengar seperti
lonceng-lonceng di film natal. Jorge datang dan langsung duduk di kursi depan
Zach tanpa melihat-lihat dengan lama. Wangi kolonye Jorge sungguh harum dan
membuat Zach nyaman. “Kau menggunakan kolonye baru?” tanya Zach basa-basi.
Jorge
tersenyum malu. Lalu mendekapkan tangan nya ke hidung nya. “Ibu ku memberikan
ini tadi pagi. Ngomong-ngomong kau mau ngomong apa?” tanya Jorge. Dia menatap
Zach dengan senyum.
Zach
mengeluarkan beberapa map yang Clara berikan kepada nya. Perasaan Zach sempat
tidak enak sebelum memberikan map itu kepada Jorge. Tapi tetap ia lakukan. Ia
menaruh map-map itu berjejer di atas meja. Jorge menggeleng-gelengkan kepala
nya. Dia lalu berdiri dari kursi nya dan hampir beranjak keluar dari kedai itu.
Jorge mengerti maksud dari Zach. Jorge seketika merasa menyesal mengatakan
ingin menolong Zach. Ia tidak tau bagaimana Zach bisa berpikiran bahwa Jorge
mengerti semua ini.
“Aku
sumpah Zach, jika kau meminta aku berbuat apa pun itu kepada apa pun isi dari
map itu, jawaban ku tidak. Dan tidak ada orang yang bisa mengubah keputusan
ku.” Jorge keluar dari kedai itu dan meninggalkan Zach sendirian. Zach segera
mengambil map-map itu dan pergi menyusul Jorge.
“Horge!
Ku mohon. Kau harus menolong kami. Kami butuh bantuan mu,” teriak Zach dari
belakang Jorge. Zach terdengar sungguh-sungguh memohon, dan hati Jorge berkata
untuk menolong Zach. Tapi berusaha menambal kapal yang sudah setengah tenggelam
adalah tindakan sia-sia dan sekaligus bunuh diri. Kau akan tenggelam di dalam
bersama dengan kapal-kapal nya.
“Aku
berjanji. Tidak akan ada yang tau soal ini. Kami semua bersumpah nama mu bersih
dari masalah ini, tapi ku mohon tolong kami Horhe.” Zach mengeluarkan isi salah
satu map. Kertas yang berupa gambar rekaman CCTV di rumah Marsella. Sosok pria
yang terlihat seperti Andrew masuk ke pintu kamar Marsella. “Terutama Andrew.
Dia adalah yang terpenting.”
Jorge
tidak tau bagaimana rasanya terjerat masalah sebesar ini. Dia juga tidak tau
seberapa besar rasa sayang Zach untuk Andrew. Tapi yang Jorge tau adalah bahwa
Zach benar-benar butuh pertolongan dan dia harus menolong nya. Zach menolong
nya dengan memberi nya kehidupan yang Jorge inginkan. Ia tidak lagi sendiri.
Tapi apakah ini yang Jorge inginkan. Apakah pertemanan harus mendatangkan
masalah dan beban pikiran? Tidak bisakah pertemanan hanya menjadi sebuah
pertemanan yang mudah dan membawa kenangan?
“Aku
mendengarkan mu Zach. Ayo masuk.” Jorge lalu masuk lagi ke dalam kedai kopi.
Bel di pintu berbunyi lagi, dan pemilik toko melihat Jorge dan Zach dengan
aneh. Mereka berdua baru bertengkar dengan kencang, keluar, lalu masuk lagi,
duduk, dan berbicara seperti tiga menit yang lalu tidak terjadi apa-apa.
Jorge
membuka isi map satu persatu dan mengamati apa-apa saja yang Zach inginkan.
Pertama yang tadi Zach tunjukan kepada Jorge. Hanya screenshot dari rekaman CCTV di rumah Marsella. Di bagian bawah nya
terdapat hari tanggal, dan waktu kejadian. Serta Andrew terlihat dengan jelas
di sini walau keadaan sedikit gelap. Zach pasti ingin Andrew bisa hilang dari
video. Pekerjaan mudah bagi Jorge. Kedua juga sama. Gambar percakapan Clara
dengan ayah nya yang berisi perintah ayah nya dan ancaman Clara. Ini mungkin
yang termudah. Hanya perlu mengubah percakapan mereka dengan menaruh teks
dengan font yang sama. Hanya itu. Dua barang bukti yang Zach singkirkan.
“Sisa
nya adalah map kosong. Jangan tanya kenapa aku membawa nya.” Jorge tertawa. Dia
pikir ada banyak yang harus ia lakukan. Ternyata hanya dua hal gampang. Dia
lalu memasukan dua kertas itu ke dalam satu map dan menaruh nya di samping
tempat duduk nya. “Baiklah, katakan aku di dalam tim. Lalu, apa rencana
kalian?” tanya Jorge.
Petugas
toko datang menghampiri meja Zach dan Jorge. Ia lalu tersenyum sambil memegang
kertas dan pulpen. Pin nama di kaus nya bertuliskan Dave Simmons. Ia berdiri
sambil menggoyang-goyangkan pinggang nya, dan terus tersenyum. “Maaf, bisakah
kami mendapatkan satu susu kocok wortel, dan kau Horhe?” Jorge langsung menatap
ke arah Dave. “Kalian punya teh tarik?” tanya nya ragu.
Dave
lalu mencatat semua pesanan mereka. “Tidak ada minuman yang tidak bisa kalian
dapatkan di TehEh,” jawab Dave dengan riang. Jorge lalu tersenyum dan tertawa
geli. Ia tidak pernah ke sini sebelum nya. Mereka punya nama nyentrik dengan
dekorasi toko yang sangat nyentrik juga. Seluruh tempat ini seperti terjebak di
bulan Oktober. Dekorasi yang mengandung unsur labu dan sesuatu yang menyeramkan
dengan dominasi warna hitam menguasai seluruh pojok dan dinding kedai ini. “Ku
kira ini kedai kopi,” balas Jorge. Kali ini giliran Dave yang tersenyum, lalu
berakhir dengan tawa. “Kau baru ya di sini? Dulu nya ini adalah toko teh, namun
karena warga Aseline tidak terlalu menyukai teh, toko ini berubah menjadi kedai
kopi, dengan menu yang sama dari tahun 1971.”
“Baiklah.
Ku rasa terima kasih atas penjelasan nya, Dave.” Dave kemudian tersenyum manis.
Ia menatap mata Jorge dengan dalam. “Panggil aku Duv. Orang tua ku memberi ku
nama laki-laki. Aku tidak tau apa yang ada di pikiran mereka saat itu. Tapi
teman-teman ku memanggil ku Duv,” tanggap nya dengan panjang lebar. Zach hanya
menatap dua orang itu berbicara dengan terheran-heran. Ia kenal dengan Duv. Ia
__ADS_1
memang orang yang riang, suka tertawa, dan sangat ramah. Tapi mungkin tidak
pernah seramah ini sebelum nya. Jelas bahwa Duv sedang merayu Jorge.
“Katakan,
apa yang membawa mu ke kota kecil yang membosankan ini...?” tanya Duv. Ada
keheningan sebelum ia menutup kalimat nya. Jorge lalu sadar ia belum
memperkenalkan diri nya kepada Duv. Ia lalu tersenyum dan menggaruk-garuk
kepala nya. “Jorge Ray Loscamilo. Aku tidak tau betul mengapa keluarga ku
datang ke sini, walau aku tidak akan mau mengganti Aseline dengan Madrid.” Duv
membuka mulut nya dan hendak menjawab. Hingga lalu bos nya dari belakang meja
bar mulai batuk-batuk keras dengan sengaja. Duv langsung tersenyum malu dan
segera pergi meninggalkan mereka berdua.
Ini
adalah kali pertama Jorge dirayu, dan dia tidak akan menolak nya. Rasa nya
aneh. Seperti sekujur tubuh nya menjadi gatal-gatal tidak karuan, tapi gatal
itu tidak akan bisa hilang hanya dengan garukan. Pipi nya menjadi panas, dan
rasanya ia seperti merasa selalu akan berbuat kesalahan dalam ucapan dan
tindakan. Tidak ada yang bisa menyalahkan Jorge atas sikap polos nya. Duv
memang cantik.
“Jadi,
rencana mu Zach?” tanya Jorge mengingatkan Zach untuk kembali pada topik awal
mereka. Zach lalu menyenderkan tubuh nya pada senderan kursi. Dia menarik kursi
nya agar semakin dekat dengan meja. Ia lalu memberi tanda agar Jorge
mendekatkan kepala nya ke mulut Zach. Tidak boleh ada yang mendengar soal ini.
Tindakan Zach sebenarnya sudah mencerminkan bahwa dia tau betapa tidak benar
nya tindakan mereka. Detik-detik saat Jorge mendekatkan kepala nya untuk
mendengar bisikan Zach, Zach terus berharap bahwa ia bisa menerima rencana ini,
dan mungkin tidak berteriak dengan kencang karena kaget.
Zach
lalu membisikkan semua isi rencana nya kepada Jorge. Jorge diam saja saat
mendengar semua isi rencana nya. Wajah nya tidak menunjukan ekspresi apa-apa. Tentu,
tetapi tidak batin Jorge. Suasa di kedai saat itu sepi. Hanya ada suara radio
yang sedang memutar lagu pop, dan tv yang memutar pertandingan baseball. Batin Jorge meronta saat
mendengar rencana Zach. Ia tidak suka rencana itu, dan tidak akan pernah sudi
menjadi bagian dari mereka ataupun rencana itu. Begitu Zach selesai berbicara,
Jorge menjauhkan kepala nya dari mulut Zach. Suasa kedai yang sepi tidak
berubah, terasa lama kelamaan menjadi semakin sepi bagi Jorge. Seperti terasa
mencekam, dan rasanya tidak enak. Semua terasa sedang menatap ke arah Jorge.
Menunggu apa tindakan nya selanjut nya. Ia mulai membayangkan beberapa skenario
mengenai diri nya. Mungkin jika dia Andrew ataupun Hayden, dia akan berteriak
lalu memukul meja dan mengatakan tidak. Tapi dia adalah Jorge. Hal itu tidak
mungkin bisa terjadi, membayangkan nya saja terasa aneh.
Jorge
lalu mendapat ide untuk menghindari Zach dan mungkin juga pergi dari sana. Ia
mengambil hp nya dari kantung celana nya, lalu menatap layar nya dengan lama.
Lalu mendekatkannya ke telinga. “Ah, Zach permisi sebentar. Aku mendapat
telepon.” Zach mengangguk, lalu Jorge pergi ke luar. Ia tetap meletakkan hp nya
di telinga bahkan ketika sudah sampai di luar. Berjaga-jaga jika Zach memutuskan
untuk melihat ke luar jendela. Pada saat itu Jorge ingin menghindari Zach. Ia
tidak ingin menjawab iya maupun tidak. Ia benci pada diri nya yang tidak punya
pendirian dan labil ini.
Ia
berpikir apa yang akan orang lain lakukan jika berada di posisi nya sekarang.
Ia tidak bisa berpikir sendiri. Jorge takut dengan pilihan yang akan ia buat.
Takut jika itu salah, atau takut jika ia tidak bisa memilih pilihan yang benar.
Jorge membuang nafas dengan berat. Ia lalu menggenggam hp nya kuat. Menaruh
seluruh kekuatan nya pada kedua kaki nya. Ia menarik nafas panjang lagi, lalu
membuang nya. Ia sebenarnya belum membuat keputusan. Kepihakan. Maupun pilihan.
Tapi Jorge sudah membuat pandangan nya terhadap masalah ini. Zach, Andrew, dan
Hayden selalu bersikap berani. Mereka akan memikirkan konsekuensi nya nanti,
untuk menjadi berani. Dengan sekuat tenaga ia lari. Lari nya sangat kencang. Ia
hanya menatap ke depan, dan tidak pernah sekalipun melihat ke belakang untuk
melihat Zach. Saat itu tujuan nya satu. Rumah Hayden.
“Jika kau bukan putri ku... aku bersumpah
Clara!” ucap ayah Clara sambil berputar-putar di sel Clara. “Anggap ini sebaga
pelajaran penting!” Ia lalu pergi keluar dari sel Clara. Ibu Clara hanya
menatap Clara dengan bingung. Mata nya menunjukan bahwa ia sedih dah prihatin
dengan apa yang suami nya baru saja ucapkan. Tangan nya yang kurus dan penuh
dengan urat berusaha menyentuh Clara yang menatap nya dengan dingin. Tangan nya
gemetar, hingga suami nya memanggil nama nya lagi dari luar.
“Pergi lah. Kalian selalu melakukan
itu. Aku sudah terbiasa. Lalu, katakan ini pada ayah, semakin lama ia
meninggalkan ku di sini, maka akan ku bongkar semua rahasia nya. Jika aku akan
terjebak di sini selama nya, maka semua orang harus tau siapa otak di balik nya
bukan?” Clara lalu pergi melihat ibu nya keluar.
“Katakan, Mara. Apa yang ada di otak
mu pada saat itu?” tanya Johanes yang sedang bersender di jeruji besi sel
Clara. Ia hanya melihat ayah dan ibu nya pergi begitu saja tanpa mengatakan
apa-apa. Johanes tidak pernah berpikir bahwa sekelompok remaja seperti mereka
bisa berbuat sejauh ini. Membunuh Marsella dan berkonspirasi adalah hal yang
masih sulit Johanes terima. Tetapi, menganiaya seseorang.
“Dia adalah pembunuh Marsella, kau
tau itu dan kau malah menangkap Hayden. Tindakan bodoh mu tidak bisa memberi ku
alasan untuk menjawab pertanyaan mu.” Johanes lalu tertawa atas jawaban Clara.
Johanes tertawa karena kebodohan dari jawaban Clara. Ia lalu berbalik badan dan
mendorong jeruji besi nya hingga berbunyi kencang. “Tentu kau punya alasan
untuk menjawab. Kau adalah kriminal nya di sini, dan aku adalah polisi yang
sedang bersikap baik. Jadi Clara, katakan apa yang terjadi dan kenapa kau
berbuat demikian sebelum aku berbuat sesuatu yang akan aku sesali.”
Banyak polisi yang datang melihat
apa yang terjadi di sana. Jarang sekali ada tahanan Aseline yang mengedor-gedor
jeruji mereka. Hal ini cukup jarang terjadi. Salah satu orang yang muncul
melihat dan bukan polisi adalah ayah Clara. Dia tersenyum lalu bertepuk tangan
kepada Johanes. Seluruh mata yang ada di sana langsung terkunci ke arah Timothy
Mara.
“Kerja bagus petugas. Pastikan dia
mendapat hukuman yang pantas. Remaja jaman sekarang memang kurang displin.
Bagus bahwa Aseline masih punya petugas seperti anda.” Timothy maju beberapa
langkah agar bisa melihat Clara lebih dekat. Clara tidak bisa menahan tawa nya
ketika mendengar apa yang baru saja ayah nya ucapkan. “Menarik,” gumam nya.
Johanes tampak bingung. Ia tersenyum
dengan penuh kebingungan. Dia marah, bingung, dan tidak tau apa yang baru saja
pria brengsek di depan nya itu ucapkan. Johanes mengepal tangan nya dengan
kuat-kuat. “Bangsat, dia anak mu,” ucap nya dengan marah.
Johanes membenci orang tua yang
bersikap seperti Timothy. Bagi Johanes semua orang tua yang bersikap seperti
Timothy tidak pantas memiliki anak. Mereka seharusnya berada di sisi anak
mereka di saat-saat seperti ini. Bukan bersikap seperti tadi. Johanes masih
bisa menahan emosi nya pada saat Timothy pergi dari sel Clara tadi. Tapi
sekarang tidak. Dia benar-benar ingin memukul wajah sombong Timothy, tetapi dia
juga tau akan posisi nya di sini.
“Jika aku jadi kau, aku tidak akan
melakukan nya Johanes. Tetapi sesekali berbuat hal bodoh bukan hal yang patut
disesali. Pukul dia dan kau akan bermasalah, tidak pukul dia dan kau akan
menyesal. Tapi jangan dengarkan gadis yang berada di balik penjara,” ucap Clara
dengan nada datar. Clara yang kesal dengan ayah nya juga ingin melihat Johanes
memukul nya dengan parah. Tetapi ia tau bahwa Johanes akan dalam masalah yang
melebihi kata berat jika ia memukul ayah nya.
__ADS_1
Johanes menurunkan tangan nya ke
bawah, dan menarik nafas. Timothy sedang memandang nya dengan muka yang muak.
“Apa yang baru saja kau katakan petugas!?” tanya nya dengan kencang. Timothy
segera berjalan dengan ke Johanes dengan langkah yang sengaja dibuat kencang.
“Semoga hari mu menyenangkan Tuan
Mara, dan semoga kedua kasus di mana Clara terlibat segera selesai.” Johanes lalu
pergi dari hadapan Timothy. Timothy dengan segaja menatap Johanes dengan tajam
dari tadi. Bahkan ketika mereka berdua sudah tidak bertatapan. Johanes lalu
berhenti melangkah sebelum benar-benar keluar dari sana. “Oh dan lagi. Aku
harap kau tidak terlibat, dengan semua ini, kau tau?”
“Bagaimana
kau bisa tau rumah ku, Jorge?” tanya Hayden bingung. Hari sedang meminum kopi
nya di ruang tamu ketika Jorge datang kehabisan nafas dengan baju yang basah
total dengan keringat.
“Siang
Hayden. Semua orang tau alamat mu. Alamat seluruh murid tertulis dengan detail
di buku murid. Jangan tanya kenapa aku bisa hafal. Hanya orang yang bodoh yang
tidak tau, atau mereka yang kerajinan,” jawab Hayden panjang lebar. Ia lalu
melepas baju nya dan membuang nya di lantai. Baju nya mengeluarkan bau yang
sangat menyengat. Hingga Hayden segera menyingkir dan masuk ke ruang tamu.
Mereka
lalu masuk ke kamar Hayden. Kamar nya masih berantakan. Dan entah bagaimana
wangi lemon. Mata Jorge langsung tertuju ke poster Jesicca Lange dan poster 4
Non Blondes. “Aku menyukai selera musik mu Hayden.” Hayden lalu menjatuhkan
tubuh nya di atas kasur nya dan menyalakan tv. “Jangan terlalu terkesan. Aku
hanya mendengar What’s Up? dari mereka.”
Jorge
merebahkan tubuh nya di atas lantai yang terbuat dari kayu itu. Lantai nya
terasa dingin, sehingga enak di punggung Jorge. Hayden lalu membuka jendela
agar udara dingin masuk lebih banyak ke dalam ruangan. Mematikan lampu lewat hp
nya. Dan membuka Netflix di tv. “Jadi... apa tujuan mu tadi?” tanya Hayden.
“Ini
soal rencana Zach mengenai kasus Marsella. Mereka memutuskan untuk melibatkan
ku untuk membantu ini dan itu. Lalu, aku menanyai Zach apa yang akan ia lakukan
nanti. Zach bilang mereka akan menuduh Fernando sebagai pelaku nya. Aku belum
tau apa alasan mereka, Zach tidak bilang apa-apa soal itu. Aku merasa bahwa kau
harus tau ini, dan aku juga merasa bahwa ini tidak benar.”
Hayden
bangkit dan lalu duduk di atas kasur nya. Ia tidak tau harus berkata apa, lagi.
Belakangan ini banyak hal yang membuat nya tidak bisa berkata-kata. Tapi ia
merasa kecewa. Ia tidak menyangka bahwa Zach bisa berpikir se-parah itu. Hayden
tau apa alasan di balik rencana mereka. Dia juga tidak bisa memberi tau itu
kepada Jorge. Terakhir kali rahasia itu diketahui, semua orang mengila.
“Kau
harus tau jika aku menghargai apa yang baru saja kau katakan tadi, Jorge aku
sungguh. Terima kasih. Tapi, jika kau bertanya apa aku ada rencana atau tidak.
Aku tidak ada apa-apa,” jawab Hayden sedih.
Jika
Hayden bisa jujur. Belakangan ini ia kembali merasa sedih. Sedih karena ia
tidak punya pilihan dan tidak punya ide apa-apa. Dia tidak suka ini. Dia tidak
tau apa yang harus ia lakukan untuk membantu Fernando. Begitupun tidak tau apa
yang harus ia katakan kepada Zach. Hayden ingin sekali datang ke apartemen
Zach. Mendobrak pintu nya dengan kencang, lalu memukul Zach dengan kencang
juga. Tapi ia tidak bisa. Hati nya tidak mengijinkan, dan otak nya tidak tau.
“Dan
kau harus tau Hayden, kau tidak sendiri. Aku akan membantu kalian.” Suara
Hayden berubah menjadi isak tangis. Lalu ia tertawa di sela tangis nya. Hayden
menutup mata nya yang berair dan meremas kepala nya. “Sial, kita bahkan tidak
dekat Jorge,” ucap nya masih tertawa.
“Nama
ku Jorge Ray Loscamilo. Kau bilang kita tidak dekat kan? Kalo gitu aku akan
mengenal mu lebih dekat Hayden.” Jorge membangkitkan tubuh nya. Lalu berlutut
di tepi kasur Hayden. Jorge Menatap ke bawah wajah Hayden yang juga sedang
menatap ke atas dari kasur nya. “Dengar Hayden. Jangan biarkan aku menjadi orang
tidak berguna, yang hanya diam tidak berbuat apa-apa oke? Aku harus membantu
kau, Fernando, Zach, dan astaga semua orang! Jika kita bersama, kita bisa
menemukan siapa pembunuh nya. Kau, Fernando, bahkan semua orang tidak bersalah.
Tidak perlu terjadi hal seperti ini. Kau mengerti apa yang baru ku ucapkan
Hayden?”
Hayden
merasa semakin bersalah saat mendengar kata-kata Jorge. Ia yakin bahwa Jorge
akan muak dengan Fernando ketika tau apa yang sebenarnya dilakukan oleh
Fernando. Ini tidak adil. Beban yang dipikul Hayden dengan tidak bisa
memberitau rahasia ini kepada siapa pun benar-benar mencekik leher nya. Ia
sulit bernafas, sulit bergerak, dan kebebasan nya terampas. Hayden juga benci
punya pikiran ini serta mengakui bahwa ia memikirkan hal seperti itu. Ia tidak
mau menjadi orang egois yang hanya mementingkan diri nya pada saat seperit ini.
Tapi, dia juga manusia yang tidak bisa menahan semua nya sendirian.
“Kau
adalah orang paling keras kepala Jorge.” Hayden lalu bangkit dan duduk di atas
kasur nya. “Nama ku Hayden Haranta. Salam kenal, dan terima kasih banyak. Aku
berhutang pada mu.”
Malam itu di kediaman Keluarga Mara. Clara sedang
bersikap sangat santai untuk orang yang akan diinterogasi besok. Besok adalah
giliran Clara dan Hari untuk diinterogasi. Walau interogasi Hari masih belum
benar-benar pasti. Johanes dan beberapa polisi lain yakin bahwa Hari tidak
punya sangkut paut penting dengan kasus ini. Tapi Clara yang lain memiliki
status interogasi yang pasti. Clara akan jadi yang pertama untuk menjalankan
rencana mereka. Menuduh Fernando dan pasti nya bersikap tenang.
Ia
menyalakan banyak lilin terapi dan melumuri wajah nya dengan masker wajah susu.
Menutup tubuh nya hanya dengan jubah mandi. Lalu mendinginkan suhu ruangan dan
menonton Netflix sepanjang malam. Clara tidak membuka hp nya sama sekali. Ada
beberapa pesan masuk. Paling banyak datang dari Zach, lalu Andrew. Mereka
menanyakan kesiapan Clara untuk besok. Clara tidak menghiraukan pesan itu sama
sekali. Ia memilih untuk menikmati malam ini sebagai malam terakhir nya. Karena
ketika interogasi besok dimulai, seluruh kehidupan nya pasti akan berubah.
Tidak hanya diri nya, tapi semua orang yang terlibat, dan juga kota ini.
Saat
itu pikiran Clara tidak bersama dengan acara Netflix yang ia tonton. Pikiran
nya terbang pergi entah kemana tanpa tujuan yang jelas. Clara sedang
berimajinasi. Tentang bagaimana dan jika. Bagaimana jika besok berjalan lancar?
Bagaimana jika besok semua gagal? Bagaimana jika Fernando dipercayai oleh
polisi? Bagaimana jika diri nya akan berakhir di penjara?. Clara takut akan
masa depan nya. Clara takut bahwa apa yang mereka rencanakan tidak akan
berjalan sebagaimana mesti nya. Dia tidak pernah berbuat hal yang tergolong
kriminal seperti ini sebelum nya. Berurusan dengan polisi adalah hal baru bagi
Clara. Dia gugup dan takut dengan besok. Hanya saja lagi, dia tidak menunjukan
emosi nya kepada siapa-siapa. Emosi yang ia tunjukan malah berlawanan. Ia terlihat
tenang dan merasa bahwa semua sudah dalam rencana nya yang pasti.
Clara
menarik lepas masker wajah nya. Udara dingin kamar nya langsung menyapa kulit
wajah nya yang baru lepas dari masker. Rasanya tenang dan enak. Clara
meregangkan tubuh nya dan membuat tubuh nya terkulai lemas di atas ranjang. Dia
memejamkan mata nya. Lalu membiarkan takdir yang menentukan apa yang akan
terjadi besok, besok nya lagi, besok nya lagi dan lagi, hingga masalah ini bisa
berakhir.
__ADS_1