
Dalam Diamnya Nara
Bab 12
"Nay, Mas beli HP, ya? Susah nggak ada HP ini. Mana tau ibu menghubungi nggak bisa," ujar Yudha.
Nara mengacungkan jempolnya, tanda setuju.
Yudha masih ada sekitar sepuluh juta uang simpanan tanpa sepengetahuan Tante Olivia. Masih bisa uang tersebut digunakan untuk biaya hidup mereka selama Yudha sakit.
Sore ini mereka keluar membeli ponsel dan berapa kebutuhan rumah. Dari tadi perasaan Yudha tidak enak. Dia selalu terpikirkan orang tuanya. Takut ibu menelepon tetapi, nomornya tidak aktif.
Beruntung, Yudha masih teringat untuk mencopot kan kartu SIM saat ponsel miliknya diminta kembali oleh Tante Olivia.
Benar sekali dugaan Yudha. Baru saja Yudha memasukkan kartu SIM ke ponsel yang baru dia beli, ada panggilan masuk dari ibu.
"Yudha kamu kemana aja? Ibu telepon dari pagi Ndak bisa-bisa," keluh ibu ketika Yudha menjawab panggilan.
"Ponsel Yudha rusak, Bu." Yudha terpaksa berbohong. "Ada apa, Bu?" sambung Yudha kembali.
"Bapak …."
"Bapak kenapa, Bu?" potong Yudha.
"Bapak terpeleset di kamar mandi." Kini ucapan sudah beradu dengan Isak tangis Ibu. "Sekarang bapak masih di ruangan ICU." Tangis ibu terdengar kembali pecah.
Mendengar kabar buruk tersebut, Yudha memutuskan untuk pulang kampung.
"Mas harus lihat bapak," ujar Yudha.
Nara segera menulis pada memo-nya bahwa dia ingin ikut.
"Ya, ikutlah!" jawab Yudha.
Kali ini Yudha mencari-cari nomor Aron. Dia mencoba menghubungi Aron untuk meminta tolong antarkan ke kampung dengan mobil yang dia punya.
"Sorry, Bro. Aku nggak bisa kalau cewek pembawa sial itu ikut." Aron menjawabnya dari ujung panggilan.
__ADS_1
"Kenapa kau benci betul dengan dia?"
"Lihat hidup kau sekarang! Semua karena dia, kan?" Aron kembali balik bertanya dengan nada lebih tinggi.
Yudha melihat ke arah Nara yang tertunduk lesu. Dia mendengar ucapan Aron di telepon.
"Ya, udah. Aku naik travel aja," jawab Yudha lalu mengakhiri panggilan telepon.
"Yuk kita pulang! Bereskan pakaian apa yang mau dibawa!" ajak Yudha kepada Nara.
Yudha mencari-cari di media sosial nomor mobil travel arah ke kampungnya. Dapatlah dia mobil yang berangkat pukul tujuh malam ini. Masih ada sisa waktu dua jam untuk membereskan pakaian yang tidak banyak.
"Nanti kalau ibu nanya kenapa naik travel, bilang aja mobil kita masuk bengkel, ya!" Yudha mengajari Nara untuk berbohong kepada ibu.
"Ibu nggak perlu tau apa yang terjadi sama kita!" sambung Yudha lagi saat mereka masih di dalam taxi online.
Nara mengangguk tanda paham. Sedangkan Yudha melirik Nara sambil tersenyum. Kini tangan mereka saling menggenggam.
Baru setengah perjalanan, tiba-tiba Yudha merasakan perasaan yang cukup aneh. Jantungnya berdetak lebih kencang, ada rasa cemas yang menjalar ke hatinya.
Yudha melihat ke arah Nara, ternyata Nara sudah tertidur dengan posisi duduk lurus. Kemudian Yudha memegang kepala Nara dan menyandarkan ke bahunya.
"Assalamualaikum …," jawab Yudha setelah menarik tombol hijau.
"Inna lillahi wa Inna ilaihi rojiun," ucap Yudha dengan suara yang sedikit bergetar.
Mendengar ucapan duka itu membuat Nara menegakkan punggungnya yang tadi tersandar pada sandaran jok mobil.
Nara menggoncang-goncang pelan bahu Yudha. Dia ingin tahu apa yang terjadi.
"Bapak, Nay …." Sepertinya leher Yudha tercekik sehingga dia tidak sanggup lagi meneruskan perkataannya.
Setelah Yudha bisa mengendalikan diri barulah dia mengatakan bahwa bapak sudah menutup usia malam ini. Nara ikut menangis di dalam mobil mendengar kabar yang Yudha katakan.
Nara menyandarkan tubuhnya pada sandaran jok. Pikirannya jauh berkelana, hingga dia terpikir kalimat yang selalu Aron katakan bahwa dia adalah pembawa sial bagi Yudha.
Akhirnya tibalah mereka subuh di rumah duka. Ternyata di rumah sudah ramai oleh tetangga. Yudha berlari ke dalam rumah. Bapak sudah terbujur kaku di tengah rumah. Yudha benar-benar merasa kehilangan saat dia belum bisa membahagiakan bapak.
__ADS_1
Seminggu telah berlalu. Tadi malam adalah acara tahlilan tujuh hari meninggalnya bapak. Yudha masih tampak kehilangan. Belum lagi kata-kata Aron yang selalu mengatakan bahwa Nara lah pembawa sial dalam hidup Yudha.
"Nay," panggil Yudha.
Nara yang sedang melipat pakaian, mendengar dan sedikit menarik ujung lengan baju Yudha. Yudha menoleh ke arah Nara. Yudha mengatakan bahwa besok mereka akan pulang ke kota.
Bagaimana dengan ibu?
Nara menulis di memo milik ya.
Yudha mengatakan bahwa dia sudah mengobrol dengan ibu, ibu memutuskan tetap di kampung agar dia lebih dekat dengan kuburan bapak.
Selama di kampung Yudha juga berobat tradisional dengan seseorang yang sudah terkenal bisa menyembuhkan masalah tulang dan bersyukur sekarang dia bisa melepaskan tongkatnya walaupun jalannya masih tengkak.
Yudha tidak mungkin berlama-lama di kampung, hal itu akan membuat ibu curiga. Kenapa Yudha tidak kembali merantau dan bekerja.
"Nay," panggil Yudha kembali. "Kamu malu nggak punya suami seperti aku?" lanjut Yudha tiba-tiba dia menanyakan itu.
Bagi Nara, Mas Yudha adalah malaikat penolong. Nara nggak pernah malu.
Maaf, Mas. Karena Nara hidup mas jadi hancur. Benar kata Bang Aron, Nara pembawa sial untuk Mas Yudha.
Yudha memberanikan diri memeluk Nara setelah dia membaca memo yang Nara tulis.
"Ini sudah takdir Tuhan. Mungkin ini teguran Tuhan untuk saya bertobat. Kamu nggak boleh ngomong seperti itu lagi, ya!" bisik Yudha.
Dengan berat hati akhirnya mereka kembali ke kota dan memulai kehidupan yang baru. Hidup dengan keterbatasan.
Ternyata masalah Yudha belum habis sampai di sini. Suami Tante Olivia kembali dari berlayar dengan biaya pribadi karena dia mendapat berita dari saudaranya akan kelakuan Tante Olivia yang selama ini punya gigolo.
Tante Olivia yang cerdik, pandai memutar balikkan cerita saat Dia mengarang cerita bahwa dia dipaksa oleh Yudha untuk mengirim sejumlah uang yang dia butuhkan, kalau tidak Yudha akan menyebarkan bukti perselingkuhan mereka.
Untuk satu sisi dan karena ketahuan memiliki gigolo, Tante Olivia tidak bisa berkelit. Akan tetapi, untuk uang yang habis di tabungan Tante Olivia, dia bisa mengarang cerita.
Pagi itu, saat Yudha sedang membersihkan halaman rumah yang telah satu Minggu ditinggal pemilik, sebuah mobil merah berhenti, mobil yang biasa dipakai Tante Olivia. Ternyata yang keluar dari mobil tersebut hanya suaminya.
Kenny berjalan ke arah Yudha berdiri. Tanpa basa-basi dia langsung menghujam perut Yudha dengan beberapa tinjuan.
__ADS_1
Dari dalam rumah, Nara mendengar suara ribut di luar. Rasa penasaran mendorongnya mengintip dari jendela kamar. Betapa terkejutnya dia saat melihat suaminya dipukuli oleh seorang pria. Yudha yang baru saja bisa berjalan tanpa tongkat tentu saja langsung tersungkur di tanah.
Melihat pemandangan memilukan tersebut, Nara langsung berlari keluar dan tidak lupa menarik jilbab instan yang tergantung di sebalik pintu kamar.