Dalam Diamnya Nara

Dalam Diamnya Nara
Part 19


__ADS_3

Dalam Diamnya Nara


Bab 19


"Besok kita temui Mas Yudha, yuk, Yu!" ajak Nara begitu bersemangat.


Ayu yang tidak ingin peristiwa beberapa bulan yang lalu terjadi lagi. Kemana saja Nara pergi, orang di rumah ini pasti tahu.


"Jangan, Non!" larang Ayu.


"Kenapa?" tanya Nara heran kenapa sekarang ayu tidak mau mengikuti keinginannya.


Ayu memberi alasan itu bisa membahayakan diri Nara jika Nara nekat menemui Yudha. Kenny pasti tidak segan-segan menyakiti Yudha lagi. Kebenciannya kepada yudha juga belum usai.  


Sementara belasan  kilometer dari kedina Nara, Yudha sedang asik bercengkrama dengan teman-temannya sebelum dia berangkat jualan nasi goreng.


"Kau bisa mural, kan, Yud?" tanya Al kepada Yudha. Al merupakan teman sepermainan Yudha juga saat di kampung dulu. 


Mural adalah cara menggambar atau melukis di atas media dinding, tembok atau permukaan luas yang bersifat permanen lainnya.


"Bisalah sedikit-sedikit," sahut Yudha yang tengah asik memetik-metik gitar tua peninggalan bapak."kenapa? Ada job, kah?" sambung Yudha lagi.


"Ada, nih. Toko boneka baru dibuka. Jadi pemiliknya mau ada gambar tokoh kartun anak-anak di dalam toko tersebut."


"Kalau gambar kartun anak-anak, sih, nggak masalah. Yang masalah kalau gambar majalah dewasa," sahut salah satu dari teman-teman Yudha.


"******! Bisa aja kau, setan," upat Yudha saat itu dan disambut dengan gelak tawa mereka.


"Kalau bayarannya cocok, gas, lah!" sahut Yudha.


"Menggiurkan," jawab Al.


Yudha tidak tahu bahwa toko yang akan dia kerjakan adalah toko boneka milik Nara. 


Keesokan harinya, Yudha, Al dan bersama dua teman lainnya berangkat menuju toko boneka itu, dengan bermodalkan map, akhirnya mereka tiba dia sebuah toko bernuansa pink di luarnya. Setelah mereka masuk, dinding toko tersebut masih polos dengan warna putih. Sedangkan boneka sudah tersusun rapi pada raknya. 


Orang kepercayaan nenek sudah menunggu di toko tersebut dan menunjukkan satu tembok yang akan digambar. Sisi itu yang akan digunakan untuk tempat pengunjung berfoto-foto.

__ADS_1


Sementara di tempat lain, Nara menelan kekecewaan setiap hari. Nara sengaja berjalan di tempat biasa Yudha mengamen  menggunakan mobil miliknya. Akan tetapi, sudah lima hari, Nara tidak mendapati Yudha di tempat itu lagi. Sudah dicobanya berputar-putar kota, berharap melihat Yudha di tempat lain. Akan tetapi, hasilnya nihil.


Ponsel Nara berdering, ternyata panggilan dari nenek. Dengan menggunakan earphone bluetooth, Nara menjawab panggilan tersebut. Nenek mengatakan bahwa Nara sebaiknya pergi ke toko boneka untuk mengecek hasil kerja orang di toko.


"Nanti kamu pergi sama Tio, ya! Dia sudah menunggu kamu di rumah," perintah nenek sebelum panggilan telepon diakhiri.


Akhirnya Nara mengarahkan jalan mobilnya ke arah rumah. 


Setelah Nara tiba di rumah, memang benar ada Tio dan ibunya–Tante Melisa. Yang bikin Nara terkejut saat itu nenek dan mamanya Tio sedang membuka-buka katalog pakaian pengantin salah satu wedding organizer. 


"Lihat, deh, Nar! Kamu suka pakaian modern apa tradisional?" tanya Tante Melisa sambil menyodorkan katalog ke arah Nara.


"Yang mana saja." Senyum Nara terpaksa. "Emang kapan acaranya?" tanya Nara balik.


"Sebulan lagi." Nenek menjawab santai sambil membolak balikkan halaman katalog.


Nara tercengang mendengar  jawaban nenek.


"Kenapa harus ditunda-tunda lagi, ya, Yo?" 


Tio pun mengangguk  dengan semangat. 


"Jika jadi orang kaya itu seperti ini, Nara lebih milih hidup susah seperti kemarin," bisik Nara yang terdengar samar di telinga nenek.


Nenek langsung mendelikkan bola matanya. "Jangan ulangi kesalahan yang sama, Nara! Jangan bodoh seperti bunda kamu!" bentak nenek.


"Bunda nggak bodoh, Nek. Mama berani mempertahankan kebahagian." Entah kekuatan dari mana Nara bisa menjadi berani membantah begitu.


"Sudah! Jangan banyak cerita! Sekarang kawankan Tio melihat persiapan  toko boneka kamu," suruh nenek.


Sepanjang perjalanan Nara lebih memilih diam. Harinya sudah tidak enak.  Sudahlah tidak bisa lagi menemukan Yudha. Ditambah lagi pernyataan nenek yang mengatakan bahwa dia dan Tio akan menikah sebulan  lagi.


Yudha mencoba mengajak ngobrol tetapi, dijawab satu satu saja oleh Nara. Hingga Tio mengeluarkan pertanyaan yang sudah lama Nara tunggu-tunggu.


"Apa kamu bahagia dengan perjodohan ini?"


Nara langsung menoleh ke arah Tio yang sedang fokus menyetir. "Kata seseorang, hidup itu harus tau dengan balas Budi!"

__ADS_1


"Siapa seseorangnya?" Tampaknya Tio penasaran.


Nara kembali diam dan membuang wajahnya ke arah jendela.


"Apa kamu masih mencintai mantan suamimu yang gigolo itu?"


Mendengar ucapan itu Nara langsung menatap Tio dengan tajam. Dia tidak suka orang menyebut Yudha dengan sebutan itu.


"Setidaknya dia bukan cowok yang suka merusak anak gadis orang dengan dalih kata cinta," jawab Nara ketus.


Tio tertawa sinis mendengar jawaban Nara. Suasana hari yang tidak enak semakin tidak enak. Rasanya tubuh Nara menjadi gerah walaupun di dalam mobil AC selalu menyala.


Tibalah mereka ke toko boneka milik Nara. Dari luar toko yang dikelilingi kaca tampak beberapa orang sedang menyelesaikan mural. 


Kedatangan Nara dan Tio disambut hangat oleh orang kepercayaan nenek yang mengurus toko ini dari awal sampai siap buka seperti saat ini.


Nara langsung menuju pojok ruangan yang telah digambar. Saat itu para pekerja sedang melakukan finishing.


"Yud, coba lihat dari jauh! Ok Ndak?" teriak Al yang sedang duduk di atas tangga lipat.


Yudha melakukan langkah mundur dan selalu memperhatikan ke setiap sisi gambar, mencari kekurangan gambar tersebut. Sehingga tanpa sadar dia menabrak seseorang dan membuat orang yang ditabraknya jatuh.


"Maaf," ucap Yudha dan segera membalikkan badannya.


Kini Nara dan Yudha bertemu, tatapan mata mereka saling beradu. Untuk beberapa detik mereka terdiam karena sama-sama terkejut. Tidak percaya mereka bisa bertemu lagi. Walau dengan situasi berbeda.


Lamunan mereka menjadi buyar setelah Tio berteriak memanggil Nara dengan kata sayang. Tio datang dan membantu Nara berdiri.


"Kamu bagaimana kerja tak hati-hati?" Tio memerahkan Yudha.


"Ma … maaf, Pak. Saya Ndak sengaja."


"Dia Ndak tau, Pak, kalau ada orang di belakang, dia sedang melihat detail mural yang digambarnya," teriak Al dari atas tangga.


Diam-diam, Yudha masih mencuri pandang ke arah Nara yang sedang duduk di sofa memang disediakan di toko ini. 


Tio bertanya kepada para pekerja yang ada di toko tersebut apakah mereka sudah makan siang. Kompak mereka belum makan. Akhirnya Tio memesan makanan dari aplikasi untuk makan siang para pekerja.

__ADS_1


Setelah makanan sampai dan mereka baru sadar bahwa Yudha tidak ada saat jatah makanan berlebih satu.


Ternyata, Yudha pulang tanpa sepengetahuan Al. Dia harus menghindari Nara. Karena dia mendengar cerita Tio dengan orang kepercayaan nenek bahwa toko ini akan dibuka sebelum pernikahan Nara dan Tio dilaksanakan.


__ADS_2