
Dalam Diamnya Nara
Bab 17
Betapa terkejutnya pemilik kontrakan melihat Nara yang sudah bisa bicara. Belum Nara bertanya keberadaan Yudha. Ibu kontrakan langsung mengatakan apa karena mengantar Nara keluar negeri makanya Yudha menghilang begitu saja.
Tidak ada yang tahu bahwa Yudha dan Nara telah bercerai.
"Yudha apa kabar? Kok kesini nggak sama Yudha?" tanya ibu pemilik kontrakan.
Nara terpaksa bersandiwara, mengatakan Yudha kerja.
Nara dan Ayu saling tatap. Setelah mengetahui bahwa Yudha telah pergi begitu saja. Kemana mereka akan mencari Yudha lagi?
Ibu kontrakan memberi sekantong pakaian yang ditinggalkan Yudha begitu saja.
"Rumah ditinggali nya begitu saja tanpa ada pemberitahuan, bikin kami bingung saja. Ulah suami kamu tu," gerutu pemilik kontrakan.
Mereka akhirnya pamit, di jalan mereka berpikir mau mencari Yudha kemana lagi. Nara memang tidak tahu apa-apa tentang teman-teman Yudha. Akhirnya mereka pulang ke rumah dengan rasa kecewa.
Sementara di rumah mewah kediaman kakek dan nenek Nara. Kenny menunjukkan kepada kakek dimana titik sinyal ponsel milik Nara berada.
"Ini alamat kontrakan Nara dan bajingan itu," gerutu Kenny.
Ponsel Nara sudah dilacak oleh Kenny. Sehingga dia bisa memantau kemana bara pergi. Sudah pasti tanpa sepengetahuan Nara yang memang gagap teknologi.
"Sudahlah, biarkan saja. Bagaimanapun laki-laki itu sudah berjasa kepada Nara," sahut kakek yang lebih memiliki pikiran lebih terbuka.
"Tak bisa!" potong nenek. "Dia bukan sekedar bajingan. Dia juga pezina. Tidak pantas dia untuk Nara," sambung nenek yang tidak pernah suka dengan Yudha setelah mengetahui Yudha adalah selingkuhan Olivia.
Hasil kesepakatan mereka bertiga, Nara harus dibawa ke kota lain agar tidak berjumpa dengan Yudha. Jika masih di kota ini suatu saat mereka akan bertemu lagi.
"Tidak sepenuhnya salah anak itu. Jika Olivia tidak gatel, ya tentu perselingkuhan itu tak terjadi," sahut kakek acuh sambil memainkan ponselnya.
Nara memutuskan untuk kembali ke rumah. Dia tidak ada tujuan lagi. Namun, saat di sebuah SPBU Nara bertemu Sonya yang sedang mengisi BBM juga.
"Nara?" sapa Sonya.
"I … iya," jawab Nara sedikit bingung.
__ADS_1
Nara sudah lupa dengan Sonya karena dia memang sebentar di malam itu.
"Kamu lupa sama aku?" Sonya menepikan motornya dekat Nara berdiri menunggu Ayu antri mengisi BBM.
Nara mengangguk sambil tersenyum canggung.
"Aku Sonya, anak buah mami," bisik Sonya, takut ada yang dengar.
"Oh, iya saya ingat."
"Kamu sudah bicara sekarang, ya. Syukur, deh. Pengorbanan Yudha jadinya nggak sia-sia," ujar Sonya.
"Kak, tunggu! Kita ngobrol sebentar di sana, yuk!" Nara menghentikan Sonya yang ingin pergi.
Nara menunjuk sebuah cafe yang berada di rest area di SPBU ini.
Setelah sedikit berpikir, akhirnya Sonya menyambut ajakan Nara. Nara melihat ke arah Ayu dan memberi isyarat kepadanya, bahwa dia dan Sonya akan ke cafe tersebut.
Setelah memesan makanan dan minuman, akhirnya nata memberanikan diri menanyakan keberadaan Yudha.
"Tidak banyak yang saya tahu. Malam itu, dia ke club' minum seperti biasa sepertinya dia sedang banyak beban. Saat itu aku bertanya gimana kabar kamu, lalu dia mengatakan bahwa dia sudah menceraikan kamu. Tapi, aku merasa ada sesuatu, suaranya begitu berat saat mengatakan itu."
Sonya juga menceritakan, bahwa dia tahu kamu akan menjalani operasi pita suara dari Tante Olivia yang paling membuat Sonya terkejut, bahwa suami Tante Olivia adalah Om nya Nara.
Ayu yang duduk di sebelah Nara, langsung merangkul Nara. Terlihat air mata Nara mulai mengalir.
"Sekarang Mas Yudha di mana?" tanya Nara di dalam tangisnya.
Sonya mengangkat bahu. Tidak ada yang tahu kemana Yudha.
"Terakhir kami dapat kabar bahwa ibunya Yudha meninggal dunia, Yudha pulang ke kampung. Setelah itu kami tak tahu lagi kabar Yudha." Sonya menceritakan apa yang dia tahu.
"Nomor ponselnya?" tanya Nara penasaran.
"Sudah tidak aktif lagi."
Nara menelungkupkan wajah di atas meja. Dia menangis. Berharap dengan melakukan itu, suara tangisnya tidak terdengar pengunjung cafe yang lain.
"Dia sangat rindu sama Pak Yudha," ucap Ayu kepada Sonya.
__ADS_1
"Kami memang sudah hilang kontak dengan Yudha," sahut Sonya.
Sesampai di rumah, sudah ada Om Kenny sedang mengobrol dengan kakek. Setelah dia bercerai dengan Tante Olivia. Om Kenny lebih banyak tinggal di rumah kakek dan nenek.
"Dari mana, Nara?" tanya kakek.
"Jalan-jalan, Kek."
Nara menyalami kakek dan Om Kenny lalu pamit masuk ke kamar.
"Kamu sudah makan?" tanya nenek saat berpas-pasan dengan Nara di tangga.
"Sudah, Nek. Nara capek. Mau mandi lalu tidur dulu." Nara terus menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Setelah Nara benar-benar masuk kamar. Ayu dipanggil oleh nenek. Nenek menanyai Ayu kemana saja dia pergi. Ayu ingin berbohong tetapi, sebelum dia mengeluarkan suara. Om Kenny sudah mengatakan bahwa Ayu jangan coba-coba membohongi mereka karena mereka tidak akan segan-segan memulangkan aku ke kampung.
Akhirnya, Ayu jujur. Dia mengatakan kemana saja mereka pergi dan bertemu siapa saja.
Setelah mendengar cerita dari Ayu. Nenek menyuruh Ayu untuk istirahat.
"Benar yang Kenny bilang, kan, Pa?" Om Kenny mencoba menjadi kompor dalam hidup Nara.
Dia belum bisa melupakan pengkhianatan mantan istrinya dan Yudha. Dia selalu terbayang saat Yudha meniduri Olivia dan akan meniduri Nara lagi jika mereka bersama. Sungguh menjijikan. Itulah salah satu alasan Kenny agar Nara dan Yudha tidak bersama.
Sebuah kota sudah mereka siapkan, kota dimana ada bisnis Kakek dan Om Kenny yang sedang dirintis di kota tersebut.
Nenek menyusul Nara di kamarnya. Dia hendak menyuruh Nara untuk menyusun kembali pakaiannya. Karena besok akan keluar kota dengan alasan pergi mengecek usaha kakek di kota tersebut.
Nara yang tidak mengetahui akal bulus mereka. Mengikuti begitu saja ajakan nenek.
"Nek, boleh Nara pulang kampung? Nara mau ke kuburan bunda," pinta Nara kepada nenek.
"Tentu bisa, besok kita kesana," sahut nenek sambil memegang punggung tangan Nara.
Nara kembali tersenyum mendengar janji nenek yang akan mengantar dia ke kampung halamannya, dimana dia dilahirkan dan dibesarkan oleh ibunya.
Setelah nenek keluar kamar, Nara teringat akan bungkusan pakaian yang dia bawa tadi. Nara membongkar satu demi satu pakaian lamanya. Saat asik membongkar sesuatu jatuh dari balik lipatan pakaian. Setelah Nara ambil dan lihat ternyata itu foto Nara dan Yudha saat mereka masih bersama dulu.
Nara cium foto tersebut, meresapi, berharap orang yang dia cium dalam foto tersebut dapat merasakannya.
__ADS_1
"Dimanapun mas berapa, semoga mas selalu dalam lindungan Allah," dia Nara setalah mencium foto tersebut.
Cepat-cepat Nara bangkit dan memasukkan foto itu ke dalam tas yang selalu dia pakai.