
Dalam Diamnya Nara
Bab 8
Saat itu, Yudha berjongkok di hadapan Nara yang sedang tidur. Yudha mulai mengelus pipinya.
"Rasa apa ini, Nay?" bisik Yudha kembali.
Sepertinya Yudha sudah jatuh cinta.
Yudha mengangkat Nara ke kamar dan menyelimutinya. Yudha tinggalkan Nara di kamarnya. Tidak ada sedikitpun niat untuk meniduri Nara. Dia tidak ingin merusak Nara.
Dalam benaknya, bagaimana dia harus melindungi Nara sebaik mungkin. Yudha sudah lama tidak merasakan jatuh cinta seperti ini, terakhir saat dia mencintai seseorang dan ditolak depan orang banyak karena dia hanyalah pengamen jalanan.
Nara tersentak dan mendapati di sudah di kamar dengan tubuh tertutup selimut. Pikiran negatif Nara muncul, dia segera mengecek tubuhnya, ternyata pakaiannya masih lengkap. Nara pun bernafas legah.
Nara turun dari tempat tidur, mengintip di balik kaca, ternyata sudah terparkir mobil Yudha di halaman berarti Yudha sudah pulang. Nara pun keluar kamar mencoba mencari Yudha. Nara mendapati Yudha sedang duduk termenung di ruang tengah.
Nara pun mendekat dan menepuk bahu Yudha, saat itu Yudha terkejut dan menoleh ke belakang.
"Kenapa bangun?" tanya Yudha. "Sekarang pukul tiga dini hari, pergi tidur lagi!"
Nara menggeleng dan memperagakan bahasa isyarat yang berarti bahwa dia sudah tidak mengantuk.
"Nay …." Ucapan Yudha terputus.
"Apa?" jawab Nara walaupun tidak keluar suaranya.
"Mas bingung, Nay." Yudha menggeser posisi duduknya. Lalu dia menepuk permukaan sofa menandakan bahwa dia menyuruh Nara duduk di sebelahnya.
Setelah Nara mengikuti perintah Yudha, Yudha pun mengatakan bahwa dia bertemu abang tiri Nara yang telah menjualnya kepada mami. Ternyata mami menghubungi Andi lalu menceritakan bahwa Nara kabur dan menunjukkan Yudha sebagai orang yang saat itu membooking Nara.
Wajah Nara langsung berubah tegang. Dia memohon kepada Yudha untuk tidak mengatakan keberadaannya. Nara langsung turun dari sofa dan berlutut di hadapan Yudha. Dia memohon, dia tidak mau kembali ke tempat maksiat itu.
"Berdiri, Nay!" Yudha terkejut melihat Nara berlutut dan memohon dengannya walaupun hanya menggunakan gerak tubuh sebagai tanda iya memohon.
__ADS_1
Yudha memegang kedua bahu Nara dan mengajaknya kembali duduk di sofa.
"Kita menikah saja!" ujar Yudha.
Nara terkejut mendengar itu, seolah bola matanya akan melompat keluar.
"Saya nggak ada cara untuk melindungi kamu. Mungkin menjadikan kamu istri saya adalah caranya. Saya takut, abang tiri kamu akan melaporkan kita yang tinggal serumah ini sebagai pasangan kumpul kebo," jelas Yudha panjang lebar.
Yudha juga tidak tega jika Nara dibawa kembali oleh Abang tirinya dan diserahkan kepada mami.
Nara terdiam cukup lama. Kedua tangannya saling meremas, ini merupakan ciri khas Nara jika dia bingung ataupun panik.
Yudha kembali menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa. Dengan sesekali dia melirik Nara yang masih bingung.
Nara mencolek punggung tangan Yudha. Hal itu membuat Yudha melihat ke arahnya. Saat itu Nara mengangguk tanpa dia setuju menikah dengan Yudha.
"Kemas pakaian kamu, Nay! Kita akan ke kampung saya malam ini juga," ujar Yudha.
Perasaannya tidak tenang jika harus menunggu besok pagi.
Benar dugaan Yudha. Saat mereka tidak begitu jauh keluar dari gerbang rumah, ada beberapa motor berputar-putar di depan rumah mereka. Itu dapat diketahui Yudha dari kamera CCTV yang terhubung ke ponsel miliknya.
"Saya rasa itu orang-orangnya mami," ucap Yudha kepada Nara.
Mereka melalui perjalanan delapan jam yang cukup melelahkan dan akhirnya tibalah mereka di rumah orang tua Yudha pada siang hari.
Ibu dan ayah Yudha tampak terkejut melihat Yudha membawa wanita cantik dan langsung mengutarakan niatnya bahwa mereka hendak menikah.
"Jangan kau bilang dia sedang hamil!" ujar ibu kepada Yudha.
"Ya, enggak, lah. Aku sama dia juga belum ngapa-ngapain. Ibu, nih, mikir jelek terus sama aku," ceplos Yudha.
"Lalu kenapa kau tiba-tiba datang, lalu minta nikah cepat-cepat."
"Daripada aku tinggal serumah tapi, belum nikah. Mau mana ibu?"
__ADS_1
"Susahnya bicara sama kau ini," ujar ibu tampak sedikit kesal.
Setelah melalui pembicaraan yang cukup panjang, akhirnya orang tua Yudha mengikuti kemauan Yudha untuk menikah dengan Nara.
"Jangan mendadak gini, lah, Yud!" keluh ibu. "Ibu pengen juga kayak orang-orang, pestakan anaknya." Ibu kembali menyambung perkataannya.
"Bu, Yudha terikat kontrak kerja. Dalam kontrak tertulis, Yudha nggak boleh menikah selama dua tahun. Kalau ketahuan Yudha melanggar kontrak, dendanya sepuluh kali lipat dari gaji Yudha," bohong Yudha kepada orang tuanya.
Dia hanya tidak ingin banyak yang tahu, dia masih takut, Tante Olivia mengetahui pernikahan itu dan mengambil semua fasilitas yang telah dia miliki hingga saat ini.
Sehari setelah mereka tiba di tanah kelahiran Yudha, pernikahan dilaksanakan di kantor urusan agama (KUA). Dengan wali dari KUA yang menjadi wali nikah Nara karena dia memang tidak memiliki siapa-siapa lagi. Yudha memberikan seperangkat alat salat sebagai mas kawinnya.
Hanya beberapa tetangga yang diundang oleh ibu untuk hadir ke rumah untuk membacakan doa setelah mereka pulang dari KUA.
Nara saja hanya menggunakan kebaya punya adiknya Yudha saat wisuda dulu.
"Ibu seperti melihat adikmu, Yud," ujar ibu saat melihat Nara.
"Sayangi dia seperti anak ibu sendiri! Anggap saja dia dihadirkan sebagai pengganti adek."
"Kalian setelah ini tinggal di sini?" tanya ibu kepada Yudha.
"Mau nya begitu, Bu. Tapi, untuk saat ini kami harus kembali ke kota dulu. Suatu saat Yudha pasti menetap di sini, Bu."
Dua hari setelah pernikahan itu, mereka kembali ke kota. Selama dua hari itu juga, Tante Olivia tidak henti-hentinya menghubungi Yudha. Terkadang tengah malam Tante Olivia video call dengan penampilan tidak senonohnya.
Jika seperti itu, Yudha akan menjarak dari tempat tidur. Karena ada Nara yang sedang tidur. Bahkan ada satu malam, Nara sadar dan dia yang menjauh dari Yudha. Nara hanya tersenyum. Namun, senyum itu membuat Yudha merasa tidak enak hati.
Walaupun mereka tidur sekamar tetapi, mereka belum pernah melupakan hubungan intim. Bukannya Yudha tidak ingin. Hanya saja hasrat itu kalah dengan rasa malu yang Yudha punya. Walaupun dia pendosa tetapi, dia tidak tega melakukan hal itu kepada Nara. Dia merasa dirinya kotor tidak pantas untuk menggauli Nara yang masih suci.
Mungkin inilah cinta tulus Yudha kepada Nara. Dia benar-benar ingin menyelamatkan Nara.
Setelah Yudha selesai melakukan video call dengan Tante Olivia, Nara menghampiri Yudha. Dia memberikan jam tangan yang selama ini dia pakai kepada Yudha.
"Kita tukaran?" tanya Yudha yang sudah mulai memahami bahasa Nara.
__ADS_1
Nara mengangguk.
Yudha pun melepas jam tangan miliknya yang harganya jauh lebih mahal dari milik Nara.