
Dalam Diamnya Nara
Bab 11
Sesungguhnya mereka saling mencintai walaupun harus diawali dengan sandiwara.
Saat langit mulai terang, Nara izin pulang. Dia takut dilihat oleh Tante Olivia dan Aron.
"Kamu kenapa nggak mau ketemu Aron?" tanya Yudha dengan suara parau.
Nara hanya menggeleng. Apa Yudha akan percaya jika dia mengatakan bahwa Aron itu bukanlah teman yang baik.
Main kucing-kucingan dengan Tante Olivia dan Aron tiap malam Nara lakukan selama Yudha dirawat. Hingga malam ini, Nara hanya mendapati kamar yang sudah kosong dan tertata rapi. Setelah bertanya kepada suster jaga ternyata Yudha sudah pulang siang tadi.
Nara tidak tahu kemana Yudha pulang, padahal dia tidak ada di rumah.
Masih dalam kebingungan, Nara berjalan keluar rumah sakit. Dia tidak sadar bahwa sudah dipantau oleh Aron dari tadi.
"Cari Yudha?" kejut Aron.
Nara terperanjat. Setelah itu dia kembali menundukkan kepalanya.
"Dia di rumah aku dititipkan Tante Olivia," sambung Aron.
Saat itu Nara reflek menatap mata Aron.
"Kenapa? Nggak suka? Temui Tante Olivia bilang sana, pulangkan suami saya!" Aron kembali memojokan Nara.
Nara terkejut, dari mana Aron mengetahui bahwa mereka sudah menikah. Tidak mau ribut panjang, Nara pergi meninggalkan Aron. Malam ini dia terpaksa jalan kaki pulang ke rumah jika tidak mendapati ojek atau taksi offline.
Tidak ada lagi ponsel Yudha yang memesankan dia ojek untuk pulang ke rumah. Sedih, hatinya sakit, dadanya sesak. Kenapa saat ada orang yang benar-benar mencintai dia dengan tulus tetapi, tidak leluasa untuk menunjukkannya.
Angin bertiup sangat kencang, sepertinya akan hujan deras. Belum juga ada ojek yang mau offline mengantarkan dia pulang. Hingga hujan pun turun Nara masih berjalan kaki selama dua jam ke rumahnya.
Di rumah Aron, Yudha berdiri di depan jendela kamar, melihat air hujan yang mulai membasahi kaca jendela. Dia terbayang Nara yang datang malam ini menemui dia.
"Belum tidur?" Suara Aron membuyarkan lamunanku Yudha.
"Besok antarkan aku pulang!" pinta Yudha kepada Aron.
"Untuk apa? Mau cari mati? Ini ulah mami tau, kau?" Aron pun berjalan ke arah Yudha. "Aku tau kau dengan perempuan pembawa masalah itu udah nikah. Kau campakkan aja dia!"
"Namanya Nara." Yudha tidak senang mendengar Aron berucap kasar tentang Nara.
"Terserah mau siapa namanya, bagi aku dia memang pembawa sial dalam hidup kau."
__ADS_1
"Aku cinta sama dia,"jawab Yudha.
"Cinta tau kucing," upat Aron kesal. "Belum lagi kalau Tante Olivia tau. Makin habis hidup kau."
"Itu udah jadi pilihan aku. Besok antar aja aku pulang!" Yudha sudah mantap dengan keputusannya. Dia akan menanggung segala resiko.
***
"Kenapa kamu antar dia pulang?" marah Tante Olivia kepada Aron.
"Dia maksa, Tante."
"Jangan-jangan dia ada hubungan apa-apa dengan pembantu itu," curiga Tante Olivia kepada Nara.
"Itu istrinya, bukan pembantu biasa." Aron membuka rahasia Yudha.
Mendengar itu Tante Olivia sangat marah. Dia merasa dipermainkan oleh Yudha. Merasa diperalat Yudha. Hanya menjadikan dia sumber uang saja.
Tante menjalankan mobilnya menuju rumah Yudha. Dia akan membuat Yudha kembali miskin.
Saat tiba di kediaman Yudha, dia melihat rumah tampak sepi dari luar. Ternyata di halaman belakang, Yudha sedang belajar Jalan dibantu oleh Nara. Sehingga mereka tidak sadar atas kedatangan Tante Olivia.
Tante Olivia yang sudah marah bertambah murkah melihat Yudha merangkul Nara.
Tentu saja Nara dan Yudha terkejut.
Yudha meminta waktu tiga hari untuk mereka mencari rumah. Akan tetapi, Tante Olivia hanya memberi waktu satu hari. Dia meminta ponsel kartu ATM dan kartu kredit yang Yudha punya. Dia harus pergi dari rumah ini hanya membawa pakaian.
Setelah tante marah-marah, Nara meminta maaf kepada Yudha. Dia sadar karena kehadiran dia, hidup Yudha langsung berubah.
"Mas bahagia setelah kenal kamu." Hanya itu jawaban Yudha.
Benar sekali, dia merasa berguna bagi orang lain semenjak bertemu Nara.
"Mas, ada simpanan sedikit, tanpa tahu Tante Olivia. Itu bisa kita pakai untuk biaya hidup beberapa minggu," bisik Yudha.
"Buruan!?" teriak Tante Olivia dari dalam rumah.
Dia tidak pergi, sepertinya dia akan memastikan dulu Yudha meninggalkan rumah ini baru dia akan pergi.
Nara membantu Yudha mengemasi beberapa pakaian begitupun Nara, memasukan beberapa potong pakaian saja yang sering dia kenakan.
"Tunggu!" ujar Tante Olivia saat melihat Yudha dan Nara menggendong tas ransel.
"Ponsel mana?" Kembali Tante Olivia bersuara.
__ADS_1
Yudha meletakan ponsel keluaran terbaru tersebut.
Kini mereka keluar rumah benar-benar hanya membawa pakaian. Nara membawa Yudha ke sebuah masjid untuk beristirahat karena tidak mungkin bagi yudha dengan kondisi seperti itu harus berkeliling mencari rumah kontrakan.
"Nay?"
Nara hanya tersenyum merespon panggilan Yudha. Setelah Yudha duduk selonjoran di teras lantai, Nara menirukan gerak orang "takbir" isyarat bahwa dia hendak melaksanakan Salat.
"Jangan lama-lama, ya, Nay!" ujar Yudha.
Sambil menunggu Nara salat, Yudha berbincang-bincang pada pengurus mesjid tersebut dan dia menanyakan perihal rumah sewa. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Tidak jauh dari mesjid ini ada rumah yang disewakan.
"Tapi, cuma rumah kamar satu. Kalau untuk pengantin baru, ya, cocoklah," terang pengurus masjid tersebut.
Setelah Nara selesai salat, Yudha menceritakan kepada Nara. Nara begitu semangat untuk langsung ke alamat yang dimaksud.
Tibalah mereka pada alamat yang ditunjukan oleh pengurus masjid. Tidak banyak pertimbangan bagi mereka,listrik dan air lancar. Kamar mandi tidak bermasalah, itu sudah lebih dari cukup. Akhirnya mereka punya tempat juga untuk berteduh malam ini.
"Nggak bawa kasur, Nak?" tanya pemilik rumah.
Yudha berbohong, dia mengatakan bahwa dia dan Nara adalah perantau yang baru tiba di kota ini.
"Ibu ada kasur lantai, untuk tidur kalian malam ini bisalah. Pakai aja dulu!"
"Makasih, ya, Bu. Pinjam dulu, ya, Bu. Sampai kami beli kasur," balas Yudha.
Setelah membersihkan rumah yang baru satu Minggu kosong ini. Nara membentangkan kasur tipis di atas lantai kamar.
Nara menepuk-nepuk permukaan kasur, isyarat agar Yudha istirahat di situ. Nara membantu Yudha untuk melepaskan kedua tongkatnya.
"Terima kasih," ujar Yudha sambil mengusap kepala Nara.
Dengan bahasa isyarat Nara mengucapkan maaf kepada Yudha. Dia sadar, semua ini terjadi karena dia. Karena Yudha lebih melindungi dia.
"Ini semua sudah takdirnya. Mungkin begini cara Tuhan menjauhkan saya dari dosa zina sepanjang masa," ungkap Yudha dengan bijaksana.
Yudha menatap wanita berkerudung itu dengan tulus. Baru kali ini dia merasakan benar-benar jatuh cinta.
Sekarang, tujuan Yudha adalah bertekad untuk cepat sembuh dan bisa jalan lagi agar bisa bekerja.
"Nay, Mas beli HP, ya? Susah nggak ada HP ini. Mana tau ibu menghubungi nggak bisa," ujar Yudha.
Nara mengacungkan jempolnya, tanda setuju.
Yudha masih ada sekitar sepuluh juta uang simpanan tanpa sepengetahuan Tante Olivia. Masih bisa uang tersebut digunakan untuk biaya hidup mereka selama Yudha sakit.
__ADS_1