
Dalam Diamnya Nara
Bab 10
"Di mana letak tempat kami pasangan kumpul kebo?" bentak Yudha sambil memperlihatkan buku nikah berwarna hijau dan cokelat tersebut.
"Saya dan Nara sudah menikah," sambung Yudha kepada warga yang telah berkumpul.
Mendengar ucapan Yudha, Andi dan warga terkejut. Sementara Pak RT mengambil buku tersebut dari tangan Yudha. Sepertinya beliau ingin mengecek kebenaran buku nikah tersebut.
Jangankan para warga yang terkejut. Aron yang memperhatikan dari jauh juga terkejut. Dia mendengar bahwa Yudha dan Nara sudah menikah.
Setelah merasa cukup memeriksa kebenaran buku nikah tersebut, Pak RT meminta maaf dan menyuruh warganya bubar.
Nara menyusul ke depan pintu dan bersembunyi di balik punggung Yudha. Sementara Aron tetap menyaksikan dari luar pagar. Dia mengurungkan niatnya untuk mengunjungi Yudha. Dari dalam mobil, Aron masih dapat menyaksikan Yudha merangkul bahu Nara dan membawa Nara masuk ke dalam rumah lalu menutup pintu.
Tidak ada alasan yang pasti, entah kenapa Aron sangat membenci pemandangan itu. Dia tidak suka jika benar Yudha telah menikahi Nara.
Sementara di tempat lain, Andi tidak terima dibuat malu oleh Yudha. Maksud hati ingin mempermalukan Nara, malah dia yang mendapat serangan balik karena dianggap memberi laporan palsu.
Dengan rasa emosi yang menguasai dirinya, Andi mendatangi mami. Dia juga tidak ingin terus disalahkan oleh mami.
"Kenapa lagi kau ke sini?" bentak mami saat melihat Andi berdiri di hadapannya.
"Saya tahu di mana Nara," sahut Andi tanpa basa-basi.
Mendengar ucapan Andi, mami langsung mengumpat dengan segala kata-kata kasar. "Anjng si Yudha. Berani-beraninya bbi itu menipu aku. Lihat aja balasannya!"
Andi tersenyum puas, dia merasa tanggung jawabnya untuk mencari keberadaan Nara sudah selesai. Sekarang, apapun yang akan mami perbuat itu adalah urusannya.
__ADS_1
Pagi itu, Yudha tetap berangkat kerja seperti biasa. Dia sudah tidak khawatir lagi meninggalkan Nara di rumah. Tidak ada lagi Andi yang akan mengganggu Nara. Akan tetapi, dia tidak menyadari akan bahaya yang mengancamnya.
Nara melakukan apa yang biasa dilakukan istri kepada suami, dia mengantar Yudha sampai masuk mobil, menyalami dan mencium punggung tangan Yudha. Begitupun Yudha, membalas dengan sebuah kecupan manis di kening. Yudha melakukan itu memang dengan perasaan karena dia memang benar-benar jatuh cinta kepada Nara.
Tidak ada yang aneh sepanjang perjalanan pergi dan selama di kantor. Sepertinya Aron belum memberitahu Tante Olivia apa yang dia lihat pagi tadi. Tante Olivia masih bersikap manis kepada Yudha walaupun dengan sikap yang dijaga.
Tanpa Yudha sadar, saat di parkiran mobil, ada orang jahat yang telah memutuskan kabel rem mobil milik Yudha. Mereka adalah orang suruhan mami.
Hari ini Yudha pulang seperti biasa, tidak ada pekerjaan yang mengharuskan dia lembur. Dia selalu keluar dari kantor setelah pukul enam sore, menunggu jalanan tidak begitu macet lagi.
"Duluan, ya, Yud," sapanya rekan kerja yang Yudha temui saat di lobi kantor.
"Hati-hati!" teriak Yudha sambil mengangkat tangannya.
Tante Olivia juga pulang cepat karena dia mendapat kabar dari asisten rumah tangganya bahwa suaminya pulang, karena perintah dari kantor ada berkas yang harus dia selesaikan.
Pukul sembilan malam juga tidak ada tanda-tanda Yudha pulang. Hanya saja, saat itu dia mendengar ada seseorang yang memukul-mukul pagar rumah.
"Assalamualaikum," teriak perempuan dari luar pagar. "Ada orang di rumah?"
Nara berlari dari dalam rumah.
Ada apa?
Nara mencoba bertanya, walaupun suaranya tidak keluar.
__ADS_1
Wanita tersebut adalah tetangga sebelah, dia menunjukkan foto kecelakaan lalu lintas yang korbannya adalah Yudha. Dia mendapat foto tersebut dari pesan suara dari grup WA yang dia punya.
Polisi tidak bisa menghubungi pihak keluarga karena ponsel milik Yudha dikunci.
Nara mengambil memo di saku celananya, dia bertanya di mana Yudha dibawa. Perempuan tersebut menyebut nama rumah sakit di mana Yudha dilarikan.
"Bisa tolong pesankan saya ojek online, Kak?" tulis Nara di memo miliknya.
Perempuan tersebut langsung membuka aplikasi ojek online dan memesannya.
Menunggu ojek datang, Nara masuk ke dalam rumah, mengambil beberapa lembar uang yang dia punya, dan mengunci pintu.
"Mbak Nara, ojeknya sudah datang," panggil tetangga Yudha tersebut.
Sampai Nara di rumah sakit yang dimaksud, Nara menuju meja informasi dan menuliskan nama Yudha pada kertas memo yang dia punya. Perawat menunjukkan ruangan di mana Yudha dirawat.
Kaki Yudha saat itu terjepit, dia harus melakukan operasi pemasangan pen agar bisa jalan seperti semula.
Sampailah Nara di lantai dan ruangan yang disebutkan oleh petugas informasi di lantai dasar tadi, tetapi langkah Nara harus berhenti saat melihat di situ sudah ada Aron dan Tante Olivia.
Dengan cepat, Nara bersembunyi di balik tembok saat Aron membalikkan badannya. Dia takut Aron melihatnya. Tidak jauh dari situ ada pintu menuju tangga darurat. Nara membuka pelan pintu tersebut, dia akan menunggu di situ saja sampai kedua orang yang membencinya tersebut pulang.
Menurut Nara, tidak mungkin Tante Olivia akan menemani Yudha sepanjang malam di rumah sakit, begitu juga dengan Aron. Setiap mendengar langkah kaki, Nara berdiri dan mengintip dari kaca kecil di bagian pintu.
Hingga pukul satu malam, dia melihat Aron dan Tante Olivia pergi dari ruangan tersebut. Setelah menunggu mereka benar-benar jauh dari ruangan, barulah Nara keluar dari tempat persembunyiannya mencari kamar di mana Yudha dirawat.
Setelah membuka memo dengan nama ruangan dan nomor kamar yang disebutkan oleh petugas informasi tadi, Nara menemukan kamar yang dimaksud.
Ketika Nara memasuki kamar Yudha, terlihat bahwa Yudha belum sadarkan diri setelah menjalani operasi pemasangan pen. Nara kemudian menggenggam tangan Yudha dan menciumnya. Sejujurnya, Nara juga memiliki perasaan yang sama terhadap Yudha. Keduanya saling mencintai dalam diam.
__ADS_1
Pada saat subuh setelah Salat Subuh, Nara kembali ke kamar dan melihat Yudha mulai siuman. Yudha sangat senang karena dapat melihat istrinya untuk pertama kalinya saat membuka mata. Ia kemudian mengulurkan tangan ke arah Nara, dan Nara pun langsung menyambutnya. Yudha lalu mencium punggung tangan Nara sebagai tanda kasih sayang. Nara tersenyum menerima perlakuan tersebut.
Sebenarnya, mereka saling mencintai meskipun harus terjadi secara diam-diam. Ketika langit mulai terang, Nara pun meminta izin untuk pulang. Ia khawatir bertemu dengan Tante Olivia dan Aron. Yudha pun bertanya, "Kenapa kamu tidak mau bertemu Aron?" dengan suara parau. Nara hanya menggeleng, tidak ingin Yudha merasa cemas jika ia mengatakan bahwa Aron bukanlah teman yang baik.