Dalam Diamnya Nara

Dalam Diamnya Nara
Part 20


__ADS_3

Dalam Diamnya Nara


Bab 20


Tio bertanya kepada para pekerja yang ada di toko tersebut apakah mereka sudah makan siang. Kompak mereka belum makan. Akhirnya Tio memesan makanan dari aplikasi untuk makan siang para pekerja.


Setelah makanan sampai dan mereka baru sadar bahwa Yudha tidak ada saat jatah makanan berlebih satu.


Ternyata, Yudha pulang tanpa sepengetahuan Al. Dia harus menghindari Nara. Karena dia mendengar cerita Tio dengan orang kepercayaan nenek bahwa toko ini akan dibuka sebelum pernikahan Nara dan Tio dilaksanakan.


"Woi bujang, kok menghilang kau tadi?" tanya Al ketika dia sudah pulang kerja.


"Ya, ngapain lagi aku di situ? Pekerjaanku sudah selesai," jawab Yudha.


Sementara Ilham hanya diam memperhatikan  perdebatan kedua temannya tersebut.


"Pak Tio dan Buk Nara traktir kita makan. Nasi Naya berlebih jadinya," sahut Al.


"eh, tunggu! Tunggu! Tadi siapa? Buk Nara?" Ilham langsung  buka suara karena penasaran dengan  nama yang disebutkan Al. 


"Iya, pemilik toko boneka yang kami kerjakan.  Wih, cantik dia. Seimbanglah dengan calon suaminya yang pengusaha juga," ujar Al.


"Beneran Nara, Yud?" Sekarang Ilham bertanya kepada Yudha.


Yudha mengangguk berat lalu pergi ke kamar.


"Tentu iya dia pulang, Nara itu mantan istrinya," komentar Ilham.


"Aduh, tadi Buk Nara diam-diam nanya alamat Yudha. Aku bilang aja kalau mau ketemu Yudha di tempat jualannya aja,"


"Patah hati lagi, lah, anak tu." Ilham memukul bahu Al.


Al menggosok-gosok bahunya yang terasa sakit. 


Yudha mendengar pembicaraan kedua temannya dari dalam kamar karena rumah kontrakan mereka tidaklah besar.


Sementara di tempat lain, Nara melompat kegirangan di dalam kamarnya, dia senang karena bisa bertemu Yudha lagi. Saat itu ingin rasanya Nara memeluk Yudha. Nara rindu pelukan Yudha. Rasa nyaman di pelukan Yudha tidak dia dapatkan pada Tio.

__ADS_1


Setelah selesai makan malam, Nara izin keluar rumah, dengan alasan ingin keluar bersama Tio tetapi Tio tidak bisa menjemputnya.


Mendengar itu, tentu saja Nara diizinkan keluar malam ini. Sebenarnya saat di kamar, Ayu sudah mengingatkan Nara untuk tidak membawa ponsel. Akan tetapi Nara tidak bisa melakukannya. Dia butuh. Al untuk mencari alamat tempat kerja Nara.


Nara menghabiskan waktu tiga puluh menit untuk sampai di lokasi Yudha dan Ilham. Dari dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari tempat berjualan. Dari dalam mobil Nara memperhatikan Yudha sedang mengangkat piring bekas pengunjung dan serta mengelap meja. Nara tersenyum melihatnya. Nasib benar-benar berputar, dulu Yudha yang diperlakukan bak raja. 


Nara menunggu pengujung tidak begitu ramai agar dia bisa bertemu Yudha dengan leluasa.


Yudha menuju belakang warung dengan membawa setumpuk piring kotor. Kesempatan itu tidak disia-sia oleh Nara. Nara turun dari mobil menuju belakang warung. Benar sekali, Yudha sedang mencuci piring. 


"Mas Yudha," panggil Nara dari arah  belakang.


Yudha yang terkejut, reflek menoleh ke belakang, setelah dia tahu itu Nara, kembali Yudha memalingkan wajahnya. Kini Yudha bersikap seperti tidak ada orang di dekatnya. Dia masih saja menyambung setumpuk piring kotor.


"Nay, rindu, Mas," ujar Nara lagi.


Yudha hanya memejamkan mata sambil menarik nafas berat. 


Hatinya juga berkata rindu. Akan tetapi, otaknya melarang karena Nara akan menjadi istri orang.


"Pulang, lah!" Hanya itu yang keluar dari mulut Yudha.  


"Nara ingin nama pertama yang Nara sebut adalah nama mas tapi, Mas tidak ada saat itu," sambung Nara dengan posisi semakin mendekati Yudha.


"Pergilah! Saya tidak pernah mencintai kamu. Kamu ingat, apa saya pernah meniduri kamu? Tidak, kan? Apa itu kurang bukti bahwa saya tidak pernah mencintai kamu?" Yudha mengatakan itu dengan menahan getaran hatinya.


Sebenarnya alasan utama Yudha tidak mau berhubungan suami istri pada saat itu adalah dia takut Nara terkena penyakit kelamin yang bisa jadi dia bawa karena pergaulan bebasnya.


Ilham datang mendekati Yudha. Dia menyuruh Yudha untuk bicara baik-baik dulu kepada Nara. 


"Jangan bohongi hati," bisik Ilham kepada Yudha.


"Kita duduk di situ, Nay!" gumam Yudha kepada Nara.


Mendengar Yudha memanggilnya dengan sebutan kesayangan tersebut, Nara tersenyum. Mereka berjalan tidak beriringan. Yudha membiarkan Nara jalan duluan dan dia memilih jalan di belakang Nara. Sebenarnya, itu hanya alasan karena dia ingin memandangi Nara lebih leluasa.


"Mas, boleh Nay meluk, Mas?" ujar Nara di selah obrolan basa-basi mereka.

__ADS_1


Nara rindu, dia sangat merindukan Yudha. 


"Kalau memang kita harus berpisah, setidaknya Nay punya kenangan," ujar Nara dengan air mata mulai berlinang.


Yudha tidak menjawab tetapi, dia langsung menarik Nara dalam pelukannya. Nara membalas pelukan itu. Dua orang saling mencintai. Akan tetapi, harus berpisah karena keadaan.


"Mas, kita kawin lari aja, yuk!" bisik Nara.


"Segala sesuatu yang diawali dengan hal jelek, akan berdampak jelek juga untuk kita," sahut Yudha sambil mengusap kepala Nara.


"Jangan ulangi kesalahan bunda, Nay!" Yudha mulai melepaskan pelukannya.


Dengan kedua tangannya, Yudha memegang wajah Nara. Yudha mengatakan bahwa menikah bak Cinderella adalah impian Nara. Maka dengan menikah dengan Tio, impiannya akan terwujud.


Saat itu, Yudha melihat kenny dan Tio berjalan ke arah mereka duduk. Yudha melepaskan tangannya dari pipi Nara. Kembali Yudha kena satu tinjuan dari Kenny yang membuat sudut bibirnya berdarah. Sementara Tio menarik Nara. Dengan satu kali hentakan Nara terperanjat dari tempat duduknya.


Yudha kesal melihat Tio memperlakukan Nara dengan kasar. Nara berusaha melepaskan genggaman tangan Tio pada pergelangan tangan kanan Nara.


"Jangan kasar dengan perempuan!" bentak Yudha.


"Diam kau laki-laki kotor, gigolo menjijikan." Tio lalu meludah ke arah kanan.


"Aku memang kotor, aku memang menjijikan tapi, aku ndak pernah kasar sama wanita," sahut Yudha saat itu.


Nara ditarik paksa oleh kenny menuju mobilnya. Saat itu Nara menoleh ke arah Yudha, dalam diamnya dia menunjukkan ekspresi wajah meminta tolong.


Tidak terima orang yang dia sayangi disakiti seperti itu. Yudha berlari mengejar Nara. Lalu dia tarok Nara dari tangan Kenny. Seperti dulu-dulu jika menghadapi Masalah, Nara selalu bersembunyi di balik punggung Yudha. 


Entah dari mana datangnya, dua orang lelaki berbadan besar mendekati Yudha. Mereka mulai meninju Yudha yang masih berusaha melindungi Nara semampunya. Akhirnya Yudha kalah karena Yudha memang tidak punya kemampuan bela diri. 


Saat Yudha dipukuli dua lelaki suruhan Kenny dan Tio, Nara berteriak-teriak minta tolong kepada setiap orang yang lewat. Akan tetapi, tidak ada yang berani menolongnya. 


Nara berlari menuju warung nasi goreng yang jaraknya lumayan jauh, dia berteriak meminta tolong kepada Ilham. Mendengar suara orang minta tolong, Ilham terkejut ternyata itu Nara. 


Tidak ada yang bisa Nara ucapkan, dia hanya menarik tangan Ilham. Ilham mengikuti saja. Betapa terkejutnya Ilham, saat melihat Yudha sudah tersingkir di tanah dengan kepala berlumuran darah. Ilham mencoba menggerakkan Yudha tetapi, Yudha sudah tidak bergerak lagi. 


Nara memegang wajah Yudha yang sudah babak belur. Dia menangis dan berteriak sejadi-jadinya.

__ADS_1


__ADS_2