Dahlia Hitam

Dahlia Hitam
Episode 20


__ADS_3

Keluarga memiliki arti yang berbeda-beda bagi setiap


orang. Coba saja lempar pertanyaan ini kepada Zachary Zebua. Jawaban yang akan


Zach berikan pasti berbanding terbalik dengan jawaban dari Andrew Edden. Tidak


ada definisi yang tepat untuk keluarga. Keluarga bisa siapa saja. Tidak harus


berhubungan darah, tapi bisa saling mendukung, apa pun kondisi nya, dan apa pun


yang dipertaruhkan untuk mendukung. Orang tidak bisa disebut keluarga jika dia


tidak mendukung keluarga nya. Dan itu adalah definisi keluarga bagi Zach. Bagi


nya, Ferdinand adalah ayah nya. Fakta itu tidak bisa diubah. Tapi fakta lain


nya adalah Zach tidak pernah bisa sayang kepada ayah nya. Ferdinand mungkin


bukan sosok ayah yang sempurna, tetapi ketidaksempurnaan Ferdinand adalah


alasan kuat Zach untuk menolak nya.


            Keluarga


bagi Andrew Edden adalah Zachary Zebua dan Corry Edden, adik Andrew. Tidak


lebih, tidak kurang. Hanya dua orang itu yang Andrew anggap lebih dari segala


nya. Sesuatu yang harus dijaga agar tidak hilang. Sesuatu yang harus


benar-benar dijaga, agar kejadian beberapa tahun yang lalu tidak terulang.


Minggu-minggu kematian orang tua nya, Andrew terkapar dalam depresi berat.


Corry masih bocah. Dia tidak tau apa yang menimpa nya. Hanya ada Zach saat itu.


Mungkin jika Zach tidak menolong Andrew, Andrew tidak akan ada dalam kisah ini.


Andrew Edden selalu bermimpi untuk memiliki keluarga yang lengkap kembali.


Walau ia tau, bahwa angan-angan itu hanya bisa nyata dalam mimpi.


            Lalu


yang terakhir ada dua keluarga besar dalam kisah ini. Keluarga Mara dan


Gonzela. Dua keluarga besar yang sebenarnya adalah organisasi bisnis


mengatasnamakan keluarga. Clara Mara sebenarnya tidak jauh berbeda dengan


Marsella Gonzela. Mungkin itu adalah salah satu alasan mengapa Clara sangat


ingin membantu Marsella. Ia tau betul apa yang dirasakan Marsella, malah jauh


lebih buruk. Clara hanya dekat terhadap ibu nya. Walau begitu ibu Clara juga


tidak bisa berbuat banyak. Ibu Clara terlalu takut untuk menentang ayah Clara


atau mengatakan sesuatu yang mungkin bisa saja membuat marah ayah Clara. Keluarga


bagi Clara tidak ada. Sebuah definisi yang hanya bisa dirasakan orang-orang


beruntung. Dan kekayaan Keluarga Mara tidak akan pernah mengabulkan itu bagi


Clara.


            Zach


pulang dengan payung yang ia dapat dari rumah Andrew. Saat itu hujan malah bertambah


deras, dan tidak kunjung selesai. Zach terpaksa mengeringkan badan nya dan


memakai baju Andrew. Dalam perjalanan, suasa hati nya tidak pernah berubah.


Resah dan panik, serta takut.


            Setelah


sampai di apartemen. Zach merogoh kunci di dalam kantung celana nya dan membuka


pintu. Ferdinand sedang duduk di sofa sambil menonton TV. Kepala nya dengan


cepat bergerak ke arah Zach. Zach tau jika Ferdinand pasti sudah mendengar soal


kasus pembunuhan Marsella. Dia bergerak dengan cepat. Lebih cepat dari biasanya


saat marah kepada Zach. “Gila ya? Mau jadi apa kau Zachary!? Terlibat dengan


kasus pembunuhan hah!?” teriak Ferdinand kepada Zach yang bahkan belum masuk ke


dalam.


            Rasanya


saat itu Zach ingin menangis saja. Dia lebih mengharapkan Ferdinand berlari


kepada nya lalu memeluk nya dan mengatakan jika semua akan baik-baik saja. Zach


segera masuk tanpa menjawab pertanyaan Ferinand sama sekali. Zach merasa itu


adalah pertanyaan yang tidak relevan. Jelas. Mau jadi apa? Dia bahkan tidak


percaya kepada anak nya. Dia lebih mempercayai gagasan bahwa anak nya sungguh


betul-betul terlibat dalam kasus pembunuhan Marsella.


            Ferdinand


segera menghentikan Zach. Lalu menampar mulut nya. Mulut Zach berdarah. “Ga


bisa ngomong kamu? Hah!? Jawab dong kalo orang tua ngomong!” bentak Ferdinand.


            Zach


masih kukuh tidak bicara. Saat itu juga dia masih menahan segala perasaan


negatif dalam diri nya. Dia tidak ingin berteriak atau apa pun itu. Hari ini


sudah menjadi hari yang buruk dan Zach sangat tidak ingin memperburuk nya. Bibir


nya terasa sakit. Dia mencoba menyentuh nya dengan jari nya. Berdarah sedikit,


tidak terlalu parah. Zach masih mendiamkan Ferdinand dan langsung masuk ke


kamar nya. Zach membanting pintu kamar nya. Begitu masuk ke dalam kamar, dia


langsung rebahan di atas kasur. Rasanya lelah, capek, dan sungguh sedih. Zach


berharap jika ibu nya ada atau setidaknya dia bukan anak tunggal sehingga akan


ada seseorang yang bisa membela nya di rumah.


            Ferdinand


di luar kamar Zach sedang mengoceh sendirian seperti orang gila. Dia terus


berkata-kata betapa buruk nya Zach. Suara nya semakin meninggi. “Kalau kamu gak


suka peraturan rumah ini ya pergi aja kalau gitu dari sini!” teriak Ferdinand


dari luar. Entah apa dia benar-benar bermaksud menyuruh Zach pergi saat sedang


hujan atau tidak. Tapi Zach benar-benar meng-iyakan perintah ayah nya. Itu


hanya lah salah satu dari sekian banyak kata-kata buruk yang Ferdinand


lontarkan sekarang. Dan rasanya Zach juga sudah tidak kuat lagi. Kepala nya


seperti akan pecah jika ia harus terus mendengar itu, dan mungkin dia akan


menangis.


            Zach


segera mengepak baju-baju nya dari lemari. Zach membawa foto diri nya dengan


ibu nya pada saat kecil. Lalu buku tahunan SMP. Hard disk nya yang berisi foto dan video berharga nya. Zach punya


kebiasaan untuk memfoto dan memvideokan apa saja saat ia sedang pergi bersama


orang yang ia sayangi. Dia punya banyak video tidak jelas bersama dengan


Andrew. Hal-hal itu adalah benda berharga bagi Zach, dan mungkin lebih berharga


dari pada ‘rumah’ ini. Zach segera mengirim pesan kepada Andrew bahwa ia akan


datang. Zach tidak bilang apa-apa lagi. Dia hanya bilang jika ia akan datang


untuk tinggal, titik.


            Dia


lalu keluar melalui tangga darurat. Hujan begitu deras. Jaket yang ia pakai


langsung tertembus. Seketika semua terasa tidak berguna. Beruntung nya, tas


Zach terselubungi dengan pelindung hujan. Dia langsung pergi dari situ, tanpa


mengucapkan apa-apa lagi pada Ferdinand. Zach capek berdebat. Diam adalah


keharusan saat dia berurusan dengan Ferdinand. Zach terlihat seperti orang


sinting. Berjalan sendirian di tengah hujan lebat dengan membawa tas ransel


yang terlihat sungguh tebal. Sebenarnya saat itu Zach menangis. Tapi tangisan


nya tentu tertutup hujan. Ia menangisi nasib nya, dan betapa ia menyalahkan


diri nya atas semua hal. Kata-kata Ferdinand dimasukkan Zach ke dalam hati dan


sekarang akibat nya, Zach merasa sungguh tidak berguna sebagai anak. Doktrin


bahwa Zach anak tidak berguna yang kerjaan nya hanya melawan orang tua sungguh


berhasil.


            Zach


mengetuk pintu Andrew dengan kencang. Tubuh nya kedinginan dan semua terasa


berat. Andrew segera membuka pintu .Zach segera masuk dan melempar tas nya ke


lantai lalu melepas semua pakaian nya. Dia mengambil handuk dari tas nya dan


melipat nya di pinggang nya. “Aku... sungguh maaf untuk ini semua, tapi aku


benar-benar harus pergi dari sana.” Andrew sadar dengan luka memar pada bibir


Zach. Dia segera menyentuh nya. Sekarang sudah tidak mengeluarkan darah lagi.


“Zach, apa yang terjadi?” tanya Andrew panik.


            “Kau


tau ayah ku kan? Biasa, ini sungguh biasa...” Beberapa saat kemudian Zach


menangis. Suara nya berubah menjadi rapuh. Akhirnya Zach menangis. Andre segera


memeluk Zach untuk menenangkan nya. Isak tangis nya semakin menjadi. “Hei hei,


aku di sini. Kau bisa cerita. Tapi pertama kau harus mandi Zach, atau kau akan


sakit.” Andrew melepas pelukan nya dan membiarkan Zach mandi. Andrew tau betul


soal Ferdinand. Dia adalah orang yang Zach datangi ketika dia bermasalah dengan


Ferdinand. Biasa Zach juga sering kabur dari rumah, tapi tidak pernah sampai


membawa tas seperti ini, dan tidak pernah juga sampai terluka. Andrew mulai


khawatir dengan keadaan Zach di rumah.


            Beberapa jam berlalu sejak insiden


perkelahian antara Jorge dan Fernando dengan orang suruhan Keluarga Mara.


Fernando sudah pergi dari rumah sakit saat Clara pergi untuk membelikan makanan


bagi mereka berdua. Jorge terluka parah dan tidak sadarkan diri. Fernando


berjalan keluar dari kamar nya dengan keadaan penuh perban. Kaki nya sangat


sulit untuk digerakan. Fernando tau jika dia memaksa untuk terus bergerak,


kondisi nya bisa jadi semakin parah. Tapi dia tidak suka di situ. Bersama


dengan orang-orang itu. Clara adalah penyebab ini bisa terjadi. Lalu Clara


bersikap seolah dia benar-benar menyesal. Hal itu benar-benar menjijikan


menurut Fernando. Fernando memang tidak pernah dekat dengan teman-teman Zach.


Hanya Hayden orang dalam kelompok Zach yang dekat dengan Fernando.


            Fernando meraba kantong celana nya


untuk mencari hp nya. Saat tidak menemukan di mana hp nya, dia lalu membongkar


satu kasur untuk mencari di mana. Jorge sadar dan terbangun dengan tingkah


tidak biasa Fernando. Jorge tau apa yang terjadi pada hp Fernando, dan dia


tidak bisa berkata apa-apa. Semakin ke sini, semakin Jorge mempertanyakan


pilihan nya. Apakah memihak kepada Zach adalah keputusan yang benar? Karena


sepertinya, Fernando adalah korban dari semua ini. Fernando memang ********


yang harus dihukum, tetapi apa yang diperbuat Zach dan teman-teman nya sungguh


tidak adil. Tapi lagi, Jorge tetaplah Jorge. Sekali pengecut tetap pengecut.


Jorge Ray Loscamilo tidak pernah berubah derastis sejak berteman dengan Zach.


            Fernando lalu menemukan hp nya di


laci kasur nya. Keadaan nya hancur total. Layar nya retak dan jelas sudah tidak


bisa digunakan. Lalu di sebelah hp Fernando ada sebuah kotak hp baru. Fernando


menghela nafas, siap berteriak dan membanting jika ini bukan rumah sakit. Siap


meninju Jorge karena ia adalah bagian dari Zach, tapi ia ingat jika Jorge


memilih membantu nya juga. Fernando meremas rambut nya. Dia benar-benar muak


dengan semua ini. Dia lalu mmebuka kotak hp itu dan mengambil nya. Lalu pergi


meninggalkan rumah sakit.


            Clara melihat Fernando meninggalkan


kamar nya. Tapi Clara tidak berani menghampiri nya. Ia malah bersembunyi di


tembok. Clara takut terhadap amarah Fernando yang meluap-luap. Clara bahkan


tidak akan pernah lagi memikirkan untuk mengadukan tingkah Fernando ke ayah


nya. Terakhir kali, Clara sungguh panik dan takut jadi dia terpaksa menelpon


ayah nya. Kali ini, setelah melihat dampak nya, Clara akan menjauhi pemikiran


itu.


            Clara masuk ke dalam kamar Jorge.


Jorge sedang menatap ke arah tempat tidur Fernando. Tempat itu berantakan


dibongkar. Clara tertegun melihat kondisi kamar ini. Ia lalu menaruh nasi tim


yang baru ia beli di kasur Fernando. “Hei Jorge... kau baik-baik saja sekarang?”


tanya Clara sambil membuka bungkus nasi tim.


            “Clara, apa menurut mu ini benar?”


tanya balik Jorge. Jorge terlihat sedih. Dia sama sekali tidak tau apa-apa,


bahkan sampai sekarang dan sampai ke titik ini. Jorge hanya mengikuti Zach.


            “Apa maksud mu?” balas tanya Clara.


Clara tau kemana arah pembicaraan ini. Dia juga ingin sekali membahas ini


dengan siapa pun itu. Karena di dalam lubuk hati nya, Clara tetap seorang gadis

__ADS_1


yang punya hati. Tapi ia tidak akan pernah memaafkan Fernando. Atas tindakan nya


terhadap Marsella. Serta Clara tetaplah tidak akan mau berurusan dengan


penjara. Ini menjadi alasan kuat Clara untuk berbuat demikian.


            “Kau tau maksud ku Clara. Lihat lah


semua ini. Menuduh Fernando atas kejahatan yang tidak ia lakukan? Aku tau bahwa


ia memperkosa Marsella, tapi Tuhan! Dia bukan pembunuh nya Clara. Aku tau kita


tidak pernah menyukai nya di kelas, tapi bisakah kita tidak menghilangkan sisi


kemanusiaan kita dalam kasus ini?”


            “Ah,


sakit!” jerit Zach. Andrew sedang mengobati bibir Zach dengan alkohol sebelum


membengkak. Zach sudah bilang jika dia tidak mau, tapi Andrew memaksa. Bibir


Zach rasa nya masih sakit saat disentuh. Andrew lanjut memijat seluruh tubuh


Zach. Kata nya lagi agar ia tidak stres sehingga memikirkan hal-hal aneh.


Andrew juga bilang jika orang tua dulu pernah melakukan hal seperti ini di saat


ia sedang dalam keadaan buruk.


            Corry


sedang melihat Zach dan Andrew dari ujung ruang tamu. Dia masih kecil, tapi


tampang nya terlihat seumuran dengan mereka semua. Corry terlihat seperti


kembaran Andrew. Jika mereka berdua berdiri sebelahan dengan menggunakan


pakaian yang sama, maka tidak akan ada orang yang bisa membedakan mereka. Serta


patut diketahui, jika bakat renang Andrew mengalir dalam tubuh Corry. Tubuh


mereka sama atletis nya.


            “Hei,


aku sudah lama tidak melihat Corry,” ucap Zach. Andrew tertawa. Tentu saja,


karena Corry selalu pergi dari rumah. Sama seperti Andrew, Corry selalu


menghabiskan waktu nya di kolam renang atau gym.


Corry tidak suka tinggal di rumah. Dia merasa kesepian di sini. Walau ada


Andrew, tapi tetap saja. Seperti ada sebuah bola hitam yang terus mengisi rasa


kesepian di hati Corry. Dia dan Andrew selalu mendambakan orang tua. Andrew


berpikir jika itu hanya lah fase. Seperti Corry, Andrew juga pernah merasa


seperti itu. Sangat kesepian sehingga ia terus meninggalkan rumah, dan


menitipkan Corry pada tetangga. Sekarang Andrew berhasil menutupi perasaan itu.


Dia bingung apakah yang dialami Corry adalah fase seperti diri nya atau memang


Corry benar-benar kesepian. “Dia ingin menjadi atlit renang. Itu dulu cita-cita


ku, tapi ku rasa Corry lebih pantas untuk itu,” jawab Andrew. “Hei Corry,


sini.”


            Corry


berjalan ke arah mereka. Dia hanya menggunakan celana pendek yang benar-benar


pendek. Rambut nya dikepang ke belekang. Jika kau tidak melihat nya secara


dekat maka kau akan mengira jika rambut Corry adalah rambut cepak yang super


tipis. Dia lalu duduk di depan Zach. Suasana menjadi sedikit canggung. Zach


tidak pernah berbicara dengan Corry sebelum nya. “Hei Zach, apa kabar?” tanya


Corry memulai pembicaraan. Dia menatap mata Zach dengan santai.


            “Tidak


dalam kondisi yang bagus ku rasa, kau?” tanya Zach balik. Zach terus mengamati


Corry sambil mereka berbicara. Zach tidak merasa bahwa sudah lama sejak pertama


kali Corry lahir. Sungguh, rasanya hanya sebentar. Zach ada di sana sejak Corry


masih bocah. Lalu hingga kini, Corry menjadi setinggi Andrew, berbadan atletis,


dan tidak lagi menjadi bocah. Corry sudah banyak berubah. Absen nya orang tua


dalam hidup nya seperti nya membuat Corry lebih cepat dewasa. “Kau tau, hanya


hari-hari biasa. Kau tau lagi? Ada perusahaan yang menghubungi Andrew untuk


meminta aku menjadi model mereka.”


            Zach


tersenyum. Dia makin merasa jika dia tumbuh bersama dengan Corry walau mereka


bukan kakak adik. “Tidak heran, dengan wajah tampan mu ini kau bisa lebih


sukses ketimbang Andrew.” Zach tertawa meski bibir nya masih terasa sakit saat


tertawa. Ia lalu mengelus-ngelus rambut Corry. Terasa aneh mengelus rambut


kepang. Tidak halus dan terasa sedikit, keras.


            “Nah


sudah!” ucap Andrew. Dia lalu pergi ke dapur untuk membereskan semua nya.


Setelah Andrew pergi kecanggungan kembali tercipta. Zach menggaruk-garuk kepala


nya karena tiba-tiba seluruh tubuh nya terasa gatal. Dia lalu melirik Corry.


“Kau ada apa kali ini Zach?” tanya Corry sadar akan tatapn Zach. Zach lalu


mengelak, hampir tidak mau menjawab dan ingin bilang maksud mu. Tapi dia


menahan nya dan langsung menjawab pertanyaan Corry. Corry pasti sadar. Zach


selalu ke sini, dan selalu berakhir menangis. Hanya saja Corry tidak pernah


bertanya.


            “Hanya


ayah ku saja. Dia hanya... sedikit mengunci ku di ruang sempit. Kadang aku


merasa tidak bisa bernafas. Seperti aku ingin berteriak sangat kencang agar aku


bisa lolos dari ruang sempit itu, tapi sekencang apa pun aku berteriak, tidak


akan ada apa-apa yang terjadi. Kau pasti sudah mendengar apa yang terjadi di


sekolah tadi dari Andrew. Aku butuh keluarga untuk bisa mendukung ku.


Setidaknya, tidak dengan menyangka jika putra mu adalah pelaku nya bukan? Aku


lelah berurusan dengan dia. Dia seperti ingin punya kendali penuh atas diri ku,


tapi tidak bisa ia dapatkan. Sehingga ia melawan dengan menyerang mental ku


secara perlahan. Tapi aku juga tidak bisa menang, sehingga rasanya setiap kami


berkelahi, aku selalu merasa jika aku berharap aku tidak usah lahir saja.”


            Corry


terdiam. Berpikir sebentar apa yang harus ia katakan kepada Zach. Ia lalu


mengambil sekotak tisu, lalu meletakkan nya di depan Zach. Corry


menggaruk-garuk kepala nya. Zach sadar bahwa Corry benar-benar hebat membuat


tidak dekat. “Kau tau Zach? Kau mungkin akan berpikir aku akan mengatakan bahwa


dia adalah orang tua mu dan sebagai anak kau harus nya bersyukur lalalala. Tapi


itu tidak benar kok. Anak tetap punya perasaan. Aku memang tidak punya orang


tua, tapi aku tau kau tidak bersalah. Mata mu mengatakan nya. Jadi berhentilah


bersedih, karena keluarga bukan hanya orang tua. Andrew adalah keluarga mu dan


begitu pun aku. Keluarga Edden adalah keluarga mu juga Zach.”


            Ucapan


manis Corry membuat Zach tersentuh. Hingga ia menangis lagi. Jadi itu adalah


fungsi Corry meletakan tisu di depan Zach. Corry sudah memperkirakan jika Zach


akan menangis mendengar nya berbicara. Zach menangis sambil tertawa dan menutup


mata nya dengan telapak tangan nya. Ia merasa malu pada Corry dan juga diri


nya. Dan, sebagian dalam diri nya juga bahagia karena ada orang yang juga


setuju dengan apa yang dipikirkan Zach. “Hei, terima kasih Corry. Corry Edden,


kau sungguh sudah dewasa.”


            “Berbicara


yang sebenarnya soal realita bukanlah sifat orang dewasa kau tau kan?” balas


Corry. Ia melirik dengan cepat ke belakang untuk berpura-pura melihat tv yang


dinyalakan tanpa suara. Padahal sebenarnya Corry melirik ke belakang untuk


melihat Andrew yang dari tadi sudah berada di bingkai pintu. Corry adalah


******** cerdas yang merupakan adik terbaik Andrew dan Zach.


            Andrew


lalu masuk ke dalam ruangan setelah ia merasa semua orang sudah tenang. Di


tangan nya ia membawa membawa baki yang di atas nya terdapat tiga mangkuk mi


kuah yang masih panas. Asap nya terlihat dengan sangat jelas dari mata Andrew.


Zach langsung mencium bau mi instan yang sedang di bawa Andrew. Zach dari tadi


sudah lapar dan kebetulan Andrew membawa makanan. Terutama pada cuaca yang


sedang dingin. Mi instan yang dimasak Andrew terlihat simpel tapi sungguh enak.


Terdapat udang, telur yang bulat nya sempurna dan daging ayam cincang. Ini


terlihat lebih dari sekedar mi instan.


            Mereka


bertiga lalu memakan mi itu sambil bercerita-cerita. Apa saja. Andrew yang


bilang bahwa Zach harus lebih sering ke sini, dan kalau rumah ini adalah rumah


kedua nya. Corry yang terlihat mulai akrab dengan Zach. Dia mulai bisa


mengobrol dengan nya dengan lebih santai. Dan Zach yang terus-terusan berterima


kasih atas mi instan nya dan ucapan Corry dan Andrew. Zach tidak bisa berhenti


menangis ketika Andrew dan Corry terus-terusan melanjutkan berbicara yang


manis-manis terhadap situasi Zach. Mereka serius soal kata-kata mereka dalam


mendukung dan menyemangati Zach. Tapi Zach saat itu masih sangat emosional,


sehingga ia selalu menangis saat mendengar kata-kata yang menyentuh.


            Sementara


itu, di kediaman Mara. Clara sedang mengurung diri nya dalam kamar bersama


Santriz. Orang tua nya dari tadi berteriak-teriak memaki Clara, lalu mengajak


Clara keluar untuk memikirkan rencana selanjutnya, lalu memaki Clara lagi.


Clara tidak bisa berhenti menangis di ranjang nya. Ia takut. Sungguh takut.


Tangan nya bergetar saat mendengar kata-kata orang tua nya. Ayah nya tidak


pernah marah sebesar itu. Bahkan jika tidak memikirkan ayah nya, Clara sudah


panik dan takut memikirkan hal lain duluan. Obrolan dengan ayah nya yang


berhasil diketahui polisi. Soal ayah nya yang ingin Clara membunuh Marsella.


Marsella sejak pulang dari kantor polisi tidak henti-henti nya memikirkan itu.


Dia takut sengah mati apa yang harus ia lakukan. Ia takut berakhir di penjara.


Ia takut dengan penjara. Ia takut tidak punya masa depan. Clara, orang paling


tenang di Elizabeth berubah menjadi sangat ketakutan dalam satu hari.


            Santriz


terus mengelus-ngelus punggung Clara. Dia tidak tau apa yang terjadi karena


Clara belum memberi tau nya. Dan Clara juga tidak berencana memberi tau


Santriz. Dia tetap kukuh pada pendirian nya untuk menjauhkan Santriz dari


masalah ini. Clara sudah berhenti menangis, tapi dia tetap menutup wajah nya di


dalam selimut. Ia tidak mau keluar atau bahkan menatap lampu kamar nya. Ia


hanya ingin terus tidur sampai masalah ini selesai.


            Santriz


membuka Netflix dan mendiamkan nya begitu saja dengan volume yang kecil. Ia


lalu menutup lampu kamar dan menyalakan lampu tidur Clara. Ratusan bintang


bersinar di atap kamar Clara. Santriz lalu menyalakan lilin aromaterapi. Hal


itu menenangkan Clara. Membuat nya merasa nyaman, dan sejenak sedikit


menghilangkan perasaan panik itu. Ia lalu keluar dari selimut nya dan menatap


langit-langit. Menarik nafas yang panjang, lalu membuang nya. Rasanya nyaman.


Clara merasa bersalah terhadap Santriz. Santriz sudah melakukan banyak hal


kepada Clara. Salah satu nya adalah ini. Menemani nya pada situasi yang sulit


dan membantu nya agar tenang. Tapi Clara tidak juga memberi tau nya apa yang


terjadi. Clara tidak suka perasaan ini. Tapi dia juga tidak punya pilihan lain.


            “Clara...”


ucap Santriz sambil melihat ke arah Clara dengan pandangan yang terlihat sedih.


Ia lalu menjatuhkan kepala nya di samping Clara. Mereka berdua kini saling


berhadapan dan bertatap mata. “Santriz, maaf. Tapi jika aku memberi tau mu apa


yang terjadi, kau akan ikut ke dalam kasus ini. Dan aku bersumpah, aku tidak


akan membiarkan itu terjadi. Konsekuensi nya terlalu besar Santriz,” ucap Clara


sambil menyentuh pipi Santriz untuk menenangkan nya. Ironis, dalam situasi ini


Santriz juga panik dan pusing. Dia memikirkan sahabat nya, Clara. Mereka berdua


tidak pernah punya rahasia. Bahkan Santriz telah melela kepada Clara satu tahun


yang lalu. Santriz tidak kesal maupun marah dengan rahasia yang kukuh Clara


pertahankan. Hanya saja ia takut bahwa Clara merasa sendiri. Ia ingin ada di

__ADS_1


sana. Demi sahabat nya. Berjuang bersama, dan berteriak persetan terhadap semua


konsekuensi yang ada.


            “Kita


hadapi konsekuensi itu bersama Clara. Tidak ada yang tidak bisa kita lakukan


bukan? Kita sudah saling kenal sejak TK, dan aku tidak mau hanya karena kasus


ini kau menderita sendirian. Jika kasus tengik ini memang penuh dengan


penderitaan, ya udah ayo kita hadapi bersama!”


            Clara


ingin lagi menjawab tidak. Tapi dia tidak bisa. Hati nya mengatakan sebalik


nya. Clara tidak kuat menahan bujukan Santriz, dan merahasiakan itu kepada


Santriz. Entah butuh berapa lama, yang pasti Clara ingin sekali menjawab


permohonan Santriz. Tapi otak nya mengatakan sebalik nya. Clara tau betul


konsekuensi apa yang akan terjadi jika satu orang lagi terlibat. Jorge adalah


orang paling baru yang ikut terlibat. Dan dia memilih memihak kepada Zach.


Entah Clara harus bersyukur atau tidak, tapi dia tau betul bahwa Jorge belum melihat


kebenaran yang sesungguh nya. Lain hal dengan Santriz. Santriz adalah sahabat


Clara, dan Jorge bukan. Jika Jorge masuk penjara atau terjadi apa-apa pada nya,


Clara tidak akan terlalu peduli. Jorge adalah urusan Zach, karena dia yang


membawa masuk Jorge ke dalam ini semua.


            Clara


lalu duduk. Ia menarik rambut nya ke belakang dan menahan nya dengan scrunchie hitam. Kulit nya terlihat


kusam dan penuh garis-garis akibat mengubur wajah nya terlalu lama di kasur. Ia


lalu mengambil bungkus kotak teh dari dalam laci tempat tidur nya. Dua kantung


teh hijau itu lalu dimasukkan kedalam gelas. Dengan termos di dalam kamar nya,


Clara menyeduh, hingga jadi teh. Panas nya hangat-hangat kuku. “Tidak enak


kalau bercerita tanpa teh bukan?,” ucap Clara sambil memberi teh kepada


Santriz. Santriz tersenyum, lalu duduk seperti Clara.


            Clara


menceritakan kepada Santriz semua nya. Mulai dari hubungan nya dengan Marsella,


dan hubungan Keluarga Mara dengan Keluarga Gonzela. Pertemuan nya dengan Zach.


Lalu kerja sama nya dengan Andrew dan Hayden yang berujung pertemanan nya


dengan Zach dan juga Jorge. Apa-apa saja hubungan dan motif setiap orang yang


terlibat. Lalu berlanjut ke pesan ayah Clara. Clara juga menceritakan soal


bagaimana bisa pesan itu muncul dan siapa juga Brook itu. Sepanjang cerita,


Santriz sangat ingin juga berkomentar, tapi ia menahan nya hingga cerita


berakhir. Dia hanya, terkejut. Dia tidak menyangka jika semua sungguh rumit.


Dia juga tidak menyangka semua orang yang terlibat menyimpan rahasia yang


sangat dalam. Santriz paling terkejut saat mendengar Clara mau membunuh Brook.


Santriz tau Clara tidak menyukai Brook, tapi tidak mungkin sampai ingin


membunuh.


            Clara


lalu tertawa. Setelah sekian lama tidak tertawa. Dia akhirnya bisa melepas muka


datar dan sedih nya itu. “Tentu saja tidak. Aku tidak akan pernah membunuh


orang lain. Walaupun itu Brooklyn Dean James-Mara.” Santriz menarik nafas lega


setelah mendengar jika itu hanya sebuah gertakan dan lelucon tidak lucu Clara.


Santriz lalu menyeruput teh nya. Suara nya terdengar kencang memenuhi ruangan


itu.


            “Sungguh.


Maaf, aku tidak tau soal ini semua. Aku tidak bisa banyak membantu. Tapi karena


sekarang aku tau, katakan apa yang bisa aku bantu dan kau akan mendapat bantuan


terbaik yang pernah kau dapat.” Santriz menatap mata Clara dan memegang kedua


tangan Clara. Dia benar-benar serius dengan bantu-membantu ini. Dan Clara


adalah orang yang paling tau bahwa Santriz tidak akan menyerah sampai ia dapat


apa yang dia mau.


            Clara


menggeleng kepala nya. “Tidak. Kau sudah membantu ku dengan membuat ku


bercerita pada mu. Rasa nya sekarang sudah lebih lega dan setidaknya aku


tertawa barusan. Itu benar-benar membantu. Selebih nya biar kami yang mengurus


nya.” Clara ikut menyeruput teh nya. Santriz tidak bisa membantah apa-apa lagi.


Setidaknya Clara tidak terlihat terlalu sedih lagi. Dan setidaknya sekarang dia


tau apa yang terjadi. Walau Clara bilang biar selebih nya dia yang mengurus.


Santriz akan mencoba membantu dari belakang. Jika Clara tidak membiarkan


Santriz membantu, maka Santriz akan datang kepada Zach, Jorge, atau siapa pun


itu yang bisa membantu nya membantu Clara.


            Santriz


adalah keluarga Clara. Keluarga Mara juga adalah keluarga Clara. Secara


definisi mungkin, tapi entah apa yang dikatakan hati Clara soal keluarga. Hati


nya kacau dan memikirkan ayah nya saja dia malas. Dia juga benci fakta ibu nya


yang diam saja, dan menerapkan prinsip diam adalah emas. Setelah Santriz


menenangkan Clara dan juga mengembalikkan akal sehat nya lagi. Clara rasanya


ingin merobek, menginjak, dan meneriaki ******* kepada prinsip ibu nya. Dia


marah pada fakta bahwa hanya Santriz lah yang ia miliki saat ini, dan juga dia


berterima kasih, karena setidaknya dia punya seseorang untuk kembali saat


masalah terjadi.


            Hayden keluar dari sel penjara. Ia sudah


menggunakan seragam penjara dan rambut nya sudah dipotong sangat pendek. Ia


lalu masuk ke ruang kunjungan. Fernando sudah menunggu di sana. Wajah nya yang


babak belur segera memeluk Hayden. Hayden segera melepas pelukan nya dan


melihat wajah Fernando untuk memastikan bahwa yang ia lihat benar. Ia kaget


melihat wajah Fernando. Fernando tersenyum dan mengangguk. Mereka berdua lalu


duduk.


            “Hei Hayden, apa yang terjadi pada


mu?” tanya Fernando bingung dan panik. Lagi, suara nya terdengar sangat rapuh.


Ia menyalahkan diri nya saat melihat Hayden. Bagaimana bisa para polisi itu


memasukkan Hayden ke dalam penjara begitu saja sampai memotong rambut nya.


Fernando marah, sangat marah. Tapi kesedihan nya mengalahkan emosi marah itu.


Lagi pula ia tidak mau marah-marah pada pertemuan mereka.


            “Potongan cepak tidak buruk juga kau


tau? Pertanyaan yang penting adalah apa yang terjadi pada mu bodoh?” Hayden


mencoba menyentuh luka di pipi Fernando. Saat tersentuh, rasanya sangat perih,


tapi Fernando bermain tenang. Dia menahan perih nya, tapi wajah nya mengatakan


hal lain. Hayden tertawa melihat tingkah Fernando.


            “Hei itu bukan masalah besar. Kau


tau aku. Hanya kalah dalam perkelahian.” Hayden semakin tertawa. Dia lalu


menyentuh luka Fernando dengan lama hingga Fernando tampak kesakitan. Hayden


tampak menyukai itu. “Karena aku tau kau, kau tidak mungkin kalah dalam


perkelahian. Waktu misa Marsella, kau sengaja bukan jatuh?” tanya Hayden.


Fernando hanya mengangguk dan muka nya sedikit memerah.


            “Kau tidak bodoh ternyata.” Seketika


rasanya ruang kunjung itu jadi berubah menjadi tempat yang nyaman. Hanya ada


mereka berdua saat itu di ruang itu. Fernando dan Hayden merasa jika mereka


tidak mau meninggalkan ruang itu. Tempat itu terlalu nyaman. Dan pergi artinya


meninggalkan kenyamanan itu, dan entah kapan lagi kenyamanan itu bisa kembali


dirasakan bagi mereka berdua.


            “Hayden, aku berjanji aku akan


dengan cepat mengeluarkan mu dari sini. Hanya saja itu butuh waktu, tapi


percaya pada ku, oke?” pinta Fernando. Ia menggenggam tangan Hayden yang masih


diborgol. Tangan nya terasa dingin saat disentuh. Hayden tersenyum dan


mengangguk. Dia menatap mata Fernando dengan hangat. “Kau tau aku selalu


percaya pada mu. Kita lalui ini bersama oke?” Fernando sedikit menangis. Air


mata nya keluar. Mata dan pipi nya memerah. Hayden menahan air mata nya. Dia


tidak ingin menambah buruk kondisi dengan ikut menangis. Dia tau bahwa Fernando


kuat. Dia pasti bisa memecahkan ini semua.


            “Lalu bagaimana dengan Hari?” tanya


Fernando mengganti topik. Ia mengelap-ngelap mata nya dengan punggung tangan


nya. “Hari sudah datang tadi. Dia bilang dia akan mencari cara sebisa nya. Ia


sedang mengumpulkan uang untuk membebaskan ku.” Fernando mengangguk. Soal uang


ia tidak bisa banyak membantu. Orang tua nya tidak punya banyak uang. Dan ia


tidak mau orang tua nya ikut panik soal Hayden. Fernando mencoba tersenyum.


Tapi senyum nya terlihat sedih. Seperti ingin menangis lagi. Ia lalu


mengacak-ngacak rambut nya. “Hari ini adalah hari yang sungguh brengsek,” ucap


nya.


            “Betul. Aku bisa melihat kau kalah


‘perkelahian’,” balas Hayden dengan nada sarkastik. Fernando melirik Hayden.


Hayden dengan sengaja menyipitkan mata nya. Fernando tertawa. “Tapi sejujurnya,


itu memang perkelahian yang kalah oke? Antara Clara, Jorge dan dua orang yang


tidak ku kenal dengan aku.” Muka Hayden berubah panik. Hayden langsung ingin


berkata, tapi Fernando menyuruh nya diam sebentar. “Tapi Jorge lalu berdiri di


samping ku dan kami bertarung bersama. Heroik, tapi dia langsung pingsan.”


Hayden terlihat sedikit tenang sekarang, walau kepanikan itu masih tersisa di


wajah nya. “Jorge memang bukan orang yang bisa berkelahi.”


            Mereka tertawa lagi. Sampai petugas


polisi datang dan membawa Hayden kembali ke sel nya karena waktu berkunjung


yang sudah habis. Fernando lalu pergi dari kantor kepolisian. Saat itu


sebenarnya Fernando juga ingin menemui Johanes dan menceritakan soal Andrew dan


hp nya yang dirusak Clara. Tapi Johanes sedang tidak ada saat itu. Johanes


sedang berada di tempat lain. Johanes sedang berada di rumah Clara untuk


menyelidiki keluarga nya lebih lanjut.


            Sementara


itu, Ferdinand baru saja menyeduh kopi hitam dengan gula yang sedikit banyak.


Dia lalu duduk di sofa tinggi nya yang menghadap ke foto keluarga. Ferdinand,


Elizabeth, dan Zachary Zebua. Sebuah keluarga kecil yang sempurna. Dulu nya.


Sebelum Zion Zebua merenggut nyawa Elizabeth dan nyawa nya juga. Ibu Zach


meninggal pada saat melahirkan Zion, dan kedua nya meninggal saat itu juga.


Oleh karena itu Ferdinand mengadopsi Ros. Ros Zebua atau yang dulu nya Ros


Charlote adalah anak adopsi Keluarga Zebua. Elizabeth selalu punya mimpi liar


untuk memiliki anak adopsi sebelum Zion muncul. Dan Ferdinand hanya mewujudkan


mimpi itu.


            Ferdinand


lalu melepas figura itu dari dinding dan melihat nya dari dekat. Dulu rasanya


dunia adalah milik mereka. Keluarga Zebua, keluarga sempurna di samping jalan.


Keluarga sempurna Aseline. Sekarang dan setelah kematian Elizabeth semua


berubah. Ferdinand yang sampai sekarang tidak bisa melepaskan Elizabeth, merasa


jika dia tidak bisa membesarkan Zach sendiri. Karena itu Zach tidak pernah


berbicara lagi dengan Ferdinand. Zach bahkan tidak tau apa-apa soal Zion. Zach


lupa akan semua itu. Trauma akan kehilangan ibu nya membuat ingatan Zach hilang.


Ferdinand memberitau Zach bahwa ibu nya meninggal karena kecelakan lalu lintas.


            Ferdinand


menyesali semua yang terjadi. Gagal nya ia sebagai orang tua terutama. Ia


memeluk figura itu dengan erat di tubuh nya. Dia menangis. Air mata nya yang


jatuh mengenai kaca pigura itu segera membersihkan debu yang menempel di kaca.


Ferdinand mengangkat figura itu sampai sejajar dengan mata nya. “Maafkan ayah,


Zach, dan maafkan aku, Eli.”

__ADS_1


__ADS_2