Dalam Diamnya Nara

Dalam Diamnya Nara
Part 7


__ADS_3

Dalam Diamnya Nara


Bab 7


Nara memang tamatan sekolah dasar, tetepi, dari kecil dia bekerja dan bertemu orang banyak sehingga dia mengerti apa yang terjadi di kamar sebelah.


Sebulan sudah Nara tinggal bersama Yudha, dalam diamnya Nara dia bisa menyimpulkan perkerjaan Yudha yang sebenarnya. Pekerjaan kantor, yang dia lakukan setiap pagi berangkat kerja tersebut, Nara juga sudah tahu bahwa itu bohong.


Apapun profesi Yudha, bagi Nara, Yudha adalah pahlawannya. Karena Yudha sudah membebaskannya dari sarang dosa.


Pagi itu Nara sudah tidak tahan lagi untuk tetap di kamar. Dia hendak buang air besar. Akhirnya dia mengendap-endap keluar dari kamar, membuka dan menutup pintu kamar secara pelan agar tidak menimbulkan bunyi. 


Namun, apesnya saat itu Tante Olivia juga keluar dari kamar Yudha. Hingga akhirnya dia berteriak sehingga membangunkan Yudha. Dengan sisa-sisa mabuknya, Yudha keluar kamar karena mendengar kegaduhan.


"Kamu siapa?" tanya Tante Olivia. "Jawab kalau orang nanya itu!" bentaknya lagi.


"Dia bisu, mana bisa jawab," sahut Yudha dari dalam kamar.


Hanya dengan memakai celana boxer, Yudha keluar kamar. Nara langsung memalingkan wajahnya. 


"Dia pembantu Yudha, Tan," jelas Yudha kembali sambil memeluk Tante Olivia dari belakang.


Yudha memberi tanda agar Nara pergi. Nara langsung saja pergi ke kamar mandi. Walaupun rasa ingin buang air besarnya sudah menghilang karena terkejut saat dipergoki Tante Olivia. 


Saat Nara keluar dari kamar mandi, Nara melihat pemandangan yang tidak semestinya. Dia melihat, Yudha dan Tante Olivia saling bercumbu di ruang tengah. Buru-buru dan seolah tidak melihat, Nara kembali ke kamarnya.


Yudha menyadari hal ini tidak sopan tetapi, dia tidak ada cara lain untuk membuat Tante Olivia percaya bahwa Nara memang pembantu di rumah ini. 


Walaupun matahari sudah muncul, Nara tidak berani keluar kamar. Dia takut melihat pemandangan yang tidak seharusnya dilihat. Hingga akhirnya Yudha mengetuk pintu kamar dan memanggil namanya.


"Tolong buatkan sarapan, Nay!" Yudha lebih suka memanggilnya "Nay" daripada Nara.


Nara langsung membuka pintu kamar. 


Mau makan apa?


"Bentar, ya!" ujar Yudha. 


Ternyata dia menanyakan kepada Tante Olivia ingin makan apa pagi ini.


"Tante mau makan mie goreng aja, deh. Yang pedas, ya, terus mie nya basah jangan kering, jangan pakai daun seledri, jangan terlalu berminyak!" 


"Kamu dengarkan, Nay?" gumam Yudha kepada Nara. Dia pusing mendengar permintaan Tante Olivia.


Nara mengangguk.


"Aku mie juga, ya!" pinta Yudha.

__ADS_1


Tetapi, memberi isyarat tidak boleh.


"Kenapa?" tanya Yudha lagi.


Nara pun mengambil memo kembali. Semalam sore sudah makan mie.


"Ya, itukan, mie rebus. Pagi ini mie goreng. Kan, beda tu." Yudha memberi alasan  yang memaksa.


Nara tetap menggeleng.


"Ayolah, Nay!" rengek Yudha.


Nara berjalan menuju dapur dengan diekori Yudha yang masih membujuk Nara untuk dibuatkan mie goreng. 


"Kamu kenapa, sih? Tinggal buatkan aja! Pembantu Sekarang ngelunjak, ya!" bentak Tante Olivia dari rumah keluarga.


Sepuluh menit, mie goreng sudah terhidang di meja makan. Nara lupa menanyakan kepada Tante Olivia dia suka telur mata sapi apa dadar. Sehingga dia menyamakan saja dengan kesukaan Yudha yaitu telur mata sapi separuh matang. 


"Apa ini? Saya nggak suka ini." Tante Olivia membanting sendok ke atas piring saat mie goreng dia ada telur mata sapi.


"Jangan marah-marah, Tante sayang! Sini telurnya untuk aku." Yudha memindahkan telur dari piring Tante Olivia ke piringnya. "Nay, kamu bikin telur dadar lagi, ya!" suruh Yudha.


Nara menuruti perintah Yudha. 


"Sayang jangan macam-macam sama dia, ya!" ancam tante Nara.


Sekitar pukul delapan pagi Tante Olivia pulang dan dia memberi Yudha dua juta sebagai uang tips karena sudah menyenangkan dia. Itu hanya uang tips, uang bulanan lain lagi.


Setelah Tante Olivia pergi, Yudha tertawa memegang uang ditangannya. Begitu gampangnya dia mencari uang. 


Uang seperti itu Yang Mas kirim ke ibu, Mas?


Nara menyodorkan tulisan tersebut di hadapan Yudha.


"Nay …," ucap Yudha lirih sesaat setelah membaca tulisan tersebut. "Kamu tau kerjaan aku?" sambung Yudha kembali.


Nara mengangguk dan tersenyum. 


Maaf jika tadi saya lancang, Mas. Maaf bukan maksud ikut campur.


"Dulu Mas susah, Nay. Merantau ke kota ini, kerja apa aja yang penting halal begitu prinsipku. Ternyata pekerjaan halal itu untuk makan aja nggak cukup. Hingga akhirnya Mas ketemu Aron dan bisa seperti sekarang ini." Pandangan Yudha kosong ke depan. Dia seolah mengingat kejadian yang entah berapa tahun lalu.


"Mas pernah jadi pengamen, loh, Nay," sambung Yudha.


Aron itu jahat, Mas. Tulis Nara.


"Nggak, Nay. Berkat dialah, Mas punya segalanya seperti ini.

__ADS_1


Nara hanya bisa menarik nafas, sulit mengatakan bahwa Aron itu jahat. 


Ponsel Yudha berdering.


"Astaga mami, video call. Kamu menjauh, Nay! Eh, nggak usah. Mas, aja yang ke kamar." Yudha pun menjawab panggilan video tersebut sambil masuk ke dalam kamar.


"Iya, Mi?" sapa Yudha.


"Mami *****, nih. Brondong mami bisa ke sini!" 


Mami melakukan video call dengan lingerie. 


"Kamu janji, kan? Untuk ganti kesalahan kamu, menghilangkan Nara. Kamu puasin mami selama sebulan?"


Yudha menarik nafas, baru tadi siap muasin Tante Olivia, sekarang mami lagi yang minta dipuaskan.


"Iya, Mi. Entar lagi Yudha ke sana." 


Yudha mematikan panggilan video.


"Gue capek," gerutu Yudha sambil keluar kamar.


Ternyata Nara sudah berdiri di depan pintu kamar. Dia takut Yudha mengatakan yang sebenarnya.


"Kamu pulang aja sama mami, Nay! Aku capek harus muasin nafsu dia," omel Yudha.


Nara hanya tertunduk. Dengan tangan gerak tangan, dia mengucapkan maaf. 


"Lupakan saja!" Yudha pergi dengan rasa kesal. 


Nara menyusulnya hingga pintu depan. Dia tidak berani keluar rumah. Dari balik jendela depan dia melihat Yudha pergi dengan langkah kesal.


Yudha belum juga pulang padahal sudah pukul sembilan malam. Nara benar-benar merasa bersalah. Apa dia harus melakukan apa yang dikatakan Aron?


Sifat egois Nara mengatakan, jangan mau pergi. Di sini sudah nyaman. Akhirnya Nara tertidur di sofa ruang tamu. 


Pukul sebelas malam Yudha baru kembali, saat membuka pintu, dia terkejut melihat Nara tidur di sofa.


"Kamu nunggu Mas, Nay?" bisik Yudha di telinga Nara.


Saat itu, Yudha berjongkok di hadapan Nara yang sedang tidur. Yudha mulai mengelus pipinya. 


"Rasa apa ini, Nay?" bisik Yudha kembali.


Sepertinya Yudha sudah jatuh cinta.


Yudha mengangkat Nara ke kamar dan menyelimutinya. Yudha tinggalkan Nara di kamarnya. Tidak ada sedikitpun niat untuk meniduri Nara. Dia tidak ingin mereka Nara.

__ADS_1


Dalam benaknya, bagaimana dia harus melindungi Nara sebaik mungkin. Yudha sudah lama tidak merasakan jatuh cinta seperti ini, terakhir saat dia mencintai seseorang dan ditolak depan orang banyak karena dia hanyalah pengamen jalanan.


__ADS_2