
Dalam Diamnya Nara
Bab 14
"Besok, setelah Mas dapat kerjaan. Mas jemput kamu lagi, Nay. Di sini dulu, ya!"
Nara terpaksa melepaskan tangan Yudha, karena dia tidak ingin menjadi beban Yudha lagi.
Sebuah pesan wa masuk ke ponsel Yudha, Pesan dari Kenny, yang mengatakan bahwa dia sudah mengirim uang untuk ongkos.
Di dalam mobil akhirnya Yudha menangis.
Aron mendapat kabar dari Tante Olivia langsung menghubungi Yudha. Dia mengatakan ini adalah keputusan yang tepat. Dengan melepaskan Nara, kehidupan Yudha akan kembali seperti semula karena Nara bagi Yudha adalah kutukan.
"Jangan-jangan, kau udah cinta sama dia?" tanya Aron dari ujung telepon.
"Sepertinya. Aku Ndak pernah merasakan sesakit ini."
Malas beradu argumen dengan Aron. Yudha memutuskan panggilan telepon. Dia merebahkan badannya yang terasa lelah. Lelah dengan semua yang terjadi. Matanya memandang sekeliling bangunan kecil yang tampak tidak terawat.
Di rumah megah bak istana itu Nara merasa sangat canggung. Walaupun Nara mengenal mereka tetapi, Nara tidak begitu dekat.
Dulunya nenek dan kakek sangat marah kepada ibunya Nara yang tetap memilih menikah dengan ayah Nara. Lelaki miskin yang hanya bekerja sebagai pemanen buah sawit.
Seiring berjalannya waktu, setelah Nara lahir. Hati kakek dan nenek melunak. Mereka cukup sering bertemu Nara. Akan tetapi, kebenciannya kepada ayah Nara tidak juga hilang.
"Non Nara, Mari kita makan!" panggil salah seorang asisten rumah tangga di rumah ini.
Nara menoleh sebentar lalu menggeleng. Kemudian tatapannya kembali tertuju keluar jendela. Dari kamar yang berada di lantai dua dia bisa melihat ke arah luar pagar. Hatinya masih saja berharap, Yudha kembali dan menjemputnya.
"Kalau tidak makan, Nona bisa sakit."
Dengan suara lembut, pelayan asisten rumah tangga yang bernama Ayu tersebut berhasil mengajak Nara turun ke meja makan.
Di atas meja Nara melihat berbagai macam lauk terhidang. Nara sempat heran untuk apa lauk sebanyak itu sementara yang makan hanya lima orang. Kakek, nenek, Nara, Om Kenny dan Tante Olivia.
"Sejak kapan mereka datang," batin Nara saat melihat Tante Olivia.
__ADS_1
"Nara, Nanti setelah makan, kita ke rumah sakit. Nenek sudah bikin janji sama dokter THT. Kita akan melakukan pemeriksaan awal untuk memperbaiki pita suara kamu," ujar nenek.
Nara hanya menanggapi dengan anggukan.
Kenny selalu melihat ke arah Nara yang hanya menunduk sepanjang makan. Makan pun selesai semua sisa makanan sudah dibersihkan oleh para asisten rumah tangga.
Dengan hati-hati, kakek bertanya bagaimana dia bisa mengenal dan menikah dengan Yudha.
"Dari info yang kakek dapat dari orang kepercayaan kakek. Yudha itu bukan laki-laki baik. Dia simpanan para istri orang," ucap kakek.
Mendengar ucapan kaken, Tante Olivia tampak salah tingkah. Wajahnya mulai tegang. Om Kenny melirik ke arah Tante Olivia dengan sudut matanya. Sepertinya Om Kenny ada rencana lain. Dia tidak jadi menceraikan Tante Olivia, agar orang tuanya tidak mengetahui masalah yang terjadi dalam rumah tangganya.
Nara mengambil memo yang selalu dibawanya. Tidak sabaran menunggu Nara menulis akhirnya tante Olivia membuka suara.
"Saya saja yang cerita. Kebetulan kawan si Yudha itu adalah kawan saya. Jadi saya tau bagaimana ceritanya." Tante Olivia harus mengarang dulu bagaimana bisa dia mengenal Yudha.
"Ya, silahkan. Biar Nara nanti yang membenarkan ceritanya jika cerita kamu tepat," jawab kakek
Tante Olivia mulai menceritakan bagaimana awal Yudha melihat Nara. "Nara dijual oleh Abang tirinya kepada germo. Lalu Yudha membooking Nara. Di saat itu Nara memohon kepada Yudha agar dia tidak dikembalikan ke rumah prostitusi itu."
"Benar Nara?" tanya nenek yang kaget mendengar nasib cucunya.
"Lalu kalian menikah?" tanya kakek.
Mas Yudha tidak ingin kami dianggap kumpul kebo karena satu rumah, makanya dia menikahi saya dan agar Bang Andi tidak bisa membawa saya kembali ke Mami karena saya sudah menjadi istri orang. Sudah tanggung jawab Mas Yudha.
Tulis Nara. Berkali-kali Nara memejamkan mata, menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Bagi kamu yudha itu apa?" Tiba-tiba Om Kenny bertanya.
Walaupun orang bilang dia jahat, pergaulannya tidak baik. Tapi, bagi saya, Mas Yudha malaikat penolong saya.
Pembicaraan berakhir saat nenek melihat jam di ponselnya. "Sudah waktunya kita ke rumah sakit," ujar nenek.
Selanjutnya nenek menyuruh Nara berganti pakaian. Ada beberapa pakaian baru yang sudah disiapkan oleh nenek tanpa sepengetahuan Nara.
Nara terpaksa menurut saja, dia tidak ada celah untuk melawan. Lagian niat mereka baik. Bisa bicara adalah impian Nara.
__ADS_1
***
Keesokan harinya, Nara sangat bahagia saat Ayu mengatakan bahwa Yudha datang. Nara langsung saja turun dari kamar menuju teras rumah. Ternyata Yudha hanya menunggu di luar. Tanpa sepengetahuan Nara, Om Kenny melarang Yudha masuk. Bagi dia, Yudha terlalu najis.
Nara mencolek bahu Yudha. Yudha terkejut ternyata dia sedang melamun. Nara tertawa melihat ekspresi Yudha saat terkejut.
"Cie … cie … baju baru, ya?" ledek Yudha sambil mencolek pinggang Nara
Tampak Nara meliuk-liukkan badannya karena menahan geli.
Nara menceritakan bahwa dia kemarin sudah pergi ke rumah sakit untuk periksa.
Saat Nara bisa bicara, Nara ingin menyebut nama Mas Yudha untuk pertama kali.
Tulis Nara di memo yang juga baru. Karena memo yang dari yudha sudah penuh.
Yudha tersenyum lalu mengusap kepala Nara. Senyum untuk menyembunyikan luka.
"Nay …," panggil Yudha lalu berhenti.
"Ada Kakek dan Nenek di dalam? Boleh Mas ketemu mereka?" Yudha meneruskan ucapannya.
Nara berdiet dan menarik tangan Yudha untuk masuk ke dalam rumah menemui kakek dan nenek yang sedang bersantai di halaman belakang sambil memberi makan ikan-ikan hias di kolam kecil dengan air terjun mini.
Melihat Nara dan Yudha masuk, Om Kenny mengikuti mereka. Dia ingin tahu apa yang akan dilakukan Yudha.
"Saya mau pamit, Kek," ucap Yudha pertama kali. "Tugas saya sudah selesai. Nara sudah tidak dikejar-kejar oleh mami lagi dan Nara sudah kembali ke keluarganya."
Suasana mulai tegang. Wajah Nara bingung.
"Dengan ini di hadapan kakek dan nenek saya menjatuhkan talak satu kepada Nara."
Seperti ada kayu besar yang menghantam Nara. Dadanya terasa nyesak mendengar ucapan Yudha. Ternyata dia diantar untuk diceraikan.
Nara menggoyang-goyangkan tangan Yudha.
"Sudah Nay, tugas saya sudah selesai. Saya tidak pernah mencintai kamu. Mana mungkin saya mencintai wanita seperti kamu. Benar kata Aron. Kamu hanya pembawa sial untuk hidup saya."
__ADS_1
Mendengar ucapan Yudha, Nara langsung melepaskan tangannya yang tadi menggenggam pergelangan tangan Yudha.
Tanpa pamit Yudha langsung pergi. Terpaksa Yudha mengatakan itu, agar Nara membenci dia. Yudha ingin Nara memulai hidup baru yang lebih bahagia dan sempurna.