
Dalam Diamnya Nara
Bab 18
Setelah nenek keluar kamar, Nara teringat akan bungkusan pakaian yang dia bawa tadi. Nara membongkar satu demi satu pakaian lamanya. Saat asik membongkar sesuatu jatuh dari balik lipatan pakaian. Setelah Nara ambil dan lihat ternyata itu foto Nara dan Yudha saat mereka masih bersama dulu.
Nara cium foto tersebut, meresapi, berharap orang yang dia cium dalam foto tersebut dapat merasakannya.
"Dimanapun mas berapa, semoga mas selalu dalam lindungan Allah," dia Nara setalah mencium foto tersebut.
Cepat-cepat Nara bangkit dan memasukkan foto itu ke dalam tas yang selalu dia pakai
***
Sudah sebulan Nara di kota yang baru ini. Nenek juga telah memenuhi janjinya kepada Nara untuk mengunjungi kampung halamannya, berziarah ke kuburan bunda yang telah ditumbuhi semak belukar. Mungkin hanya kuburan bunda, lah, yang tidak pernah didatangi sanak saudaranya selama bertahun-tahun.
Semua berjalan seperti biasa. Nara diberi satu usaha yang akan dikelolah. Nenek memberi dia sebuah toko boneka. Bukan tanpa alasan, karena masih kecil saat tinggal bersama ibu tiri, Nara ingin sekali punya boneka tetapi, tidak pernah terwujud.
Namun, toko tersebut harus direnovasi terlebih dahulu, di cat semenarik mungkin. Agar sesuai dengan konsep uang ingin mereka tampilkan.
Jika dilihat dari luar, kehidupan Nara sangat nikmat, mempunyai wajah cantik, keluarga kaya raya serta memiliki calon suami tampan dan pebisnis juga.
Ya, Nara dijodohkan oleh nenek dengan anak dari temannya di satu arisan berlian. Lelaki itu bernama Tio anak tunggal.
Setahun telah berlalu dari hari paling pahit itu. Yudha sudah meninggalkan dunia **** bebasnya. Dia memilih mencari uang secara halal walaupun itu sangat melelahkan. Yudha pergi ke kota lain bersama Ilham–teman kecilnya Yudha di kampung.
Malam hari Yudha bekerja di warung nasi goreng. Siang hari dia akan mencari uang tambahan dengan cara mengamen di lampu merah bersama teman-temannya.
"Mengapa kau mencari uang begitu keras? Sedangkan kau hanya membiayai diri sendiri?" tanya Ilham saat melihat Yudha pulang mengamen.
"Aku hanya mencari kesibukan. Jika aku habiskan waktu seharian tanpa apa-apa. Aku selalu teringat ibu, teringat Nara."
Ilham paham, dia menepuk bahu Yudha.
Setahun bukan waktu yang cukup panjang untuk melupakan rasa bersalahnya kepada ibu. Setahun bukan waktu yang panjang untuk menghilangkan rasa cintanya kepada Nara.
__ADS_1
"Bolehkah hampa ingin tahu kabarnya, Tuhan?" batin Yudha saat dia sendirian di kamar sambil memegang jam tangan pemberian Nara di hari mereka menikah.
Siang itu saat matahari lagi terik-teriknya. Yudha berjalan bersama teman-temannya dengan menenteng alat musik mereka menuju lampu merah tempat mereka biasa mengamen. Wajah Yudha yang cukup tampan sebagai vokalis juga menjadi nilai tambah. Sehingga mereka sering mendapat uang tips.
Tidak ada yang aneh bagi Yudha dan teman-temannya. Mereka mengamen seperti biasa.
Namun, saat itu ada seorang wanita yang memperhatikan mereka dari dalam mobil keluaran terbaru. Duduk nyaman di dalam mobil ber AC. Matanya tidak berkedip ke arah pengamen tersebut.
"Tolong beri ini kepada mereka!" Nara menyodorkan selembar uang seratus ribu kepada supir pribadinya. Saat dia melihat Yudha berjalan ke arah mobilnya sambil membawa kardus kecil.
"Banyak kali, Pak," ucap Yudha saat diberi uang titipan Nara.
"Nyonya saya yang menyuruh."
Yudha mencoba melihat ke arah bangku belakang. Namun, terhalang kaca mobil yang sengaja dibuka hanya sedikit.
Yudha hanya bisa melihat lelaki di samping Nara karena duduknya yang tidak sejajar dengan bangku supir.
"Terima kasih, Bos," ucap Yudha.
Lampu merah pun selesai, mobil mereka berjalan. Dari balik kaca jendela Nara terus memperhatikan Yudha.
Nara sudah dijodohkan oleh keluarganya dengan lelaki bernama Tio yang cukup mapan dan sukses dengan bisnisnya. Tiga bulan lagi mereka akan menikah.
Nara tidak menyangka bisa bertemu Yudha dengan keadaan seperti itu dan di kota ini. Padahal dia sengaja pindah dari kota lamanya untuk mencoba melupakan masa lalu. Ternyata tanpa sengaja dia melihat Yudha. Lelaki yang selalu dirindukan dalam diamnya.
Nara memejamkan mata lalu menarik nafas panjang. Antara senang dan sedih, dia tidak tahu. Dia senang bisa melihat Yudha lagi tetapi, dia sedih melihat Yudha harus mengamen di bawah terik matahari begini.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Tio kembali saat melihat Nara meneteskan air mata.
"Aku sakit perut. Kita pulang aja!" bohong Nara.
Tio terlihat panik dan menawarkan untuk pergi berobat tetapi, Nara menolaknya. Dia ingin pulang saja. Sebenarnya bukan perutnya yang sakit. Melainkan dadanya yang sesak melihat pemandangan tadi. Orang yang dia rindukan selama ini.
Sesampai di rumah, Nara langsung berlari ke dalam kamar. Dia menangis sejadi-jadinya. Melihat itu. Ayu, menyusulnya. Ternyata Ayu masih setia menjadi asisten Nara.
__ADS_1
"Kenapa, Non?" tanya Ayu. Dia membelai kepala Nara yang dibenamkannya di dalam bantal agar tangisnya tidak terdengar keluar.
Nara bangkit, duduk di sebelah Ayu.
"Saya melihat Mas Yudha, Yu," sahut Nara dan langsung memeluk Ayu.
"Dimana, Non?" Ayu langsung menutup mulut dengan kedua tangannya saat dia menyadari suaranya begitu besar.
"Di simpang lampu merah sedang mengamen dengan teman-temannya."
"Non Nara rindu?" tanya Ayu kembali.
Nara melepaskan pelukannya. Dia mengangguk menjawab pertanyaan Ayu.
"Bagaimana dengan Tuan Tio?" kembali Ayu bertanya.
"Sudah berbulan-bulan, saya mencoba untuk mencintainya tetapi, tidak bisa," keluh Nara terlihat putus asa.
Nara diam, tatapannya nanar lurus menembus jendela. Dia masih teringat kenangan dari awal dia bertemu Yudha. Dia teringat saat Yudha mengutuk dirinya sendiri setelah dia memilih untuk menyelamatkan Nara.
Nara menarik laci meja hiasnya. Nara teringat akan jam tangan yang digunakan Yudha tanpa sengaja dia melihatnya tadi. Masih jam tangan lama. Jam tangan Nara yang mereka tukaran setelah ijab Qabul dulu.
"Mas Yudha masih memakai jam tangan pemberian saya, Yu," lirih Nara. "Sedangkan saya tidak pernah memakai ini lagi." Nara menunjukan jam tangan yang dia simpan di laci meja rias.
"Emang apa cerita dari jam tangan itu?" Ayu terlihat penasaran.
Nara menceritakan bahwa dia yang mempunyai ide untuk bertukar barang pribadi, karena saat itu Nara hanya memiliki jam tangan walaupun murah, Yudha mau bertukar dengan jamnya yang mahal.
"Besok kita temui Mas Yudha, yuk, Yu!" ajak Nara begitu bersemangat.
Ayu yang tidak ingin peristiwa beberapa bulan yang lalu terjadi lagi. Kemana saja Nara pergi, orang di rumah ini pasti tahu.
"Jangan, Non!" larang Ayu.
"Kenapa?" tanya Nara heran kenapa sekarang ayu tidak mau mengikuti keinginannya.
__ADS_1
Ayu memberi alasan itu bisa membahayakan diri Nara jika Nara nekat menemui Yudha. Kenny pasti tidak segan-segan menyakiti Yudha lagi. Kebenciannya kepada yudha juga belum usai.