
Dalam Diamnya Nara
Bab 15
"Sudah Nay, tugas saya sudah selesai. Saya tidak pernah mencintai kamu. Mana mungkin saya mencintai wanita seperti kamu. Benar kata Aron. Kamu hanya pembawa sial untuk hidup saya."
Mendengar ucapan Yudha, Nara langsung melepaskan tangannya yang tadi menggenggam pergelangan tangan Yudha.
Tanpa pamit Yudha langsung pergi. Terpaksa Yudha mengatakan itu, agar Nara membenci dia. Yudha ingin Nara memulai hidup baru yang lebih bahagia dan sempurna.
Bukan hanya Nara yang merasa sesak. Yudha tak kalah sakitnya saat menjatuhkan talak kepada Nara. Bukan tanpa alasan. Yudha tidak ingin saja menggantung status Nara. Walaupun mereka berstatus suami istri, Nara dan Yudha pasti tidak akan bisa bertemu lagi. Kenny akan melakukan berbagai cara untuk menjauhkan mereka. Daripada begitu, lebih baik dia melepaskan Nara secara baik-baik.
Mungkin suatu saat nanti Nara akan menemukan kebahagiaan meski tak bersamanya, begitulah yang Yudha pikirkan.
***
"Hai gigolo," sapa Sonya kepada Yudha.
Yudha kembali mendatangi klub' malam yang sudah lumayan lama dia tinggalkan.
"Hai pecun," sahut Yudha dengan malas.
"Kenapa? Patah hati atau kurang service?" Sonya mengambil rokok yang sedang diapit Yudha di antara jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Aku dengar, kau sudah menikah?" Kembali Sonya membuka suara sembari menghembuskan asap rokok ke dalam ruangan yang sudah terlalu pengap dengan asap dan aroma alkohol.
"Tau dari mana?" Yudha terlihat penasaran dia memperbaiki posisi duduknya yang tadinya menyandar di sofa kini sudah duduk tegap serius untuk mendengar jawaban dari Sonya.
"Mami ngomel-ngomel setelah dia dapat kabar dari Andi," jawab Sonya.
Yudha lalu mengatakan bahwa dia dan Nara sudah pisah. "Baru tadi siang aku jatuhkan talak."
"Pantas, kau seperti orang stres," ejek Sonya. "Kenapa?" lanjut Sonya. Kini Sonya yang terlihat penasaran.
__ADS_1
Yudha menghembuskan nafas lalu mulai menceritakan ternyata Nara adalah keponakan kandung dari suami Tante Olivia.
"Kalau mami masih merasa rugi, suruh dia minta ganti rugi sama keluarga suami Tante Olivia." Yudha berdiri dan berniat meninggalkan Sofanya.
Saat dia hendak melangkah, Ternyata mami sudah berdiri di depannya. Mami mendorong Yudha hingga dia jatuh di atas sofa dan tersandar.
"Mana Nara?" desah Mami saat dia mendekati wajahnya ke wajah Yudha.
"Nara sudah kembali ke keluarganya," jawab Yudha acuh.
"Kurangi ajar." Satu tamparan mendarat sempurna di pipi Yudha. "Kau tau aku masih rugi!?" bentak mami.
"Minta ganti rugi sama suami Tante Olivia! Nara keponakan suami Tante Olivia," bentak Yudha kembali.
Yudha mendorong mami ke kanan. Dia ingin pergi dari tempat ini. Bukannya bisa melupakan Nara, malahan tempat ini semua orang menyebut Nara.
Sementara di sebuah kamar cukup luas, mungkin lebar kamar ini sebesar rumah kontrakan mereka.
Nara duduk di sudut ranjang dengan sebuah buku dan pena di tangan.
Apa kabar, Mas? Nay berharap Mas Yudha bisa membaca surat ini sebelum Nay berangkat keluar negeri untuk berobat. Mas saat Nay dengar nenek mau mengobati pita suara Nay, Nay sangat senang, Mas. Akhirnya Nay bisa bicara dan nama yang pertama kali Nay panggil yaitu nama Mas Yudha.
Tapi, Mas datang dan menjatuhkan talak kepada Nay, tanpa Nay tau salah Nay apa. Mas beralasan mengantar Nay ke rumah Oma hanya sementara sampai mas punya kerja tapi, nyatanya nas mengantar Nay untuk selamanya.
Mas, apapun yang mas lakukan. Bagi Nay, mas tetap pahlawan Nay. Mas mau menolong Nay lepas dari mami itu. Saat mas ajak Nay menikah, Nay seneng banget, Mas.
Bagaimanapun jeleknya perangai mas. Hina pun kehidupan mas. Bagi Nay, mas tetap terbaik.
Semoga Nay bisa bertemu Mas lagi,. Namun, jika kita tidak bisa juga bertemu sekarang, suatu saat nanti kita bisa bertemu dengan kondisi yang berbeda.
Nara melepaskan kertas berisi surat itu perlahan, besok pagi dia meminta Ayu untuk mengantarnya. Dia akan memberi tahu alamat rumah kontrakan mereka.
Besok pagi batas akhir Yudha menerima surat tersebut karena sorenya, Nara bersama kakek dan neneknya sudah terbang meninggalkan Indonesia.
__ADS_1
Dia juga menyuruh Ayu untuk meminta nomor ponsel Yudha. Selama ini Nara tidak terpikirkan untuk meminta nomor ponsel milik Yudha.
Dengan alasan membeli perlengkapan Nara selama di luar negeri, Ayu berangkat ke rumah kontrakan Yudha. Saat Ayu tiba di sana, keadaan rumah sangat sepi, lampu luar saja belum mati tetapi, ada sepatu laki-laki di depan pintu. Berarti ada Yudha di dalam rumah dan mungkin saja dia belum bangun.
Tiga kali panggilan barulah terdengar sahutan dari dalam.
"Siapa?" tanya Yudha saat membuka pintu.
"Saya pelayan pribadi Non Nara. Saya ke sini disuruh Non Nara mengantar ini." Ayu menyodorkan surat ke arah Yudha.
Yudha mengambilnya, perlahan dia buka lipatan kertas tersebut. Terlihat jelas itu tulisan tangan Nara. Tidak sampai lima menit, Yudha selesai membacanya. Surat itu dilipatnya kembali dan dimasukkan ke dalam saku celananya.
"Sampaikan kepada Nara, suratnya sudah saya terima. Semoga Nara bahagia dengan kehidupan barunya," ucap Yudha.
"Jadi, Mas Yudha tidak datang mengantar Non Nara?" tanya Ayu. Ada raut kecewa terlukis di wajahnya.
Yudha menggeleng. "Saya pamit." Langsung dia menutup kembali pintu tanpa mempedulikan Ayu yang masih berdiri di luar.
****
Jam keberangkatan pun tiba, berkali-kali Nara melihat ke sekeliling sejauh matanya memandang tidak ada dia menemui sosok Yudha datang menemuinya untuk terakhir kali.
Ingin nangis tapi, percuma Nara sadar bahwa dia dan Yudha sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Mungkin benar yang Nara Yudha katakan. Bahwa dia tidak pernah mencintai Nara. Menikahi Nara hanya untuk melindunginya dari mami.
Akan tetapi, jika Yudha tidak mencintai Nara kenapa Yudha mau melindunginya. Begitulah pergolakan hati dan pikiran Nara. Jika dibilang karena nafsu? Yudha saja belum pernah meniduri Nara selayaknya suami istri.
Mungkin saja memang tidak cinta, buktinya saja Yudha tidak pernah melakukan hubungan intim dengan Nara mungkin dia jijik. Berbagai macam pemikiran muncul begitu saja.
Hingga terdengar suara pemberitahuan bahwa keberangkatan internasional dengan tujuan Amerika sebentar lagi. Nenek, Kakek mengajak Nara ke ruang tunggu. Sudah pupus lah harapan Nara, memang tidak bisa lagi melihat Yudha.
Sementara orang yang ditunggu-tunggu Nara masih di rumah. Duduk terdiam sambil melihat ke arah jam dinding yang terus berputar.
Yudha sengaja tidak memenuhi permintaan Nara. Bukan karena tidak cinta hanya saja dia tidak ingin merasakan sakit lagi. Sakit melihat Nara pergi dan entah kapan akan kembali. Biarlah Nara membenci dia.
__ADS_1
Yudha telah melepaskan Nara dan berpikir Nara berhak bahagia walau tidak bersamanya.