
Dalam Diamnya Nara
Bab 9
Setelah Yudha selesai melakukan video call dengan Tante Olivia, Nara menghampiri Yudha. Dia memberikan jam tangan yang selama ini dia pakai kepada Yudha.
"Kita tukaran?" tanya Yudha yang sudah mulai memahami bahasa Nara.
Nara mengangguk.
Yudha pun melepas jam tangan miliknya yang harganya jauh lebih mahal dari milik Nara.
Mereka saling tersenyum saat menerima jam tangan masing-masing. Karena hari sudah malam, Yudha tidak memakai jam tangan tersebut karena dia hendak tidur. Nara sedikit kecewa melihat jam itu terletak di atas meja.
"Tidur, yuk!" ajak Yudha.
Seperti biasa, Yudha akan tidur di bawah beralaskan selimut sedangkan Nara dipersilahkannya tidur di ranjang.
"Besok pagi kamu keramas, ya, Nay!" ucap Yudha dengan suara pelan.
Nara bertanya kenapa dengan menggerakkan tangannya.
"Biar dikira ibu kita sudah melakukan hubungan suami istri," jelas Yudha.
Sepertinya Nara sedikit malu mendengar jawaban Yudha, terlihat dengan wajahnya yang merona menahan malu.
Benar saja, besok pagi Nara melakukan perintah Yudha. Saat Nara keluar dari kamar mandi dengan handuk tergulung di kepala, ibu langsung saja nyeletuk. "Kalau seperti ini, sebentar lagi ibu punya cucu."
Ibu memang begitu orangnya, bicara apa adanya. Semua yang dia ucapkan spontan saja. Berbeda dengan ayah yang lebih banyak segan dalam berucap dan bergaul di tengah masyarakat. Ibu orangnya tidak suka ambil pusing dengan ucapan orang sedangkan ayah, semua akan beliau pikirkan.
"Janganlah gitu, Bu! Malu Nara, tu," celetuk Yudha yang baru keluar dari kamar.
"Udah hampir mati kami, belum juga gendong cucu." Bukannya redah, ibu malah semakin menjadi.
"Cepat masuk sana, Nay!" perintah Yudha.
Nara mempercepat langkahnya menuju kamar.
"Masak apa, Bu? Yudha lapar." Yudha mengangkat tudung saji.
Saat itu ibu menepuk tangan Yudha. "Mandi dulu baru makan!" bentak ibu.
Yudha cengengesan sambil menggaruk kepalanya.
Yudha berpamitan kepada ayah dan ibu saat sarapan, dia akan kembali ke kota dengan alasan pekerjaan yang sudah menunggu. Dengan berat hati ayah dan ibu mengizinkan, padahal baru saja dia merasakan punya anak perempuan lagi. Ya, sekarang harus pergi.
__ADS_1
"Rajin-rajin ke sini, ya, Nara! Ajak Yudha kalau dia libur kerja!" ucap ibu saat Nara akan masuk ke dalam mobil.
Nara langsung memeluk ibu, dia juga baru merasakan punya ibu lagi.
"Udah, Nay?" panggilan Yudha.
Nara pun melepaskan pelukan ibu, tidak henti-henti Nara melambaikan tangan hingga dia tidak bisa melihat keberadaan ibu dan ayah lagi.
setelah melakukan perjalan yang melelahkan akhirnya mereka tiba di rumah. Baru saja Yudha akan rebahan–meluruskan pinggang, pintu depan ada yang mengetuk. Belum sempat Nara membuka pintu ternyata tamu tersebut telah masuk tanpa menunggu pintu dibukakan.
"Kemana aja Yudha? Tante kangen," ucap Tante Olivia manja.
Seakan tidak mempedulikan keberadaan Nara, dia langsung saja manjat ke pangkuan Yudha yang sedang duduk selonjoran di lantai depan TV
"Kamu tau nggak, Tante kangen?" Tante Olivia mengecup bibir Yudha.
Saat itu Yudha melirik ke arah Nara. Tampak Nara langsung menundukkan wajah dan berjalan menuju kamarnya.
Yudha sangat salah tingkah, dia sudah tidak nyaman dengan situasi seperti ini. Akan tetapi, Yudha tidak mungkin menolaknya, bisa-bisa Tante Olivia curiga. Hampir malam, barulah Tante Olivia pulang dari kediaman Yudha. Setelah Tante Olivia pulang, barulah Nara keluar kamar. Dari tadi dia menahan lapar tetapi, takut untuk keluar kamar.
"Kamu udah makan, Nay?" tanya Yudha saat melihat Nara keluar kamar.
Saat itu Yudha sedang duduk di sofa ruang TV sambil memegang piring berisi sate kuah kacang.
Nara menggeleng.
Nara mengangguk dan mengambil bungkusan sate yang Yudha sodorkan.
"Mau kemana?" tanya Yudha kembali saat melihat Nara hendak berjalan ke arah dapur. "Makan di sini saja bareng saya!" sambung Yudha.
Nara menuruti saja perintah Yudha. Dia duduk di bawah sofa. Melihat Nara duduk di bawah, Yudha pun ikut pindah duduk.
"Saya juga udah bawakan piringnya." Kali ini Yudha menyodorkan piring untuk Nara.
Saat itu, Nara melihat di tangan kiri Yudha melingkar jam tangan miliknya.
"Nay," panggil Yudha lalu dia berhenti.
Nara menoleh dan menggerakkan tangannya yang artinya "ada apa?"
Tampak Yudha sedikit ragu, ada sesuatu yang ingin dia katakan.
"Kamu nggak marah ngelihat yang tadi?" Akhirnya Yudha berani membuka suara.
Itu bukan urusan saya.
__ADS_1
Tulis Nara pada memo.
Yudha tersenyum tetapi, kecut. Iya, dia sadar. Nara mau menikah sama dia hanya ingin selamat dari kejaran mami. Jika tidak, mana mungkin gadis sebaik dia mau menikah sama lelaki hina seperti dia.
"Habiskan makannya!" Yudha mengalihkan pembicaraan agar suasana tidak menjadi tegang.
***
Seperti pagi-pagi kemarin, sarapan untuk Yudha sudah siap di atas meja makan. Selain menjadi gigolo Yudha juga bekerja di salah satu perusahaan milik Tante Olivia. Tujuannya, jika mereka pergi keluar kota berdua dengan alasan pekerjaan, tidak ada yang terlalu curiga.
"Kamu sudah makan, Nay?" Yudha menghampiri Nara di ruang cuci.
Nara mengangguk tanda sudah.
"Temani saya makan, bisa?" Kembali Yudha bertanya.
Nara tersenyum tanda setuju lalu dia mengikuti langka Yudha. Saat mereka sedang sarapan terdengar suara mobil Aron berhenti di depan pagar rumah mereka.
"Ngapain dia pagi-pagi ke sini," gerutu Yudha.
Mengetahui Aron yang datang, wajah Nara berubah seperti ketakutan.
Belum sempat Aron masuk rumah, beberapa warga beserta Andi–abang tiri Nara datang menyerang ke rumah Yudha.
Teriakan dan gedoran pintu terdengar hingga ke dalam. Yudha dan Nara saling tatap. Suara tersebut bukan hilang malah semakin kencang.
"Biar saya yang buka," pinta Yudha.
Saat pintu dibuka, langsung mereka menuduh Yudha dan Nara pasangan kumpul kebo.
"Ini dia, Pak," ujar Andy kepada ketua RT di komplek tersebut.
"Siapa yang pasangan kumpul kebo?" Bentak Yudha kepada warga yang berkerumun di depan rumahnya.
"Maling mana ada yang ngaku," provokasi salah seorang warga.
"Tunggu sebentar!" Yudha pun masuk ke dalam kamar.
Ternyata Yudha mengambil buku nikah untuk ditunjukkan kepada warga.
"Dimana letak kami pasangan kumpul kebo? bentak Yudha sambil memperlihatkan buku nikah berwarna hijau dan cokelat tersebut.
"Saya dan Nara sudah menikah," sambung Yudha kepada warga yang telah berkumpul.
Mendengar ucapan Yudha, Andi dan warga terkejut. Sementara Pak RT mengambil buku tersebut dari tangan Yudha. Sepertinya beliau ingin mengecek kebenaran buku nikah tersebut.
__ADS_1
Jangankan para warga yang terkejut. Aron yang memperhatikan dari jauh juga terkejut. Dia mendengar bahwa Yudha dan Nara sudah menikah.
Setelah merasa cukup memeriksa kebenaran buku nikah tersebut. Pak RT meminta maaf dan menyuruh warganya bubar.