
Dalam Diamnya Nara
Bab 13
Melihat pemandangan memilukan tersebut, Nara langsung berlari keluar dan tidak lupa menarik jilbab instan yang tergantung di sebalik pintu kamar.
Nara berteriak dengan suara seadanya. Hal itu membuat Kenny menoleh. Untuk beberapa saat dia hanya terpaku melihat Nara berlari ke arah Yudha dan membantunya berdiri. Nara memapah Yudha ke dalam rumah dan Kenny masih juga mematung.
Beberapa saat dia seperti tersadar dan menyebut nama Nara.
"Nara," panggil Kenny.
Hal itu membuat Nara dan Yudha menghentikan langkahnya. Nara menoleh sekilas ke arah Kenny dan kembali melanjutkan langkahnya ke dalam rumah.
Tanpa seizin mereka Kenny mengikuti hingga ke dalam rumah, sementara Tante Olivia terkejut saat Kenny mengetahui nama istri Yudha. Karena penasaran dengan apa yang akan terjadi Tante Olivia turun juga dari mobil dan ikut menyusul ke dalam rumah kontrakan Yudha.
"Waw, sungguh miris sekali hidup kalian?" hina Tante Olivia saat masuk rumah.
Yudha duduk di atas lantai keramik tanpa alas. Ingin dia menjawab hinaan Tante Olivia. Akan tetapi, dengan cepat Nara memegang tangan Yudha, tanpa agar Yudha dapat menahan amarahnya.
"Nara apa kamu masih ingat om?" potong Kenny.
Nara mengangguk.
Yudha pun jadi terkejut.
"Dimana kamu kenal dia, Pi?" Kembali Tante Olivia bersuara.
"Dia keponakanku–anak Mbak Lina," ujar Kenny.
Yudha terkejut lalu melihat ke arah Nara, ternyata Nara mengangguk.
Kenny mengatakan bahwa dia sudah tidak bisa bertemu Nara setelah ibu nya Nara meninggal. Dia kehilangan jejak Nara.
Ternyata Nara berasal dari keluarga kaya raya.
"Seandainya Mbak Lina tidak memilih pria itu, mungkin dia tidak akan hidup susah sampai ajal menjemput," ucap Kenny dengan tatapan nanar.
"Seandainya? Dan Nara pun tidak akan ada," ketus Yudha. " Nggak usah disesali dengan kata seandainya. Percaya saja bahwa ini semua takdir."
Kenny menghubungi orang tuanya dan mengatakan telah berhasil menemukan Nara. Kakek dan nenek Nara antusias mendengarnya dan meminta Kenny membawa Nara ke rumahnya.
__ADS_1
Nara menatap Yudha lalu menggeleng. Dia tidak ingin ikut Kenny. Dia hanya ingin bersama Yudha di rumah sederhana ini dan hidup seadanya.
Tidak ingin memaksa lalu Kenny pamit pulang tanpa mengucapkan kata maaf telah memukuli Yudha tadi.
"Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?" tanya Tante Olivia ketika mobil sudah berjalan.
"Menceraikan kamu," jawab Kenny tanpa basa basi. "Tidak ada guna mempertahankan wanita seperti kamu."
Tante Olivia terdiam, dia sangat terkejut dengan jawaban Kenny.
"Apa gunanya kamu memukuli Yudha jika bukan untuk membelaku?" tanya Tante Olivia kembali.
"Saya hanya ingin tau bagaimana wajah laki-laki hina itu." Kenny tetap fokus melihat ke arah depan. "Ternyata ini jalannya untuk saya bertemu Nara."
Suasana mobil pun kembali sunyi. Kenny ingin sekali cepat tiba di rumah orang tuanya dan dia akan menyampaikan ide yang sangat bagus menurutnya. Dia tidak ingin Nara hidup bersama Yudha. Bagi dia Yudha bukan pasangan yang baik untuk Nara.
"Kirim no HP Yudha ke WA saya!" perintah Kenny tiba-tiba.
"Untuk apa?" balas Tante Olivia heran.
"Lakukan saja!"
Tidak ingin berdebat panjang. Tante Olivia mengikuti saja perintah dari suaminya.
Nara tidak bisa bawaan, dia bisu karena pinta suaranya rusak di saat waktu bayi dia mengalami panas tinggi hingga kejang.
Menurut dokter keluarga pribadi mereka, operasi pita suara dapat dilakukan di Amerika.
Kenny menghubungi Yudha. Dia bahwa keluarganya akan membiayai operasi pita suara Nara.
"Apa kamu tidak kasihan kepada dia? Sepanjang hidup, hidup dalam diam dan kemiskinan. Biarkan dia bersama kami!"
"Aku mencintainya, tidak mungkin aku melepaskannya," bantah Yudha dari ujung telepon.
"Pikiran yang salah. Kalau kau memang mencintainya, kau harus berpikir untuk kebahagiaannya? Apa kau sekarang bisa membahagiakannya?"
Yudha terdiam, dia melihat sekeliling hidupnya yang miris. Apa yang bisa dia beri kepada Nara? Sekarang saja mereka tidur beralaskan kasur tipis.
Yudha tatap wajah Nara Yang sedang tertidur pulas. Hatinya terasa sangat sakit saat teringat ucapan Kenny tadi.
Yudha mengusap lembut kepala Nara.
__ADS_1
Lalu dia kembali baring di sebelah Nara. Dia beranikan diri memeluk Nara saat tidur seperti ini. Dia sangat takut kehilangan Nara. Namun, dia ingin Nara hidup bahagia dengan harta berkecukupan dan terpenting dia ingin Nara bisa bicara kembali.
"Mas, sayang kamu, Nay," bisik Yudha lembut di telinga Nara.
Pagi hari, Yudha merogoh kantong celananya, mencari-cari sisa uang. Untuk sarapan mereka. Ternyata dia hanya mempunyai sisa uang sepuluh ribu rupiah.
Dia sudah tidak punya uang lagi, tabungannya habis untuk biaya pemakaman dan tahlilan bapak di kampung.
Kembali terngiang ucapan Kenny. Bagaimana dia akan menghidupi Nara dengan sisa uang segini. Ini hanya cukup untuk membeli sarapan.
"Nay." Yudha menyodorkan selembar uang tersebut. "Mas hanya punya segini," ucap Yudha malu.
Nara mengambilnya lalu tersenyum. Nara menyuruh Yudha untuk menunggu. Dia langsung berjalan menuju warung. Di warung, Nara membeli satu bungkus mie rebus isi dua dan setengah kilogram beras.
Setelah selesai, Nara langsung pulang lalu memasak nasi dan mie instan. Tidak perlu waktu lama, makanan itu sudah terhidang di lantai ruang tamu. Hati Yudha miris melihat ini semua.
Dia menunggu Nara selesai makan, baru dia akan mengatakan bahwa hari ini dia akan mengajaknya ke rumah nenek dan kakek Nara.
Dengan berat hati, Yudha menyetujui rencana keluarga Nara. Dia sayang dengan Nara, tidak tega dia mengajak Nara dalam kesengsaraan lagi.
"Nanti kita ke rumah kakek dan nenek kamu, ya," ajak Yudha kepada Nara.
Nara menggeleng.
"Nay, ini untuk sementara saja. Sampai Mas ada kerjaan. Mas nggak ada uang lagi, Nay. Bagaimana makan kamu?" Hari Yudha bergetar mengatakannya.
"Nanti siang aja Mas bingung kamu makan apa lagi. Ikut, ya, Nay!" bujuk Yudha.
Nara yang berpikir tidak ingin membebani Yudha lagi, akhirnya terpaksa menyetujuinya.
Mereka berangkat menggunakan taksi online yang nanti ongkosnya akan dibayar di tempat tujuan.
Tibalah mereka di rumah kakek dan nenek Nara. Betapa takjubnya Nara melihat rumah sebesar ini. Dia tidak pernah bermimpi punya rumah seperti ini. Kedatangan Nara sudah disambut hangat oleh keluarga di sana.
Nenek langsung memeluk Nara dan menangis haru bisa bertemu cucunya kembali setelah belasan tahun menghilang.
Hampir dua jam mereka di sana, ini saatnya Yudha pamit pulang. Nara memegang tangan Yudha. Di sinilah moment menyakitkan bagi Yudha.
"Besok, setelah Mas dapat kerjaan. Mas jemput kamu lagi, Nay. Di sini dulu, ya!"
Nara terpaksa melepaskan tangan Yudha, karena dia tidak ingin menjadi beban Yudha lagi.
__ADS_1
Sebuah pesan wa masuk ke ponsel Yudha, Pesan dari Kenny, yang mengatakan bahwa dia sudah mengirim uang untuk ongkos.
Di dalam mobil akhirnya Yudha menangis.